11. Sebel

1569 Kata
JANI             "Ngapain lo di kamar gue? Vissa nyari lo!" Seru Malik saat ia masuk ke kamar yang sedang kutempati ini.             "Mama bilang gue boleh tidur di sini kalo mau nginep. Lo sana tidur di sofa!"             "Anak raja dari mana lo!"             "Bukan anak raja, cuma anaknya Rafi Orin Samabdha."             "t*i! Gue mau mandi, lo keluar dulu! Nanti gue pindah ke kamar tamu."             "Gak, gue udah pewe, kasur lo empuk. Beli di mana sih? Gue mau deh."             "Di Baghdad!" Seru Malik kesal lalu ia masuk ke kamar mandinya.             Aku memandang ponselku yang sengaja kumatikan. Kesal karena Vissa berubah. Aku gak suka Vissa berubah. Aku suka Vissa menjadi dirinya sendiri, menyeimbangkan sifat-sifatku.             Vissa yang cantik, aku yang buruk rupa. Vissa yang baik, aku yang bandel. Vissa yang penurut, aku yang pemberontak. Vissa yang disukai semua orang, aku yang hanya dikelilingi orang-orang yang sudi berteman denganku. Vissa yang selalu positif, dan aku yang penuh dengan energi negatif. Vissa yang tak bercela, aku yang gak punya sesuatu untuk dibanggakan.             Selalu seperti itu, dari dulu. Aku gak mau ada yang berubah. Vissa sempurna dan ia harus selalu begitu. Aku gak suka Vissa menjadi seperti aku. Aku gak baik, dan aku gak mau Vissa seperti ini.             Vissa selalu menjadi prioritas semua orang, bahkan Mami dan Papi. Aku gak pernah dipedulikan karena aku bisa melakukan semuanya sendiri. Well, aku bersyukur dibesarkan dengan cara seperti itu, karena itu membentuk aku yang sekarang.             Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diriku.             Aku gak boleh marah sama Vissa. Dia lagi sedih, dia hanya butuh pelarian, dan kali ini, mungkin pelariannya adalah pergi bersamaku.             Baiklah, kalo Vissa emang mau ikut naik gunung, berarti aku harus lebih kuat dari sebelumnya karena aku harus menjaganya.             "Oy! Lo gak keluar!" Aku tersadar karena seruan Malik. Ia baru selesai mandi dan berjalan dari kamar mandinya hanya dengan bathroom robe.             "Ganti sana lo! Apa-apaan!"             "Elo yang apa-apaan! Ngapain di kamar gue?"             "Kan gue udah bilang mau nginep."             "Huhh tau ah!"             Aku diam, memandangi langit-langit polos kamarnya Malik. Dari dulu, pas kita masih SMA aku sering ngabisin waktu di kamar ini, belajar main gitar, belajar main bass, dan belajar main drum. Peralatan musiknya Malik lengkap, makanya aku bisa hampir semua alat musik, kecuali biola yaa, alat musik itu terlalu femini buatku.             "So? Kenapa lo pergi?"             Aku gak tau kapan Malik ganti, tiba-tiba dia membanting diri di sebalahku, untung ini bocah udah pake baju. Kalo belum? Aku giling deh pake selimut, terus buang ke rawa-rawa.             "Gue sebel sama Vissa."             "Soal dia mau naik gunung? Sama, gue juga sebel, kasian takut dia capek."             "Tapi yaudah kalo dia mau ya ayok deh. Tadi gue cuma lagi sebel makanya pergi. Sekarang, pas gue udah tenang, kayanya gak masalah Vissa ikut. Kan gue bisa jagain dia, Mal." Jelasku.             "Gue ikut juga deh, biar bisa jagain Vissa. Gimana?"             "Lo kan belum pernah naik gunung!"             "So? Selalu ada yang pertama untuk memulai segalanya kan?"             "Masalahnya ini tuh Semeru! Gue gak mau jadi pengasuh kalian berdua. Vissa oke, tambah lo? Bunuh aja gue!"             "Gue gak bakal nyusahin, janji! Gue ikut buat jagain Vissa, bukan menyusahkan elo."             "Yaudah, besok lo sama Vissa gue daftarin. Siapin alat-alatnya, dua minggu lagi kita pergi."             "Okee! Eh iya, lo mau gue pindah apa di sini aja?" Tanya Malik.             "Kalo di sini ya lo bobok di sofa!"             "Ini kasur gue loh padahal!"             "Bodo! Sana pindah!" Aku mendorong Malik. Anaknya pasrah jadi aja dia gubrak ke lantai.             "Kayanya gue dapet lampu ijo dari Vissa, Jan. Buat deketin dia."             "Ya bagus."             "Doain yak!"             "Amin!"             "Amin apa?"             "Amin aja pokoknya."             "Gak jelas lo!" Malik mengambil sebuah bantal lalu ia pindah ke sofa.             "Besok lo kuliah mau berangkat dari sini?" Tanya Malik saat aku akan memejamkan mata.             "Iya, pinjem baju adek lo yaa!"             "Iya."             "Lo tau gak? Gue pengin ajak lo sekongkol tapi takut disangka gue orang jahat." Kataku.             "Apa-apa-apa?" Tanya Malik semangat.             "Gue demen sama si Malik Lazuardi itu hehehe tapi keknya dia suka Vissa deh."             "Nazalindra bedon!" Serunya.             "Ya itulah."             "Suka tapi kok namanya aja gak hafal!"             "Ahh udah itu pokoknya." Kataku.             "Gantengan Radit kali daripada si Indra."             "Emm Radit kan temen gue."             "Iya sih!"             "Tapi kalo Indra suka sama Vissa, gue mending mundur teratur deh yaa."             "Kenapa? Lo kok bikin perjuangan gue makin susah aja sih!"             "Heheh kan gue gak mau membatasi pilihan hidup si Vissa."             "Hidup lo sendiri gimana? Jujur ya Jan, lo tuh terlalu mikirin Vissa tau gak. Iya sih gue suka sama Vissa, tapi status lo tuh sahabat gue, agak sedih gitu kalo lo bahas Vissa mulu, dan gak peduli sama diri lo sendiri." Ujar Malik panjang.             "Lo tau? Gue terbiasa seperti itu. Apa-apa Vissa dulu, pokoknya bikin dia seneng. Pas gue kecil, gue sama Vissa sama-sama dibeliin eskrim sama Papi. Punya Vissa abis duluan dan dia mau lagi, akhirnya Mami nyuruh gue berbagi jatah gue sama Vissa.             "Sekarang, kalo gue pikir pake logika, harusnya gue gak usah mau pas Mami bilang sharing, karena kan udah punya jatah satu-satu. Tapi hati gue gak bisa gitu. Gue selalu ingin Vissa seneng, gak nangis, gak sedih. Karena saat dia sedih, gue juga sedih. Dan gue lebih suka sedih sendirian, daripada sedih karena dia sedih." Akhirnya aku mengungkapkan unek-unekku kepada Malik.             "Punya kembaran ada gak enaknya juga ya?"             Aku mengangguk, entah Malik melihat atau tidak.             "Tapi Jan, lo harus bahagia ya? Lo tuh baik! Asli! Sekali ini aja, egois. Kalo lo suka sama Indra, ya coba deketin. Jangan ngalah terus. Oke?"             "Lo bilang gitu cuma biar lo bebas deketin Vissa kan?"             "Hehehe!"             "Udah Mal, gue mau tidur."             "Yeah, night Jan! Awas lo ileran di bantal gue!"             "Gue ludahin sekasur nanti!"             "Gak boleh lagi lo main di rumah gue!"             "Tiduuuurrrr!" Seruku, Malik tertawa. *****             "Dedek beneran mau aja Kakak?" Tanya Mami.             "Iya, udah gak apa, Malik ikut kok Mi, jadi Kakak dijagain."             "Kamu tau? Vissa emang lahir duluan, tapi dari dulu Mami selalu percaya kamu Kakaknya."             "Kok gitu?" Tanyaku.             "Kamu Kakak, kamu ngalah sama adeknya, jadi Vissa yang duluan, baru kamu. Mami bangga banget sama kamu. Bisa jadi anak yang baik, Adik yang baik, Kakak yang baik." Mami mengelus rambutku.             Aku tersenyum, jarang Mami bilang gini sama aku. Biasanya aku diomelin karena bikin ulah. Ehh sekarang bikin aku melow.             "Mi, Jani suka sama Indra." Kataku tiba-tiba.             "Indra? Indra siapa?? Jangan!" Ujar Mami panik.             "Kok Mami bilang jangan? Kan Mami belum kenal orangnya? Indra baik tau, Mi. Ganteng lagi."             "Gak! Kamu gak boleh sama orang yang namanya Indra."             "Kenapa?" Tanyaku, aku heran, kenapa Mami mendadak panik gini.             "Gak! Mami gak mau ada Indra yang lain lagi yang nyakitin Mami! Apalagi lewat anak Mami! Mami gak mau nanti kamu hamil, terus kamu terpaksa aborsi karena Indra gak tanggung jawab!"             "Mi? Mami ngomong apa sih? Jani gak ngerti!"             "Jauhi orang yang namanya Indra!" Seru Mami tegas lalu keluar dari kamarku, membuat aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mami bahas hamil, terus aborsi? Gila aja! Aku emang nakal, tapi gak yang berbau s*****l.             Senakal-nakalnya aku, ya ngisep lintingan g***a waktu SMA dulu.             "Kamu apain Mami ampe misuh-misuh gitu?" Pintu kamarku terbuka, Papi masuk dengan tampang kesal.             "Gak diapa-apain."             "Mami moodnya langsung ancur gitu. Kenapa sih?"             Apalagi mood Jani, Pi? Baru aja Mami manis-manisan sama Jani, eh udah kena omel lagi! Seruku dalam hati.             "Gak tau lah! Papi keluar gih! Jani mau tidur!" Seruku kesal.             "Kamu ngusir Papi?"             Aku bangkit dari kasur, lalu menyambar tas kecil milikku.             "Jani yang keluar!" Aku melewati Papi, sedikit berlari menuju halaman depan, kemudian masuk ke mobil dan menjalankannya ketika kulihat Papi berdiri di ambang pintu.             Kemana lagi aku malem ini? Masa aku mau nginep di tempat Malik lagi? Gak enak juga kalo repotin dia terus dan bikin dia tidur di sofa.             Aku menjalankan mobil tak tentu arah, bingung mau kemana, akhirnya aku berhenti di sebuah minimarket yang menyediakan mesin ATM.             Aku menarik uang beberapa kali, entah sebenernya aku gak tau aku butuh duit berapa. Setelah itu, aku menuju tempat roti dan aneka snack, kuambil semua makanan ringan yang terlihat enak, aku juga mengambil macam-macam minuman.             Selesai membayar, aku tak langsung kembali ke mobil, aku melihat ada beberapa anak yang nongkrong di warung nasi campur. Gosh! Aku laper.             Kuhampiri warung tenda tersebut, lalu memesan satu porsi untuk aku makan malam ini.             "Sendirian aja?!" Aku menoleh, seorang pemuda menegurku. Mungkin lebih tua dariku, tapi sepertinya tidak terlalu jauh.             "Iya." Kataku.             "Gabung aja." Ajaknya sambil menunjuk beberapa temannya. Ada dua pria lain dan dua orang wanita juga.             "Bentar, nunggu pesenannya dulu."             "Bu nanti anter ke meja itu ya?" Si lelaki asing ini berseru ke Ibu penjual sambil menunjuk mejanya.             "Ya!"             "Tuh, yuk!" Ajaknya.             Entah kenapa, aku menurut. Lalu lelaki yang memperkenalkan diri bernama Cok ini mengenalkan aku pada temannya. Ada Tiffani, Ayu, Kerta, dan Idang.             "Jani!" Aku memperkenalkan diri.             Mereka semua menyambut baik, lalu aku meletakkan jajanan yang tadi kubeli di minimarket untuk dimakan bersama.             Kelima orang ini ternyata adalah aktivis lingkungan, mereka sedang membahas gerakan Bali Tolak Reklamasi, agar reklamasi teluk Benoa dibatalkan. Aku yang anak bisnis agak kesal mendengar hal itu.             Bukankah reklamasi bagus? Ada lahan lagi, bisa dibangun lagi, lapangan kerja deh buat orang-orang. Iya kan?             "Gila! Parah sih ini. Hampir semua cagub lagi cari muka lewat aksi ini. Tolak Reklamasi! Tapi kita gak tau siapa yang bener-bener bakal nyabut SK!" Ujar Ayu.             Aku yang tak mengerti apa-apa hanya bisa diam. Lalu, aku sedikit bertanyaa pada Tjokorda atau Cok, dia langsung menjelaskan kenapa warga Bali perlu, bahkan wajib menolak reklamasi.             Aku mengerti, dan seketika, aku makin benci sama Papi! *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN