Pagi- pagi, Bara sudah ada di halte di dekat sekolah. Tujuannya hanya satu, menunggu Ayra, si anak kelas sepuluh. Saudara kembar musuhnya. Ia menyelipkan rokok di antara bibirnya dan membakar ujungnya dengan bantuan pemantik api. Ia menatap jalanan di depannya yang tampak padat. Ia tahu akhir- akhir ini gadis itu lebih sering di antar sampai halte dekat sekolah karena SMA Pancasila berada di kawasan sekolah yang akan sangat macet di pagi dan sore hari.
Camry putih berhenti di depannya dan saat melihat siapa yang turun, ia buru- buru membuang rokoknya yang masih tersisa setengah. Bukan hanya Ayra yang keluar, tapi juga seorang pria yang berpakaian sangat rapi.
"Kamu yakin nggak apa- apa turun di sini?" tanya Wijaya. Belum sempat Ayra menjawab, ia sudah terkejut melihat Bara ada di sana. Kalau tahu ada laki- laki itu, ia akan minta diantar sampai depan sekolah. Tapi sudah terlanjur. Setelah bersikap biasa saja, ia menjawab,
"Nggak apa- apa, Pa. Muter di depan pasti macet. Nanti papa telat lagi." Sekolah Ayra memang ada di kawasan sekolah yang artinya bukan hanya SMA Pancasila yang ada di sana. Tapi juga sekolah mulai dari playgroup sampai kampus swasta yang letaknya tak jauh dari sana, sehingga jam masuk dan jam pulang menjadi sangat macet.
Ayra mengikuti arah pandang ayahnya yang tengah melihat Bara. Bara tersenyum kaku. Pria berkemeja itu melihat badge yang ada di seragam Bara. Sama dengan bagde putrinya.
"Pagi Ayra." Bara akhirnya memberanikan diri menyapa. Ayra mendesah lalu menoleh ke Bara yang ada di belakangnya.
"Dia teman kamu?" Wijaya bertanya. Bara mendekat.
"Saya Bara, om. Kakak kelas Ayra." Ia mengulurkan tangannya dengan ramah. Pria itu mengangguk lalu menjabat tangan itu.
"Oh, kebetulan ada teman kamu tuh. Jadi kamu jalan ke sekolahnya nggak sendirian." Wijaya tidak menyadari raut wajah anaknya yang berubah. Tidak tahu bahwa laki- laki di depannya adalah biang onar sekolahnya. Tidak tahu bahwa anaknya sangat takut akan sosok itu. Tidak tahu bahwa Bara adalah musuh bebuyutan Lara.
"Iya, Pa." Jawabnya pelan.
"Yaudah, papa berangkat dulu ya." Wijaya mencium kening putrinya dan Ayra mencium punggung telapak tangan ayahnya. Camry itu berbalik arah dan meninggalkan Ayra dengan Bara di halte.
"Itu bokap lo?" tanya Bara. Ayra mengangguk sambil berjalan pelan.
"Kenapa telepon gue semalam nggak di angkat?" tanyanya lagi.
"Ehm... saya udah tidur, Kak." Jawabnya bohong. Bara mengangguk, berusaha percaya walau sebanarnya ia tahu kalau ada kemungkinan gadis itu menghindarinya. Ia tahu bahwa gadis itu kan selalu mencoba menghindarinya sebisa mungkin.
Mereka berjalan beriringan. Bara menatap gadis yang ada di sampingnya. Gadis yang tampak lugu. Kulit putih, rambut panjang tergerai, seragam rapi, tingginya hanya sebatas pundak Bara. Sangat berbanding terbalik dengan saudaranya. Rambut Lara selalu di kuncir kuda, atau bahkan di cepol asal- asalan. Mungkin hanya dengan cara itu mereka bisa dibedakan.
"Ayra." Suara itu membuat kedua orang itu menoleh. Dan Sisil, teman sebangku Ayra mendadak menyesal memangggil teman sebangkunya saat sadar bahwa ia tengah beriringan dengan Bara. Sementara Sisil menyesal, Ayra justru menatapnya dengan tatapan terima kasih. Ragu, Sisil mendekat dan kini berdiri di samping Ayra.
"Maaf, Kak, saya sama Sisil duluan, ya. Ada janji mau ambil buku di perpus dulu." Kata Ayra yang langsung menggandeng tangan Sisil menjauh dari Bara. Keduanya langsung mengambil langkah seribu yang membuat sebelah alis Bara terangkat. Tak urung, Bara tersenyum melihat pundak itu menjauh darinya.
"Kok, lo bisa sama kak Bara lagi, sih?" tanya Sisil penasaran. Ia bukan tidak tahu berita yang beredar akhir- akhir ini. Ia sendiri melihat dengan jelas bagaimana Bara sering muncul tiba- tiba di depan temannya. Ayra mengangkat bahu sebagai jawaban tercepat.
"Ketemu di halte." Jawabnya cuek.
"Beneran nggak sih, Ra, kalau kemungkinan dia suka sama lo?" tanya Sisil.
"Nggak mungkin, Sil. Nggak ada alasan dia suka sama gue. Gue malah berpikir kalau dia lagi cari cara buat ngebalas kelakuan Lara melalui gue. Itu artinya, gue juga bakal ikut kena masalah." Tiba- tiba saja, Ayra bergidik ngeri. Kalau itu benar- benar terjadi, itu akan jadi bencana buatnya.
"Bisa juga sih. Lagian Lara sama Kamal tuh nyari gara- gara aja sih. Gue bingung." Sisil tahu sedikit cerita tentang Lara dan Kamal dari Ayra. Bagaimana kedua orang itu memang biang onar dari SMP, Lara sih lebih tepatnya, karena Kamal hanya selalu berada di samping Lara.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh saat Mahesa keluar dari kamarnya. Ia sudah berseragam, tapi tasnya masih tergolek di meja belajarnya, ia menimang untuk bolos hari ini. Ia menuju meja makan dan menemukan bi Lilis yang sedang mengelap meja makan.
"Yuda udah berangkat, bi?" tanyanya sambil mengambil roti yang sudah dilapisi selai dan mengunyahnya pelan.
"Sudah mas, tumben, sudah pergi dari tadi pagi." Alis Mahesa terangkat, tapi enggan berkomentar. Ia fokus pada roti di tangannya.
Jarum jam berputar, tapi Mahesa justru menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Berkali- kali ia memandangi luar yang tampak mendung. Membuat rasa malasnya kian menjadi- jadi. Bolos sehari deh. Pikirnya dalam hati. Ia hampir saja kembali terlelap kalau saja ponselnya tidak berbunyi.
08126456283xxx : Sa, Lo masuk kan? Buku kimia gue ada sama elo kan? Awas aja lo nggak masuk.
Tidak butuh waktu lama untuk menebak siapa yang mengiriminya pesan itu. Ia langsung terlonjak dan mendesis "Sialaan." Kenapa dia bisa lupa kalau dia meminjam buku kimia milik Ciara. Setelah meruntuk kesal, ia bergegas ke dalam kamar untuk mengambil tasnya lalu merangsek ke mobilnya. Untung saja pelajaran kimia ada di jam ke empat. Karena kalau jam pertama, bisa mati dia, bukan, bukan dia yang mati tapi Ciara.
Selama duduk satu bangku, Ciara tidak pernah tahu berapa nomor ponsel Mahesa, atau alamat rumahnya, karena ia pikir tidak penting. Tapi ternyata kontak itu ia butuhkan disaat genting seperti ini. Di ujung waktu bel akan berbunyi dan laki- laki itu belum kelihatan batang hidungnya. Ia terpaksa mendekati Iras dan meminta nomor ponsel laki- laki itu.
"Aduh, ada acara apaan nih pake minta nomor Mahesa segala?" Iras mengucapkan itu keras- keras, membuat anak lain langsung menoleh ke arah belakang.
"Idih Cia, udah mulai agresif nih, udah berani minta nomor HP Mahesa." kata Mahmud sambil nyengir, membuat yang lain tergelak.
"Udah gue bilang kan, Ciara pasti bakal naksir Mahesa. Tapi Mahesanya kan kayak homo. Nempelnya sama Iras mulu." Kali ini Doni yang menyahut. Yang lain mengangguk setuju.
"Berisik lo. Buku kimia gue ada sama dia." Jawabnya galak. Ia melotot pada anak yang baru saja berbicara.
"Percuma, Ra, Mahesa kalau niat bolos mah nggak bakal bisa dibujuk. Mau dikejar-kejar sniper juga nggak ngaruh." suara Aldi menyahut dari samping.
"Tapi nggak tahu deh kalau kakak Ciara yang nyuruh masuk. Kali aja dia tergerak hatinya buat sekolah." Suara riuh menggema, membuat wajah Ciara kontan memanas. Ia berkali- kali menghela napas.
"Mana, Ras, gue minta nomornya?" desak Ciara pada Iras yang tampak cekikikan.
"Aduh, Ra, gimana, ya. Nomornya Mahesa tuh keramat banget. Gue udah diwanti- wanti untuk tidak menyebarluaskan." Jawabnya polos.
Ciara berdecak lalu beralih pada teman laki- lakinya yang lain. Ia menatap Mahmud, lalu berseru "Mud, lo punya nomornya Mahesa nggak?" tanyanya galak. Laki- laki itu langsung menggeleng.
"Kan tadi Iras udah ngomong, nomornya Mahesa itu keramat. Cuma Iras yang punya."
Ciara mengepalkan tangannya. Anak- anak perempuan di sana menggeleng kasihan. Memang kalau sudah berurusan sama Mahesa, urusannya pasti jadi runyam.
"Ras, penting banget nih. Gue bisa kena amuk kalau ketahuan nggak bawa buku kimia." Kali ini nada Ciara lebih rendah dicampur dengan nada memohon, membuat Iras tidak tega.
"Yaudah, tapi lo jangan kasih tahu nomornya ke siapa- siapa ya." Ciara langsung mengangguk. Dia tidak punya kepentingan juga untuk menyebarluaskan nomor Mahesa. Tidak ada untungnya juga. Setelah berdecak sebal, ia menyalin nomor Mahesa dari ponsel Iras dan mengirim pesan pada laki- laki itu.
***
Jam pelajaran kedua Mahesa muncul. Semua anak sekelas kontan ternganga. CIARA JUARA! s***s memang perempuan itu, bisa menggeret Mahesa ke kelas tanpa tali di lehernya.
"Catet, Mud, poin ke tiga, ya, Ciara berhasil nyuruh Mahesa balik ke sekolah." Aldi berbisik pada Mahmud yang tampak mengangguk sambil mencatat sesuatu dalam kertas paling belakang bukunya.
"Ngapain kamu di sini?" bu Ami menatapnya galak. Mahesa nyengir, menunjukkan senyum mempesonanya.
"Maaf bu, kesiangan." jawabnya polos.
"Kamu nggak ketemu guru piket di depan?" tanyanya dengan nada dingin. Mahesa memang lagi beruntung karena tidak bertemu satupun guru piket yang berjaga. Alhasil, ia bisa masuk kelas tanpa hukuman.
"Lagi pada sibuk kali, Bu."
Bu Ami mulai mengetok- getok meja dengan penggaris besinya. Anak- anak yang lain terkikik geli. Pasalnya, semakin lama bu Ami terfokus pada Mahesa, semakin cepat juga jam pelajaran berlalu.
"Kamu liat tuh teman- teman kamu." Mahesa menatap ke depan. Ke sekelilingnya, ke anak- anak yang sedari tadi tertawa pelan karena kesalahan Mahesa bukan cuma telat, tapi salah kostum.
"Ini tuh hari rabu, kenapa kamu pakai batik?" Mahesa garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lupa, bu." Singkat, padat, jelas. Membuat anak- anak yang lain bukan hanya cengengesan, tapi tertawa melihat kepolosan Mahesa.
Belum sempat bu Ami membuka mulut lagi, Ciara mengangkat tangan. "Maaf bu, gimana kalau Mahesa dikasih ke guru piket saja. Kalau ibu ngomelin dia, jam ngajar ibu bisa berkurang." Koor 'huuu' langsung berseru menyoraki Ciara. KITA? Ciara saja sepertinya. Karena yang lain pasti senang kalau kenyataannya jam pelajaran matematika habis untuk mengomeli Mahesa. Toh, Mahesa juga sudah kebal diomelin.
"Kamu keluar dulu, temuin guru piket."
"Saya nggak belajar dong, Bu?"
"Kalau kamu niat belajar, kamu nggak bakal terlambat, Mahesa." kata- kata itu diucapkan bu Ami pelan- pelan. Dengan nada penekanan yang jelas. Dan cuma Ciara yang mendengus kesal.
"Janji, Bu, ini yang terakhir. Lagian, ibu nggak kasihan. Ciara pasti kesepian kalau duduk sendiri." Semua mata kini menatap ke arah Ciara yang tanpa sadar langsung menggeleng.
"Catet Mud, poin ke empat. Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah, Mahesa menolak disuruh keluar dan milih buat ikut belajar." Aldi berbisik, membuat Mahmud mengangguk- angguk sambil menggerakkan tangannya yang memegang pulpen di atas kertas.
Setelah menghela napas panjang dan melihat peluang baik. Bu Ami akhirnya membiarkan Mahesa duduk di mejanya dan mengikuti sisa jam pelajarannya.
Pelajaran matematikan dilanjutkan tepat saat Mahesa menjatuhkan diri di bangkunya. Isi kepala setiap orang tidak lagi rumus- rumus njelimet itu. Tapi berbagai spekulasi mengenai Mahesa dan Ciara. Ada yang dengan jelas berpikir kalau Mahesa memang lagi naksir Ciara, mungkin juga sebaliknya, tapi ada juga yang berpikiran s***s, Mahesa cuma mau manfaatin Ciara. Siapa juga yang tidak bingung melihat cowok malas tiba- tiba dekat sama cewek pintar. Terlepas dari mereka dipaksa duduk satu meja, kalau melihat tingkah Mahesa, tak mungkin laki- laki itu berubah secepat itu.
Bu Ami keluar setelah bel pergantian jam belajar berbunyi. Mahesa melirik Ciara yang masih mencatat rumus- rumus yang ada di papan tulis. Mahesa mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada Ciara.
“Nih bukunya. Makasih, ya.” Kata laki- laki itu. Ciara menoleh lalu mengambil buku kimia miliknya dan menaruhnya di laci meja.
“Sorry udah bikin lo khawatir.” Katanya lagi. Ciara kembali menoleh dan menatap Mahesa lekat- lekat.
“Kalau gue nggak chat, lo pasti mau bolos, ya?” tanya Ciara yang langsung membuat Mahesa tertawa. Mahesa menatap Ciara yang tampak begitu menantikan jawabannya.
“Iya, kok lo tahu, sih.” Mahesa menjawab jujur.
“Parah banget, sih, lo. Gue nggak mau, ah, minjemin catatan gue lagi.” Kata Ciara. Ia jelas tak mau mengambil resiko saat tahu Mahesa bisa- bisanya niat membolos padahal membawa buku catatan milik orang lain.
“Gue lupa kalau bawa buku kimia lo. Sumpah.” Mahesa mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “kalau ingat, mah, gue pasti masuk lah. Gue nggak bakal sejahat itu juga.” Lanjutnya. Ciara tak menjawab, hanya menatap Mahesa sekilas lalu beralih pada tasnya. Ia memasukkan buku matematikanya dan mengeluarkan buku untuk pelajaran selanjutnya.
“Jadi gue di maafin, kan?” tanyanya. Ciara mengangguk tanpa menoleh. Mahesa menatap Ciara yang tengah membolak- balik buku pelajarannya. Berusaha tak menoleh dan menatap ke arahnya.
Di meja belakang, para anak laki- laki sibuk memperhatikan gerak- gerik Mahesa yang semakin aneh.
“Lihat, tuh, Mahesa ngelihatin Ciaranya udah kayak orang naksir. Iya, kan?” kata Mahmud. Ia dan teman sebangkunya, Aldi membalik posisi duduknya, menghadap Iras dan Diana yang ada di belakang mereka.
Iras dan Diana langsung melempar pandangan ke depan. Ke arah Mahesa yang tengah menatap Ciara lekat- lekat. Ciara sendiri sibuk dengan buku pelajaran di tangannya.
“Yang jelas, Ciara nggak bakal mau sama Mahesa.” kata Dia dengan nada yakin. Iras langsung melirik Diana dengan sinis.
“Gue tahu banget selera cewek Mahesa itu kayak gimana. Ciara sama sekali nggak masuk kriterianya. Nggak usah kepedean.” Kata Iras. Aldi dan Mahmud saling pandang. Ia tahu, sebentar lagi, keributan akan terjadi. Dan sebelum itu terjadi, mereka memilih untuk membenarkan posisi duduk mereka dan meninggalkan Diana dan Iras yang mulai beradu argumen dengan sengit.
TBC
LalunaKia