Ada perhatian yang tanpa sadar kita terima tanpa terduga. Berpura-pura tidak ada apa-apa, padahal tahu ada yang aneh didalamnya.
***
Bianca meringis karena anak buah Alex mencekal tangannya dengan sangat kuat, dengan sangat brutal, hingga Bianca mengerang kesakitan. Gila, Alex benar-benar tidak waras. Lantas menyadari adanya kemungkinan untuk menyelamatkan dirinya, Bianca menginjak sepatu cowok yang menahannya itu, Bianca menendangnya dan berusaha untuk berlari. Tapi gagal, karena seragamnya berhasil ditarik salah satu tangan kanan Alex.
Menggeram, Malvin menampar wajah Bianca. "t*i! CEWEK SIALAN!"
Bianca spontan memundurkan tubuhnya, menahan pipinya bekas tamparan itu, Bianca sendiri menggeleng tidak percaya. "Sialan..." erang Bianca. Dan lebih bodohnya lagi, karena tamparan itu membuat air matanya terjatuh. Sakit. Tapi buru-buru Bianca menepisnya. Ia tidak akan pernah terlihat lemah dihadapan cowok sialan ini. "b******n lo!" teriak Bianca. Menatap Malvin dengan kilatan membara.
Tapi cowok itu hanya mengedipkan bahu sebelum mencekal tangan Bianca lebih kuat lagi dari yang tadi diterimanya. "t***l!" geram Malvin kemudian. "Jangan coba main-main sama gue!" sambungnya menegaskan.
Tapi Bianca masih meronta, masih menolak, masih mencoba menahan kekuatan dalam dirinya sendiri. "Sialan! Lo benar-benar b******n!"
Memutar lengan Bianca hingga gadis itu meronta, Malvin berdecak kembali. "Diam, atau gue gampar muka sialan lo ini!"
Menggeleng dengan air mata dalam kelopaknya, Bianca berujar pasrah. "Ocean memang enggak punya harga diri. Lo semua cuma berani sama cewek!" teriak Bianca. "CEMEN! LO CEMEN!"
Menggeram, Malvin kembali mengarahkan tangannya tepat diwajah Bianca. Tersulut emosi karena semua yang gadis itu katakan, tapi usahanya terhenti karena teriakan dari sang pemimpi Carswell mengintrupsi disana.
Mengepal tangannya kuat, Titan tidak tahu kenapa perlakuan Malvin membuatnya geram. Membuatnya menggeleng tidak percaya. "EH t***l!" sela Titan cepat, dan tidak butuh banyak aba-aba hingga Titan berlari memasuki pertahanan Ocean dan membabi buta disana. Dan pertempuran dimulai.
Titan langsung menyerang seluruh anak buah Alex, meruntuhkan lawannya tersebut untuk mencapai barisan terakhir karena kini Alex menahan Alana dan Bianca bersamaan.
Dibantu dengan pasukan Carswell, Titan yang membuka jalan agar seluruh pasukannya lebih mudah untuk meruntuhkan sang lawan. Para petinggi Carswell yang lain tidak perlu dipertanyakan, masing-masing dari mereka sudah menyerang dengan caranya sendiri.
Memberikan tamparan keras untuk seluruh pasukan Ocean karena berapapun jumlah mereka, Carswell tidak akan pernah gentar. Dan mereka membuktikannya. Karena kini, bisa diperhitungkan sebanyak apa pukulan brutal yang saling berbenturan disana. Begitu sadis dan juga gila. Tapi lagi-lagi, untuk yang sudah tidak terhitung banyaknya para pasukan Carswell turun kejalanan, merekalah yang kerap mendominasi itu semua.
Sementara pasukan Ocean dan Carswell saling pukul-pukulan. Bianca menoleh menatap sahabatnya. "Ana, lo baik-baik aja?" tanya Bianca pertama. Meneliti semua tubuh sahabatnya itu, takut-takut ada yang terluka pada Alana. Bianca panik tentu saja, Alana dan Tata tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Berbeda dengannya, Bianca sudah sering kali terjebak ditengah-tengah pertempuran. Itu sebabnya, Bianca tahu Alana pasti ketakutan. Tapi jawaban dari Alana mampu meredam kepanikannya.
Alana mengangguk payau, membalas tatapan Bianca dengan gelengan putus asa. Tidak juga bisa menjawab karena mulutnya sudah dibekap.
"Enggak usah nangis, Titan bakal nolong lo, oke?" yakin Bianca. Menenangkan Alana semampu yang ia bisa. "Lo percaya sama Titan! Dia enggak akan biarin lo disakitin sedikitpun. Percaya sama gue? Huh?"
Dan Alana mengangguk, dengan mata yang sudah berbinar hebat. Ia tidak harus berada dalam posisi ini. Alana tidak seharusnya ada disini. Ia berharap Titan secepatnya menyelesaikan ini semua.
Pertarungan berlangsung sengit, beberapa pasukan Titan terluka mengingat seluruh pasukan Ocean membawa pisau.
Tapi tidak berlaku dengan semua pemimpin tertinggi Carswell, mereka berlima masih bertahan, memukul, menendang dan sebentuk hindaran yang dapat mereka lakukan. Menumpahkan lawan dalam sekali pukulan, lalu meneruskan pertarungan itu dengan brutal.
Arkan sudah berhadapan dengan Malvin, meskipun lengan kanannya berdarah karena goresan pisau, Arkan tidak menyerah, kini ia sudah menumbangkan Malvin, memukul wajah cowok itu berkali-kali, hingga Malvin jatuh sempoyongan. Arkan tidak berhenti, mengingat cara yang dilakukannya pada Bianca tadi, membuat Arkan menggeram dan membalasnya lebih parah lagi.
Aiden dan Zidan bersatu untuk melawan lima pasukan Ocean dihadapannya. Mengecoh lawannya tersebut, hingga keduanya berhasil mengalahkan pasukan Ocean dalam satu cara rahasia mereka.
Gavin--ia bahkan sedang melindungi beberapa pasukan Ocean yang terluka. Menghajar siapapun yang melukai pasukannya, lalu Gavin tidak memberi ampun pada lawan mereka. Seperti apa yang Ocean lakukan pada pasukannya, akan Gavin pastikan mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Sementara Titan semakin berhasil mengalahkan pasukan Ocean yang lain, beberapa yang masih bertahan memutuskan mundur. Beberapa yang mencoba memukulnya memutuskan untuk berlari kearah yang lain.
Pasukan Ocean sendiri paham betul bahwa titisan dewa tersebut bukan lawan mereka. Jadi, jalan terbaik yaitu dengan menghindari pemimpin tertinggi tersebut, daripada celaka.
Melepas bandana dikepalanya, Titan melilit bandana tersebut ditangannya, berhenti sebentar untuk menunggu seseorang atau lawan yang akan menyerangnya.
Lalu beberapa orang yang memang tidak ingin memikirkan siapa Titan, memutuskan untuk maju, berniat memukul Titan, sementara Titan dengan santainya sudah mematahkan tangan lawannya, memutar lawannya dengan sekali putaran, dan menghantamnya dengan pukulan terbaik yang dia punya.
Hingga situasi mulai kacau, apalagi pasukan Ocean sudah banyak yang terkapar, Alex merenggangkan tangannya. Maka sekarang waktunya dia kembali melawan. Dia kembali membalas apa yang Titan lakukan padanya.
Lantas merasa situasi semakin memungkinkan, dan membuatnya punya cara, Bianca menerjang Alex dengan berani, membuat lelaki itu tersungkur, kemudian ia meminta Alana untuk lari. "ANA!! PERGI SEKARANGGG!" pekik Bianca, sementara dirinya masih berusaha melawan Alex.
Alana mengangguk seperti orang bodoh, lantas ia berlari ketika Bianca kembali menyadarkannya. Memintanya untuk segera pergi dari sana. Kemudian, ketika usahanya berhasil dan Alana terbebas, ia melewati pasukan Ocean, hingga sampai dalam rengkuhan Titan. Tempat teraman yang menjadi tujuan Alana sejak awal. Menumpahkan seluruh ketakutannya dalam pelukan Titan, Alana mengerang.
Titan sendiri sudah menyapu wajah sahabatnya itu, memberi pelukan agar Alana selalu merasa tenang dan juga nyaman. "Ana?? Lo enggak apa-apa?" Titan bertanya khawatir. Menyapu anak rambut yang berkeliaran diwajah Alana, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
Alana menggeleng. Tidak. Ia tidak baik-baik saja. Semua yang terjadi padanya membuatnya ketakutan. Dan Alana ingin secepatnya pergi dari sana. Kemanapun asal tidak dalam pertempuran itu. "G-gue, takut Tedi! G-gue, mau pulang." isaknya kemudian. "Gue enggak mau ada disini. Gue mau lo bawa gue pergi sejauh mungkin.."
Titan membawa gadis itu dalam pelukannya kembali, mengusap rambut Alana lembut, meyakinkan bahwa gadis itu kini baik-baik saja, sebelum berujar. "Kita bakal pulang Ana," kata Titan meyakinkan. "Gue selesaikan ini sebentar."
Alana menggeleng. Tidak bisakah Titan mengerti ketakutannya? Tidak bisakah Titan memahami bahwa ia hanya ingin pergi. "Biar anak-anak yang beresin." erang Alana. "Gue mau pergi, Titan." timpal Alana kembali. Benar-benar tidak ingin terjebak seperti ini lagi.
