Suara tangis menggema saat semua rombongan hendak pulang, karena sesi liburan telah usai. "Sayang, jangan nangis." Maira kewalahan menenangkan Yuna. Anak itu menangis histeris saat hendak naik kedama Bis. "Kalau nggak mau naik, nggak apa-apa. Kita tunggu Dad Mike jemput, oke." Yuna menggelengkan kepalanya, "Aku mau pulang." Air mata membasahi wajahnya yang sudah memerah akibat sengatan sinar matahari. "Tapi Yuna nggak mau naik Bus, kan? Kita tunggu Dad Mike aja. Oke." "Nggak mau." Tangisnya kembali pecah. Yuna jarang merajuk apalagi menangis histeris seperti saat ini. Yuna termasuk anak yang tenang, tapi saat ia menangis artinya sesuatu yang salah terjadi padanya. "Mom, bagimana Yuna?" Devi kembali menghampiri setelah mengurus siswa dan orangtua masuk ke dalam bus. Hanya Maira

