Galih menatap masam saat Dean duduk di kursi tepat di seberangnya. Meja yang ditempatinya terlalu sempit untuk membentangkan jarak antara kepalan tinjunya dan wajah Dean. Galih menggumamkan gerutuan tidak jelas. Dia tidak akan bisa bersikap anarkis di bawah tatapan seluruh pengunjung restoran. Meski mereka ada di restoran yang tidak didominasi penggemarnya, siapa yang bisa menebak ada berapa kamera yang akan menangkap imej buruk Galih. Tapi dia sungguh ingin memukul Dean. “Galih, tolong beri tahu saya dimana Gemintang dan Crystal berada,” pinta Dean. Dia baru melesakkan b****g kurang dari sepuluh detik dan permintaan itu sudah keluar. Ya, siapa juga yang ingin basa-basi untuk situasi genting. “Gue nggak bisa kasih tahu. Lo benar-benar payah,” jawab Galih dengan suara rendah yang tidak t

