25. Argantuma

1617 Kata
Inikah yang disebut dengan sudah lelah mendaki gunung, puncak sudah di depan mata, hanya berjarak tak sampai satu kilo lalu tiba-tiba badai besar datang menghalangi niat tiap pendaki untuk menikmati puncak gunung? Mereka dipaksa untuk turun karena keselamatan adalah nomor satu. Mereka dipaksa untuk turun dan berlari menyelamatkan diri dari amukan badai. Jika memang ini yang para pendaki rasakan, begitulah yang dirasakan pula oleh Lura, Penna, Bratra, dan Funa. Bedanya mereka sedang tidak mendaki gunung. Hanya saja apa yang mereka alami, perasaan yang sedang mereka rasakan berbeda dengan para pendaki yang mengejar puncak gunung sebagai bonus. Lura dan tiga temannya mengejar setitik cahaya menuju keselamatan dan mengejar sebuah kepulangan, kembali berkumpul dengan keluarga, berbagi kehangatan. Tidak sedang mengejar bonus apa pun. Mereka hanya ingin pulang. Pulang ke rumah. Pulang ke pelukan hangat orang tua. Naasnya, kesabaran dan usaha mereka kalah dengan hadirnya monster besar yang tiba-tiba masuk ke dalam pipa yang sedang mereka perjuangkan agar dapat keluar darinya. Setitik cahaya yang sedang mereka kejar tiba-tiba tertutup sebuah benda. Mereka kembali berada dalam kegelapan yang memaksa mata untuk berakomodasi penuh. Hingga ada sebuah lubang sangat kecil yang mulai terbuka, menampakkan cahaya dan sedikit ketenangan yang membantu mereka untuk dapat melihat sekitar, membuat netra mereka dapat menangkap siluet hewan besar. Netra mereka melebar seketika. Perasaan was-was kembali menghantui. Bencana apalagi ini? Makhluk besar terjebak masuk dalam lubang itu. Makhluk itu adalah sejenis lalat, dengan kaki berjumlah tiga pasang atau enam kaki. Sayapnya terlipat dan menempel erat dengan tubuhnya. Makhluk besar itu sering disebut dengan Argantuma. Raksasa yang dapat terbang dan menakutkan. Mampu menebarkan berbagai penyakit bila ia menetaskan telur pada tempat yang dipijaknya. Empat jiwa yang sudah hampir mencapai titik terang itu berteriak histeris. Lalat itu dapat saja memangsa mereka karena ukuran tubuh raksasanya. Mungkin tiga kali ukuran tubuh mereka. Yang jelas saluran itu terpenuhi oleh tubuhnya. "Waaaaaaaaa........." teriak dari tiap insan itu. "Bahaya.. bahaya.." ucap Lura tak karuan. "Kita dalam bahaya.." racaunya tak tenang. "Bagaimana bisa kita melewati makhluk besar itu? Tubuhnya memenuhi saluran," ucap Lura tak tenang. Tiga teman yang berada di belakangnya pun tak kalah kalut. Apa hidup mereka akan berakhir dalam santapan makhluk besar itu? Tidak mungkin mereka kembali masuk ke dalam saluran. Itu akan memperlambat mereka keluar dari lubang itu. Dan hal itu tak boleh terjadi. Mereka harus segera keluar. Keluar dari kegelapan yang perlahan-lahan bisa membunuh mereka. "Kita harus melakukan cara," tandas Lura. "Kita tidak boleh termakan oleh makhluk besar itu. Kita juga tidak boleh kembali ke dalam. Hal itu tidak boleh terjadi," kata Lura sembari menengok ke arah teman-temannya. Argantuma masih berjarak cukup jauh dari mereka. Makhluk itu merosot sangat pelan ke dalam saluran. Ukuran tubuh raksasanya membuatnya susah masuk ke dalam saluran. "Tapi apa yang bisa kita lakukan?" tanya Penna tak tenang. "Kita pasti dimakan sama makhluk besar itu," ucap Funa ketakutan. "Nggak boleh!! Kita harus selamat!!" tegas Lura. Mereka terpacu dengan ucapan Lura. Seakan mendapat sengatan listrik yang membuat mereka tersadar bahwa mereka harus kembali semangat. Tidak mudah goyah akan pendirian untuk bisa keluar dari pipa yang menjebak mereka. Tidak mudah menyerah hanya karena ada aral rintangan yang terpampang nyata di depan mata. "We must safe from this monster. Don't give up! I believe that we can safe and back to home," ucap Lura tegas