Tidak ada kemarahan yang tidak berdasar. Entah pada apa sebenarnya perasaan itu begitu membelenggu untuk disuarakan. Ataukah rentetan kejadian itu yang akhirnya menyadarkan.
Mungkin, cara berpakian Bianca atau wajahnya yang masam dengan congor satu senti dibibirnya selalu membuat gadis itu sering dibicarakan satu sekolah. Semua orang mengenalnya, cantik, galak, dan juga menyeramkan. Setidaknya itu selalu menjadi hal pertama yang orang-orang bicarakan tentangnya.
Tidak terlepas pula dari siapa Bianca di Danirian. Satu-satunya yang berani menentang Titan, juga satu-satunya yang mampu membuat Titan menghela napas atas kekalahannya setiap berdebat dengan gadis itu.
Atas banyaknya hal yang terjadi, juga segala hal yang mendominasi diseluruh penjuru sekolah, Bianca tidak pernah terlepas dari pembicaraan tentang betapa banyak yang memuja gadis itu. Juga tidak banyak pula yang terang-terangan tidak menyukainya. Karena menganggap Bianca hanya senang cari perhatian.
Tapi Bianca akan selalu berdiri dengan kakinya sendiri, menepis segala hal buruk yang datang kepadanya, juga mengabaikan makian yang kadang kala ia dengar. Persetan dengan itu semua, tidak ada yang membuat Bianca kaya hanya dengan meladeni semua orang tersebut.
Lantas terlepas dari itu semua, pertengkaran dan perkelahian yang sering Bianca pertontonkan disekolah selalu mendominasi keberadaan gadis itu bagi Danirian. Juga kedudukannya yang tidak terlepas dari betapa gilanya dia.
Seperti saat ini, bagaimana Bianca tengah menarik seragam seorang cewek berambut pirang, menjadi tontonan hangat sebelum bel istirahat berakhir. Pemandangan itu sendiri menjadi riuhan heboh serta pekikan yang tidak ada habisnya. Bianca sendiri tidak berhenti membuat cewek berambut pirang tersebut mengaduh atau apapun yang dia teriakkan.
"LEPASIN BAJU GUE CEWEK MURAHAN!"
Pekikan itu, semakin membuat koridor penuh oleh orang-orang yang ingin tahu. Oleh banyaknya siswa yang senang melihat kekacauan disekolah mereka.
Bianca tidak akan pernah cari masalah jika saja orang-orang tidak menyenggolnya. Tidak akan mempertengkarkan sesuatu yang kekanak-kanakan, juga tidak ingin tahu jika saja ia tidak disebut-sebut dan dibicarakan atau yang lebih parah difitnah atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
Jadi mendengar dari teman-temannya yang mengatakan bahwa Tessa menyebar gosip murahan tentang Bianca yang menjual dirinya, membuat Bianca geram dan tanpa pikir panjang memutuskan untuk menemui cewek itu. Untuk tahu apa yang membuat Tessa bisa mengatakan hal keji itu? Sialan.
Lantas kedatangannya sama sekali tidak disambut ramah, padahal Bianca hanya ingin bertanya. Jadi, kemarahan itu tidak mampu lagi Bianca tampung. Atas omongan t***l Tessa, Bianca harus memberi cewek itu sebuah pelajaran. Paling tidak jika kata-katanya tidak diindahkan, Bianca ingin memukulnya untuk menegaskan dengan siapa dia berurusan.
Bianca masih tidak peduli saat erangan Tessa semakin membuatnya hilang kendali. Menekankan tangannya lebih dalam untuk membuat cewek berambut pirang itu kesakitan, ia berujar. "Cewek murahan?" beo Bianca pertama. Ia berpindah untuk menarik kerah cewek dihadapannya. Menatap cewek itu berang sebelum berujar. "Lo pernah nemu gue jual diri?"
Cewek itu menepis tangan Bianca. Mendekat untuk menampar Bianca, namun berhasil tertahan. Bianca tidak akan semudah itu untuk dipukul atau dilukai.
Gantinya, mendorong cewek itu secara kasar hingga tersungkur ke lantai, Bianca berujar kembali. "Terserah apapun yang mau lo omongin. Tapi ingat ini Tessa, lo enggak tahu hidup gue, jadi, gue saranin. Enggak usah ngawur sebelum bibir lo gue gunting!" geram Bianca pertama. "Jangan cari masalah sama gue, b***h!" sambungnya tidak suka. Lantas menoleh kesekelilingnya, Bianca memberi pelototan pada semua orang disana.
"APA LO SEMUA LIAT-LIAT? MAU GUE GAMPAR?" geramnya pada kerumunan disana.
Lalu semua yang disana memilih untuk berbalik badan dan berlalu. Tidak ingin berurusan juga dengan gadis gila seperti Bianca. Tapi tidak dipungkiri bahwa masih ada juga beberapa yang bertahan disana.
Bianca sendiri sudah menatap Tessa yang tergeletak kelantai. Memperhatikan seragam cewek itu yang kini sudah berantakan. Sebelum berujar menegaskan. "Lo tahu gue enggak akan segan-segan ngehancurin mulut sialan lo itu! So, gue saranin, jangan pernah ngomong hal-hal busuk yang enggak lo tahu tentang gue." ucapnya penuh penekanan. "Menjijikan lo!" sambungnya. Setelah itu Bianca memilih untuk ikut berlalu dari sana. Meninggalkan semua orang yang sudah membulatkan mata menatapnya tidak percaya.
"Sadis emang tuh cewek." Danar, ketua kelas 12 ips 1, menggeleng tidak percaya. "Bianca benar-benar nggak waras."
"Ckckck. Tiga tahun gue disini, sekalipun enggak pernah denger Bianca bebas dari masalah." Taca, anak kelas 12 IPA 3, ikut menimpali. "Ada-ada aja, sakit jiwa tuh cewek."
"Tapi lebih baik emang gak berurusan sama Bianca. Lo tau kan temen-temennya siapa?" Albi, teman sekelas Taca ikut menimpali. "Ribet entar urusannya."
Lalu barisan bubar, seiring kedatangan teman-teman Tessa yang lain. Mereka bahkan terlonjak memperhatikan Tessa yang sudah terlihat sangat memprihatinkan. Tidak mengerti apa yang terjadi, karena mereka sudah pergi untuk membeli beberapa cemilan dan juga ke kamar mandi.
"Tessa, lo baik-baik aja?" Megan sahabatnya bertanya, ikut membantu Tessa untuk segera angkat. "Kenapa? Ada apa gila?"
Menggeram, Tessa mengepal tangannya kuat. "Sialan tuh Bian! Dia pikir, dia siapa? Dia kira, kalau dia sahabatan sama Alana gue bakal takut? Cih!"
"Kenapasih?" gerutu Megan lagi. Penasaran. "Gue tinggal ke wc, lo sedetik aja ditinggalin udah berantem." Megan berdecak heran. Menggeleng gamang.
Membersihkan seragamnya yang acak-acakan. Tessa mengepal tangannya kuat. Penuh dengan dendam. "Gue ngomongin tuh anak di gc, gatau siapa yang lapor. t*i emang! Tunggu aja dia!" geram Tessa lagi. Masih tidak menyangka bahwa Bianca sudah mempermalukannya dihadapan semua orang di Danirian. "Setan, gue bakal cari tahu siapa yang lapor."
"Ye, lo kayak gatau aja tuh medusa." kekeh Poppy kemudian. Menimpali. "Makanya hati-hati kalau ngomong, pastiin anak gc kagak cepu."
Tessa benar-benar tidak akan bisa menerima ini. Semua yang Bianca lakukan, apa yang cewek itu beri padanya akan Tessa balas nanti. Ia bersumpah. "Dia udah malu-maluin gue. t*i!" decak Tessa. Masih tidak terima sama perlakuan Bianca barusan. "Gue bakal balas."
Poppy kembali menenangkan. Jika memang ingin berhadapan dengan Bianca, harus ada yang mereka pikirkan matang-matang. "Susun rencana dulu, ok? Baru kita habisin." yakin Poppy lagi. Berusaha untuk tidak gegabah dalam mengambil tindakan.
Megan mengangguk membenarkan. Jika berurusan dengan Bianca, harus ada yang mereka persiapkan. Juga mungkin itu lebih dari sekedar persiapan. "Dia pikir, semua orang takut sama dia? Dih. Sorry-sorry aja." kekeh Megan meremehkan. "Tenang aja Tess, kita pikiran sama-sama."
"Gue enggak akan terima gitu aja, tunggu aja tuh cewek sialan!" decak Tessa, menggeram. Lalu ketiganya mulai memasuki kelas mereka, 12 IPS 1. Satu-satunya kelas yang memang sering bertengkar dengan kelas 12 IPS 3. Entah dalam permainan juga dalam akademik. Aneh, tapi memang dua kelas itu sering dibicarakan satu angkatan.
Sementara itu Bianca baru saja memasuki kelas ketika Tata dan Alana sudah menyemprotnya dengan banyak sekali pertanyaan. Menatapnya dengan gelengan tidak kepala juga keterkejutan.
Pembicaraan perihal pertengkaran Bianca dan Tessa sudah beredar keseluruh Danirian. Sudah menjadi berita teratas, juga topik utama disetiap grup kelas. Pembahasan itu sendiri tidak berhenti saat mereka menyuarakan keterkejutan atas semua yang Bianca lakukan pada Tessa. Seruan kagum dan juga ledekan penuh semangat membuat berita itu tidak berkesudah.
Sebagian laki-laki mendukung Bianca, tapi tidak heran beberapa perempuan juga lebih senang menghakiminya. Tapi Bianca hanya harus tidak peduli atas itu. Perkelahiannya dengan Tessa adalah urusannya. Siapapun yang mengomentarinya tidak berhak untuk tahu.
Tata, dia sudah mendekati Bianca. Mendempet sahabatnya itu untuk tahu apa yang terjadi. Juga sebentuk penjelasan yang harus diterimanya. "Lo berantem sama Tessa??" tanya Tata pertama. Menggeleng tidak percaya. "Bian, ada apa lagi kalo ini?"
Alana juga sama. Ia sudah menunggu untuk mendengar penjelasan. "Kok bisa? Kenapa lagi?" sahut Alana kemudian, memasang wajah tidak mengerti, karena berita itu mengguncang seisi Danirian dalam waktu singkat. Benar-benar sangat singkat.
Tapi selalu, reaksi Tata-lah yang tidak pernah berhenti. "Baik-baik kan lo?" ucapnya kembali. Memastikan sahabatnya itu tidak terluka. "Eh, lo tau kan Tessa tuh gimana?" tambah Tata lagi, menggeleng tidak percaya karena Bianca benar-benar tidak bisa diprediksi. "Apa dia lukain lo? Kaki lo? Tangan lo? Muka lo? Aman??"
"TA--" potong Bianca pertama. Menghela napas panjang, karena pertanyaan bertubi-tubi Tata malah membuatnya kelimpungan. "Lo yakin nanya hal itu? Seharusnya lo nanya apa mereka baik-baik aja setelah berurusan sama gue?" seru Bianca bangga. Benar-benar mengatakan itu persis seperti yang dikatakan ayahnya. Bianca pula tidak merasa ada yang terluka padanya, lantas mengibas rambutnya, lalu melihatkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia berujar. "Gue aman. Gue baik-baik aja. Santai."
"Tessa anak IPS 1 kan?" tanya Alana kemudian. Memang tidak pernah ada kelas yang bacotnya kelewatan selain anak 12 IPS 1. "Enggak heran sih, geng-nya mereka emang doyan cari masalah."
Bianca mengangguk cepat. "Mereka ngomongin gue, ngatain gue anak haram. Bacotin kalau gue enggak punya Ibu. Ngomporin gue jual diri kemana-mana." erang Bianca. Terkekeh dengan tangan mengepal kuat. "Emangnya, mereka pernah liat gue bareng suggar daddy?" decak Bianca malas. "Sama bokap gue yang ada."
"Bi--" potong Tata setelahnya. Menoleh, Bianca menatap sahabatnya yang satu itu dengan malas.
"Seharusnya lo ngajak gue, biar gue bantu masukin sepatu gue kemulut Tessa cs!" protes Tata kemudian. "Sakit jiwa tuh cewek? Emang otaknya didengkul!"
Bianca mengangguk menyetujui. Sementara Alana sudah terkekeh ditempatnya. "Hei, garang banget sih lo." kekeh Alana. "Yaudah Bi, sabar aja ya. Enggak usah di hirauin, mereka iri kali sama lo."
Mengedikkan bahu, Bianca mengangguk sebelum memilih untuk berbalik badan dan menyangga kepala dengan lengan diatas mejanya. Mungkin, tidur merupakan pilihan yang tepat agar Bianca mampu meredam emosinya.
"Balik sekolah ke rumah gue ya?" ajak Alana lagi. Sudah lama mereka tidak berkumpul sama-sama. Tata mengangguk penuh semangat, sementara Bianca hanya berdeham kecil sebagai jawaban.
"Ikut yah Bi?" pekik Alana kembali. Menawarkan, memahami bahwa Bianca sering menolak dengan alasan malas. Alana pula mendesak sahabatnya itu. "Udah lama bangey kan enggak ngumpul bareng? Huh!"
Menyerah, Bianca mengangkat kepalanya kembali. Menatap Alana sesaat sebelum mengangguk. "Iya Ana, iya. Astaga, gue udah jawab tadi."
"Itu bukan jawaban," geleng Alana. "Itu cuma anggukan."
Menghela napas panjang Bianca menggeleng malas, sementara Tata sudah terkekeh dari tempatnya. Lalu Alana ikut terkekeh, tidak pernah sebahagia ini bisa mengenal Tata dan Bianca, memperkenalkan pada dunia tentang persahabatan yang terjalin diantara mereka.
***
Menaiki sedan hitam metalic milik Aiden, Bianca menghela napas saat tahu bahwa para petinggi Carswell itu ikut ke rumah Alana. Jika saja tahu begini, akan lebih baik bagi Bianca untuk undur diri. Karena ia bisa menebak bahwa Titan pasti ada disana juga.
Duduk diantara Arkan dan Zidan, Bianca menghela napas karena sejak keluar dari gerbang sekolah kedua cowok itu terus mengoceh disebelahnya. Tata memilih naik ninja bersama Gavin, membuat Bianca mengerucutkan bibirnya masam.
Lalu jangan dipertanyakan kemana perginya Titan dan Alana, kedua orang itu mungkin sudah sampai di rumah, mengingat seluruh perhatian yang Titan berikan diparkiran tadi, membuat semua tatap mata meringis sedih. Iri, satu kata yang selalu dibicarakan menyangkut cara Titan memperhatikan Alana. Tapi--tidak dengan Bianca tentunya.
Dan satu-satunya alasan Bianca berada di tengah Arkan dan Zidan, karena jika ia memilih duduk di depan, Bianca pasti di todong dengan semua pertanyaan dari Aiden. Tapi sialan, karena Arkan dan Zidan lebih banyak berbicara dan mendesaknya untuk segera bercerita.
"Seharusnya gue nonton waktu lo nabok Tessa." ujar Arkan pertama. Menggebu-gebu dan penuh semangat. "Seru gak sih? Ada yang punya rekamannya kagak ya?"
"Bener, seharusnya gue ada disana. Ngeliat waktu lo ngehindar dari pukulan Tessa." sambung Zidan, ikut bersemangat. "Gila, lo jadi hot news hari ini, Bi. Ngalahin sijuara olimpiade."
Bianca menggeleng. Mengacak rambutnya frustasi. Dan berdecak. "Oh c'mon, shut up!" pekiknya. "Aiden, mending lo turunin gue. Gue naik angkot aja." pinta Bianca. Kesal sendiri berada di sedan itu. Karena ketiga petinggu Carswell tersebut tidak berhenti merecokinya. Sementara Arkan dan Zidan sudah tertawa puas.
"Yaampun bi, mereka nanya doang. Jangan galak-galak napa." ujar Aiden menengahi. Masih terkekeh diatas setirnya, karena wajah masam Bianca membuatnya geli.
"Lo pada bukan nanya, tapi kepo! Apa perlu gue reka ulang adegan tadi? Supaya lo bertiga puas???" rutuk Bianca kesal. Memutar bola matanya jengah.
Mengangguk, Arkan berujar menyetujui. "Yang mana? Yang lo di gudang tadi pagi??" ledeknya, mengedipkan sebelah mata menggoda pada Bianca. "Atau waktu lo berantem bareng Tessa?"
Menoleh, Bianca memukul lengan cowok disampingnya. Mencubit perut berotot Arkan. Hingga cowok itu mengaduh. "Diem lo! Gue lempar lo dari mobil!" ancam Bianca.
"Halah, yang ada lo yang gue buang ke jembatan." sahut Arkan tidak mau kalah. Senang setiap kali menggoda Bianca. "Jadi? Mau reka ulang yang mana? Yang digudang nih?" kata Arkan lagi. Tidak berhenti.
"Dih, muka lo merah!" teriak Zidan kemudian. "Cieeee..."
Menutup kedua wajah dengan telapak tangannya, Bianca menggeleng cepat. "Apa sih, Dan! Gak lucu!" potong Bianca tidak suka. Tapi percuma karena Arkan dan Zidan masih tidak berhenti meledeknya.
"Sumpah, gue udah kayak supir ngebawa lo bertiga!" erang Aiden pertama. "Kan, tuker dong, giliran nyetir." mohon Aiden, tidak terima karena ketiganya mengabaikan kehadirannya.
Merebahkan diri, Arkan menggeleng. "Aduh, tangan gue kesemutan nih..." erangnya beralasan.
"Lo aja, d--"
"Aduh, tangan gue keram!" timpal Zidan tidak mau kalah. Menggeleng dari tempatnya. Bahkan disaat Aiden belum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Setan lo bedua!" rutuk Aiden akhirnya. Kesal. Sementara yang dimaksud hanya mengedikkan bahu seraya terkekeh geli. Tidak juga peduli, karena yang mereka inginkan hanya untuk menggoda Bianca.
"Eh, bukannya setan lagi di jalan sama Alana?" sahut Bianca. Memotong cepat.
"Itu Titan, Bianca sayang..." ucap Arkan memperbaiki. "Lagian keki banget sih sama Titan."
"Oh Titan," ucap Bianca. Mengangguk-angguk mengerti. "Gue kirain selama ini, SETAN."
Lalu ke-empatnya terkekeh di mobil. Setidaknya itulah peranan Bianca dan petinggi Carswell di SMA Danirian. Tidak heran, beberapa orang segan dengan Bianca karena berpikir cewek itu akan selalu dilindungi oleh para petinggi Carswell.
Memperhatikan Aiden, Zidan dan Arkan dengan penuh permohonan. Bianca berujar kembali. "Jangan ngomong apa-apa sama Alana atau Tata soal kecelakaan tadi pagi." pesan Bianca kemudian. Mempertegas bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bianca tidak ingin kejadian itu membuat Tata heboh, dan tidak ingin Alana salah paham. Lagi pula, itu bukan keinginannya, jadi Bianca hanya ingin menepis ingatan itu didalam kepalanya.
"Kecelakaan apa?" tanya Arkan heran. Berpura-pura bodoh karena ia senang menggoda Bianca. "Emang siapa yang kecelakaan?"
"Jangan pura-pura b**o, Arkan! Awas aja lo!" ancam Bianca kembali. Memberi pelototan pada cowok itu.
"Kalau keceplosan gimana?" Zidan menimpali. Menaikkan kedua alisnya dengan senyum menggoda. "Siapa tahu aja tiba-tiba keomong,"
Cepat Bianca menggeleng. Tidak masuk akal. "Ish sumpah, awas aja lo kalau sampai Tata dan Ana tahu. Pokoknya lo bertiga pelaku utamanya!"
"Kalau Titan sendiri yang ngasi tahu Alana gimana?" kali ini Aiden yang bertanya. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. "Lo tahu kan? Titan enggak pernah nyembunyiin apapun dari Alana?"
Benar. Aiden ada benarnya. Tapi Titan tidak mungkinkan mengatakan itu? Bodoh. Orang bodoh macam apa yang rela membuang waktu untuk mengatakan pada gadis yang disukainya bahwa dia berciuman dengan perempuan lain? Walaupun itu hanya sebuah kecelakaan? Titan tidak mungkin sebodoh itu. Jadi Bianca menggeleng cepat. "Yakali Titan ngasih tahu Alana, sakit jiwa pikiran lo!" erang Bianca. Menggeleng malas. "Udah deh, pokoknya kalau ketahuan gue bakal salahin lo! Gamau tahu, TITIK."
Aiden sendiri langsung menyambung. Berdecak tidak percaya. "Sumpah Bi, lo sama Titan tuh sepaket. Sama-sama suka ngancam." cetus Aiden kemudian.
"Biarin, siapa suruh lo bertiga ember." decak Bianca lagi. Menghela napas panjang karena harus berhadapan dengan tiga cowok itu membuatnya lelah.
Mengelus pundak gadis itu, Zidan berujar "Tenang aja, kalau lo mau lagi juga gue bakal rahasiain."
"m***m lo!" dorong Bianca. "Siapa yang mau lagi najis?!"
Dan selama perjalanan itu, Bianca dan ketiga petinggi Carswell tersebut bercerita tentang banyak hal. Segala hal mengenai pemimpin tertinggi--Titan, bahkan hal konyol yang mereka lewati selama ini.
Gila, karena Bianca juga hanya mendengarkan setiap kali pembicaraan itu tertuju pada sosok Titan sisongong tersebut.
***