ANEH, Eiden tak menyangka kesenangannya lenyap dalam waktu satu hari, padahal dia sudah mengajaknya bertengkar hanya untuk mendapatkannya. Tidak seperti kemarin, pagi ini Eveline malah terlihat kesal dan tidak sedang berada dalam suasana hati yang baik. Bukannya senang, wajahnya tertekuk kesal tanpa alasan yang jelas. Eveline tidak langsung turun ke lapangan dan bergabung latihan dengan Eiden, tetapi malah selonjoran di tepi lorong dan tampak malas. Eiden mengangkat senjatanya ke udara, tanpa bahwa latihan dihentikan sementara. Dia menghampiri sang adik yang tidak tertarik akan kedatangannya. “Ada apa denganmu? Bukankah kau harusnya bahagia karena pria itu sudah kurestui?” “Diamlah. Aku sedang tidak ingin diajak bicara.” “Hei, berani sekali kau bicara begitu setelah kemarin aku menah

