Happy reading
⏳
"Selamat datang, Revan." sambut Andrew yang turun dari tangga dengan cepat.
"Hati-hati Andrew, kau belum sepenuhnya pulih," kesal Claudia yang sudah masuk ke dalam mansion.
Andrew tersenyum, "iya, terimakasih suda mengkhawatirkan aku. Oh... bukankah kau Clarissa?" tunjuk Andrew pada Clarissa yang berdiri di samping Claudia.
"Hai, uncle." sapa Clarissa ramah.
"Wah, anak gadismu sudah besar ternyata, Revan. Aku ingat waktu terkahir kali aku melihat Clarissa ia masih setinggi pinggangku,"
Semua orang langsung terkekeh mendengar ucapan Andrew.
"Kalian sudah tiba?" Maria muncul dari dapur dan langsung memeluk Claudia erat.
"Kalian pasti lelah, ayo duduk dulu." ujar Maria dan mengajak mereka untuk duduk di ruang tengah.
Beberapa maid membawa koper mereka bertiga dan Clarissa menatap kemana maid-maid itu pergi. Maria yang melihat itu lantas langsung bersuara.
"Tampaknya Clarissa kelelahan, ia tidak terlihat fokus."
Mendengar namanya di sebut Clarissa reflek langsung memutar kepala ke arah Maria.
"Kau lelah sayang? Ingin istirahat?"
"A-apa?"
"Clarissa memang lelah, Maria. Ia baru saja tiba dan sekarang harus pergi lagi. Dari tadi ia hanya tidur di pesawat," sambung Claudia membuka mantelnya.
Para pria di mansion itu memilih berbincang di kebun belakang dan meninggalkan para wanita di ruang tengah.
"Mom! Aku tidak lelah," bisik Clarissa pada Claudia.
Claudia memutar mata bosan, "jangan berpura-pura di depan Aunty mu sayang,"
Maria tertawa melihat interaksi antara anak dan ibu itu.
"Nina," panggil Maria pada salah satu maid.
Nina keluar dari arah dapur dengan sedikit berlari, "ya, Nyonya."
"Tolong antarkan Nona muda ini ke kamarnya," ujar Maria tersenyum ke arah Clarissa.
"What... Nona muda? Panggil saja dia Clarissa-"
"Mommy!!"
Tawa Maria pecah sesaat melihat bagaimana jahilnya Claudia yang terus saja menggoda anak gadisnya.
Wajah Clarissa terlihat memerah dan sedikit ada kekesalan di sana. Clarissa bangkit dengan menghentakkan kakinya ke lantai setelah itu memgikuti Nina yang berjalan di depannya.
"Kau sangat suka sekali mengganggu, Clarissa, Clau." ujar Maria masih dengan terkekeh.
Claudia menghela nafas, "ya mau bagaimana lagi, hanya dia yang bisa aku ganggu dan membuat suasana menjadi hangat, jika itu Jovin." Claudia bergidik, "mungkin suasananya sudah seperti di militer,"
Tawa Maria dan Claudia langsung pecah dan membuat beberapa maid keluar dari sarangnya hanya untuk mengintip interaksi kedua sahabat itu.
***
Clarissa mengikuti langkah Nina. Wanita yang masih terlihat muda itu membawanya berjalan di sebuah lorong mansion mewah itu.
Mata Clarissa melihat dengan saksama foto-foto yang terpajang di dinding. Dan karena terlalu fokus melihat-lihat ia sampai tidak sadar telah membentur punggung Nina yang berhenti di depannya.
"Aduh," Clarissa mengaduh pelan dan mengusap-usap dahinya.
Nina langsung membalikkan badannya, "maaf Nona, saya tidak sengaja," ujar Nina menundukkan kepala.
Clarissa menggeleng, "tidak, tak apa. Aku yang salah-tidak sadar kalau kau sudah berhenti,"
Dengan masih mengusap dahinya, Nina membuka pintu kamar yang akan di tempati Clarissa selama dua minggu.
"Ini kamar Nona,"
Clarissa masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Nina.
Tidak beda jauh dengan bentuk kamarku
"Ini koper Nona," ujar Nina meletakkan koper pink milik Clarissa tepat di samping pemiliknya. "Apa ada yang Anda butuhkan lagi?" sambungnya kembali.
Clarissa menggeleng sembari tersenyum, "tidak Nanny terimakasih,"
Nina mengernyit dan memiringkan kepalanya sedikit. "Kalau begitu saya keluar dulu, Nona, selamat istirahat."
Nina berlalu. Clarissa langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Ah... nyamannya, tapi aku tidak ingin tidur! Aku ingin jalan-jalan," rengek Clarissa yang sudah duduk di tepi ranjang.
Clarissa menggerakkan kakinya ke balkon kamar. Ia menghirup udara yang terasa sangat segar itu padahal waktu sudah menunjukkan pukul sore.
"Jam empat," ujarnya melirik jam tangannya. "Aku ingin jalan-jalan...., aku harus ijin pada Mommy,"
Clarissa keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Ia kembali memasang mantelnya yang berwarna abu-abu.
Sesampainya di bawah, ia bisa melihat sepasang suami istri yang sedang bercengkrama bersama di ruang tengah. Sesekali Clarissa mengembangkan senyumannya ketika melihat betapa bahagianya orang tuanya ketika berjumpa dengan sahabat karib yang sudah lama tak mereka temui.
Clarissa menarik nafas panjang, dan melangkah mendekati pasangan paruh baya itu.
Claudia yang sadar akan kehadiran Clarissa langsung membuka suaranya dan itu membuat semua orang yang ada di sana langsung melirik gadis itu serentak.
"Kau tidak istrihat?" tanya Revan pada Clarissa sembari menyeruput minumannya.
"Aku mau jalan-jalan,"
Semua orang mengangkat kepalanya serentak-menatap Clarissa.
Clarissa menarik alisnya sebelah melihat ekspresi ke empat orang tua di depannya itu.
"Mommy tidak salah dengarkan, Cla?"
Clarissa mengedip-ngedipkan mata. Apa ada yang salah? Ia hanya ingin pergi jalan-jalan.
"Tidak. Mommy tidak salah dengar, aku ingin jalan-jalan,"
"Dengan siapa? Dengan Mommy dan D-"
"No, hanya aku. Aku akan pergi sendiri,"
"Tapi kau baru pertama kali ke sini, kau tidak mengenal kota ini Cla, nanti kau tersesat bagaimana?" timpal Maria.
"Don't worry Aunty, aku sudah sering ke sini. Apa lagi aku tau aku akan pergi jalan-jalan kemana,"
Claudia dan Maria saling pandang. Maria menganggukkan kepala, ia setuju-setuju saja jika gadis itu mau pergi jalan-jalan sendiri asalkan ia tidak akan tersesat.
Claudia memalingkan kepalanya ke arah Clarissa dan menatap sejenak Clarissa yang tersenyum padanya.
"Baiklah, aku mengijinkanmu tapi hati-hati, bawa ponselmu kalau terjadi sesuatu langsung hubungi Mommy dan Daddy, mengerti?"
"Mengerti, boss." ujar Clarissa sembari memberi hormat pada Claudia.
Semua yang ada di sana tertawa kecil melihat tingkah gadis itu.
Clarissa keluar dari mansion. Ia memilih berjalan kaki dari pada menaikki kendaraan mewah milik Andrew di karenakan ia ingin menikmati pemandangan sore di kota London.
Ia terus menjajaki kakinya pada trotoar, angin berhembus kencang membuatnya mengeratkan mantel yang ia gunakan.
Langkah nya terus membawa Clarissa hingga ia sudah berada di Tower Brige.
Clarissa menghentikan langkahnya. Matanya menyusuri pemandangan yang di sajikan di sana.
Suasana cukup ramai, banyak orang yang berlalu lalang, di tambah cuaca yang cerah namun terasa sejuk di karenakan sekarang sedang musim semi.
Puas memandangi pemandangan dari jembatan, Clarissa pun hendak memutar tubuhnya namun sayang ia menabrak pejalan kaki.
Clarissa reflek langsung meminta maaf dan membantu membereskan buku-buku yang terjatuh dari tangan pejalan kaki itu.
Clarissa mendongak dan melihat siapa yang ia tabrak.
Ia seorang pria muda-sepertinya seumuran dengannya. Mata Clarissa menyusuri fisik sempurna dari pria itu, di mulai dari rambutnya yang berwarna coklat, lalu mata Clarissa turun ke matanya, ia bisa melihat betapa panjang dan lentiknya bulu mata pria itu dan matanya yang nakal tidak sengaja melirik bibir pria itu, bibirnya kecil tapi terlihat penuh dan...
Pikiran Clarissa akan bagaimana fisik pria itu buyar ketika pria itu berdiri menjulang di depannya.
Clarissa berdiri dan tingginya hanya sampai dagu pria itu dan membuatnya sedikit mendongak kan kepala.
"Buku-ku," pria itu menjulurkan tangan kanannya meminta bukunya yang di pegang oleh Clarissa.
Clarissa memberikan buku itu padanya dan tersenyum tak enak.
"Maaf, aku tidak tau kalau ada orang yang berjalan di belakangku," ujar Clarissa masih menatap wajah pria itu.
"Tak apa," ujarnya.
Di tempatnya Clarissa memandangi takjub pahatan Tuhan di depannya.
Pria itu ternyata memiliki warna mata coklat terang dan sangat kontras dengan warna kulitnya yang tidak terlalu putih.
"Tampan," ujar Clarisaa tanpa sadar.
Pria di depannya hanya mengernyitkan kening.
"Kalau begitu, permisi."
Ia berlalu meninggalkan Clarissa yang mematung di tempatnya. Sesaat setelah pria itu pergi dari hadapan Clarissa, Clarissa langsung tersadar dari lamunannya dan melihat punggung pria itu yang sudah menjauh.
Clarissa memiringkan sedikit kepalanya.
"Aku ingin berjumpa dengannya kembali."
Mon, 10 Mei 2021
Follow ig : vivi.lian23