RCSB 9

1749 Kata
Denis menelungkupkan tubuhnya di atas sofa, tangannya sibuk memainkan kursor game online agar kembali menang seperti beberapa saat lalu. "YESSSS!" Teriak Denis senang, ia kembali di peringkat satu. Teriakan Denis mengagetkan Airin yang sejak sibuk dengan boneka Barbie miliknya. "Tadet mas!" Omel Airin, ia menepuk betis Denis. "Sorry dek." "Haaaaah, males. Kemana sih mereka berdua!" Dumel Denis, sudah berjam-jam menunggu tapi batang hidung mereka belum nampak sama sekali. Denis sudah bosan, membiarkan laptop dan kertas-kertas berserak di atas meja. Janjian berapa Dateng jam berapa. Jangan percaya jika teman kalian mengucapkan kata keramat lagi di jalan, bahwasanya itu hanya alibi untuk menutupi keterlambatan mereka. Ia berjalan ke teras sekali lagi, menengok apakah Arga dan Lintang sudah tiba di rumahnya. Mereka mengatakan akan ke rumah ini pukul 09.00 tapi ini sudah pukul 13.00 siang, ia sudah bersungut-sungut sejak tadi. Brumm...brumm.. Deru mobil memasuki halaman rumah keluarga Pramudya, mobil sport berwarna merah itu berhenti tepat di depan Denis yang sedang berkacak pinggang. Menatap garang kedua cowok yang baru saja turun. Lintang bergidik ngeri, ia takut melihat tatapan Denis yang seperti emak-emak siap ngomel karena anaknya pulang kesorean saat main. "Sorry kita telat bro." Ucap Lintang sambil menangkupkan kedua tangan. "Iya ,sorry gue lupa." Kata Arga kali ini, ia santai saja. Toh sudah terjadi, mau bagaimana lagi yang penting kan mereka tetap datang. "Ya wes ayo masuk." Lintang dan Arga mengikuti Denis di belakang, mengusap d**a mereka merasa lega. Tumben-tumbenan Denis tidak mengomel. Arga dan Lintang masuk ke dalam setelah dipersilahkan tuan rumah keduanyaa duduk, ada Airin di sana sedang sibuk bermain sendirian. "Adek, lagi ngapain nih?" goda Lintang yang merasa gemas terhadap gadis kecil yang sedang asyik sendiri itu. Hening, tak ada jawaban dari Airin. Arga tertawa terbahak-bahak melihat Lintang yang dikacangin. "Gak lucu." Kesal Lintang menutupi rasa malunya. "Permisi den, silahkan minuman dan kuenya." Ucap si mbok meletakkan beberaba gelas dan camilan, dijawab anggukan oleh ketiganya yang sudah sibuk dengan laptop masing-masing. Hanya terdengar suara jari yang beradu dengan keyboard, ketiganya mengetik kata demi kata yang sudah mereka susun lalu menunjukkan hasilnya ketika selesai agar saat diberikan kepada dosen nanti tanpa revisi lagi. Malas sekali kalau sdah capek-capek ngetik disuruh ngetik ulang, hal yang sama sekali tak disukai oleh seluruh mahasiswa sepertinya. "Oyy, tadi pas gue di rumah Arga ketemu sama Indri loh . Ada adiknya juga." Celetuk Lintang. Gerakan jari Denis berhenti seketika mendengar nama Indri, gadis yang dengan semena-mena ia campakkan begitu saja. "Terus?" tanya Denis penasaran. "Dia kayak abis nangis gitu." Denis menggaruk dahinya yang tak gatal, dialah pelaku utamanya. "Iya lah, orang tersangkanya dia ini. s***s tahu gak sih, diputus pas lagi sayang-sayangnya." Terang Arga. "b******k juga nih anak. HAHA." Ucap Lintang dibarengi dengan gelak tawanya. Denis melotot ke arah Lintang yang mulutnya masih terbuka lebar itu. "Ada adek gue nyet! Inget tempat kalau mau ngumpat!" ucapnya kesal . Sungguh ia khawatir Airin mendengarnya tadi. Lintang segera menutup mulutnya, sadar akan kesalahannya lalu ia meminta maaf. "Gue mau minta tolong sama kalian berdua dong, gimana ya caranya minta maaf sama dia supaya dia bener-bener maafin gue. Sumpah gue gak enak." Sesal Denis. "Tembak lagi aja, ajakin balikan." Saran Arga. Denis menggeleng cepat "Gak bisa guys." "Lah kenapa?" "Gue udah mau komit sama pacar gue di Semarang, rencananya nih...." Denis celingak-celinguk agar penghuni rumahnya tidak ada yang mendengar. Arga dan Lintang mengikuti arah pandang Denis, seakan ini adalah sebuah rahasia besar. "Rencananya, gue abis wisuda mau ngelamar dia!" Mata kedua sahabatnya membulat. Merasa tak yakin dengan ucapan Denis, yang merela tahu si player ini tak pernah serius dengan wanita. "Cepet amat bro, emang lo udah yakin sama yang ini? Ntar kayak yang lain lagi." Kata Lintang. Denis mengangguk cepat "Yakin banget, gue sama dia udah 6 tahun kenal dan juga udah 3 tahun pacaran. " Tiga tahun pacaran katanya, keduanya sama sekali tak percaya. Karena di kota ini tak ada yang lebih dari sebulan kecuali Indri yang jadi pacarnya. Tapi 6 tahun yang lalu kan mereka belum saling kenal, tak tahu bagaimana kehidupan Denis sebelum pindah ke kota ini. "Lumayan lama juga untuk ukuran cowok kayak lo, haha. Kalian LDR?" Denis mengangguk lagi, Lintang maklum mungkin jarak lah yang membuat Denis berubah seperti sekarang. Tapi ia senang karena Denis sudah mencoba berubah, tidak lagi ada gadis yang terluka hatinya karena ulah sahabatnya itu. "Ya semoga lo beneran serius sama dia, gue yakin pilihan lo yang terbaik. Terus buat Indri lo coba buat minta maaf terus aja sama dia, ntar juga luluh. Semoga urusan lo sama Indri cepet kelar, biar gak berlarut-larut." Lanjut Lintang . "Thanks bro." Ucap Denis. Arga hanya menyimak obrolan mereka, tak bisa menimpali. Ketika sesi curhat mereka usai, kembali sibuk dengan skirpsi masing-masing. Berharabkerja keras mereka selama ini membuahkan hasil, lulus dengan nilai memuaskan dan ilmu mereka berguna di masa depan. Lintang dan Arga pamit saat jam menunjukkan pukul lima sore, lumayan lama juga mereka di sini. Badan mereka sudak capek, pikiran juga lelah. Tapi mereka tak akan pernah patah semangat, karena ini perjuangan terakhir mereka. Suara gaduh terdengar saat mereka keluar, seketika Denis, Arga, dan Lintang terbahak-bahak. Di depan sana, di dekat pintu gerbang, Mami tengah menjewer telinga Daddy. Daddy hanya meringis kesakitan, tubuhnya penuh dengan lumpur. "Sakit." Teriak Daddy mengaduh. "Mancing sih mancing, jangan sampai lupa waktu. Berangkat subuh pulang hampir petang." Sungut Mami. Mami merasa kesal, akhir-akhir ini Daddy gandrung sekali mancing. Namun tak satupun ikan yang Daddy bawa pulang. "Namanya juga hobbi." Ucap Daddy membela diri. "Mending di rumah sama anak-anak, sudah mandi sana. Bau lumpur!" Denis masih tertawa saat Daddy melewati mereka bertiga, sedangkan Arga dan Lintang mencoba membungkam mulutnya menyembunyikan tawanya. "Kami pamit pulang Tante." Ucap Lintang kepada Mami, disalaminya tangan Mami bergantian dengan Arga. "Iya. Hati-hati ya." Ucap Mami ramah. "Baik Tante." "Denis mana, Mam?" tanya Daddy, Adrian duduk dipangkuannya. Saat ini keluarga Pramudya sedang bercengkrama seperti biasanya di ruang keluarga, namun belum tampak Denis ikut bergabung. "Kayaknya di teras belakang, akhir-akhir ini sering di sana." Ucap Mami. Daddy meminta mami memanggil putranya itu, karena belum terasa lengkap jika seluruh keluarga belum berkumpul.Sudah dua minggu waktu terlewati tanpa Denis, dan sekarang waktu untuk menebusnya. Bagi daddy waktu untuk keluarga itu sangatlah penting. "Mas,dipanggil Daddy." Ucap Mami saat mendapati Denis duduk sembari menatap layar ponselnya. "Ya Mam, bentar." Balas Denis. "Udah dulu ya, Mami manggil." Denis segera menutup panggilan video callnya bersama sang kekasih, saat Mami sudah mendekat. "Lagi apa?" "Cari sinyal, di dalem susah." Bohong Denis, belum saatnya mengenalkan Diva secara langsung kepada mami. Ia ingin mengenalkan mami kepada Diva nanti saja. "Ya udah, yuk keburu Daddy ngamuk. Daddy tuh kangen sama kamu,Mas." Ucap Mami. Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan berkumpul dengan Daddy. "Ngapain di belakang?" "Nyari sinyal, Dad." Denis melemparkan tubuhnya ke atas sofa panjang, berbaring nyaman di atasnya. "Hapean mulu, keluargamu kita apa Hape?" sindir daddy . "Ya Daddy, Mami, Airin sama Adrian lah. Masa benda mati." Ucap Denis sengit. "Maka nya, kalau keluarga ngumpul itu ikutan. Jangan malah sibuk sama duniamu sendiri, inget semuanya terasa lebih berarti ketika sudah pergi dari hidup kita." Wejangan Daddy. Padahal Daddy juga sering lupa waktu kalau sudah memancing. Denis memutar bola matanya malas , iya dad iya Denis tahu kok. Batin Denis. Tak mau lagi meladeni ucapan Daddy yang menambah keruh suasana. Suasana sudah mencair, terdengar ketawa bahagia yang keluar dari masing-masing anggota keluarga itu. Kehangatan sebuah keluarga terpancar jelas. Semua berkat tingkah usil Airin, gadis kecil satu-satunya yang mampu mengundang gelak tawa. Dan juga Adrian tentunya. Hari-hari yang Indri lalui terasa hambar, tak seperti saat masih bersama Denis.  Ia banyak melamun, sesekali menangis saat ia sedang sendirian. Kehadiran Syla sama sekali tak bisa mengembalikan keceriaannya seperti semula, membuat gadis itu geram dan memilih kembali ke Jogja. Sedangkan kedua orang tua mereka yang teramat sibuk dengan usahanya masing-masing, sama sekali tak tahu menahu tentang kondisi anak sulungnya. Indri bergegas mandi saat alarm diponselnya berbunyi, meski sedang patah hati tak ingin patah semangat dengan skripsi yang sedang ia perjuangkan. Tak butuh waktu lama untuk bersiap, dengan menenteng bahan skripsi di tangan Indri segera berangkat ke kampus l. Saat hendak masuk ke dalam ruangan dosen pembimbingnya, tanpa sengaja bertemu dengan Denis - cowok yang sudah membuat remuk hatinya . "Hai." Sapa Denis. Indri hanya diam, tak habis pikir setelah membuat luka dihatinya dengan enteng dan rasa berdosa orang itu menyapanya. Ia segera masuk, tak ingin berurusan dengan Denis yang akan semakin menambah sakitnya . Sekitar setengah jam Indri di dalam, saat ia keluar Denis tengah berdiri di samping pintu, menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Boleh bicara? Sebentar saja Ndri." Ucap Denis. Indri tak menjawab, ia memilih pergi. Namun Denis berhasil meraih pergelangan tangannya. "Plis Ndri, kasih gue kesempatan buat minta maaf sama Lo."Pinta Denis. Tenaga Indri terasa terkuras, padahal hanya tangannya saja yang dipegang Denis. Entah mengapa itu membuat tubuhnya lemas, ia pasrah saja saat Denis mengajaknya ke kantin. Mereka duduk tak jauh dari pintu masuk, kantin masih terasa sepi karena ini terhitung masih lumayan pagi. Mereka duduk berhadapan. "Ndri, gue tahu apa yang gue lakukan itu jahat banget. Tapi gue coba buat minta maaf ke elo, biar gak ada lagi masalah diantara kita Ndri." Denis merasa iba menatap wajah sendu Indri, matanya bengkak dan kantong mata terlihat sangat jelas. "Sorry Ndri, Lo mau kan maafin gue? Mau kan berteman lagi seperti sebelum kita pacaran?" Indri hanya menatap Denis,tanpa sadar air mata membasahi pipinya. Denis bangkit dari duduknya, beralih ke samping Indri. Menyeka air mata yang membasahi pipi gadis cantik itu. "Gue bener-bener minta maaf Ndri." ucap Denis sekali lagi, meyakinkan Indri bahwa benar-benar merasa bersalah. Sentuhan tangan yang mengenai pipinya, membuat hati Indri menghangat. Perlakuan manis Denis yang belum pernah ia rasakan selama ini, membuat perasaannya melunak. Indri merutuki kelabilannya, bukan kah seharusnya ia memaki Denis bukan malah seperti ini. Ia setuju saja, dan menerima permintaan maaf Denis. "Oke, sekarang kita temenan kan? Kayak dulu kan?" ucap Denis lagi . Reflek Indri mengangguk, jujur ia merasa senang saat ini. Bisa ada di dekat Denis. Senyumnya tersungging, senyum yang tlah lama lenyapitu kini kembali terlihat. "Kalau gitu, gue ke tempat dosen ya. Lo kan tadi udah, yuk. Mau bareng sekalian?" "Iya." Mereka berjalan beriringan, sampai dikoridor yang mengarah ke kelas bertemu dengan Arga dan Lintang. Seketika deheman mengiringi langkah mereka berdua, Denis menghiraukan kedua sahabatnya itu. Arga terkikik geli, kadang cewek semudah itu berubah pikiran. Saat di apartemennya saja ia melihat Indri yang begitu terpukul dengan pemutusan sepihak cintanya, tapi kini ia melihat sepertinya Indri dan Denis telah berdamai. Syukurlah. Tentu saja Arga merasa senang, tak lain halnya dengan Lintang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN