RCSB 11

1710 Kata
Mami merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu berkacak pinggang melayangkan protes pada Daddy. "Pagi,siang ,malam kerja Mulu!" Daddy yang tengah fokus dengan laptopnya, mengalihkan pandangan memandang Mami. "Kok sewot?" Diambil alih laptop yang ada di pangkuan Daddy, tak lupa terlebih dahulu Mami meng-save yang daddy kerjakan. "Kapan waktunya buat Mami? Buat anak-anak? Hmm!" Kacamata yang sejak tadi menemani Daddy sudah dilepas, dan diletakkan di atas nakas. Pandangan Daddy lekat kepada Mami. Merasa gemas sendiri melihat Mami dalam mode merajuk seperti ini. "Sini!" Direntangkan tangan Daddy, Mami mendekap tubuh yang selalu memberinya kehangatan itu. "Jangan terlalu sibuk, aku kangen Mas!" Ucap Mami manja, sembari memainkan kancing piayama yang Daddy kenakan. Daddy terkikik geli,sudah lama sekali mami tak memanggilnya "mas". Terhitung sejak melahirkan Airin mami selalu memanggil Daddy. "Maaf sayang." Dikecup lembut puncak kepala Mami. "Daaaad." "Hmm?" "Kenapa waktu cepat banget berlalu ya?" "Kenapa memangnya?" "Daddy lihat gadis yang bersama Denis dan temannya itu?" "Lihatlah, memangnya dia hantu jadi Daddy gak bisa lihat?" Cubitan diperut, membuat Daddy meringis kesakitan. "Rasain,orang serius juga!" "Iya,dilanjut ceritanya." "Dia Diva, pacarnya Denis." Daddy mengangguk, tanpa Mami cerita juga Daddy sudah tahu kalau gadis itu adalah gadis yang spesial bagi anaknya. Terlihat dari cara Denis memperlakukannya. "Terus?" "Daddy setuju gak kalau sama dia?" Mami memandang wajah Daddy ,menunggu apa yang akan diucapkannya. "Hoaaaaaam, tidur yuk. Daddy ngantuk." Daddy berusaha mengalihkan pembicaraan, baginya saat ini belumlah waktu yang tepat membahas hal ini. Denis baru saja lulus, daddy akan mengajari Denis tentang berbisnis agar bisa membantunya dan meringankan pekerjaannya. Dengan harapan tak ada lagi protes dari mami karena daddy terlalu sibuk kerja. Lagian Daddy baru saja menikmati waktu bersama anak sulungnya itu, tidak mau terlalu terburu membiarkan Denis membina rumah tangga yang tentu saja akan menyita semua perhatian Denis. Mami menatap kecewa kepada Daddy, padahal kan Mami mau tahu seperti apa reaksi Daddy malah mengalihkan pembicaraan. "Massss." "Hmm, besok lagi bicaranya sayang. Mas capek." Ucap Daddy, dibawanya Mami berbaring. Dipeluk hingga mereka terlelap. Jam menunjukkan pukul 00.00, namun mata Denis belum bisa terpejam. Entah perasaannya saja, atau mungkin memang terjadi sesuatu yang tidak ia sadari. Seharian Diva terlihat murung meskipun senyum tipis terpaksa tersungging dibibir manisnya, itu yang membuat Denis merasa heran. El Denis P. Udah tidur? Ponsel di sampingnya berkedip, Diva yang belum juga tertidur meraihnya. "Denis." Gumamnya. Ternyata Denis sama seperti nya, belum bisa tidur. Ia bukannya tak nyaman tidur di kasur yang empuk, lebih empuk dari kasur kapuk yang sudah kempes di rumahnya. Hanya saja ia sama sekali tidak pernah menginap di rumah orang ,jadi kamar ini terasa sangat asing baginya. Dan hal itulah yang membuatnya susah memejamkan mata. Divava Belum. Sebuah ketukan mengagetkannya  dengan asal Diva menguncir rambutnya lalu berjalan ke arah pintu. "Kamu." "He em, keluar bentar yok." "Tapi ... Ini sudah malam?" "Aman, bentar doang. Temenin aku makan di persimpangan jalan depan komplek." Meskipun ragu, Diva menuruti permintaan Denis. Mereka kini telah berada di sebuah warung tenda, dengan nasi goreng telah tersedia di depan mereka. "Makan gih." Selesai makan, Denis tak langsung mengajak Diva pulang. Ingin tahu penyebab Diva murung seharian ini. Ia menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah, mungkin di sini Diva mau bicara kepadanya. "Kok berhenti?" "Sengaja." "Kenapa?" "Apa ada sesuatu, yang membuatmu bermuram durja seharian ini?" Diva menyipitkan matanya memandang Denis, cukup peka juga anak ini. Dipegang tangan Diva, lalu dikecupnya lembut dengan bibir. "Tolong ceritain apa yang kamu rasakan, jangan bikin aku mati penasaran." Ucap Denis. Helaan napas berat terdengar, Diva merasa sesak di dadanya jika mengingat hal itu. Diva membuka mulutnya , mulai bercerita.  Rasa sesak, kesal, benci ia luapkan menjadi satu. Isakan kecil mulai terdengar, Denis dengan sigap membawa Diva ke dalam dekapannya . "Maaf." Ucap Denis lirih. Membiarkan Diva tenang terlebih dahulu,baru ia akan menjelaskan. Dilepaskannya dekapan itu, diseka air mata yang membasahi pipi kekasihnya. "Maaf aku selama ini gak jujur sama kamu, sering gonta-ganti pacar. Tapi semua gak ada yang pakai hati yang, karena hatiku cuma buat kamu." Ucap Denis. Diva mulai tenang, meskipun tak mengurangi rasa sakit dihatinya. "Sekarang cuma kamu, gak ada yang lain. Kebetulan kamu di sini, sekalian aku mau ngomong sama Mami sama Daddy buat ngelamarin kamu." Sakit hati itu perlahan menghilang, mendengar ungkapan keseriusan Denis membuatnya tenang. "Pliiss, percaya sama aku. Kita mulai dari awal, dan aku janji ini terakhir kali aku nyakitin kamu." Diva mengangguk kecil, sulit rasanya untuk marah pada cowok yang sudah ia kenal selama 6 tahun ini. "Makasih, kita pulang ya?" "Iya." "Senyum dong?" goda Denis. "Apa sih!" Akhirnya Diva tersenyum kecil setelah tangisnya tadi. Denis melajukan mobilnya menuju rumah, dibukanya sendiri pintu gerbang yang menjulang tinggi. Setelah memarkirkan mobilnya, Denis mengantar Diva kembali ke kamar. "Tidur yang nyenyak, see you!" Cupp!!! Kecupan di kening mengantar tidur Diva malam ini. Pagi-pagi sekali Diva sudah terbangun, padahal sekitar pukul 02.00 baru terlelap. Setelah mencuci wajahnya agar terlihat segar,ia segera menuju ke dapur. Sudah kebiasaannya membantu pekerjaan rumah saat dirumahnya, bahkan itu sudah menjadi tugas wajib dari ibunya yang harus ia emban. "A-ada yang bisa Diva bantu tante?" ucapnya saat melihat mami yang sibuk berkutat di dapur. Mami menoleh ke arahnya, "Boleh, sini. Sekalian biar tahu makanan favorit Denis, supaya nanti kalau sudah jadi istrinya udah hapal." Pipi Diva merona mendengar mami mengucapkan kata istri, apa itu artinya mami Denis sudah bisa menerimanya? "Ini ayamnya baru aja tante ungkep, nanti kamu bantuin gorengin ya. Anak tante tuh paling suka yang namanya ayam goreng, persis bapaknya. Tapi inget, kalau buat bumbu jangan ditambahin micin. Dia gak suka, bisa muring-muring kalau tahu pakai micin." Ucap Mami panjang lebar, Diva berusaha untuk mengingatnya. Seperti kata mami tadi, itung-itung belajar buat jadi istri Denis kelak. Dengan telaten Diva meniriskan ayam yang sudah diungkep tadi, wajan yang sudah ia beri minyak mulai dipanaskan lalu satu persatu ayam tadi ia masukkan. Mami yang meliriknya tersenyum, cukup cekatan juga pujinya dalam hati. Setidaknya itu menjadi nilai plus untuk Diva, mami ingin siapapun yang menjadi menantunya kelak dapat melayani Denis dengan baik terutama masalah makanan. Seperti mami saat ini, mendedikasikan sisa hidupnya untuk mengurus suami dan anak-anaknya karena memang itulah kodrat seorang istri. "Sudah mateng Tante." ''Tolong tata di atas piring ya Div," "Baik tante." Suara kursi digeser mengalihkan perhatian kedua wanita itu dari kesibukan menenyiapkan makanan, daddy telah siap dengan setelan kerjanya. Mami menyiapkan sarapan untuk Daddy dengan wajah kesal, hari ini sabtu dan Daddy masih sibuk dengan urusan kantornya. "Cuma setengah hari,Mam." Ucap daddy yang mengerti kekesalan istri tercintanya. "Mau setengah hari kek, setengah bulan, setengah tahun, setengah abad juga bodo amat Dad!" "Sentil nih, sama suami yang sopan.Kualat tahu rasa." Ucap Daddy seraya siap menyantap makanannya. "Ampun kanjeng." "Mam." Panggil Airin. Mami membopong gadis kecilnya yang baru saja bangun tidur, masih lengkap dengan bau ilernya. "Sudah bangun anak Mami , Mbak Ida mana sayang?" tanya mami mencari keberadaaan mbak yang membantu mengasuh kedua anaknya. "Di atas." Mami mengernyit ngeri, kebiasaan sekali Airin turun sendiri dari lantai atas. "Besok-besok lagi jangan turun sendiri, nunggu Mbak ya?" "E eh Mam." Airin dibawa ke kamar mandi, mencuci muka agar bau ilernya hilang. Diva yang ditinggal Mami, hanya mematung di depan pantry .Tak tahu harus berbuat apa, juga merasa canggung pada Daddy yang berada tak jauh darinya. Hingga seorang berseragam ART melewatinya dengan membawa keranjang penuh dengan pakaian kotor. "Mba, aku bantuin ya?" "Maaf non, ini pekerjaan saya .Saya takut dimarahin Ibu." Alibi sang ART , tidak pernah sama sekali ia dimarahin mami hanya saja ia tak bisa membiarkan tamu tuan mudanya ini membantunya. "Pliss Mbak,udah biasa nyuci aku tuh. " Keukeuh Diva. "Gak bisa non, permisi non." ART itu berlalu,membiarkan Diva tetap pada posisinya. Daddy yang sudah selesai sarapan, menaruh piring kotor di tempat pencucian. Melewati Diva begitu saja. "Diva , sarapan yuk." Ajak mami. "B-aik tante." Mami tak mendapati Denis di kamarnya saat akan menyuruh anak itu sarapan bersama, Mami baru ingat kalau Devan dan Rama menginap pastilah Denis tidur bersama mereka. "Dek, tolong bangunin Masmu ya. Mami mau nganterin Daddy ke depan. " "Baik Mami." Ucap Airin semangat, membangunkan kakaknya adalah kesukaannya. Dengan susah payah gadis kecil yang tahun ini berusia empat tahun ini meraih gagang pintu, menariknya ke bawah supaya pintu terbuka. "Ya ampuuuuun." Pekik Airin. Denis dan kedua temannya tidur degan posisi tak manusiawi, kaki Denis berada di depan muka Devan begitupun sebaliknya. Sementara Rama menjadikan tubuh Devan sebagai gulingnya, stick PS beserta kasetnya berserak di lantai. "Mas...Mas... Bangun." Bisik Airin di telinga Denis yang sama sekali tak mengganggu tidur nyenyaknya. "Maaaaas, bangun salapan!" Pekik Airin lebih keras. "Eehhhmmm , ngantuk." Airin mulai merengek "Mas , ayoo ! Kita semua udah lapal!" "5 menit lagi Dek, Mas masih ngantuk." Gumam Denis dengan mata terpejam, sungguh ia masih sangat mengantuk.Semalaman mereka bertanding PS sampai subuh tadi. Airin tak pernah kehabisan akal, selalu ada cara membangunkan kakanya yang kalau tidur sudah seperti kebo yang susah dibangunkan. Ia terkikik geli, beberapa kali membasahi bibirnya. "Basah!" Gerutu Denis, matanya masih tetap terpejam hanya tangannya yang meraba pipinya yang terasa basah. Sekali lagi Airin melakukannya, menjilati pipi kakaknya dengan semangat 45. Salah sendiri susah sekali dibagunkan. Berulang kali Airin menjilati wajah Denis, hingga seluruh wajah cowok itu basah akan air liur membuat sang empunya mengeram kesal. "Airin!" Geram Denis, ia bangkit dari pembaringannya. Matanya tajam melotot kepada sang adik. Alih-alih takut, itu justru membuat Airin terkikik. Misi berhasil, bangga Airin. "Mami, minta, Mas , salapan." Ucap Airin dengan terbata, gaya bicara yang memang menjadi ciri khasnya. Denis mengusap wajahnya kasar, masih mengantuk tapi tidak mungkin mengabaikan perintah mami tak mau jadi anak durhaka itu yang selalu ia tanamkan dalam hati. Karena Mamilah orang yang paling ia segani di muka bumi ini. Perjuangan Mami dulu membuat Denis harus selalu patuh dengan perintah mami. Dengan langkah gontai, pemuda berusia 22 tahun itu menuju ke dalam kamar mandi. Membersihkan muka akibat ulah adiknya. "Bangun woy ...Bangun." Teriak Denis kencang di telinga kedua sahabatnya, sudah mamelebihi toa masjid saja suaranya. Devan dan Rama terjengkit kaget. "Cuci Muka!" Titah Denis, tanpa sadar keduanya menuruti perkataan Denis. Adik kakak yang melihat tingkah mereka tergelak bersama, sudah macam robot saja mereka menuruti permintaan Denis. "Kok gue di sini." Ucap Rama heran, Devanpun demikian. "Udah yok sarapan, gue yang tadi nyuruh kalian buat cuci muka. Ternyata kalian masih di alam mimpi ya ! Hahaha!" Digendongnya Airin, dengan sigap Airin melingkarkan tangannya ke leher kakanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN