Perasaan itu fitrah dari Allah, tinggal seperti apa kita menanggapinya"
G e n g s i
****
Sebelum baca jangan lupa vote,, eheheh by the way jangan lupa koment juga.. buat author bahagia kan pahala.. sekalian biar kita makin saling kenal.. okey
Silahkan...??
***
Carisaa menggumamkan sholawat dengan riang sore ini, ia sekarang berada di bandara tepatnya diruang tunggu untuk menjemput pengantin baru yang sudah menikah sudah 1 tahun lebih itu, mereka baru saja pulang Honey mon di Turki.
Ia menyungingkan senyum saat melihat Alfa dan Zahra bergandengan tangan sedang kebingungan mencarinya..
"Abaaang." pekiknya melambaikan tangan sambil tersenyum.
Alfa dan Zahra berbalik. Mereka tersenyum dan menghembuskan nafas legah akhirnya setelah lama kebingungan mencari, Carisa menampakkan diri juga. Keduanya jalan berisisian menghampiri Carisa.
"Cieee pengantin baru, Welcome back in Bandung City." Ucapnya dengan semangat lalu memeluk Zahra erat.
Alfa terkekeh melihat penyambutan Carisa yang super exited itu.
"Hahaha i'm come back Home Ris." balas Zahra.
Carisa mengurai pelukannya dengan senyum bahagia yang tetap terpatri diwajahnya..
"Bawa oleh-oleh kan bang, Kak Zah.? Ingat kan apa yang aku minta." godanya sambil memainkan Alisnya.
"Bawa dong, selalu diingat kok sayang." balas Zahra.
Alfa pura-pura cemberut sambil menatap Carisa lekat lekat.
"Riss, kok abang ngga dipeluk si, masa cuma Alfazamku yang dikasi pelukan." Rajuk Alfa.
Carisa menoel lengan Alfa sambil tertawa. "Abang ngga perlu gue peluk lagi."
Alfa mengernyit heran. "Lah kenapa.?" Tanya abangnya keheranan.
"Cause bang Al udah punya teh Zahra,, kalau gue peluk bang Al menang banyak dong udah dipeluk Istri dipeluk adik pula. Sory yah gue ngga mau bang Al menang banyak. Kasian kaum singlelillah yang menyaksikan entar mereka baper lagi. No no" balas Carisa bercanda.
Alfa dan Zahra yang mendengar jawaban Carisa itu, tertawa. Mereka berdua kompak mendekat lalu memeluknya. Carisa ikut tertawa kemudian mebalas pelukan Kakak-kakaknya.
"Nah kalau berpelukan bertiga gini kan adil jadi ngga ada kaum single yang baper." Celetuknya.
"Hahahaha, ya Allah Ris." balas Zahra.
Sementara Alfa? Lelaki itu terkekeh sambil menggelengkan kepala gemas dengan tingkah Carisa. Mereka akhirnya melerai pelukannya.
"Tumben peka Ris sama kaum sendiri biasanya juga ngga pernah sepeka ini, kayanya Afi dan yang lain berhasil nih ajarin kamu buat peka."
Deg.. Jantung Carisa berdetak abnormal lagi mendengar nama Afi pipinya mendadak panas. Kenapa tubuhnya selalu bereaksi aneh seperti ini sih saat mendengar nama bang Afi.
"Riss kamu nggak apa-apakan.?" Tanya Zahra yang menangkap gelagat aneh Carisa setelah Alfa membuang bicara seperti tadi. Alfa ikut memperhatikan Carisa.
"Dasar jantung kenapa kumat saat seperti ini si." Carisa membatin..
"Engga kenapa napa kak hehe santai santai." balasnya.
"Huh syukurllah kirain kenapa-napa."
"Emang Rissa kenapa yang?." Tanya Alfa yang masi heran melihat eksperesi khawatir istrinya.
"Engga kenapa-kenapa bang, yuk pulang." balas Carisa lalu menyeret satu koper tas jalan mendahului.
Zahra tersenyum jahil menatap pundak Carisa yang pelan pelan menjauh.
"Yakin ngga kenapa napa?" Tanya Alfa sekali lagi.
"Engga bang. Biasalah rahasia perempuan, yuk pulang entar Risa ngerajuk lagi."
"Ooo rahasia perempuan toh, hmm pantas." Timpal Alfa lalu menggandeng tangan Zahra melangkah mengikuti Carisa.
Setelah sampai di parkiran Carisa memberikan kunci mobil pada Alfa.
"Nih bang kunci mobilnya gue mau jadi penumpang aja." ucapnya sambil menyodorkan kunci mobil pada Alfa.
Alfa mengambil kunci yang disodorkan. "Yaudah dek, lu istrahat aja dibelakang, abang tau kok lu lelah karna nanganin pasien seharian"
Carisa nyengir uuuh pengertian sekali abangnya ini.
"Terimakasih baang." pekiknya lalu masuk dalam mobil.
Alfa dan Zahra ikut masuk setelah memasukan barang barang ke bagasi Mobil. Mereka mulai berangkat meninggalkan bandara perlahan lahan.
Triing..
handphone Zahra berbunyi menampilkan satu pesan masuk dari Carisa. Zahra menoleh kebelakang. Carisa nyengir sambil menunjuk layar handphonenya. Bibir Zahra membentuk huruf O tanda mengerti.
Carisa : "kak entar malam selesai Sholat Isya temanin gue ke Taman belakang ya. Gue mau Curhat hehehe."
Zahra : "Oke"
Usai membalas pesan, Zahra menoleh kearahnya sambil tersenyum, ia menanggapi dengan senyum lebar.
Carisa menghela nafas lalu menyandarkan diri di kursi penumpang matanya menelisik jalan jalan yang dilaluinya dengan kendaran roda empat itu, curhat dengan kakak Ipar sepertinya bisa membuat ia sedikit mengetahui jawaban kenapa jantungnya selalu berdetak tidak normal saat dekat dan mendengar nama Afi.
***
Usai makan malam dan Sholat Isya berjama'ah. Ia menarik tangan kakak iparnya itu dengan cepat. Mereka berdua menuju taman kolam Ikan dibelakang rumah.
Ratih yang melihat anak-anaknya bergerak menuju belakang dapur dengan terburu-buru sambil bergandengan tangan itu keheranan.
"Ehh pada mau ngapain sih nak buru buru amat jalanya" Tegur Ratih.
Zahra yang mendengar teguran ibu mertuanya spontan tersenyum pada Carisa lalu membalas teguran Ratih.
"Santai sebentar ma dibelakang mau quality time dulu sama Risa."
"Ooh ya sudah kalian berdua jangan kemalaman yah masuknya dingin loh diluar."
"Siap ma." balas Risa dan Zahra bersamaan.
Mereka akhirnya duduk dipinggir kolam. Risa sebenarnya agak sedikit deg deggan membahas masalah ini. Semoga saja kakak iparnya bisa membantu.
"Mau curhat tentang apa nih?" Pancing Zahra mulai membuka pembicaraan.
"Kak Zah, gue bingung mau mulai dari mana ceritanya. Tapi gue rasa ini aneh kak, Kak Zahra pernah ngerasain degdegan hanya karna ditatap seseorang ngga.?"
Zahra tampak berfikir."hmm, degdegan karna ditatap sih pernah. Ditatap sama Dosen pembimbing aku degdegan, ditatap sama mas Alfa aku degdegan juga. Aku mau nanya deh, Rissa degdegan karna ditatap siapa?"
Carisa memperbaiki posisi duduknya, ia menghela nafas agak sedikit gelisah.
"Aku degdegan karna ditatap bang Afi kak, aneh deh jantungku ini diliatin bang Afi degdegan, dipuji bang Afi degdegan lagi dan parahnya pas bang Afi senyum aku degdegan juga. Huft sebenarnya aku ini kenapa sih kak?"
Jujur Carisa bingung dengan reaksi jantungnya setiap kali ia dekat dengan Afi, bukan hanya saat dekat sedang berjauhan saja jantungnya bisa bereaksi abnormal hanya karna nama Afi disebut.
Zahra tersenyum jahil menatap Carisa. "Ris menurutku itu tanda bahwa kamu mulai tertarik sama bang Afi deh."
Carisa yang baru saja meminum teh hangatnya tiba tiba tersedak ia batuk batuk mendengar balasan Zahra.
"Uhuk uhuk."
Zahra panik kakanya itu langsung mengambil gelas yang ada ditangannya lalu mengusap punggungnya.
"Ya Allah Rissa, kalau minum hati- hati." Omel Zahra.
Carisa merenggut lalu mencoba mengatur nafasnya kembali.
"Habisnya kak Zahra sih, bilang aku gitu, ngga mungkin lah Kak aku tertarik sama bang Afi, kak Zahra ada ada aja deh." Ucap Carisa menggeleng.
"Kalau menurutku yah kak, kayana ada yang aneh dengan jantungku ini. Apa jangan-jangan aku mengidap penyakit jantung baru ya.?" Sambung Carisa lagi.
"Hush, kamu ya Ris sembarangan kalau ngomong."
"Iiish ini beneran kak."
"Engga, menurutku itu karna kamu mulai tertarik sama Afi, bisa saja kan? Kalian itu udah lama dekat tidak menutup kemungkinan muncul rasa yang seperti itu Risaa."
"Engga kak, ini itu aneh soalnya baru pertama kali aku ngerasain hal yang seperti ini, dulu semasa kuliah aku sempat suka sama teman aku tapi jantungku ngga gini-gini amat deh kak, ditatap, diberi perhatian dan lain-lain jantungku biasa aja."
Zahra menepuk jidatnya, begini nih susahnya memberitahu orang yang ngga peka.
"Bayangin deh kak, masa dengar nama bang Afi saja aku degdegan. Aneh kan.?" ucap Carisa mengerutkan kening
"Nih yah Ris dengerin aku, perasaan itu misteri Allah, hari ini bisa saja kita tidak tertarik tapi tidak menutup kemungkinan besok atau lusa dan hari-hari berikutnya kita jadi tertarik. Ingat Allah itu maha membolak balikan hati."
Carisa tampak berpikir. Yang dikatakan Zahra ada benarnya juga. Ia dan Afi sudah kenal lama dan memang dekat Carisa tidak bisa memungkiri itu. Afi sudah ia anggap seperti abang sendiri. Keningnya berkerut, masa ia sih? Ia mulai tertarik sama Afi. Kepalanya menggeleng. Engga-engga mungkin, yang benar saja? Afi kan abangnya. Ia tidak mungkin tertarik.
"Engga mungkin Kak, yakali aku mulai tertarik sama bang Afi." Balas Carisa.
Zahra lagi-lagi menggeleng.
"Oke oke, mungkin kamu belum sadar tapi kalau kamu sudah sadar dengerin nasihat kakak, perasaan itu fitrah Allah jadi kita harus pandai menempatkan rasa agar tidak terjerumus."
Carisa mengangguk mendengar nasihat yang diberikan oleh Zahra.
"Tapi aku masi merasa aneh deh kak, apa aku periksa jantung aja ya ke dokter Andi?"
"Hmmm.. terserah deh kalau kamu rasa wajib periksa yaudah periksa aja. Pasti Dokter Andi akan bilang kalau kamu terserang Sindrom merah jambu" balas Zahra sambil terkekeh.
"Lah malah ngeledek."cibir Carisa.
" Udah yah yuk masuk, udaranya mulai dingin nih." Ucap Zahra.
Zahra mengambil nampan yang terisi gelas teh dan cemilan kemudian beranjak mendahului, Carisa mengangguk lalu mengikuti.
Triiingg.. triiing... triiinggg..
Suara dering telpon memecahakan lamunan Carisa. Ia melihat nama kontak yang tertera pada panggilan masuk tersebut.
"Halo, Assalamualaikum dokter Ris, dokter disuruh kerumah sakit sekarang"
"Waalaikumsallam, kerumah sakit sekarang.?"
"Iya dok, pasien kamar no 10 harus dioprasi sekarang dan dokter Afi butuh bantuan"
"Oke oke saya akan kesana, 15 menit saya sampai."
Carisa mengambil snelinya yang tergantung didinding kamar. Zahra yang melihat Carisa buru buru mengambil Snelinya itu terkejut.
"Kak aku pamit ke rumah Sakit dulu yah, ada pasien yang harus dioperasi."
Ia langsung memeluk Zahra yang dibalas pelukan pula. "Hati hati Ris."
"Iya" Carisa mengangguk lalu berjalan bersama menuju ruang keluarga.
Setibanya di ruang keluarga, Alfa dan orang tuanya sedang asik menonton berita.
"Ma, ayah, Bang Al. Risa ijin ke rumah sakit yah ada pasien yang harus di operasi" jelasnya lalu salim pada Fadli, Ratih dan Alfa.
"Abang ikut Ris, tunggu. Yang minta tolong Sneliku"
Zahra beranjak dengan cepat mengambil Sneli Alfa.
Carisa yang masi memeluk ibunya menanggapi.
"Ngga usah bang, bang Al masi capek nanti susulin gue besok pagi aja"
Zahra datang bergabung sambil membawakan Sneli Alfa.
"Ini mas."
Carisa melerai pelukannya. "Ngga usah kak, aku aja. Aku berangkat dulu yak"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam" jawab semuanya.
"Hati hati nak." Ucap Fadli dan Ratih bersamaan.
Sementara Alfa dan Zahra ikut mengantar Carisa kedepan.
"Ingat, setelah selesai operasi jangan lupa tidur di ruangan abang, istrahat sejenak oke" Alfa memberikan kunci ruanganya pada Carisa.
"Oke bang, gue pamit"
Carisa masuk dalam mobil lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Hati hati" pekik Alfa dan Zahra.
"Iya bang, Asaalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Carisa mulai mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan rumah dan perlahan meninggalkan Rumah.
****
(Autor note)
Halo semuanya selamat membaca jangan lupa Vote ?
Semoga cerita ini bermanfaat dan disukai banyak orang aamiin.
Happy reading guys