22. Terjebak di Tanah Lapang

1725 Kata
Langit biru cerah dengan beberapa titik dihiasi dengan gumpalan awan putih menjadi atap yang menaungi empat mahasiswa yang tiba-tiba terdampar di hamparan tanah kosong yang begitu luas. Angin berhembus lirih. Sesekali angin akan menyapu bumi membuat tubuh terasa segar. Sesekali tidak ada udara bergerak yang menyegarkan bumi. Lura, Penna, Funa, dan Bratra duduk berselonjor kaki di tengah tanah lapang. Mereka benar-benar berada dalam kawasan yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali. Tak pernah terbersit dalam benak mereka bahwa akan berada di alam yang tidak mereka kenal sama sekali. Melihat dari berbagai ujung mana pun, tak ada apa pun selain tanah kosong. Hutan yang dilahap oleh lumut pun tak ada. Seakan hilang dalam sekejap. Mereka hanya berempat. Tak ada makhluk hidup lain yang menemani mereka. Burung, pohon, rumput, bahkan semut pun tidak ada. "Ini gara-gara kamu, Lur!! Seandainya kamu nggak berbuat curang seperti tadi mungkin kita akan baik-baik saja!!" tuduh Funa dengan kasar. Matanya memandang Lura tajam. Ia juga berdiri dengan telunjuk yang menuding Lura kasar. Lura diam. Ia hanya menunduk. Bratra dan Penna tak berkomentar apa-apa. Funa mendengus kesal. Lalu tiba-tiba wajahnya menjadi sendu. Tubuhnya pun merosot hingga terduduk di atas tanah cokelat yang keras. "Seharusnya kita sudah kembali bersama teman-teman. Bukan berada di tempat yang tidak kita ketahui di mana ini," gerutu Funa dengan air mata yang mulai membasahi pipi. Diusapnya dengan kasar air matanya itu. Penna merangkul Funa. Ia tepuk lembut pundak dan secara bergantian mengusap punggung Funa. Funa pun terisak dalam dekapan Penna. Hingga tiba-tiba mereka saling menangis bersama. Lura dan Bratra pun tidak tahu harus seperti apa. Mereka sama-sama menyandarkan kepalanya di atas lutut dengan tangan yang terjulur ke depan. "Namun kita tidak hanya bisa menyalahkan Lura saja," ucap Penna setelah mereka lebih tenang. "Ini juga mungkin salahku karena meminta kalian melihat anggrek. Lalu.. maaf, ya, Funa," ucap Penna sambil menatap Funa lembut. "Mungkin lumut itu bisa tumbuh besar juga karena kita bermain ke air terjun. Bisa saja di sana air terjun itu adalah habitat yang tepat bagi lumut. Sehingga lumut seakan tiba-tiba meledak dan terus tumbuh seperti air bah dan monster," lanjutnya. "Benar kata Penna. Mungkin aku juga bersalah di sini. Membiarkan kita tetap melanjutkan bermain hingga semakin masuk ke dalam hutan. Lagi pula jika dipikir-pikir, apa formalin bisa membuat lumut jadi tumbuh besar? Formalin kan bersifat mengawetkan?" sahut Bratra. Semua mengangguk membenarkan. Formalin selama ini difungsikan untuk mengawetkan sesuatu. Formalin bukan fitohormon yang mampu mempercepat perkembangan dan pertumbuhan tumbuhan. "Tapi kan tetep saja.. siapa tahu Lura salah ambil larutan!?" teriak Funa histeris. Ia kembali menatap Lura tajam. "Sudah!! Kalau kamu menyalahkan aku, apa kita bisa kembali ke kebun raya, hah?" balas Lura dengan tajam. Ia tahu ia salah. Namun tak perlu terus memojokkannya. "Nasi sudah jadi bubur. Mau dijadijan nasi kembali pun tidak bisa!!" hardik Lura. "Sudah, ya, Fun. Kita di sini berempat sama-sama dalam keadaan yang tak tahu bisa kembali apa tidak. Jadi jangan menyalahkan Lura lagi," pinta Penna lembut sembari mengusap lengan Funa. Bila ditanya apa Penna tidak takut atas kejadian yang menimpanya saat ini? Tentu saja ia takut. Terbiasa hidup tenang dan terlindungi membuatnya saat ini ingin menangis kencang dan histeris. Ingin menyalahkan keadaan yang tiba-tiba menghimpitnya dan membawanya ke entah alam mana. 'Ma.. Pa.. Penna nggak tahu sekarang Penna ada di mana,' bisik batinnya. 'Mama, doakan Penna agar selalu selamat, ya? Penna percaya bahwa doa seorang ibu akan mudah dikabulkan Allah,' lanjut batinnya. Meratapi dan menangisi kejadian yang sedang menimpanya pun tak ada guna. Menyalahkan entah siapa pun sama. Tidak ada hal yang mampu mengembalikan mereka kembali ke kebun raya. Mereka juga tidak tahu harus ke mana. Tanah lapang ini seakan tak bertepi. Hendak mencari jalan keluar juga tidak tahu harus dimulai dari mana. Lura yang sedari tadi diam kini mencoba berdiri. Ia melongokkan kepalanya hingga batas otot lehernya mampu. Namun seberusaha apa pun ia, tidak ada tanda-tanda jalan keluar. Bratra pun sama. Ia memilih berdiri sembari mencari cara agar mereka mampu keluar dari kawasan tanah lapang itu. Setelah lelah berkeliling, mereka hanya mampu mondar-mandir seperti setrika. Sesekali mereka berdua menjambak rambut karena merasa gagal melindungi dua perempuan, teman mereka. Handphone, tas, dan semua barang yang mereka bawa tertinggal di sekitar air terjun. Berlari dengan membawa barang-barang itu pun nyatanya tidak efektif. Bahkan handphone yang sejak tadi digenggam Penna dengan erat pun hilang tersedot oleh lumut. Hanya tersisa diri saja yang saat ini menemani mereka. "Kita nggak mungkin di sini terus kan, rek? Kita bisa.." Penna tidak melanjutkan ucapannya. Ia terlalu takut membayangkan hal apa yang akan menimpa mereka. Hamparan kosong itu tidak apa pun. Kubangan air pun tak ada. Pepohonan tidak ada. Hewan tidak ada. Mereka tidak mungkin bisa bertahan hidup bila tidak ada apa pun yang dapat menjadi sumber energi bagi mereka. Lura dan Bratra berhenti dari kegiatan mondar-mandirnya. Mereka semakin gusar setelah mendengar ucapan spontan Penna. Empat orang itu pun semakin tak tenang membayangkan hal yang akan menimpa mereka. Jikalau mereka memang sudah waktunya pergi, setidaknya mereka pergi dengan disaksikan dan dilepaskan keluarga mereka. Tidak di tempat yang seperti ini. Seperti itulah harapan mereka. “Tapi.. kalian merasa nggak sih kalau tubuh kita baik-baik saja. Nyeri di kaki pun seakan menghilang,” interupsi Bratra kala ia kembali duduk dengan menekuk salah satu kakinya sedangkan kaki yang satu bersila. “Iya bener. Tadi kan kakiku rasanya kayak mau lepas. Nyeri dan capek banget. Dan sekarang nggak kerasa apa-apa,” sahut Penna. Funa mencoba merasakan nyeri yang semula dirasakannya sehingga membuat Bratra harus menggendongnya sambil berlari. Namun ia tak merasa apa pun. Seakan ia tak pernah berlari sejauh itu. Lura pun mencoba meraba dirinya. Tidak meraba dalam arti sesungguhnya tetapi merasakan rasa sakit yang sempat menyerangnya. Dan sekarang ia baik-baik saja. “Iya. Aneh nggak sih?” celetuk Funa. Mereka pun mengedik. Tidak tahu juga akan alasan apa yang membuat mereka baik-baik saja. Mereka akhirnya duduk bergerombol. Saling diam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Namun setidaknya keadaan mereka sudah lebih baik. Baru saja detak jantung berangsur normal. Laju pernapasan juga bekerja normal, mereka harus kembali pada ketidaktenangan. "Ahh..." teriak Lura kesal dengan menjambak rambutnya. Sungguh ia sangat ingin keluar dari tempat itu. Tak ingin terjebak terlalu lama di hamparan tanah kosong. Pikirannya benar-benar semrawut dengan berbagai hal buruk yang terlintas. Funa dan Penna hanya mampu memandang langit dengan sendu. Mereka juga tidak tahu harus melakukan apa agar mereka dapat selamat dan kembali ke kebun raya. Lalu netra Funa dan Penna membelalak lebar ketika melihat pusaran angin besar yang berjalan mendekat ke arah mereka. Seperti cara kerja pada mesin cuci yang memusar. "Itu apa?" tanya Penna panik. Lura dan Bratra menengok dengan cepat pada objek yang dimaksud Penna. Seketika netra mereka membelalak lebar. "Apa itu angin topan? Atau angin tornado?" sahut Bratra dengan ucapan yang tersendat. Lura segera menggandeng Bratra. Ia juga meminta Funa dan Penna untuk berdiri di belakang para laki-laki. Dua perempuan itu memegang bagian belakang baju Lura dan Bratra erat. Jikalau angin itu hanya sekedar melewati mereka, mereka dapat saling menguatkan. "Jongkok!!" teriak Lura. Empat mahasiswa itu dengan gesit segera berjongkok. Jangan lagi menanyakan bagaimana kondisi jantung mereka, dag dig dug tidak karuan. Bahkan melebihi suara genderang yang bertabuh pertanda perang akan dimulai. Mereka semua merapatkan diri. Berharap angin itu tidak akan membawa mereka berputar dan menerbangkan mereka. Mereka saling memeluk dengan erat. Terasa di kulit mereka angin yang berhembus. Angin itu kencang. Sekencang seseorang yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan di atas 110 kilometer per jam. Tubuh mereka mulai terombang-ambing terbawa angin. Tubuh mereka mulai terhuyung. Ambruk di atas tanah kosong. Untaian tangan mereka terlepas. Tubuh terbaring lemah. Angin itu bergerak menjauhi mereka. Berpindah dengan cepat. Seakan seperti sulap yang tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Cling. Lura dan tiga temannya memilih berbaring di atas tanah memandang langit yang mulai menggelap. Awan hitam memenuhi langit. Tampak hujan akan turun. "Kita akan kehujanan di sini?" tanya Penna lirih. Ia pandang langit dengan mata yang lelah. Sungguh rasanya ia ingin rebahan di atas kasur rumahnya. Di atas tanah ini ia pandang langit nanar. Lura dan tiga temannya sama-sama memandang langit. Melihat kegelapan langit yang semakin lama menjadi gelap dan mencekam. Mereka terbangun dengan tergesa kala angin berhembus kencang. Helaian rambut bergoyang sesuai dengan arah angin. Begitu pula dengan pakaian kedodoran yang mereka kenakan. “Kita harus kembali saling merapatkan diri!” perintah Lura tegas. Namun ada getaran dalam suaranya. Getaran ketakutan dan perasaan tak tenang. ‘Apa lagi ini?’ gumam batin Lura frustasi. Mereka bergerak cepat merapatkan diri. Angin yang baru datang lebih kuat dari sebelumnya. Ditambah dengan langit yang semakin gelap. Awan mendung abu-abu gelap memenuhi langit. Seakan mendukung kecemasan, kepanikan, dan ketakutan empat mahasiswa yang terdampar di tanah lapang itu. “Pegangan yang kuat! Jangan sampai lepas!” teriak Lura kencang. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Begitu pula dengan yang lain. Angin itu seakan mengamuk hebat. “Aaaaaaaa…..” Lura dan tiga temannya berteriak kencang. Nyatanya tenaga mereka kalah dengan kekuatan angin itu. Entah karena memang sudah tak ada tenaga lagi atau memang keadaan yang membawa mereka dalam bencana yang memang tidak terduga. Di mana bencana yang dapat diduga? Banjir? Tidak. Bencana itu datang secara tiba-tiba. Tidak ada yang mengundang. Longsor? Tsunami? Atau gunung meletus? Mungkin bencana itu dapat dideteksi dengan berbagai alat yang mendukung. Namun, segala takdir, hanya Sang Maha Tinggi-lah yang paling tahu akan suatu takdir yang akan terjadi. Mereka terbawa pusaran angin besar itu. Angin itu benar-benar monster. Begitukah rasanya melayang? Tubuh seakan masuk dalam mesin yang terus berputar hebat. Membuat organ tubuh rasanya terkocok. Perut menjadi korban yang paling tersakiti. Rasa mual dan ingin mutah tidak dapat ditahan lagi. Sayangnya tidak ada apa pun yang keluar kala mereka berusaha memutahkan rasa tak nyaman itu. Kepala juga menjadi korban. Pening dan pusing membuat tubuh ingin ambruk dan jatuh. Sayangnya, tubuh mereka seakan dipegang oleh sesuatu sehingga tubuh mereka tetap bertahan dalam pusaran angin. Tidak terjatuh meskipun mereka sudah pasrah dan menyerah. Tenaga mereka sudah benar-benar habis. Terkuras oleh keadaan yang menyempitkan. Tidak ada yang dapat menolong. Mereka terpisah jauh. Pegangan yang tersimpul erat pun putus oleh dahsyatnya angin. Dan mungkin inikah terakhir perjuangan mereka? Masa akhir mereka dapat bertahan menghadapi hal tidak terduga yang memang tidak dapat ditebak itu? Thank you for reading! Jujur, saya merasa kesulitan dalam menulis genre fantasi dengan male lead. Namun, semoga apa-apa yang saya tulis ini mudah dipahami. Dan yang paling saya harapkan adalah, adanya sesuatu hal yang dapat dipetik dan diambil hikmah atau pelajarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN