20. Serangan Lumut

1720 Kata
Terkadang keindahan hanya memanjakan mata dalam sekejap saja. Menciptakan keindahan yang semu. Bersiaplah menghadapi apa pun yang akan terjadi dengan keindahan itu. Bila boleh mengibaratkan, ayam bakar dengan tambahan potongan tomat, mentimun, juga helaian daun selada tidak selamanya mampu menggugah selera. Jika waktunya datang seekor lalat hinggap di atasnya, jangan terkejut bila keelokan daging ayam bakar itu akan tertambah dengan hiasan berupa belatung yang menjijikkan? Tidak ada lagi orang yang berminat dengan ayam bakar itu, bukan? -Bilbul17- Kebahagiaan yang baru saja dirasakan seketika pupus tergantikan dengan suasana mencekam. Gelap. Area di sekitar air terjun itu gelap, seakan ada awan mendung yang menyelimuti atmosfer. Menutupi cahaya matahari yang harusnya mampu menembus bumi untuk menerangi bumi. "Kok gelap, ya?" tanya Funa sambil melihat ke atas. Namun langit terlihat cerah. Tidak ada tanda-tanda mendung apalagi hujan yang akan datang. Awalnya ia sedang mengamati hasil jepreten mereka di air terjun bersama Penna. Funa dan Penna sedang serius melihat album foto di handphone Penna. Mereka berdua juga tertawa cekikikan kala melihat beberapa pose foto yang gagal dan kocak. Namun tiba-tiba fokus mereka teralihkan karena sinar matahari seperti tiba-tiba menghilang. "Apa tadi ada awan mendung atau kabut yang lewat?" lanjut Funa masih begitu penasaran. Di daerah dataran tinggi, terutama pegunungan, mendung atau kabut akan terasa dalam keseharian. Kabut tersebut seakan air hujan rintik-rintik—gerimis yang menyapa para makhluk. Jadi wajar bila Funa menanyakan hal itu. Lura dan Bratra yang semula sibuk dengan segarnya air terjun pun menghentikan aktivitas. Mereka baru saja membasuh muka, tangan, dan kaki dengan segarnya air terjun pegunungan. Mereka memandang langit untuk mengecek apa benar hal yang ditanyakan oleh Funa. Nyatanya mereka tidak melihat apa-apa selain langit yang cerah. Funa pun meliarkan pandangannya ke seluruh bagian air terjun. Matanya membelalak lebar kala netranya menangkap pemandangan yang tak biasa. "Apa.. itu, rr—ek?" Funa tergagap. Telunjuk kanannya menunjuk pada tas Lura yang membesar. Seakan ada air dalam suatu wadah seperti plastik lalu air itu mengisi seluruh wadah dan wadah itu siap meledak. Semua mata memandang ke arah objek yang ditunjuk Funa. Netra mereka tak kalah membelalak. "Kenapa dengan tasku?" Lura menatap awas pada tasnya. "Apa ada makhluk atau hewan yang masuk ke tasku?" gumam Lura lirih. "Bukan!! Itu lumut?!" teriak Bratra kencang. Tas itu pecah. Lumut berhamburan ke sembarang tempat. Lumut yang jatuh di tempat itu lalu mulai tumbuh, mengembangkan, dan membesar dengan cepat. Hampir sama dengan kecepatan bakteri dalam membelah diri. Tidak sampai satu menit, lumut itu telah tumbuh tinggi melebar. Melebihi tinggi manusia. Tidak hanya satu kumpulan lumut saja yang berubah seperti itu. Semua lumut yang menyebar. "Apa yang terjadi dengan lumut kita?" Penna tak kalah histeris. Ia segera berdiri dengan was-was. Ia sungguh ketakutan. Bagaimana bila tubuh mereka terjebak dalam lumut yang terus membesar itu? Apa mereka bisa lepas dan lari atau malah hilang ditelan lumut? Lura berjalan mendekat ke arah tasnya. Namun, belum sampai dirinya tiba di dekat tasnya dan memegang tasnya, Lura terpental jauh hingga terjerambab dalam telaga air yang penuh dengan air. "Lura!!" teriak teman-temannya histeris. Mereka segera berlari mendekat pada Lura. Bratra mengulurkan tangannya untuk menolong Lura agar berdiri. "Kamu nggak papa, Lura?" tanya Penna khawatir. "Tidak apa-apa," jawabnya panik. Air terjun yang semula indah kini hilang. Tidak ada lagi tebing yang dari atasnya menjatuhkan air. Tak ada lagi tumbuhan yang tumbuh di sekitar air terjun. Semuanya telah lenyak digantikan dengan lumut. Tidak ada lagi pemandangan yang membuat mata tersegarkan. Tidak ada lagi mata yang menatap dengan binar penuh kekaguman pada pemandangan alam yang semula menyajikan keindahan yang tak ada duanya. "Kita lebih baik segera pergi dari sini!! Lumut itu semakin tumbuh dengan ganas!!" perintah Lura sembari berdiri dengan tak tenang. Posisi yang sedang berada dalam kubangan air membuat tubuhnya tidak seimbang, ia tercebur dalam air. Tiga rekannya kembali dibuat histeris. Lalu dengan segera mereka membantu Lura berdiri. "Benar! Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Tempat ini sudah tidak lagi aman," ucap Funa. Tas ransel Lura, sling bag milik Funa dan Penna, serta waist bag Bratra telah hilang dibalik lumut-lumut. Tidak ada niatan dalam benak mereka untuk menggali dan menyibak lumut itu demi mencari barang-barang mereka. Mereka hanya membawa handphone yang sejak tadi berada dalam genggaman. Lura, Bratra, Penna, dan Funa segera bersiap berlari kencang kala lumut tumbuh semakin tak terkendali. "Penna!! Gak usah pake sandal!! Kita harus segera lari!!" teriak Funa dengan menarik lengan Penna kuat. Sandal yang belum terpasang sempurna, Penna betulkan sembari berlari. Sehingga perempuan itu beberapa langkah hanya berlari dengan satu kaki. Mereka menyusuri jalan setapak kecil. Bila tidak paham betul dengan sekelilingi, mereka akan berpikir bahwa jalan yang dilalui sama dengan jalan saat berangkat. Namun sebenarnya tidak begitu. Mereka hanya fokus berlari mengabaikan sisi kanan dan kiri jalan. Bratra yang memimpin di paling depan menghentikan langkahnya sejenak, membuat tiga temannya mengerem laju lari secara mendadak. Beruntungnya tidak sampai menabrak satu sama lain. Ditakutkannya bila hal itu terjadi lalu mereka saling menindih. Tentu akan membuang banyak waktu. Sedangkan mereka saat ini sedang dikejar oleh amukan lumut. "Ada apa Bratra?" Funa berteriak dengan perasaan takut juga tegang. Begitu pula dengan yang lain. "Apa benar ini jalan pulang?" tanya Bratra sembari meliarkan pandangannya ke kanan dan kiri. "Sudah!! Kita nggak ada waktu untuk memikirkan hal itu, Tra. Yang paling penting kita harus segera menyelamatkan diri! Kita nggak boleh masuk dalam amukan lumut itu," jerit Funa. Tubuhnya gemetar hebat. Sungguh ia takut. Sangat takut. Membayangkan tubuhnya tergulung dalam balutan lumut membuatnya bergedik ngeri. "Ayo kita lari!! Lumutnya sudah semakin dekat!!" perintah Lura cepat juga dengan teriakan keras. Mereka segera kembali berlari dengan kecepatan maksimal. Tidak peduli dengan napas yang sudah mulai tak beraturan. Yang paling penting mereka tidak terbawa gulungan lumut. Mereka terus berlari cepat. Mengabaikan tanda larangan kedua untuk memasuki hutan. Bukan salah jalan. Mereka melewati jalan yang berbeda dengan yang mereka lewati saat berangkat. Ada batas larangan. Ada tanda silang merah besar, berukuran sekitar 10 centi kali 30 centi tiap kayu yang membuat tanda cross itu. Lalu di bawah tanda silang itu bertuliskan, 'Area Berbahaya! Dilarang Masuk Semakin Dalam'. Sayangnya tulisan itu kecil. Membuat mereka tidak menyadari. Mereka hanya terfokus ke depan juga sesekali menengok ke belakang. Lumut itu terus menggulung setiap benda yang dilewatinya. Membuat pepohonan tinggi hanya tampak setengah saja. Sepanjang mata menoleh ke belakang, semuanya hilang dan berubah menjadi lumut. "Funa!! Handphone aku ke mana?" tanya Penna sembari berhenti dari larinya. Ia lupa dengan amukan lumut. Ia meraba saku celana kainnya. Di saku kanan dan kiri tidak ada. Kosong. Bahkan ia juga sudah mengeceknya dengan merogoh sakunya itu. Di balik celana kain yang ia gunakan, ia memiliki alasan kuat dalam memilih celana itu untuk praktikum lapangan. Ia sengaja tidak memilih celana jeans. Celana jeans tebal dan sesak. Tentu saja tidak nyaman jika digunakan untuk aktivitas yang banyak gerak. Selain itu, celana jeans memang lebih trendi dan modis. Namun praktikum lapangan bukan ajang memarkerkan pakaian modis dan trendi. Bukan ajang pemilihan model untuk foto sebuah majalah. Jadi, menggunakan pakaian yang nyaman lebih penting daripada membesarkan ketrendian dan kemodisan. Hingga jatuhlah pilihan pakaian yang digunakan oleh Penna adalah celana kain itu dengan saku celana yang lebih dalam, sehingga barang apa pun yang ia simpan di dalamnya pasti akan aman, baik uang atau pun handphone. Namun, ke mana handphone-nya sekarang? Handphone yang sudah memiliki banyak foto. Banyak foto maka banyak kenangan yang terabadikan. Dan sekarang hilang? Maka kenangan yang selama ini telah ia abadikan pun ikut hilang? Penna menangis sesenggukan. Handphone-nya memang bukan seri terbaru, tapi momen yang terkenang hampir sudah lima tahun ini disimpannya dalam handphone itu. Ia memilih berjongkok lalu kepalanya ia telungkupkan di atas lutut dengan bantalan lengannya yang terlipat. “Handphone-ku,” racau Penna. Ia lupa bahwa akan ada bahaya yang menimpanya. Funa, Lura, dan Bratra masih berlari sekencang mungkin. Hingga Funa merasa dan tidak mendengar lagi tapak kaki yang menginjak bumi. Ditolehkannya kepalanya dengan cepat ke belakang. Penna tertinggal cukup jauh darinya. “Penna!!” teriak Funa kencang dengan kekhawatiran yang tak bisa ditutupi. Funa kebingungan. Jarak lumut yang mengamuk sudah sangat dekat dengan Penna. “Lura!! Bratra!! Kalian cepat ke sini!! Penna tertinggal di belakang!!” teriak Funa kacau. Ia memandang kembali ke depan. Lalu dengan cepat memutar kepalanya ke belakang. Sepenuh tenaga ia kemudian lari menuju Penna. Ia tidak akan membiarkan Penna dimakan oleh amukan lumut itu. Ia berlari kencang. Jantungnya bertalu kuat. Karena begitu khawatirnya, kakinya berulang kali saling bertabrakan. Membuatnya hampir terjerambab. Lura dan Bratra segera menyusul Funa ketika mendengar teriakan histeris Funa. Mereka berdua berlari dengan kencang. Funa pun terbalap oleh mereka. “Penna!! Apa yang kamu lakukan di sini!? Kamu nggak inget bahwa lumut sedang melahap habis semua benda yang dilewatinya, hah!?” teriak Lura kencang. Penna mendongak dan menatap tajam Lura. “Handphone-ku hilang!!” sentak Penna tak kalah tajam. “Penna.. tapi kita sekarang dalam bahaya. Kita tidak mungkin mencari handphone kamu di antara lumut-lumut itu,” sahut Bratra menenangkan. Ia tidak ingin ikut berteriak marah. Membuat masalah tidak segera terselesaikan. Dan berakhir pada mereka yang dilahap oleh lumut. “Penna!! Kamu ingatkan bahwa sekarang kita sedang bahaya!?” sahut Funa dengan napas terputus-putus. Meskipun ia tadi masih berlari dan masih terpisah jarak dari teman-temannya tetapi ia dapat mendengar topik apa yang sedang diperdebatkan. “Penna!! Ayo lari!!” teriak Lura sembari mengulurkan tangannya. Tatapannya juga tajam. Penna menangkis uluran tangan Lura. Kemudian perempuan itu berlari tanpa mempedulikan teman-temannya yang terbengong di belakang. Namun, air mata Penna menetes semakin deras. Teman-temannya tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Mereka tidak tahu betapa berartinya handphone-nya itu. Tidak ada yang tahu betapa sedihnya ia. Betapa hancurnya hatinya kehilangan momen kenangan yang terabadikan dalam handphone-nya. Penna terus berlari. Tidak mempedulikan teman-temannya yang memanggil namanya. Ia berlari dengan air mata yang mengiringi. Ketika air mata itu menghalangi pandangannya, akan diusapnya dengan kasar. Dengan penuh emosi. “Mereka tidak tahu bagaimana persaanku!! Mereka tidak tahu!! Tidak ada yang tahu,” racau Penna sembari berlari. “Kita memang tidak tahu bagaimana perasaan kamu ketika kehilangan handphone yang selama ini selalu menemani kamu. Namun yang kita tahu, kita berusaha menyelamatkan teman, menyelamatkan seseorang yang telah membersamai kita dari bahaya yang sedang mengintai. Jika kita boleh egois, kita mungkin akan membiarkan kamu ditelan lumut. Namun kamu lihat sendiri kan?” ketus Lura ketika laki-laki itu telah mampu mengimbangi langkah lari Penna. Biar saja ia dianggap laki-laki tak berperasaan. Bukankah selama ini julukan itu sudah melekat erat dengan dirinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN