JANI
Papi baru saja menelefonku, meminta aku pulang ke rumah Nini karena ada sesuatu yang penting. Kebetulan, aku lagi main di rumah Radit, deket sini. Jadi langsung saja aku pamit ke Radit lalu meluncur ke rumah Nini.
"Hati-hati, Jan!"
"Wokeeh! Entar kabarin lagi kalau mau latihan."
"Yoo! Jan kebut-kebutan lo!"
"Iye bawel!"
Hanya beberapa menit menyetir, aku langsung sampai di halaman rumah Nini yang luas. Belum ada mobil siapa-siapa di parkiran. Kayanya aku yang pertama dateng.
Begitu masuk rumah, aku senang ternyata rumah gak sesepi yang terlihat di luar. Ada Mami Bianca, Kak Evan dan Kak Varde. Plus Jinan, tunangannya Kak Evan.
"Ih ada apa nih? Kok rame?" Aku salim ke Mami Bianca dan kakak-kakakku yang ganteng-ganteng ini.
"Kabar gembira dong!" Seru Kak Varde.
"Nikah?? Nikah ya Kak Evan?? Asikk!"
Kak Evan dan Kak Jinan tersenyum manis mendengar seruanku barusan. Berarti bener nih, cucu tertua di keluarga Sambadha akhirnya menikah.
"Om Dion mana, Mi?" Tanyaku ke Mami Bian, sambil duduk di samping Nini yang wajahnya bahagia sekali.
"Daddy ada kerjaan, Jan." Jawab Kak Varde.
"Kerja apaan? Kan Papi aku yang kerjain semuanya." Kataku, lalu mereka semua serempak tertawa.
"Hahaha mau buka cabang baru buat rumah makan Eyang." Kata Mami Bian.
"Ohh kalo yang kaya gitu Papi aku gak ikutan ya?"
"Mana ngerti si Rafi kaya gitu. Taunya makan doang dia!" Nini ikut nimbrung.
Lagi asik-asik ngobrol, Papi datang bersama dengan Kak Gara. Eh? Kok bareng sih? Tumben.
Tak lama Papi dan Kak Gara datang, Papa Firi datang bersama Mama Ocha dan Kak Yurika. Ini ada apaan sih? Kok pada panik gitu sih mukanya? Ini kan berita baik. Kak Evan mau menikah.
"Mami mana, dek?" Tanya Papi ketika aku salim.
"Gak tau, belum sampe kayanya. Kenapa?"
"Kenapa sih, Raf?" Tanya Papa Firi.
"Tunggu semuanya kumpul, ada berita kurang enak." Jawab Papi sambil duduk, di sebelahnya Kak Gara terlihat pucat.
Ini seriusan deh kenapa? Kok Papi sok-sokan misterius, Kak Gara yang ketakutan, sementara aku, Nini, Kak Evan, dan lain-lain tadi lagi asik-asik aja.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Mama datang bersama Vissa dan dua adik lelakiku. Ketika mereka duduk, air muka Papi berubah serius.
"Sebelumnya, Rafi mau minta maaf. Maaf karena ikutan Gara nyimpen rahasia ini. Dan sekarang, Rafi mau jujur, Rafi gak minta dimaafin, Rafi minta Papa, Mama, Kak Firi sama Ocha dengerin dulu, gak memotong omongan Rafi. Setelah itu, terserah mau marah atau apa."
"Kenapa Raf? Kenapa bawa-bawa Gara?" Tanya Mama Ocha dengan nada suara panik. Sedangkan Kak Gara sendiri kini hanya menunduk.
"Ayok Gara. Jujur! Ceritain semuanya!" Ujar Papi dengan nada lembut.
Aku melirik sekitarku. Semua orang bertampang sama sepertiku, penasaran.
Kemudian Kak Gara buka suara. Menceritakan rahasianya. Aku hanya bisa terngaga mendengar itu. Aku langsung menoleh ke kembaranku, Vissa. Ada perasaan sedih yang tiba-tiba kurasakan, dan detik berikutnya, Vissa menangis.
"Gak! Kak Gara gak boleh nyari cewek itu!" Ucap Vissa memecah keheningan orang-orang yang masih syok.
Oh Visaa, please dont!!! Jeritku dalam hati. Semoga Vissa cukup waras untuk tidak membuka hubungan terlarangnya dengan Kak Gara.
Aku malah lebih suka Kak Gara dengan seribu wanita di luar sana dari pada sama Vissa. Engga, kembaranku gak boleh melakukan kesalahan. Dia sempurna!!
"Maksud kamu, Nak?" Tanya Mami.
Aku terus-terusan menggeleng, berharap Vissa menatapku dan tidak membongkar aib ini.
"Aku sayang sama Kak Gara. Aku sama Kak Gara udah pernah... gitu!"
Aku menangis ketika itu keluar dari mulut Vissa. Aku berdiri, menarik Vissa dan membawanya ke lantai dua. Meninggalkan seluruh keluarga besarku yang entah sekarang harus marah, syok atau apapun.
"Kenapa Si? Kenapa?!" Seruku membanting pintu kamar Papi.
"Kak Gara gak boleh sama orang lain!" Ucapnya sambil terisak.
"Malik! Malik temenku suka sama kamu! Kurang apa dia? Dia ganteng! Dia baik! Terus Malik Lazuardi! Dia suka juga sama kamu! Banyak Vissa! Banyak yang suka sama kamu! Harusnya kamu bersyukur!" Bentakku.
"Mereka bukan Kak Gara, Jani!" Vissa balas membentakku.
Tak kuat menahan emosi. Tanganku melayang dan mendarat di Pipi Vissa.
Detik berikutnya aku langsung menyesal.
Vissa menatapku tak percaya, tangannya mengelus pipinya. Aku mendekat dan memeluknya.
"Gak gini harusnya Kak! Kamu tau, aku ikut sakit kalo kamu sakit. Aku gak mau nyakitin kamu, Kak!" Aku berusaha menahan emosiku kali ini.
Air mataku mengalir lagi sementara aku memeluk Vissa erat. Ia terisak dan membalas pelukanku.
"Siapa aja, tapi jangan Kak Gara! Please! Kak Gara cuma nyakitin kamu. Nyakitin kita berdua." Kataku, tangisan Vissa makin keras.
Aku menoleh ketika pintu kamar terbuka. Mami datang, matanya basah sama sepertiku.
Aku mencoba tersenyum ke Mami sementara Mami menggeleng lalu memeluk kami berdua. Mami tak mengucapkan sepatah katapun, Mami hanya mengusap rambutku dan rambut Vissa.
Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya Vissa melepas pelukan ini. Menghapus air matanya dengan jari-jarinya.
"Kak Gara dibawa ke rumah sakit." Kata Mami tiba-tiba.
Aku dan Vissa syok bersamaan.
"Kenapa?" Tanyaku dan Vissa berbarengan.
"Adek-adek marah. Papa Firi diem masih syok, Papi gak ada niat berhentiin mereka. But he still alive!"
Aku mendesah lega. Syukur juga kalau Kama sama Kala yang turun tangan. Kalo aku ikutan, gak selamet tuh nyawa Kak Gara.
"Bobo sini ya? Papi ada di bawah lagi ceramahin Kama-Kala. Nanti mereka naik, Mami siapin matrasnya ya?"
Aku mengangguk, Vissa juga. Kami memang seperti ini. Kalau nginep di rumah Nini, kami pasti memilih di kamar yang sama meskipun ada banyak kamar di rumah ini. Tapi kami maunya 6-an kumpul jadi satu, biar bisa sekalian cerita-cerita.
Aku turun dari kasur, membantu Mami menyiapkan matras besar yang biasa dipakai Aku, Vissa, Kama dan Kala tidur. Mami memberikanku sprei, aku langsung membentangkannya sementara Mami memasangkan ujung yang berlawanan.
"Cuci muka gih! Ambil kaus sama celana Papi yang ada di lemari. Pake aja punya Papi." Ujar Mama.
Aku mengangguk patuh.
Begitu keluar kamar mandi, kamar sudah penuh. Kulihat Papi sedang memeluk erat Vissa sementara Mami mengacak-acak lemari mencari baju untuk baju ganti semuanya.
"Vissa di atas ya? Sama Papi." Kata Papi. Kulihat Vissa dan Mami mengangguk.
"Yaudah, Mami di bawah aja ya?"
"Mami di atas aja, muat kok. Biar Jani sama Kama-Kala." Kataku.
"Adek aja yang di atas." Vissa buka suara.
"Denger Kakaknya." Kata Mami. Aku mengangguk. Mami langsung rebahan di matras bersama Kama-Kala yang sekarang lagi asik main ayam-ayaman, aku sendiri naik dan tiduran di pinggir. Kulihat Vissa memeluk Papi erat dan aku tersenyum.
Seenggaknya Vissa gak dimarahin Papi. Itu yang terpenting untukku.
"Besok aku sama Kala dimarahin Papa Firi gak ya?" Pertanyaan Kama memecah keheningan kamar ini.
"Kak Jani belain Bang, tenang." Sahutku.
"Gak ada yang dimarahin." Ujar Papi yakin.
Aku menoleh ke Papi. Tersenyum lembut kepada pria yang kucintai dari pertama kali aku mengenal cinta itu apa. Papi yang penyayang, yang suka nyanyiin aku sebelum tidur, yang lucu, yang santai, pokoknya Papi ajaib. Bukan jenis Papi terbaik di dunia, tapi terbaik untukku.
"Kenapa?" Tanya Papi, suaranya pelan seperti bisikan. Mungkin tak ingin mengganggu Vissa yang kelihatannya sudah tidur dalam dekapannya.
Aku menggeleng, tapi senyumku mengembang. Aku sudah pernah bilang kan? Keluargaku bukan keluarga yang sempurna, bukan keluarga terbaik yang ada di dunia ini. Tapi syukurlah aku masih punya.
"Goodnight, Pi. I love you!" Bisikku. Papi tersenyum lalu mengulurkan sebelah tangannya mengacak rambutku.
Aku berbalik memunggungi Papi, kupeluk erat sebuah guling. Entah kenapa, hatiku merasakan sakit yang luar biasa.
Mungkin ini yang dirasakan Vissa sekarang. Karena Vissa tidur, bisa jadi perasaannya jadi transfer kepadaku. Dan akulah yang menanggung semua rasa sakitnya.
Aku gak keberatan. Yang penting, Vissa tenang dan bahagia.
●○●○●