Tapi Titan tidak mungkin pergi begitu saja. Ia tidak mungkin menyerahkan pertempuran ini tanpa dirinya. Walaupun Titan percaya para petinggi Carswell yang lain dapat menyelesaikannya, Titan tidak ingin lepas tanggung jawab. "Enggak Ana, gue enggak bisa pergi gitu aja." decak Titan kemudian. Lalu ia memikirkan cara lain.
Namun, saat ia tengah berusaha mengendalikan diri, salah satu pasukan Ocean mendekatinya. Menendang seseorang yang berusaha melawannya itu, Titan membuat cowok tersebut terpental jauh. Dan ia berbalik untuk menatap Arkan. "Kan!" teriak Titan pada sahabatnya yang kini berada tidak jauh dari posisinya. Memberi arahan agar Arkan segera menghampirinya.
Menoleh, Arkan memukul lawannya pertama sebelum kembali memfokuskan diri. "Apa anjir, gue masih--"
"SINI! BAWA ANA KESEKOLAH, SEKARANG!" titah Titan. Memekik agar Arkan mengerti. Akan selalu seperti itu bahwa segala hal mengenai Alana adalah segalanya. Menghela napas, Arkan akhirnya berlari menyusul Titan.
"Lo enggak usah balik lagi, awasin Alana. Biar ini gue yang beresin." kata Titan kembali. Menegaskan itu bahwa ia tidak akan membiarkan pasukan Carswell kalah. "Enggak usah khawatir." sambungnya kembali menegaskan.
"Tedi..." geleng Alana pertama. Ia tetap ingin bersama Titan. Karena hanya dengan Titan, ia dibuat percaya.
"Gue enggak bisa ninggalin ini, Ana." ucap Titan pertama. Menegaskan. "Gue bakal kelarin ini semampu yang gue bisa." decaknya kembali. "Jadi selagi gue punya jalan buat mastiin lo aman. Gue bakal baik-baik aja." putus Titan setelahnya. "Lo sama Arkan dulu. Dia bakal jaga lo. Hati-hati." pesannya lagi. Lalu maju untuk melanjutkan pertempuran. Tanpa menoleh untuk melihat Alana kembali. Karena Titan sudah menyerahkan gadis itu pada Arkan sepenuhnya.
Mengambil alih Alana, Arkan tidak punya pilihan lain, karena jika Titan sudah menitahkan sesuatu, ia hanya harus melaksanakannya. Lalu Arkan segera membawa gadis itu pergi dari sana. Kini, tujuan utamanya hanya menjaga gadis paling berharga milik Titan ini.
Sementara itu, disisi lain, Bianca sudah mengerang kesakitan. Menyelamatkan Alana, ia sendiri malah memperburuk posisinya. Sejak tadi, Alex tidak berhenti menyiksanya. Setelah apa yang ia lakukan pada cowok itu, Alex tidak memberinya ampun. Bianca sendiri sudah memasrahkan dirinya. "ALEX, SAKIT!" pekik Bianca karena Alex sudah memilas tangannya. Bianca sendiri sudah terjatuh saat berusaha untuk lari. Alex mencekal kakinya, membuat Bianca kembali tersungkur dan bekas perbannya lenyap begitu saja. Menambahkan ruam-ruam luka yang semakin tidak terbendung banyaknya. "Please..." Meringis, Bianca menoleh dan menemukan kakinya kembali mengeluarkan darah. Lebih banyak dari sebelumnya.
Tapi Alex tidak peduli semua permohonan yang Bianca rapalkan, dia malah menarik seragam Bianca secara kasar, membuat Bianca terbatuk karena tarikan itu mencekik lehernya. "S-sakit, Alex..." erang Bianca. Menggeleng tidak berdaya. "S-sakit..."
"Sakit??" beo Alex. Ia sudah terkekeh dari tempatnya. "Sial!" ucapnya kemudian. "Jangan kira lo cewek, gue bakal takut sama lo t*i!" sambungnya. "Tawanan gue lepas karena lo! Dan sekarang, walaupun gue tahu lo enggak berguna. Gue tetap akan memanfaatkan lo!"
Bianca tidak tahu harus dengan cara apa lagi ia berusaha. Harus bagaimana lagi ia dapat menahan kekuatan dalam dirinya. "Lex...lepasin gue!" mohon Bianca kembali, tidak berhenti. Mengerang frustasi karena Alex benar-benar gila. "Lo enggak waras setan!"
Alex mengangguk dengan sumringah. Masih mencekal seragam Bianca dengan santai. "Baru tahu lo?" kekehnya. "Seharusnya lo tahu, apa yang bisa gue lakuin ke lo." singgungnya kembali. Alex sudah menelusuri tubuh Bianca, membiarkan satu kancing teratas gadis itu dibukanya secara paksa. "Ngelepasin lo?" beonya kemudian. "Buat apa? Lo udah lepasin sandera gue yang paling berguna, jadi jangan harap lo bakal gue bebasin, cewek sial!" geramnya kembali. Kesal karena Bianca menghancurkan semua rencananya.
Bianca tidak hanya merasa diremehkan. Tapi juga Alex melecehkannya. b******n t***l. Bianca memekik ditengah sisa tenaganya. Tanpa takut. "Lo sialan, lo enggak cocok jadi pemimpin, lo banci!"
Menggeram, Alex mengepal tangannya kuat, lalu melayangkan pukulannya tepat dikepala Bianca. Sangat kuat, karena gadis itu membuatnya geram.
Hingga membuat Bianca oleng dan ia kembali terpental ke tanah. Menangis, Bianca menutup kepalanya, berteriak karena kini Alex sudah menendang tubuhnya. "S-s--akit..." erang Bianca. Gila. Apa Alex sama sekali tidak memandang bahwa Bianca hanyalah seorang wanita?
Lalu mendekat, Alex baru saja ingin menarik gadis itu, menyeret Bianca kembali ketika tubuhnya ikut tersungkur lebih jauh.
Titan menendangnya kuat. Sangat kuat dan juga kejam. Melihat apa yang dilakukannya pada Bianca, membuatnya marah. "b*****t, lo benar-benar gila! t***l! Najis!" geram Titan. Mendekat sekali lagi, ia menendang tubuh Alex dengan layangan bertubi-tubi. Tanpa ampun seperti apa yang dilakukannya pada Bianca.
Kemudian Titan menoleh, menatap gadis gila disampingnya yang kini pelipisnya sudah berdarah. Tubuhnya sudah penuh luka. Sekujur tubuhnya sudah berantakan. Titan menggeleng dari tempatnya. Tidak tahu kenapa pemandangan Bianca yang terluka malah membuatnya ingin membunuh Alex detik itu juga.
Alex berdiri, terkekeh, ia menatap Titan santai. Lalu ia mendekat sebelum melayangkan pukulannya. Tidak bisa menghindar Titan berhasil mendapatkan satu pukulan dari Alex.
Kemudian Titan membalasnya, melakukan pukulan itu lebih kuat dari siapapun yang dilukainya, hingga pertarungan itu semakin gila karena kini sesama pemimpin itu saling berhadapan.
Titan memukul wajah Alex dengan dua kali pukulan, berhasil dan telak, lalu Alex balas menendangnya, melayangkan kakinya pada sikut dan kaki Titan yang berhasil Titan hadang dengan tangannya.
Saling pukul, saling menghindar, setidaknya dua itu yang terus terjadi. Hingga Titan berhasil mengelabuhi Alex, ia melayangkan tendangannya tepat diperut cowok itu. Memukul wajah Alex yang masih membiru bekas pukulan semalam, Alex kembali terkapar.
Titan menendangnya, melakukan semua yang Alex lakukan pada Bianca yang kini terukir didalam kepalanya, lalu menemukan Alex sudah menutup matanya, barulah Titan berhenti. Walaupun ia masih tidak puas. Lantas Titan menoleh, memperhatikan seluruh pasukan Ocean yang kini menatapnya melongo. Ia berujar. "Bawa si cupu ini pergi dari muka gue sebelum gue ngebunuh dia disini!" titah Titan kemudian.
Lalu pasukan Ocean berlari cepat untuk menyeret Alex, membawanya pergi dari sana. Hingga membuat semua pasukan Ocean ikut berlalu dan pergi dengan kekalahan yang tidak terbendung malunya lagi.
Bendera Carswell dikibarkan, menandakan bahwa kemenangan sudah berpihak ditangan mereka.
Titan menoleh kembali untuk menatap Bianca. Menghampiri gadis bodoh itu. Titan berjongkok disebelah Bianca, lalu menggeleng tidak percaya dengan penampilan Bianca yang sudah kacau balau. "Lo enggak apa apa?" tanya Titan pertama.
Bianca mengangguk, berusaha untuk berdiri dan menatap Titan gamang. Ia merapikan seluruh seragamnya sebelum berujar. "Gue baik-baik aja."
Menghela napas, Titan mengangguk setelahnya. Memilih untuk berlalu karena ia lebih butuh untuk melihat Alana--sahabatnya.
Bianca mencoba berjalan selangkah, mencoba untuk tetap kuat dihadapan seluruh pasukan Carswell. Walaupun kini ia tidak mampu membendung semua nyeri disekujur tubuhnya. Semua rasa sakit yang kini menyerangnya. "Titan..." erang Bianca, lemah. Karena tenaganya sudah terkikis habis. Baru saja Bianca ingin meraih punggung Titan ketika pandangannya lebih dulu menggelap. Dan Bianca pingsan.
Tadinya Titan hanya ingin menoleh untuk memastikan gadis bodoh itu baik-baik saja. Lalu menemukan Bianca memanggilnya, Titan menaikkan sebelah alisnya. Menunggu. Lalu ketika gadis itu terlihat empoyongan dan oleng, Titan kembali berlari untuk menangkapnya. Sehingga Bianca kini sudah berada dalam gendongannya.
Dan keberadaan Bianca yang kacau, membuat seluruh pasukan Carswell bertanya-tanya.
"Anjir, lo apain neng Bianca gue?" ujar Aiden pertama. Meringis menatap gadis itu. "Eh baik-baik aja nih bocah?"
"Mau lo bawa kemana?" tambah Zidan setelahnya.
"Pingsan?!" tanya Gavin tidak percaya. Walaupun semua orang tahu hanya dengan melihatnya. "Kesakitan kali tuh cewek."
"Yaiyalah t*i, lo enggak lihat Alex mukul Bianca tadi?" decak Zidan kembali. "Mau gue bawa ke Rs nggak?" tawar Zidan lagi. Karena ia pikir Titan ingin menemui Alana.
Tapi Titan tidak menjawab seruan sahabatnya itu, ia hanya berujar sebelum kembali berlalu. "Gue bawa ini cewek pulang, absenin gue dikelas." titahnya dan berlalu dari sana.
Meninggalkan keterkejutan diwajah Zidan, Aiden dan juga Gavin.
"Ini gue enggak salah dengar kan?" ucap Aiden pertama. "Titan benar-benar mau bawa Bianca pulang kan?"
"Enggak dikasi racun kan?" tambah Gavin setelahnya. "Kagak sampai dibunuh juga kan?" sambungnya tidak percaya.
Zidan sendiri sudah terkekeh dari tempatnya. "Yaudahlah, yok cabut. Jangan sampai ketahuan nih." erangnya.
Titan sendiri tidak tahu apa yang ia lakukan. Seharusnya ia menyerahkan Bianca pada siapa saja. Seharusnya ia kembali menemui Alana. Tapi tidak tahu sejak kapan ia berani mengabaikan Alana, karena menemukan Alex menyiksa gadis bodoh dalam gendongannya ini, Titan tidak punya pilihan untuk mengabaikannya. Dan itu malah memerangkapnya pada sebuah kesalahan yang tidak Titan duga.
Sebuah perasaan aneh yang mendadak menyerangnya.
***
Entah kenapa, baru kali ini Titan dibuat sekalut ini. Sebelumnya tidak begini, Titan bukan tipe peduli yang doyan mengkhawatirkan apapun. Karena selama hidupnya, ia tidak pernah dibuat kalut oleh apapun.
Lalu menemukan Bianca yang sejak empat jam yang lalu belum juga membuka mata, Titan tidak berhenti mengerang frutasi.
"Sok-sokan. Tapi pingsan." erang Titan pertama. Meskipun tahu Bianca tidak mendengarnya, Titan hanya terus menyuarakan kekesalannya. "Bangun! Gue udah nungguin lo dari tadi, gue siram nih pakai air panas?" ancamnya walaupun percuma karena Bianca tidak akan tahu.
"Atau gue semprot pakai baygon?"
"Atau gue lempar lo dari apart?"
"Lo mati apa pingsan? Lama t*i, sadarnya!"
"Buang-buang waktu!"
"Tahu gitu, gue suruh aja Alex ngebawa lo!"
"Cewek bodoh!"
Sekiranya itulah semua keluhan yang Titan sampaikan. Meskipun tahu gadis bodoh itu masih tidak mendengarnya. Tentu Titan tidak akan diam saja, karena ia sudah memanggil salah satu dokter pribadi keluarga Kennedy untuk memeriksa gadis ini. Dan beliau hanya mengatakan bahwa Bianca cepat atau lambat akan tersadar. Jadi selama berjam-jam pula Titan menunggu dalam ketidakjelasan.
Kadang kala ia menatap Bianca lekat. Memperhatikan wajah gadis itu hingga dirinya terbuai. Konyol memang, tapi dalam tidurnya, Titan tahu berhadapan dengan gadis itu seperti ini adalah yang terbaik. Dari pada mendengar semua celotehannya.
Berdecak, Titan akhirnya memilih terlelap disamping gadis itu, tepat di atas ranjang yang sama, karena tubuhnya juga lelah setelah perkelahian sengit tadi.
Maka tidak pernah ada yang tahu bagaimana semesta akan memainkan perannya. Pada setiap kegilaan yang silih berganti mulai berdatangan, mereka hadir untuk di uji.
Bianca membuka mata perlahan, merasakan kepalanya yang masih terasa sakit, juga semua tubuhnya yang mendadak mati rasa. Lantas menoleh dan menemukan langit dari balik kaca apartemen disana sudah berubah warna, Bianca mengerang. Masih tidak menyadari posisinya kali ini ada dimana, lalu ia menoleh, dan membulatkan mata detik itu juga. "AAAAAAAAAA!!" pekik Bianca pertama. "SETANNN??! APA YANG LO LAKUIN DISINI???"
Dan teriakan itu, sukses membuat Titan yang baru saja terlelap langsung terlonjak. Menggaruk kepalanya, Titan tidak menjawab, ia masih memejamkan mata. Ketika pukulan bantal membuatnya tersadar. "EH, BERHENTI BODOH!" geram Titan kemudian.
Bianca menatapnya tajam, sebelum kembali menoleh untuk memastikan seragamnya masih lengkap, yang artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan disana. "Lo ngapaian di sebelah gue?" tanya Bianca pertama. "Gila lo!" rutuknya. Lalu Bianca menoleh kesekitarnya. "Ini di apartemen lo kan? Ngapain gue disini?" tanya Bianca bertubi-tubi tidak berhenti.
Titan masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa nyawanya. Kemudian ia menatap Bianca malas. Setelah semua yang ia lakukan, gadis bodoh ini malah mencurigainya? Sinting. "Ngapain?" beo Titan pertama. "Suka-suka guelah, ini kamar gue." geramnya. "Siapa coba yang suruh lo pingsan berjam-jam?"
Bianca menggeleng cepat. Tidak ada alasan atas semua yang terjadi. "Kenapa lo enggak bawa gue kesekolah??? Kemana kek, kenapa harus diapart lo lagi?" jelas Bianca. Menoleh pada kakinya, ia menghela napas karena semuanya sudah kembali diperban.
Seharusnya Bianca berterimakasih, seharusnya ia mengucapkan kalimat itu atas semua bantuan yang cowok songong itu lakukan padanya. Tapi bagaimana perdebatannya dengan Titan seakan membuat kalimat itu sulit untuk Bianca ucapkan.
"Gue enggak mau masuk BK karena bawa anak orang dalam keadaan pingsan!" imbuh Titan lagi. Menggeram. "Udah deh, jangan banyak tanya. Sakit kepala gue ngomong sama cewek udik kayak lo." helanya panjang. "Lo lagi latihan mati apa gimana?"
"Eh setan, gue juga enggak mau pingsan." protes Bianca setelahnya. "Ini semua karena Alex sialan itu!" rutuk Bianca kesal. "Dan gue juga enggak berniat banyak tanya kalau aja lo enggak lagi disamping gue tanpa seragam dan baju gini." erang Bianca. Bohong jika ia bisa mengabaikan itu, karena otot-otot diperut Titan berhasil membuatnya terbuai.
"Makasih aja cukup, enggak usah bacot. Mulut lo sumpah, pengen gue lempar pakai bensin!" geram Titan akhirnya, menatap gadis gila itu dengan pandangan tidak percaya. Sampai kapan mereka akan bertengkar seperti ini?
"Iya-iya makasih! Puas lo?!!" ucap Bianca setelahnya. "Pamrih banget jadi cowok."
"Lo makasih aja sama tembok kalau begitu!" sindir Titan kemudian. "Dan gue bukan pamrih, gue cuma mau dengar cara lo berterimakasih."
Memukul cowok dihadapannya sekali lagi, Bianca mengerucutkan bibirnya masam. "Apalagi sih, bingung gue ngomong sama setan kayak lo."
"Apalagi gue, buang-buang waktu ngomong sama babi macam lo!" balas Titan tidak mau kalah. Akhirnya Titan mendekat, mensejajarkan wajahnya dengan Bianca, membiarkan jarak mereka dalam senti yang semakin dekat. Hingga deru napas keduanya beradu disana, pandangan mereka bersatu.
Jika Titan masih menyunggingkan senyum mengejek, sialan karena Bianca kelimpungan memahami situasi ini. Hingga kesadarannya mulai normal, Bianca mendorong tubuh Titan kuat. Sejauh yang ia bisa.
"Lo ngapain b**o!" rutuk Bianca. Menahan napasnya karena jantungnya berpacu gila hanya karena hal konyol itu.
Titan menggeleng cepat, sebelum memilih angkat dari ranjangnya dan berlalu menuju kamar mandi. Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
"Mau kemana?" tahan Bianca kemudian.
"Boker, kenapa? mau nyebokin?"
"Najis!"
Lalu Titan terkekeh, benar-benar gila, seharusnya ia biarkan saja gadis bodoh itu bersatu dengan para babi dikandang.
Bianca sudah duduk pada sofa panjang yang terdapat di ruang tamu apartemen Titan.
Teringat bagaimana semalam ia juga berada disini, yang berarti sudah dua kali ia datang ke apartemen cowok songong itu.
Memilih keluar dari kamar Titan yang menyejukkan, Bianca rasa tidak sopan untuk terus berada disana, padahal pemandangannya mampu membuat ia bungkam.
Langit-langit seperti menyapanya, gedung-gedung mewah yang berjejeran, lampu-lampu kota yang mampu membuat orang terpana oleh keindahannya.
Menjadi definisi terbaik untuk terus Bianca perhatikan. Bianca juga bingung bagaimana setan itu bisa tinggal sendirian di apartemen sebesar ini, tapi malas bertanya karena Bianca tahu mereka akan berdebat, ia memilih diam dan memperhatikan sekeliling apartemen. Merapikan plaster pada perbannya, Bianca tersenyum. Sesuatu yang jarang sekali ia lakukan, lalu perasaan aneh itu muncul.
Buru-buru Bianca menepisnya, menggeleng kepala kuat, karena hal itu semakin mulai tak terkendali.
Bianca merasakan pelipisnya yang masih sakit, ketika sebuah hansaplast sudah terpasang disana, tidak tahu kapan Titan memasangnya, namun Bianca kembali terkekeh membayangkan apa saja sumpah serapah yang cowok itu lakukan karena mengobatinya. Hell, Bianca bahkan sudah dapat menebaknya.
"Lo kalau mau cari mati, sekalian aja jalan di rel kereta api." cetuk Titan pertama, sementara tangannya sudah sibuk mengacak rambutnya dengan sebuah handuk kecil.
Bianca meneguk salivanya, memperhatikan semua yang Titan lakukan, lalu ia terperangah. Bohong jika Bianca tidak terpesona pada sosok itu, karena nyatanya kini ia sendiri sudah hampir kehilangan napas.
Seharusnya Bianca tidak mengingkari saat semua orang mengatakan bahwa Titan adalah titisan dewa. Bahwa Titan adalah wujud sempurna dan rupawan yang Tuhan ciptakan. Dan malam ini, Bianca menyadarinya. Bagaimana sosok songong itu seperti tengah menghipnotisnya berkali-kali.
"Malah diem, lo pikir gue lagi ngomong sama tembok?" sindir Titan lagi, kembali meraih sebatang rokok diatas meja depan Bianca, Titan menghidupkannya dengan sangat hati-hati.
Membiarkan Bianca melihatnya dengan kegilaan yang semakin nyata, sialan. Titan bisa membunuhnya jika seperti ini. Lalu menyadarkan diri sekali lagi, Bianca memilih untuk mengerucutkan bibirnya masam.
"Gue mau nolong, Ana." jawab Bianca kemudian. "Ya mana gue tahu, Alex sama anak buahnya bakal bawa pisau."
"b**o, lo tuh cewek paling b**o yang gue kenal." decak Titan pertama. Memilih ikut duduk disamping Bianca, mereka saling berhadapan.
"Terserah, apa yang gue lakuin juga enggak perlu izin lo." jawab Bianca ketus, memutar bola matanya jengah, karena berdebat dengan Titan tidak akan pernah ada habisnya.
"Serah, lain kali kalau ada apa-apa jangan ngerepotin gue!" sahut Titan malas.
Mendengus, Bianca berujar. "Siapa juga yang mau ngerepotin lo? Aneh."
"Terus, gimana lo bisa kenal Alex?!" tanya Titan lagi. "Waktu pertama dia nyerang gue, lo kenal kan sama tu cowok sialan?"
"Mantan Alex, temen gue." jawab Bianca malas. Merasa tidak berguna untuk membicarakan b******n yang sudah menyiksanya tadi.
Lalu hening, tidak ada yang bersuara. Keduanya hanya saling pandang dengan sorot permusuhan yang kentara sekali.
"Apa liat-liat?!" singgung Titan pertama. Manaikkan kedua alisnya menantang.
"Najis, siapa juga yang ngeliat lo? Pede!" sela Bianca cepat. Menghindari itu karena ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Titan pasti akan besar kepala jika Bianca mengakuinya.
"Oh ya? Tapi dari gue keluar kamar mandi, mata lo kayak mau nerkam gue." jawab Titan puas.
Bianca sendiri sudah menggeleng geli. Apa setan ini memang memiliki tingkat kepedean sebanyak ini? "Emang gue mau nerkam lo!" sahut Bianca akhirnya.
"Enggak heran, babi kan emang suka nerkam orang." ledek Titan seraya mengeluarkan kepulan asap rokoknya diwajah Bianca.
"Ish sialan lo!" rutuk Bianca kesal. "Ye daripada lo setan, hobi gangguin orang!"
"Gangguin lo iya!" kekeh Titan lagi.
"Sama aja, gue kan orang!" imbuh Bianca tidak mau kalah. "Ya kali gue kunti?"
"Lah, bukannya lo babi?!" olok Titan kembali, masih tidak berhenti.
Menggeram, Bianca spontan memukul lengan Titan. Lalu keduanya terkekeh disana. Seperti tidak ada apa-apa, padahal mereka selalu berdebat akan banyak hal. Hingga bel apartemen berbunyi, Titan dan Bianca menoleh dan mengerutkan dahi bingung.
Jika Bianca sudah menerka-nerka siapa yang datang. Titan hanya mengedikkan bahu tidak peduli.
"Eh, siapa? Bonyok lo?" tanya Bianca pertama. "Apa enggak masalah gue disini? Atau gue sembunyi aja?" tanya Bianca lagi, meminta persetujuan.
Mengedikkan bahu lagi, Titan angkat dari duduknya. Sebelum berujar, "Ngapain lo sembunyi? Mau ngepet?"
"Sialan lo!"
Dan Titan berlalu untuk memastikan siapa yang datang ke apartemennya selarut ini. Mengintip dari lobang kecil pintu utama, dia segera membukanya, merentangkan tangan karena tahu seseorang akan berlari memeluknya.
Alana.
***
"Tedi, lo jahat banget enggak balik-balik ke sekolah. Gue nungguin dari tadi, dan lo enggak datang-datang!" rutuk Alana kesal, mengerucutkan bibirnya masam, karena Titan hanya terkekeh.
Mengelus pangkal kepala sahabatnya, Titan merengkuh gadis itu, membawanya sampai ke ruang tengah apartemen, hingga Alana dan Bianca sama-sama membulatkan mata dan terlonjak.
"BIAN???"
"ANA?"
Pekik keduanya bersamaan. Mereka saling tatap untuk sesaat, sebelum mendekat untuk memberikan pelukan.
"Lo baik-baik aja?" tanya Bianca kemudian. Masih memastikan keadaan sahabatnya itu.
Alana mengangguk, menguraikan pelukannya lalu meneliti semua yang terjadi pada sahabatnya itu. "Seharusnya gue yang nanya."
Bianca terkekeh. "Gue baik-baik aja."
"Kenapa lo bisa ada disini??" tanya Alana akhirnya. Seharusnya sejak tadi itu yang jadi pertanyaan. Menemukan Bianca di apartemen Titan, menjadi sesuatu yang mengejutkan.
"G-gue, pingsan." ujar Bianca akhirnya.
Titan masih terdiam, memperhatikan kedua gadis dihadapannya secara bergantian, ia melipat kedua tangannya diatas d**a, sementara tubuhnya bersender pada dinding yang ada. "Anak-anak enggak ngasih tahu lo?" tanya Titan kemudian.
Dan Alana menggeleng cepat. Ia kembali menatap Bianca lekat. "Astaga, Alex mukul lo??" gerutu Alana tidak percaya.
Bianca mengangguk lagi. Tidak ingin sahabatnya salah paham atas kehadirannya disini, karena hanya melihat wajah Alana, Bianca tahu sahabatnya itu sudah menatapnya kalut. "Gue enggak sempat lari nyusul lo..."
"Ana, lo kesini sama siapa?" tanya Titan akhirnya, memotong pembicaraan.
"Pak Danar nganterin gue, gue takut lo kenapa-kenapa..." sahut Alana kemudian.
"Udah makan?" tanya Titan.
Lalu Bianca dan Alana menoleh serempak. Ketika perkataan Titan selanjutnya membuat Bianca meringis.
"Gue nanya Alana, ngapain lo ikut noleh?" kekehnya pada Bianca. Sengaja meledek gadis gila itu.
"Lo nggak jelas!" sahut Bianca malas. Memutar bola matanya jengah.
"Udah, kenapa jadi debat sih." potong Alana. "Bian, lo mau makan? Ayo makan sama-sama, gue biasa masak dan makan disini sama Titan."
Menggeleng, Bianca angkat dari duduknya, menatap Titan masam, lalu berujar. "Gue pulang aja."
"Bian, nanti aja. Makan dulu ya?" tawar Alana lagi.
"Udahlah, biarin aja dia mau pulang." potong Titan cepat.
Bianca terkekeh. "Enggak Ana, gue pulang aja." katanya dan segera berlalu dari sana. Melewati Titan tanpa sepatah kata, ia keluar dari apartemen begitu saja. Dengan perasaan aneh yang terasa semakin nyata.
"Tedi, lo jahat banget sih sama Bian." keluh Alana pertama ketika sahabatnya itu sudah berlalu pergi.
"Biar tahu rasa, jadi cewek enggak tahu terimakasih." sahut Titan malas.
Alana menghela napas, lalu mulai menghidangkan sesuatu untuk mereka. Sengaja datang ke apartemen Titan memang untuk menemui sahabatnya itu. Sementara Titan hanya duduk, tapi matanya tidak lepas memperhatikan apa yang sahabatnya itu lakukan dihadapannya. "Lo cantik banget." puji Titan pertama. Bermaksud untuk menggoda Alana.
"Emang, baru tahu?" kekeh Alana.
Mendekat, Titan mencolek tepung terigu itu diwajah Alana, hingga keduanya berakhir saling melempar tepung, mereka terkekeh karena hal sederhana itu.
"Gue aduin lo ke Tante Lea, awas aja!" ancam Alana. Yang dibalas Titan dengan semakin jadi menggoda sahabatnya tersebut. Aneh, karena mereka hanya terperangkap pada perasaan asing itu.
***