dan yakin. "Kita pasti bisa!!" seru Funa dan Penna bersamaan. "Bratra, are you okay?" tanya Funa yang tak mendengar rekan laki-lakinya itu berucap. "I'm okay," balas Bratra tak jelas. Funa dan yang lain segera memutar kepala mereka ke belakang. Dan mereka antara terkejut juga ingin tertawa melihat wajah Bratra yang penuh dengan lendir. Wajah laki-laki itu seakan baru saja tersebur dalam wadah madu. Sehingga lendir itu tampak menetes dan memenuhi wajah. Sungguh menggelikan. "Kalian jangan tertawa!" peringat Bratra dengan mulut yang tidak bisa membuka normal ketika berbicara. Mulutnya tertempel rapat karena lendir yang begitu kuat itu. Lura, Penna, dan Funa tidak dapat lagi menahan tawa yang sejak tadi mereka tahan. Dan menggemalah suara tawa puas itu memenuhi saluran pipa. Mereka terus tertawa hingga puas. Tidak mempedulikan wajah Bratra yang menatap penuh peringatan. Laki-laki itu kesal. Namun tak ada yang bisa ia lakukan untuk membungkam mulut teman-temannya. Mereka masih tertawa, bahkan sampai membuat perut mereka keram dan sakit. Mereka seakan baru saja bisa merasakan ketenangan dan kebebasan. Di mana sejak mereka melarikan diri dari amukan lumut hanya rasa tegang dan takut yang mengikat diri. Bahkan hingga mereka terjebak dalam saluran pipa itu. Dan akhirnya kini mereka bisa menenangkan jiwa dengan melepas tawa berkat wajah Bratra yang sungguh mengenaskan. Auman keras terdengar memenuhi saluran pipa kuning kehijauan itu. Membuat bulu roma berdiri tegak. Keringat mulai membasahi kulit. "Ssttt... Hentikan tawa kalian. Nanti lalat raksasa itu akan mengetahui keberadaan kita," ucap Lura lirih. Bratra mendengus sebal. "Kan aku nggak ketawa. Kalian yang malah menertawakan tadi," jawab laki-laki itu. Sungguh Bratra memang keras kepala. Seharusnya ia tetap diam saja dan bersabar. Memaksa berbicara sama saja dengan mengundang tawa kencang teman-temannya. Lura, Penna, dan Funa tidak dapat menahan tawa mereka. Suara Bratra yang teredam oleh lendir begitu lucu. Seperti suara robot, tetapi ada aksen Bahasa Jawanya yang kental. "Wwweeerrr........." Auman lalat raksasa itu terdengar semakin keras. Menggema ke setiap sudut saluran pipa, hingga gelombang bunyi itu mencapai ke luar saluran pipa. Dahsyat dan membuat pendengaran berdengung. Permukaan pipa pun bergetar. Membuat tubuh empat insan itu sedikit bergoyang. "Maafkan aku Bratra," ucap Lura tak enak hati. Berbagai hal yang menimpa Lura dan tiga temannya membuat laki-laki itu menjadi lebih peka dan suka tak enak hati. Yah meskipun ucapan pedasnya masih menempel kuat bak kuman. Sudah menjadi habbit akan susah untuk dihilangkan. Bratra dapat merasakan ketulusan dibalik permintaan maaf Lura. Ia menjadi terharu karena Lura yang tiba-tiba berada dalam mode seperti ini. Begitu pula dengan Penna dan Funa yang juga terkejut mendengar permintaan Lura pada Bratra. Bratra hanya menjawabnya dengan deheman. Ia tidak ingin lagi menjadi bahan tertawaan para temannnya, yang berakibat mendapat amukan monster itu. "Lalu kita harus bagaimana? Monster itu pasti akan terus merosot. Dan kita bisa kena hantaman tubuh besarnya itu, Lur," kata Funa. Sungguh ia tidak mau bila tubuhnya harus dihimpit oleh teman-temannya lagi dan sekarang akan ditambah dengan beban Si Argantuma. Membayangkan hal itu membuat Funa bergedik ngeri. Argantuma tampak semakin merosot. Semakin mendekat dengan rombongan Lura. Membuat jantung Lura berdebar kencang. Begitu pula dengan yang lain. Napas mereka memburu. Mereka hanya mampu diam, tidak tahu harus melakukan apa agar tidak kembali tergelincir bersama Argantuma. Argantuma kembali mengaum. Bunyinya kembali membuat saluran pipa itu bergetar. Lura mencoba berpikir. Hal apa yang membuat Argantuma mengaum? Sedangkan mereka saat ini sedang diam. "Sepertinya makhluk besar itu mendengar deru napas kita. Kita harus benar-benar menciptakan kesunyian agar makhluk besar itu tidak mengintai kita," kata Lura dengan begitu lirih. Tidak ingin membuat Argantuma terusik. Mereka mengatur deru napas agar lebih tenang. Cukup kerja jantung saja yang menggila. Napas mereka harus tetap stabil agar tubuh mereka tetap normal. Terlalu menggebu dalam bernapas juga mempengaruhi banyaknya ATP—satuan energi (Adenin Tri Phosphate) dalam sel—yang keluar. Maka akan menyebabkan cepat habisnya energi dalam tubuh. "Lalu kita harus ngapain ini, Lur? Makhluk besar itu semakin dekat?" bisik Penna. "Mungkin kita bisa menempelkan diri pada lendir ini," celetuk Funa dengan suara sangat pelan. "Apa tidak ada kemungkinan bahwa tubuh kita malah akan semakin tertempel pada tubuh monster mengerikan itu?" sahut Penna dengan takut. "Entah," jawab Funa tak yakin. "Kita coba saran Funa. Semoga tubuh kita lebih tertempel pada lendir daripada tubuh Si Monster itu," balas Lura. "Tapi.. Lur.. lendirnya kan menjijikkan," protes Penna. "Lalu kamu mau bagaimana?" dengus Lura kesal. "Ada ide lain?" tantangnya. Penna menggeleng. "Ya nggak ada," jawabnya lirih. "Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan saat ini. Jika kita memang akan terbawa oleh monster itu, aku berharap kita tidak sampai dimakan olehnya," kata Lura. "Namun, kita harus optimis bahwa kita akan selamat," lanjutnya. Tanpa banyak protes dan perbedaan pendapat, mereka mulai menempelkan diri pada lendir. Tubuh mereka seakan memeluk lendir itu dengan erat. Lendir pun tak segan untuk membalas pelukan tubuh mereka. Mereka saling berpelukan dengan kuat. Tubuh empat mahasiswa itu semakin menempel kuat. Lendir itu berhasil memenjara tubuh mereka. Dan Argantuma itu semakin dekat. Jantung berdetak menggila. Mata ditutup rapat. Takut bila mereka akan diketahui oleh Si Monster. Tidak siap bila keadaan membawa mereka kembali jatuh ke dasar pipa. Tidak akan pernah siap. Kepala didekatkan dengan lendir. Mata terpejam. Mulut ditutup rapat. Mungkin inikah yang dinamakan dengan karma kilat? Belum 30 menit dari menertawakan Bratra, kini mereka harus menceburkan wajah dengan ikhlas pada aliran lendir. Berbeda dengan Bratra yang memang terjatuh ke permukaan lendir karena berusaha melepaskan lendir yang menempel kuat di lututnya. Deg. Deg. Deg. Bunyi detak jantung itu kuat. Jantung bekerja lebih keras karena dipengaruhi oleh hormon adrenalin. Dalam hati tak putus-putusnya mereka berdoa agar Argantuma tidak membawa serta tubuh mereka. Mereka hanya ingin segera keluar. Sudah lelah mereka tersiksa dan terjebak di bagian bumi antah berantah itu. Jantung semakin bertalu kencang. Argantuma sudah tepat berada di atas kepala Lura. Membuat laki-laki itu menahan napasnya disertai dengan ketakutan. Ia diam kaku bagaikan patung. Menunggu apa yang akan menimpanya. Lura hampir menangis saat Argantuma berhenti tepat di atas punggungnya. Ia ketakutan. Membuat tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak dapat menahan rasa takut itu lagi. Argantuma seakan merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan sayapnya. Tampak ada yang menempel kuat di sayapnya. Argantuma bergerak dengan tenaga penuh. Tidak ada hasil. Sesuatu yang menempel pada sayapnya belum lepas. Si Argantuma seketika segera mengaum dengan kencangnya. Membuat saluran pipa itu bergetar hebat. Dan berhasil. Tubuhnya dapat meluncur dengan cepat ke dasar saluran pipa. Membuat napas Lura, Penna, Funa, dan Bratra menjadi tenang. Mereka lega luar biasa. Mereka bisa terbebas dari ancaman Argantuma, si raksasa lalat yang suka mengaum dengan kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN