5. Malik & Malik

2072 Kata
JANI "Dek, nebeng ya hari ini?" Kata Vissa saat aku sedang beberes buku. "Okay, masuk jam berapa emang Si?" Tanyaku. "Jam satu." Ebujug, jam satu masuk jam segini mau berangkat bareng aku? Sekarang aja baru jam setengah sebelas. "Si, kalo di kampus biasanya ngapain sih?" Tanyanya. "Nunggu? Ya duduk aja diem." "Baca buku?" "Iya." "Hari ini balik jam berapa?" Tanyaku. "Jam tiga, kenapa?" "Gue jam setengah empat, berenang yuk, mau?" Ajakku. "Boleh, di mana?" "Di Syltha aja, pengin di kolam renang hotel gicuu." "Yaudah, okeee!" "Yukk berangkat, gue telat nih!" Kataku sambil menyampirkan tasku. "Eh? Langsung bawa baju?" "Ya bawa, cepet ambil!" "Iyaa-iyaa-iyaa!" Katanya. Aku berjalan ke ruang makan, nyari Mami mau salim. "Mamiku cantik unyu-unyu!" "Apa sih kamu?" "Kala sama Kama mana Mi?" Tanyaku. "Abang sama Aa sekolah dek, kamu gimana sih?" "Ohhh sabtu gini sekolah? Kirain libur." "Kamu juga sabtu kuliah." "Bilang sama Papi, sabtu liburin, bilang juga dosennya jangan suka ganti-ganti jadwal." Kataku. "Eh?? Bener? Coba nanti mami bilang ke Papi." "Okay!" Kataku. Coba nih Mahasiswa lain tau aku akan bikin mereka terbebas dari sabtu ke kampus, pasti pada nyembah-nyembah nih. Yakin! "Ayo dek!" Ajak Vissa. "Dahh Mami, Jani pergi dulu!" Kataku sambil mencium pipi Mami kiri dan kanan. Aku langsung keluar, biarin aja nanti Vissa nyusul, dia mah kan kalo cium Mami suka lebay, pipi lah, jidad lah, idung lah, bibir lah! Dikata si Mami anak bayi. Aku menyalakan mesin mobil, setelah Vissa masuk aku segera menjalankan mobil menuju kampus tercinta; Sambadha University. Huh! "Nanti tunggu di kantin Science aja, gue yang nyamperin. Ini gue parkir deket gedung science." Kataku saat diperjalanan. "Bisa dipelanin dikit gak sih Dek? ini bawa mobil kenceng banget." Tanya Vissa. "Jangan nebeng kalo mau protes gue bawa mobil kaya apa." "Ya maksudnya 60 tuh sedeng Dek, jangan sampe lewat 80 gitu." Tegurnya. "Mumpung Bali lagi lowong Kak." Vissa udah gak komen lagi dengan gaya menyetirku, begitu masuk wilayah SU, aku langsung menuju gedung Science dan parkir. "Nih kunci gue pegang aja sama lo, gue udah telat satu jam ini! Doain gue gak diamuk dosen!" Kataku. Aku langsung lari hanya dengan ponsel dan notes kecil. "Permisi?" Kataku. "Adek? Eh, Elva?" What??? Kok Papi yang ngajarr? Apa-apaan ini?? "Papi? Eh, Pak Rafi maksudnya." Aelah kenapa aku jadi kikuk gini sih? "Nah ini nih contoh yang kurang baik yaa, saya sudah mulai kuliah umum dari empat puluh lima menit yang lalu, telatnya parah yaaa!" Papi menyindirku. Aku masih diem di pintu. Aku baru ngeh, hari ini ada kuliah umum, tapi aku gak tau kalo Papi jadi salah satu pembicara. Dan parahnya, aku dimalu-maluin sama Papi kaya gini. Aku melirik ke audience, semua kelas angkatanku gabung jadi satu, melihatku dengan tatapan mencela. "Boleh masuk gak nih, Pak Rafi? Kalo gak saya balik kanan." Kataku kesal. "Boleh, tapi duduk di sini." Papi menunjuk kursi kosong di sampingnya. What The Hell Si Papi minta dirajam ini mah, aku aduin yaa nanti ke Mami! Liatin aja, awas loh Papi! Aku maju, melangkah menuju kursi Papi yang berjajar dengan beberapa petinggi yayasan, ada Papa Firi juga di situ, senyum-senyum gak jelas. Aku memasang senyum terbaikku, lalu duduk di kursi Papi sementara Papi berdiri. "Nah coba, Delva, kamu bisa bantu Papi Nak, jelasin yang ada di layar? Kan kamu anak Papi yang paling semangat nerusin bisnis." Kata Papi dengan suaranya yang lembut banget. Kalo ini gak di kampus, gak diliatin banyak orang, apalagi temen-temen angkatan, kayanya aku udah marah-marah sama Papi. Aku tersenyum lagi, lalu mengangguk dan berdiri. Mengambil pointer yang dipegang papi. "Silahkan duduk dulu, Rafi Orin Sambadha yang terhormat." Kataku. Papi nyengir lalu duduk. Aku menatap layar, cuma ada gambar-gambar. Gedung Arûna, mall punya Papi di Hongkong, kapal pesiar Syltha, Dûrgrimst Bali, Theme Park NiraDûr dan tentu saja, Sambadha University. Ini Papi lagi pamer properti? Apa ngapain?? Sedikit gugup, aku mencoba menarik nafas dalam-dalam, okee okee Papi, let's see, I'm gonna use my brain now! ● Semua tepuk tangan ketika aku selesai menjelaskan, aku melirik Papi, senyum puas tergambar di wajahnya, aku membalas senyumnya lalu berjalan ke arah Papi, duduk di kursi kosong yang entah milik siapa. "Papi utang mobil sama aku." Kataku sambil duduk, tidak menatap Papi melainkan menatap audience di depan. "Siap dek, bilang aja maunya apa." Ujar Papi pelan. Aku melirik Papi, lalu memikirkan mobil-mobil keluaran eropa yang cocok untukku. "Mau porsche 911." Bisikku. "Gak ada yang mahalan dikit gitu?" "Yaudah 918." Papi tertawa, sementara pembawa acara kuliah umum ini meminta Papi menutup acara. Papi berdiri, mengancingkan jasnya lalu berjalan ke podium. Sumpah yaa, dari kecil ngeliat Papi gini tuh yang bikin aku pengin jadi pengusaha, pebisnis, Papi tuh keren banget soalnya, dan luar biasa santai. Mangkanya aku kaya gini, nyontoh Papi. Acara selesai, begitu aku akan keluar ruangan, kerah belakang bajuku ditarik. Aku menoleh, pas mau marah, gak jadi, takut kualat. Bison sss coy! "Kenapa sih Pa?" Tanyaku ke Papa Firi. "Bisa gak Jan tiap hari kaya tadi? Bisnis kita makin sukses kayanya kalo kamu bisa terus-terusan begitu." "Hih, kepintaran aku tuh eksklusif, jadi gak bisa sembarangan diumbar-umbar." Jelasku. "Udah yuuk, kamu ikut makan, mau gak?" Papi bergabung dengan kami. "Jani ada kelas lagi Pi, telat ini 15 menit." Kataku. "Yaudah gak apa telat 15 menit, asal jangan telat datang bulan." Kata Papa. Aku melotot, begitupun Papi. "Lo jangan ngajarin anak gue gak bener kak!" Serunya sambil meninju pelan bahu Papa Firi. "Gue becanda! Udah adek kuliah yang bener!" Kata Papa sambil mengacak rambutku. Aku mengangguk, memeluk mereka berdua bersamaan lalu berbalik. Aku menaiki tangga dua-dua sekaligus, lift lagi penuh, bisa makin telat kalo nunggu. Jadi yaa gini. Begitu sampai di lantai tiga, aku melihat Malik berjalan di depanku, menuju ruang kelas yang sama. "Mamal!" Seruku, yang punya nama langsung berbalik. Ia tersenyum melihatku lalu bertepuk tangan pelan. Lha? Si gembelehe lagi kesurupan nihh?? "Kenape lo?" Tanyaku saat sudah berada di sampingnya. "Untuk 20 menit, gue merasa bangga jadi temen lo." Katanya sambil menepuk-nepuk punggungku. "Halah! 20 menit, dari SMP kan lo ngefans sama gue!" "Sama Vissa yaa, sorry-sorry nih, elo mah apa banget deh!" Aku tak membalas ucapannya barusan, kami langsung masuk ke kelas, Pak Mason cuma geleng-geleng kepala, karena yaaa kita semua telat, bukan hanya aku. Aku langsung duduk di pojok, tapi gak terlalu belakang banget, dan Malik duduk di sampingku, dia sudah asik dengan buku catatannya. Sumpah ya, Malik tuh rajinnnn banget, banget-banget deeh. Tapi anaknya santai, gaul, dan tentu saja doyan minum, dia juga agak bebas karena sudah tinggal di apartment sendiri, kaga bareng orang tua. Tapi anaknya masih punya pakem, jadi gak liar banget. Nakalnya dia yaa paling minum, playboy? Kaga sihh! Dia tatoan, so what? Aku juga tatoan meski di tempat yang jarang terlihat. "Apa lo litain gue? Naksir??" Malik menghancurkan lamunanku. "Gue lagi screening, lo cocok gak sama Vissa." "Hasilnya?" Tanyanya semangat. "Emm mendektai 70% lah yaa." "Najis!" Serunya pelan. Aku tertawa, mendengarkan penjelasan Mr. Mason tanpa benar-benar memahami perkataannya. Satu jam setengah berlalu begitu saja. Aku langsung keluar kelas, mau ke gedung Science buat jemput Vissa. "Jan ehh Jan! Tumben amat lo ninggalin gue." Aku menoleh dan melihat Malik mengejarku. "Gue janjian hari ini mau berenang sama Vissa." Kataku. "Di mana? Gue ikut dong?" "Yaudah ayok kalo mau ikut, bawa ganti emang lo?" Tanyaku. "Renang di mana? Beli celana renang di sana bisa kali yaa?" "Gue mau renang di Syltha!" Kataku. "Ah yaudah gampang, di Syltha kan ada store-nya." Sahutnya santai. Aku mengangguk. "Lo naik apa?" "Gue tadi berangkat bareng Vissa." "Siapa yang nyetir?" Tanya Malik. "Gue." "Astaga!! Calon istri gue lo ajak kebut-kebutan??? Adik ipar durhaka emang lo!" Serunya. Aku menoleh, serius??? Malik se-pede itu untuk jadi kakak ipar aku? Hahaha Gara coy! Saingan lo Gara! Kami sampai di gedung science, langsung masuk ke kafetaria dan mencari Vissa. "Noh! Eh? Kok sama cowo sihh?" Aku melirik ke arah jari Malik menunjuk. Ya, Vissa lagi ngobrol sama Malik (Lazuardi) sambil makan ice-cream. Gak peduli sama omongan Malik barusan, aku langsung menghampiri Vissa. "Kak? Yuk?" Ajakku begitu tiba di mejanya. "Eh iya dek, Kakak ajak Malik yaa? Dia mau ikut katanya." Ujar Vissa. Aku melirik ke si Malik Lazuar ini, dia tersenyum. Oke deeeh jadi dia bawa Malik aku bawa Malik juga nih?? Halah mending bawan Zayn Malik! Dua Malik ini mah apa banget, tapi si Lazuar ini ganteng sih. Sayang naksirnya sama Vissa. "Aku juga ajak Malik Kak, dia mau ikut juga, mau berenang sama lo katanya, minta diajarin." Kataku. "Lo mah pembunuhan karakter!" Aku menoleh, Malik sudah ada di belakangku. Tampangnya mupeng banget ke Vissa. "Kalian pada naik apa?" Tanyaku. "Gue bawa motor Jan." Jawab si Malik Lazuar. "Gue bawa mobil tapi gue mau nebeng kalian aja ah, gue yang nyetir deh." Kata Malik cungpret. "Yaudah okay!" ●○● Kami sampai di Syltha, begitu turun, Malik langsung menarikku ke store yang ada di taman Syltha. Jadi store ini tuh isinya kaya toko kelontong biasa, buat atribut para pelancong yang nginep. "Kenapa Vissa ajak cowo lain?" Kata Malik dengan nada kesal, sambil pilih-pilih sempak. "Ya mana gue tau, kan gue udah bilang sama lo, ada yang deketin Vissa juga." "Gue hari ini kudu seseksi mungkin. Ini aja kali yaa?" Malik mengacungkan celana renang yang... gilaaaa apaan banget?? "Lo serius make kaya gitu?" Tanyaku. "Biar Vissa susah fokus." "Serah elo dah!" Aku berbalik, ke Vissa dan Malik Lazuar yang sudah menyelesaikan izin-izin buat berenang. "Kita dapet yang private, lantai 20, kolam renangnya lumayan gede dibanding yang lain." Jelas Vissa. "Kenapa ga minta pool yang umum aja sih?? Mau berenang gue tuh Si." Kataku. "Lo apa sih marah-marah ke Kakak sendiri?" Malik k*****t udah nimbrung lagi. "Yaudah ayok lah!" Gini deh kalo Vissa yang ngurus. Apa-apa maunya eksklusif, gak mau nyampur sama orang, pengennya selalu jadi prioritas, kadang sebel. Kenapa? Karena dia cuma bisa songong ke aku. Entah kenapa Vissa yang dulunya songong ke semua orang mendadak berubah. Bete kan jadinya?? Kami sampai di room yang dipesan Vissa. Type presidential, buset dah Vissa... renang doang ini, lo buang-buang duit mulu ah! Aku langsung membuka tasku, mengambil pakaian renangku lalu masuk ke kamar mandi. Setelah berganti, aku menarik bathroom robe dan keluar, menuju kolam renang. Tak langsung berenang, aku duduk di kursi santai, menikmati pemandangan Bali dari ketinggian sini. Damai rasanya. "Fotoin gue dong!" Aku menoleh, syok! Malik udah pake sempak yang mau dia pamerin ke Vissa dan entah kenapa aku jijik liatnya. "Lo apa-apaan sih Mal? Iyuh tau gak!" "Udaaah ihh cepet fotoin!" Malik memberikan ponselnya, dia langsung berpose dan itu bikin aku makin jijik. "Yang ada Vissa ilfil sama lo! Bukan makin suka!" Aku menyerahkan ponselnya, melepas robe dan masuk ke kolam renang. Aku tuh kalo benerang, ya beneran mau berenang, bukan buat gaya-gayaan apalagi cuma numpang foto kaya di Malik barusan. "Jan!" Aku berhenti di pinggir ketika namaku dipanggil. Si Malik Lazuar menghampiriku dan ikut masuk ke dalam air. "Kenapa?" Tanyaku. "Kata Vissa lo mau ke Semeru bulan depan?" "Eh? Iyaa bener, awal september coy, cuaca lagi bagus." Kataku. "Gak mau 17an di sana aja?" "Eh? Engga deh, bukannya gak nasionalis nih yaa, cuma gue mikir, ada ratusan orang yang punya ide kaya gitu. Gue gak mau desek-desekan, gue kalo nanjak yaa emang nikmatin perjalanan, seru kalo rame, tapi gak rame banget." Kataku. "Gue ngikut ya? Boleh?" Tanyanya. "Ya boleh aja, lo tau Kang Cepi?? Nah sama Kang Cepi kok." Kataku. "Tauu, nanti deh yaa." Katanya. Aku mengangguk. Lalu si Malik Lazuar ini mulai berenang. Aku menoleh ke belakang, Vissa sama Malik kunyuk lagi ngobrol. Udah lah, pada udah gede ini. Biarin ajaaa... ●○● "Kan! Lo tuh nyusain, malesin amat gue ama Vissa kudu anter lo balik ke kampus? Udah mau jam makan malem ini, entar emak gue nyinyir!" Kataku saat Malik sompret minta dianter balik. "Udah Jan, Dewa gue anter. Lo sama Vissa langsung balik aja." Kata si Lauzar. "Oke deh, ayok kak!" Gue mengajak Vissa. Vissa nurut dan mengikutiku ke parkiran depan. "Gimana sama Malik? Sukak?" Tanyaku sambil menyetir. "Eh?? Kan dia temen lo dek." Kata Vissa. "Ya temen, bukan pacar. Dia suka sama lo, mau gak lo Si?" Tanyaku. "Gak tau dek." "Mending Malik kali kak, atau Malik Lazuardi, daripada lo ngarep Gara mulu. 1. Dia gak mau sama lo, 2. Dia kakak kita, 3. Lo gak ada rencana bikin i****t di keluarga kita kan? Lo tau kan kalo i****t hasilnya apa? Dua kak, kaloga cacat, letal!" "Lo parah yaa!" Vissa membentakku, keluar dari mobil dengan membanting pintu lalu masuk ke rumah. Lha?? Kenapa dia jadi marah?? ●○●
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN