Bab 2. Pernikahan?

1168 Kata
“Bagaimana Emely, Adam?” tanya Rizki meminta persetujuan orangtua Arkan. Hanya itu satu-satunya cara menyelamatkan keluarga mereka agar tak menanggung malu dan keluarga Arkan tak menuntut ganti rugi apalagi sampai mengambil kembali investasi di perusahaan Estell. “Apapun itu kami setuju asalkan pernikahan dilaksanakan hari ini.” Bukan Emely ataupun Adam yang menjawab tapi Arkan. Arkan menatap satu persatu anggota keluarga Estell, tatapannya berhenti tepat ke arah perempuan yang berdiri tegang tak jauh darinya. Kedua mata mereka menatap lekat satu sama lain, Arkan dengan tatapan datar tanpa ekspresi sedangkan Luna dengan tatapan bingung. Lama mereka menatap akhirnya Luna lah yang memutuskan tatapan itu. “Ada apa dengan pria itu, menyeramkan,” batin Luna mengelengkan kepala. Ia was-was dengan pria yang baru saja ia tau adalah calon kakak iparnya. Tatapan pria itu seperti mengartikan sesuatu. “Apa maksudnya, menikah? Aku tidak mau,” seloroh Luna dengan mata yang membulat sempurna. Ia kaget dengan keputusan tiba-tiba dari Amala ibu tirinya. Tak salah lagi Amala selalu saja menjebaknya bahkan sering menyalahkannya untuk hal-hal yang tak Luna lakukan. Ia tak terima tiba-tiba saja namanya disebut, seharusnya ia tak datang, seharusnya ia berada di kampus saja hari ini. “Tentu saja, hanya kamu kandidat yang tepat di sini,” balas Amala, masih kekeuh ingin Luna yang mengantikan posisi Rena. Amala cukup senang setelah menemukan solusi dari masalah mereka. Tak hanya itu saja, dengan pernikahan ini ia bisa mengusir Luna dari rumah tanpa mengeluarkan tenaga. Ibarat kata, sekali mendayung dua sampai tiga pulau terlampaui. “Baguslah, dengan pernikahan ini anak durhaka itu bisa angkat kaki dari rumah,” batin Amala tersenyum senang di dalam hatinya. Jika Luna pergi ia bisa leluasa berkuasa di rumah itu tanpa ada gangguan dari sampah seperti Luna. Luna tertawa mengejek saat mendengar perkataan Amala yang tak masuk akal. “Lelucon apa ini, aku tak mau!” tegas Luna menatap satu persatu anggota keluarganya. Ia tak habis pikir dengan ide gila yang dilontarkan Amala. Amala memang ingin menghancurkannya. Rizki ayah Luna hanya diam menyimak perdebatan anak dan istrinya. Ia sedang menimbang rencana yang diajukan Amala. Amala benar, sebenarnya ini adalah janji antara mertuanya dan keluarga Mahesa di masalalu dan bukan tanggung jawabnya. Sudah sewajarnya Luna lah yang bertanggung jawab. “Tidak ada bantahan, Luna! Pengawal bawa dia” perintah Rizki tanpa menanyakan pendapat Luna, seperti kehidupan Luna tak ada artinya bagi mereka. Seakan Luna hanyalah tumbal yang bisa mereka serahkan kapan saja. Luna kaget dengan perintah dari Rizki, ia kira Rizki akan mencari cara lain menyelamatkan keluarga mereka. Tatapan yang awalnya menantang dan penuh amarah kini berubah sendu saat kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata Rizki. Kekecewaan yang sangat dalam, tatapan seoarang anak yang meminta belas kasihan dari seorang ayah. “Ayah, apa yang kau lakukan … lagi, kau melakukannya lagi,” ungkap Luna dengan nada lirih, sangat lirih. Wanita itu mendekat, melihat dengan jelas wajah ayahnya yang terlihat memalingkan muka. Luna tertawa sinis melihat hal itu. “Sampai kapan ayah menuruti perintah wanita itu!” tunjuk Luna ke arah Amala yang berdiri tak jauh darinya, tatapannya berubah tajam dalam hitungan detik. Luna sangat pandai dalam bermain ekspresi. Ia tak segan-segan melawan jika itu menganggunya. Seperti sekarang, ia tak mau ditumbalkan hanya untuk hidup mewah Amala dan anaknya itu. “Apa maksudmu, Luna. Bukankah sudah jelas, Rena itu kakakmu kamu lah yang mengantikan posisinya,” tutur Violet adik tiri Luna dengan nada sewot. Luna melihat sebentar ke arah Violet, lalu tatapannya beralih ke keluarga Arkan yang sedari tadi menyaksikan perdebatan mereka. Luna berusaha meminta bantuan, berharap salah satu dari mereka menolong Luna, membatalkan pernikahan itu sampai Rena ditemukan. “Ok baik, siapapun itu asalkan dengan putri sah keluarga Estell,” jawab Emely dengan pasti, walaupun sempat ragu saat melihat wajah lirih Luna. Wanita yang tak bersalah harus dikorbankan demi kepentingan bisnis mereka, namun ia berusaha menyakinkan diri bahwa Luna adalah orang yang pas menjadi pendamping Arkan. Luna mengelengkan kepala mendengar penuturan itu. Tertawa sinis dengan takdir yang tak pernah berpihak padanya. Entah kapan kebahagiaan menghampirinya “Ayo, Nona.” Pengawal meminta Luna untuk ikut bersama mereka. Sebelum benar-benar pergi dari sana, terakhir kali ia menatap nanar ke arah Rizki yang sedari tadi diam tak mengatakan apapun. Bahkan Rizki tak membelanya sedikitpun, jangankan membela menatapnya saja tidak. *** Terlihat Luna berada di dalam kamar pengantin milik kakaknya, ia dibawa paksa ke sini dan didandani seperti pengantin pada umumnya. Luna diam menatap kosong ke arah pantulan wajahnya. Di sana ada wanita dengan wajah pucat, yang hidupnya begitu miris. Tak dianggap di keluarga, hidup sendiri tanpa dukungan siapapun dan sekarang malah mengorbankan masa depan yang telah ia rancang begitu indah demi kemewahan pribadi ibu tiri dan adik tirinya. “Kak Rena, apa yang terjadi? Padahal aku sangat percaya bahwa Kakak berbeda dari ayah,” batin Luna menatap nanar pantulan wajahnya di kaya rias. Kecewa? Tentu saja, ia kecewa terhadap keluarganya terutama Rena. Gara-gara Rena ia harus menikah dengan orang asing yang bahkan sampai sekarang Luna tak tau namanya. “Kenapa? Kamu terpaksa menikah dengan saya?” tanya seseorang yang tepat berada di belakang Luna. Saking asiknya melamun Luna tak sadar ada seseorang selain dirinya di kamar itu. Sedikit kaget, namun ia segera menghilangkan rasa kagetnya. Luna menatap ke depan ke arah kaca meja rias. Terlihat orang itu berdiri di samping pintu memperhatikannya yang sedang duduk di meja rias. Wajahnya masih datar seperti biasa, tak ada senyuman ataupun sapaan hangat dari sang pria. “Masih menanyakan itu? Bukankan tak ada yang mendengarkan pendapatku?” tanya Luna dengan nada lirih. Ia pasrah dengan nasibnya, toh ia juga tak memiliki masa depan. Sepertinya ia melakukan kesalahan dengan memikirkan masa depan yang bahagia, merancang sedemikan rupa hanya untuk sebuah senyuman? Namun semuanya sirna hanya dalam sekejap mata. Arkan hanya diam tak mengatakan apa-apa, pria itu memilih mendekat ke arah Luna, masuk lebih dalam ke dalam kamar Luna. Bukan kamar Luna, lebih tepatnya kamarnya dan Rena. “Agrhh!” Luna berteriak kesetanan, melepaskan aksesoris yang menempel indah di rambutnya. Rambut yang awalnya rapi kini tak berbentuk lagi. Tak hanya itu saja Luna juga membuang semua barang yang ada di meja rias dengan kasar, tangannya berhenti saat melihat bunga tulip yang tertata rapi di atas nakas. Air matanya menetes mengingat dialah yang memberikan bunga itu sebagai hadiah untuk Rena. “Aku tidak peduli lagi!” teriak Luna, melemparkan bunga itu ke lantai menimbulkan bunyi pecahan yang sangat nyaring. Arkan saja sampai menutup telinga. Pandangan Arkan tertuju ke arah tangan Luna yang terluka akibat pecahan beling. Ia pun maju mendekat ke arah Luna. “Percuma kamu begini, kita akan tetap menikah,” ujar Arkan memberikan sapu tangan agar Luna bisa membersihkan darah yang terus menetes. Mendengar penuturan itu membuat Luna meradang, ia bukannya tenang malah semakin membuatnya marah“Ya memang percuma, tapi bagaimana kalau ini ….” Luna dengan cepat mengambil pecahan kaca lalu mengarah ke pergelangan tangannya. Siapapun tau di sana adalah titik vital manusia. “Hei! Apa yang kamu lakukan!” Arkan melototkan mata panik sekaligus takut kalau sampai Luna nekat melukai dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN