12. Perjalanan

1700 Kata
Happy reading! Berharap kalian bisa mengambil pelajaran dari cerita ini. *Kembali pada malam Bijama akan memberi sedikit pelajaran pada Lura* Bijama memandang penuh pada ruang kesekretariatan BEM. Sejak lepas rapat, ia bersama rekan-rekannya telah bersiap di balik dinding yang mengarah ke tempat parkir. Mereka sudah memastikan bahwa motor Lura masih berdiri anteng di tempat parkir motor fakultas, belum dipindahkan ke parkir liar yang sering teman-temannya buat. Hingga waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 malam, Lura belum juga beranjak dari ruang kesekretariatan. Bijama berniat hendak menyusul Lura ke ruang kesekretariatan. Tidak ada CCTV yang terpasang di ruangan itu. Ditambah dengan Lura yang hanya seorang diri, membuatnya semakin siap untuk segera memberikan pelajaran pada Lura saat ini juga. Melampiaskan segala amarah yang terpendam selama ini. Ini bukan lagi masalah Bubunga. Meskipun ia juga masih kesal dan marah dengan Bubunga yang terus mengejar Lura. Masalah yang menjadi dasar ia ingin memberikan bogeman mentah pada Lura adalah karena rasa sakit hati dan tidak terima. Harga dirinya diinjak-injak di hadapan publik lagi. Entah sudah yang keberapa kali. Ia sungguh tak bisa lagi menerima. "Kok ada Mas Radula?" celetuk Bijama kala melihat sepupunya berjalan menuju ruang kesekretariatan. Bijama tentu saja heran. Setahunya, Radula dan Lura tak sedekat dan seakrab itu. Radula terkenal menjadi laki-laki pendiam dan dingin. Temannya pun tak banyak. Hanya orang-orang tertentu. "Bukannya Mas Radula dan Lura tidak dekat?" sahut salah satu teman Bijama. "Sejak kapan mereka dekat?" sahut yang lain. "Apa kita ketinggalan berita ini?" Bijama pusing mendengar celetukan teman-temannya. Lebih kesal lagi karena rencananya gagal. "Kita pulang saja!" tandas Bijama. "Kenapa tidak kita tunggu saja? Siapa tahu Mas Radula hanya ingin memberikan sesuatu pada Lura setelah itu dia pulang?" ucap salah satu temannya. "Benar." Jawab yang lain menyetujui. Bijama pun menurut. Ia tidak sabaran. Sehingga tidak terpikir bila bisa saja Radula hanya ingin berbincang dengan Lura sebentar. Sayangnya, tidak seperti itu. Harapan itu musnah kala melihat Radula yang bersandar pada pilar kayu koridor, menunggu Lura mematikan lampu dan mengkunci pintu. Radula tampak asyik dengan handphone-nya. "Apa mereka mau keluar bersama?" tanya salah satu teman Bijama. Bijama dan teman-temannya pun tak tahu. Melihat kedekatan Radula dan Lura baru malam ini. Kedekatan mereka membuat Bijama dan para pengikutnya terkejut. Benar-benar di luar dugaan. Pertanyaan mereka terjawab dengan Radula dan Lura yang sama-sama mengambil motornya di tempat parkir. Bijama dan yang lain bahkan tak menyadari bila Radula memarkirkan motornya di tempat parkir fakultas. "Mas Radula markir motor di mari?" "Kapan dia lewat?" Berbagai pertanyaan terucap. Mereka memang tidak menyadari jika Radula lewat jalan lain karena Radula menyadari siluet Bijama dan teman-temannya yang bersembunyi di balik dinding. Radula sebenarnya ingin lewat di hadapan Bijama dan teman-temannya, tetapi ia sengaja membuat kejutan di akhir. Permainan tidak akan berjalan seru bila ia muncul sedari awal. "Apa kita ikuti mereka?" tanya salah satu teman Bijama. "Tidak perlu. Aku merasa bahwa mereka hanya sekedar berbicara santai saja," jawab Bijama. Sesungguhnya dugaannya tak 100% seperti itu. Ada sedikit dugaan tak yakin dalam hatinya. Namun ia berusaha menutupi itu. "Kita ke kos saja," ucap Bijama mengomando teman-temannya. Mereka meninggalkan tempat persembunyian itu dan mengambil motor. Setelah itu mereka berbaris mengendarai motor menuju salah satu kos yang sering digunakan sebagai basecamp. 'Jika kali ini aku tidak bisa membuat Lura terluka, maka aku harus memilih kesempatan lain. Lura harus diberikan pelajaran! Aku tidak mau terus diinjak seperti ini,' tekadnya dalam hati begitu kuat. *** *Kembali ke masa sekarang* Lura mengembuskan napas besar sejak duduk di salah satu kursi dalam bus kampus. Ia benar-benar ingin menyemburkan u*****n pada seseorang yang membuat denah tempat duduk dalam bus. 'Dantit! Sopo sing ngatur iki?' gerutunya dalam hati. (Dantit! Siapa yang ngatur ini?) 'Padal pingin menikmati perjalanan karo nyantai. Nek ngene malah gak tenang blas.' Lura masih menggerutu. (Padahal ingin menikmati perjalanan dengan santai. Kalau begini jadi gak bisa tenang sama sekali.) "Lura.. Kamu duduknya bisa diam nggak sih? Gerak terus. Bikin kursiku juga gerak ini," gerutu Penna kesal. Lura mengembuskan napas kasar. Ia menoleh ke kanan, depan, dan belakang. Berniat mencari seseorang yang mau menggantikan posisi duduknya. Namun ketika netranya menangkap ada Radula di dalam bus yang ia tumpangi, ia mengurungkan niat itu. Ia akhirnya memilih menyandarkan punggungnya dengan nyaman dan menutup matanya. Penna mengembuskan napas lega. Sejak tadi ia terus menggerutu dan kesal dengan tingkah Lura yang tak bisa duduk tenang di kursi sampingnya. Sama halnya dengan Lura, ia pun ingin melayangkan protes pada seseorang yang mengatur penempatan kursi. 'Mengapa aku harus dipasangkan dengan Lura? Tidak cukupkah beberapa waktu lalu Lura menjadi mentorku dalam membuat artikel? Itu saja sudah menguras banyak energi. Dan sekarang aku masih saja disandingkan dengan Lura? Lama-lama aku muak melihatnya.' Penna terus saja menggerutu dalam batinnya. Penna memilih memainkan handphone-nya. Melihat Instagramnya. Tadi malam ia baru saja meng-upload foto baru. Fotonya di salah satu danau buatan yang ada di kota ini. Danau itu indah dan berwarna-warni dari kerlip lampu di sekitarnya. Di tepi danau itu banyak berdiri berbagai jenis patung-patungan. Ada bentuk pohon, bunga, boneka, dan hewan. Patung itu terbuat dari bahan semacam perpaduan kertas dan plastik. Di dalam patung itu diberi berbagai warna lampu. Dan dari lampu yang memancar itulah danau menjadi lebih berwarna. Tidak hanya itu, di pohon-pohon yang tertanam rapi di tepi danau, dipasang lambu tumbler berbagai warna. Dan di setiap pojok danau terdapat lampu yang menyala terang. Foto yang telah di-upload oleh Penna mendapatkan love sebanyak lima ribu lebih. Komentarnya mencapai 100. [Wah bagus banget tempatnya. Di mana itu, Kak Pen?] [Kak Penna semakin cantik.] [Penna.. kapan kamu mau menjadi kekasihku?] [Kok nggak ajak-ajak, Pen?] [Ihhh.. bagus banget. Pingin ke sana juga dong. Di mana itu?] Yah, kurang lebih seperti itu komentar para netijen di foto Penna. Padahal Penna telah menambahkan lokasi di mana ia berada dalam foto itu. Namun tampaknya para netijen kurang menerapkan literasinya. Karena bermainnya ia di danau buatan itu hingga malam, wajarlah bila ia bangun kesiangan. Ditambah ketika sampai rumah, ia sibuk memilih foto mana yang harus ia upload di i********:-nya. Hampir 50 foto yang tersimpan di handphone-nya. Dan hanya satu saja yang pilih. Dalam memilih pun ia tak bisa asal memilih, ia harus memilih foto yang paling baik di antara yang terbaik. Ia menghabiskan waktu kurang lebih satu jam hanya untuk memilih sebuah foto. Senyum Penna tercetak puas. Ia merasa tidak sia-sia usahanya dalam memilih foto terbaik. Kemudian ia beralih pada direct message i********:. Lebih dari 50 pesan dari daftar akun pengikutnya yang mengiriminya pesan. Selain meng-upload satu foto pada beranda, ia juga mengisi InstaStory-nya dengan berbagai foto di lokasi yang sama. Kurang lebih lima foto. Empat foto pemandangan danau dan satu foto dirinya yang sedang duduk menikmati minuman dan sepiring roti bakar. Penna men-scroll DM tersebut. Yah kurang lebih berisi mengenai keingintahuan para teman-temannya. Ada pula yang meminta salah satu foto pemandangan. Katanya untuk wallpaper. Penna membuka pesan itu. Lalu tanpa pikir panjang ia membalas pesan itu dan mengirimkan gambar pada Sang Pengirim Pesan sesuai dengan keinginannya. Penna lalu men-scroll berandanya. Kebanyakan teman-temannya adalah teman semasa SMA. Dan juga teman-teman yang ia kenal dari berbagai acara. Berasal dari keluarga berada—kaya dan sangat berkecukupan, membuatnya sering menghadiri berbagai acara penting. Lalu dari sana ia menjadi memiliki lebih banyak teman. Meskipun terkadang ia hanya menanggapinya hanya untuk sekedar basa-basi. Ia tak mau bila hanya sekedar dimanfaatkan. Meskipun sama-sama berasal dari keluarga berada, belum tentu teman-temannya tak memiliki jiwa penjilat. Ia sudah hapal dan tahu bahwa sekaya apa pun seseorang, jiwa-jiwa penjilat masih sering ditemukan pada orang kaya. Tak hanya satu, tapi banyak. Jadi, hanya sekedar mengenal tak masalah. Namun untuk berteman secara lebih, Penna tak ingin ambil risiko. Ia tak ingin dikecewakan. Apalagi sakit hati. Sehingga ia memilih berteman dengan siapa pun, tapi dalam pertemanan yang biasa saja. Sewajarnya. Tak terlalu dekat dan sedikit menjauh. Hanya sekedar berbicara singkat atau saling sapa ketika berjumpa. Penna memilih menutup aplikasi i********:-nya. Sudah bosan. Tidak ada lagi sesuatu yang menarik. Scroll sampai bawah pun sudah ia lakukan. Melihat semua story yang melintas di akunnya juga sudah. Membuat matanya lelah. Kepalanya juga sedikit pusing. Ya salahnya sendiri karena melihat layar terlalu lama ketika berada di atas kendaraan bergerak semacam bus. Apalagi bus melaju dengan kecepatan tinggi. Di jalan tol yang mulus dan lancar semakin membuat sopir bus mengendarai bus dengan kecepatan tinggi. Penna meletakkan handphone-nya pada sling bag-nya. Lalu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Berharap rasa pusing yang menyerangnya segera hilang. Ia duduk di dekat jendela. Ia yang memaksa hal itu pada Lura. Awalnya Lura kekeuh ingin duduk di sana, tapi ia memaksa dan merengek sedikit lebay. Alhasil ia bisa duduk di kursi dekat jendela. Selain ia bersandar dengan nyaman pada jendela, ia bisa bebas menikmati pemandangan yang dilewatinya. Dan saat ini, ia sedang fokus memandang tebing yang terletak di sisi kiri ruas jalan tol. Tebing itu berupa bebatuan yang halus. Permukaan tidak rata. Lalu di atas tebing dipenuhi dengan rerumputan yang sedikit menguning. Musim kemarau membuat banyak rerumputan menguning dan kering. Lelah melihat sisi kiri, ia melirik ke kanannya. Tampak Lura yang sedang memejamkan mata. Hidung mancung Lura terlihat indah di matanya. Wajah yang bersih semakin membuat ketampanan Lura meningkat. Ciptaan Tuhan yang begitu indah. Penna segera menyadarkan pikirannya yang mulai melantur dan membayangkan yang tidak-tidak tentang Lura. Ia menggeleng. Kemudian memilih menutup mata sembari menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi. Dan ketika tubuhnya sudah duduk dengan nyaman, ia merasakan pergerakan tubuh Lura. Ia memilih tetap memejamkan matanya. Tak ingin tahu lebih banyak apakah Lura terbangun atau hanya mengubah posisinya saja. ‘Memangnya Lura tidur?’ Begitu bisik batinnya. ‘Ihhhh.. kenapa kamu jadi mikirin Lura sih, Penna? Sudah. Lebih baik kamu tidur saja. Nggak ada untungnya memikirkan laki-laki di sampingmu itu? Kamu tentu ingat bukan dengan kelakuaannya itu?’ Batinnya terus saja berbicara. “Isshh,” desis Penna gemas. Ia gemas dengan pikiran dan batinnya yang terus berputar tentang Lura. “Berisik!!” ucap Lura dingin. Penna membuka matanya. Lalu dengan cepat menoleh pada Lura dan melotot lebar. Sayangnya Lura masih memejamkan matanya. Membuat Penna malu dan ingin kembali menimpukkan handphone pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Penna bagaikan terkena prank. Dan dengan segera ia kembali memasang wajah tenang. Matanya pun telah ia kembalikan ke ukuran normal. ‘Diam saja, Penna. Diam.’ Batinnya terus mensugesti hal itu. Hingga tak sadar ia mulai terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN