17. Keinginan Penna dan Funa

1701 Kata
Jantung tiga mahasiswa di antara empat mahasiswa yang sedang berdiri di hadapan Radula itu berdetak cepat dan kencang. Berbeda dengan Lura yang tampak tenang dan biasa saja. Seakan hormon adrenalinnya telah ia atur dalam mode tenang. Tak pernah terburu-buru, tergesa, atau takut terhadap apa pun yang menurutnya bukan sesuatu yang harus ia takutkan. Di hadapan empat mahasiswa itu, Radula sedang mengamati tiga jenis lumut hasil Penna mengumpulkan dan menata di dalam wadah dengan sepenuh hati. Tatapan Radula yang tampak serius mengamati lumut itu membuat jantung Penna berdetak menggila. Bukan jatuh cinta. Namun detak jantung yang ketakutan. Ia sudah sering membuat kesalahan di dalam kelas dengan tugas-tugas yang ia kerjakan dengan asal. Ia tak ingin mendapatkan dampratan gratis dari Radula di tempat yang sejuk ini. Di sini ia harus dapat menikmati kesegaran, bukan menambah masalah dengan ceramah gratis dari Radula. "Yang mengambil lumut ini siapa?" tanya Radula dengan pandangan tajam menatap empat mahasiswa di depannya secara bergantian. "Kami bersama, Mas," jawab mereka serempak. Jantung Penna, Funa, dan Bratra semakin menggila kerjanya. Sedangkan Lura tetap berdetak dalam keadaan tenang. "Yakin?" Radula memandang satu per satu adik tingkatnya itu dengan tatapan intens. "Yakin, Mas," balas mereka kembali serempak. 'Ya Allah.. Lembutkanlah hati Mas Radula,' pinta Funa dalam hati. 'Mas Radula ini kenapa sok ngetes segala sih? Nanti kalau sampai keceplosan bisa gawat,' gerutu Bratra. 'Ma.. Pa.. Penna takut,' gumam Penna. Radula mengangguk. Dapat ia lihat wajah-wajah tegang di hadapannya. Terlihat pula wajah meyakinkan adik tingkatnya. Funa, Bratra, dan Penna mengembuskan napas lega ketika melihat anggukan kecil Radula. Rasa syukur tak henti-hentinya mereka panjatkan pada Allah karena Radula tak menginterogasi mereka lebih dalam lagi. Sekarang saatnya menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang akan Radula tanyakan mengenai lumut. "Kalau misal kalian diminta untuk memilih salah satu diantara tiga lumut ini, kalian mau pilih lumut mana yang akan diawetkan?" tanya Radula menyelidik. "Lumut hati, Mas," jawab mereka serempak. "Wah.. kalian kompak sekali!" Radula setengah memuji dan menyindir. Namun, muka laki-laki itu tampak tenang. Tidak menunjukkan wajah kagum atau pun sinis. Dan lebih tepatnya, pujian itu diselimuti dengan sindiran halus. "Kenapa lumut hati, Tra?" Radula memandang tajam pada Bratra. "Karena lumut hati adalah salah satu jenis lumut yang susah hidup bila tidak di lingkungan yang benar-benar cocok, Mas. Namun, sebenarnya lumut tanduklah yang lebih sulit ditemukan. Sedangkan bila lumut daun, kita mudah menemukannya. Di taman depan rumah saya lumut daun dapat tumbuh, Mas. Padahal termasuk dalam daerah panas," jelas Bratra tenang. Andai Radula lebih memperhatikan, ia harusnya dapat melihat jari-jemari Bratra yang bergetar. Sungguh takut laki-laki itu pada Radula. Radula kembali mengangguk sembari kembali mengamati lumut yang tersimpan dalam wadah. "Kalian pasti sudah hapal di luar kepala mengenai perbedaan dari tiap-tiap lumut ini, kan? Terutama pada bagian sporofitnya?" "In syaa Allah sudah, Mas." "Jadi saya tidak akan menanyakan hal itu lagi." Radula kembali diam sembari mengamati lumut dan wadah itu berulang kali. "Funa!!" Radula memanggil seakan ia seorang pimpinan yang memanggil anak buahnya dengan galak. "Iya, Mas?" jawab Funa. Jantungnya kembali berdetak menggila. 'Mau apa ini Mas Radula?' Gemetar kakinya karena Radula menyebut namanya. "Kira-kira.. lumut apa yang banyak ditemukan di sini? Di kebun raya ini?" Radula mengangkat kepalanya untuk melihat mata Funa. Funa balas menatap Radula dengan tatapan tak kalah tegas. Sebenarnya, hanya sebuah tatapan ketakutan yang berusaha ia tutupi sekuat hati dengan ketegasan dan tak gentar. "Lumut daun, Mas. Lumut daun di sini sangat banyak jenisnya. Tidak hanya jenis lumut daun yang sering kita lihat," ucap Funa lugas. "Apa alasannya lumut daun lebih banyak ditemukan baik di sini atau di sekitar tempat kita tinggal, Penna?" Penna terkejut luar biasa. Tubuhnya sampai berjengit saking terkejutnya. "Sebentar, Mas. Saya ambil napas dulu," ucap Penna spontan sembari menetralkan deru napasnya. Ia bahkan sampai memejamkan dan membuka matanya. Radula hampir saja menyemburkan tawanya, tetapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga. Funa dan Bratra juga, tetapi mereka berdua berusaha tidak menertawakan teman satu kelompoknya. Bisa-bisa mereka mendapatkan ceramah gratis dari Radula karena tidak berempati pada temannya. Berbeda dengan Lura yang masih tetap mempertahankan wajah datarnya. Seakan ia tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Namun sebenarnya dalam hati ia menertawakan Penna dengan keras. Bagaimana bisa teman-temannya tak tertawa bila Penna terkejut hingga tubuhnya hampir saja terjengkang? Entah Penna yang terlalu berlebihan atau memang karena perempuan itu benar-benar terkejut hebat. "Jadi dari tadi kamu nggak ambil napas?" ejek Radula. "Kalau kamu nggak ambil napas, seharusnya sudah dari tadi kamu nggak berdiri tegak seperti sekarang, Pen," lanjutnya. Penna tak mempedulikan ejekan Radula. Hal itu tidak penting baginya saat ini. "Saya sudah boleh menjawab, Mas?" tanyanya setelah napasnya telah berangsur normal. Radula mengangguk memberikan ijin. Ditatapnya Penna dengan tajam. "Karena berbedanya habitat, Mas. Maksudnya, habitat yang Penna katakan ini berupa tanah atau media yang cocok bagi lumut. Lumut daun, lebih tidak membutuhkan nutrisi mineral seperti lumut hati dan tanduk. Bahkan lumut daun dapat memberikan nutrisi bagi habitat yang ditempatinya. Hal itu yang menyebabkan spora lumut daun dapat dengan mudah tumbuh di mana pun. Di bebatuan, tebing, batang pohon, dan sebagainya." Penna mengembuskan napas lega karena berhasil menjawab. Meskipun ia takut bila jawabannya tidak tepat. Radula mengangguk. "Pinter kamu," kata Radula tak ikhlas. "Tapi kenapa setiap ada tugas selalu salah?" Penna hanya membalasnya dengan cengiran lebar. Ia pun tak tahu mengapa ia bisa seperti itu. "Baik. Untuk Lura saya tidak perlu bertanya karena saya yakin bahwa kamulah yang telah membimbing rekan-rekanmu sehingga dapat menjawab pertanyaan dari saya dengan baik." Radula mengembalikan wadah kotak yang berisi lumut pada Penna. Setelah Penna menerima kotak itu, Radula pun mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua tidak percaya. Bukan kepada empat orang itu, hanya kepada tiga orang di hadapannya. Lura tidak termasuk orang yang terkejut, ia tetap menampilkan wajah datarnya. *** "Bagaimana bisa kamu menebak semua pertanyaan yang akan Mas Radula tanyakan dengan tepat, Lur?" Sedari tadi, ketiga rekan sekelompoknya itu terus memberondongnya dengan pertanyaan yang hampir serupa. Dan Lura hanya menanggapinya dengan kedikan bahu. "Ya mungkin kebetulan," jawabnya setelah terus diberondong oleh Funa dan Penna. Bratra hanya bertanya sekali saja. Ia tidak seheboh kedua perempuan itu. Saat ini mereka sedang berjalan kaki kembali menuju area awal mereka mengumpulkan lumut. Mereka berniat memgambil tiga wadah susun yang sengaja mereka tinggalkan selama ACC bersama Radula tadi. Mereka ijin kepada Radula bahwa ada barang yang tertinggal, tanpa bertanya lebih dalam, Radula mengijinkan kelompok Lura kembali masuk menyusuri kebun raya karena sudah ada beberapa kelompok yang mengantri untuk ACC hasil pengumpulan lumut. Lura meletakkan wadah yang berisi tiga jenis lumut di atas tiga wadah yang telah tersusun. Lalu dimasukkannya wadah itu dalam tas Lura. "Nggak sia-sia kamu bawa ransel, Lur," kata Bratra. "Aku sudah memperhitungkan semuanya," jawabnya sembari fokus menata tatanan barang dalam ranselnya. Tidak lupa Lura memasukkan botol yang telah berisi awetan lumut daun. "Yang membuatku nggak percaya itu, Mas Radula meminta kita untuk membuat awetan lumut daun. Tepat banget sama awetan yang sudah kita buat," decak Funa tak habis pikir. Benar-benar di luar dugaan. "Kita balik, yuk," ajak Lura. "Kita jalan-jalan bareng anak-anak lain pakai kereta mini." "Ayo!!" jawab Funa antusias. Namun, ia merasa ada yang kurang dengan mereka. "Di mana Penna?" tanyanya ketika ia sadar bahwa Penna tak ada di sekitar mereka. Lura dan Bratra pun tidak mengetahui keberadaan Penna. Setahunya, Penna sedari tadi bersama mereka. "Penna!!" teriak Funa. "Kenapa, Fun? Aku di sini," balas Penna sembari memegang seuntai bunga berwarna oranye. "Kamu dari mana?" tanya Lura tajam. "Tadi aku lihat capung terbang. Terus aku ikuti capung itu, eh malah melihat anggrek oranye ini. Anggreknya bagus banget. Aku pingin ngambil anggrek ini dan kutanam di rumah," kata Penna. "Jangan ngawur. Nggak boleh ambil tanaman anggrek di sini. Pasti itu hasil budidaya atau memang sengaja dibiarkan liar." Lura memandang Penna tajam. Penna mencebik kesal. Bibirnya maju beberapa centi. "Kalau gitu kita jalan-jalan dulu, yuk. Tadi aku lihat banyak anggrek di sana," ajak Penna sembari menarik lengan Funa kuat. Lura dan Bratra saling berpandangan. Akhirnya mau tak mau mereka mengikuti dua perempuan itu. Sebagai laki-laki, mereka tidak mungkin meninggalkan dua perempuan itu mengeksplor kebun raya berdua saja. Funa dan Penna berdecak kagum memandang keindahan alam yang disuguhkan Kebun Raya Pididi. Di sisi kanan dan kiri mereka ditumbuhi dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Hijaunya alam benar-benar membuat mereka merasa tenang. Funa dan Penna bergantian berfoto dengan background pohon di kanan dan kiri jalan. Mereka secara bergantian berdiri di tengah jalan berukuran kurang lebih satu meter yang berpaving. Tampak seperti berada di suatu tempat yang sungguh indah. Ditengah senyum bahagia yang tersungging di bibir dua perempuan itu, ada satu wajah yang sedikit dongkol. Lura dipaksa memfotokan dua perempuan itu. Berdalih hasil memotret Lura yang bagus, dengan terpaksa Lura menjadi fotografer dadakan. "Wah.. bagus banget!! Kayak bukan di Indonesia," decak Penna dan Funa hampir bersamaan. "Hasil Lura memfotokan memang benar-benar bagus," puji Funa sembari mengacungkan dua jempolnya ke arahnya Lura. Lura tetap memasang wajah datar dan dinginnya. Ia kemudian lebih memilih memotret jenis lumut yang ada di sekitarnya. "Kamu nggak ikut foto sekalian, Tra?" tanya Lura setelah ia menyimpan handphone-nya. "Enggak deh. Cukup foto pemandangannya saja." Setelahnya Bratra tampak sibuk dengan handphone-nya untuk memfoto berbagai objek pemandangan. Lura pun memilih duduk di batang pohon yang roboh dan batang itu sudah tampak lapuk. Untungnya batang itu masih kuat sehingga masih mampu menahan beban berat tubuh Lura. Lura memilih melihat hasil pemandangan yang ia jepret. Ia berniat meng-upload hasil jepretannya pada akun i********: miliknya yang feed-nya banyak berisi tentang alam atau pemandangan seperti jalan, lalu lintas kendaraan, dan yang lainnya. “Kalian denger suara gemericik air nggak sih?” celetuk Funa. Lura, Bratra, dan Penna diam menajamkan pendengaran mereka. Keheningan diantara mereka membuat telinga mereka mampu menangkap suara dengan jelas. “Iya. Kayak aliran sungai. Atau air terjun?” sahut Penna dengan alis yang saling bertaut dan dahi sedikit berkerut. “Kita ke sana, yuk,” ajak Funa antusias. “Jangan!! Kita balik saja. Kita sudah jalan-jalan cukup lama,” peringat Bratra. “Nggak masalah. Sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan,” bujuk Funa. Ia segera menarik Penna dan Bratra dengan kuat. Sedangkan Lura mau tak mau pun mengikuti langkah teman-temannya. Jika ia mengikuti egonya, ia ingin kembali ke teman-temannya yang lain. Namun bila ia hanya kembali seorang diri, Radula pasti akan menerornya dengan berbagai pertanyaan. Lagi pula ia juga ketua kelompok, ia yang bertanggungjawab penuh terhadap anggotanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN