"Pagi, Mbak." Viona menyapa Tamara saat mereka tidak sengaja bertemu di ujung tangga untuk sama-sama turun. "Wah, kamu sepertinya lagi senang. Rambut juga basah, pasti semalam kamu puas, kan? Mas Bayu memberikan hakmu, jadi kamu seperti musafir yang dahaga lalu mendapatkan air. Makanya kamu terlihat sumringah," ucap Tamara sambil terus melangkah turun. "Bukankah ini yang kalian mau, supaya aku segera hamil. Kenapa ucapan Mbak seperti pada seseorang yang merebut suami Mbak? Harusnya hal itu bukan masalah, kan?" tanya Viona menjawab ucapan Tamara yang menyindirnya. "Ya aku harap kamu segera hamil, agar aku tidak perlu berlama-lama berbagi suami. Aku ini wanita normal, sudah pasti merasa sakit hati. Jika saja bukan karena mertuaku, aku tidak akan pernah mengijinkan suamiku menikah lagi. Ti

