CHAPTER DUA

2235 Kata
            Tiga hari MOS rasa neraka berakhir juga. Kini, Lara menatap puas penampilannya. Tidak ada lagi ikat rambut warna- warni. Tidak ada lagi kalung- kalung aneh di lehernya. Tidak ada lagi kaos kaki belang- belang dan yang pasti, tidak ada lagi penindasan berbalut MOS.             Ia menarik napas panjang tepat saat sebuah suara terdengar, "Laraaaaa." Suara keras itu masuk ke gendang telinganya bersama dengan suara pintunya yang diketuk dengan keras. Saat Lara tidak juga membalas teriakan itu, teriakan itu terdengar lebih nyaring, membuat Lara langsung menutup kedua telinganya.             "Berisik, ih." keluh Lara saat menemukan Kamal sudah ada di depan kamarnya. Kamal nyengir dan memerhatikan suasana rumah yang sepi. Laki- laki itu memakai seragam putih abu- abu. Bajunya di masukkan di dalam celana dan rambutnya di sisir dengan rapi. Sebuah ransel berwarna hitam menggantung di punggungnya.             "Udah pada berangkat semua." kata Lara, menjawab pertanyaan yang belum sempat terlontar dari mulut Kamal. Mereka berdua pergi ke meja makan dan menyantap nasi goreng yang sudah disiapkan asisten rumah tangga Lara.             Keduanya makan dalam diam. Keduanya sama- sama bersemangat memulai hari ini. Setelah selama tiga hari menjalani MOS yang lebih mirip kelas militer bagi Lara, tentu hari ini adalah hari yang ia tunggu- tunggu. Tidak akan ada lagi yang menindasnya atas dasar MOS. Ia tak pernah peduli pada senioritas. Ia tidak pernah takut pada siapapun.             Kamal memindai rumah Lara yang sepi. Rumah itu memang selalu sepi, itu adalah salah satu alasan kenapa Lara tak pernah betah di rumah. Ia lebih baik menghabiskan banyak waktunya di luar, daripada berteman sepi di rumah itu. Hal itu juga dikarenakan hubungannya dengan keluarganya tak baik- baik saja. Sudah sejak lama Lara tahu bahwa rumah bukan lagi tempatnya pulang. Rumah itu tak pernah memberi kenyamanan buatnya. Rumah itu hanya sebagai tempatnya singgah dan beristirahat. Semenjak kematian ibunya, rumah itu tak lagi sama seperti dahulu.   ***               Mahesa berjalan di belakang Ciara yang nampak gugup. Jari- jari tangan gadis itu bertaut dan ia bisa tahu kalau gadis itu benar- benar ketakutan. Mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu ruang bimbingan konseling. Bagi Mahesa, ini bukan hal baru. Ruang BK bisa dibilang tempat wisata buatnya saking seringnya ia masuk ke sana. Terlalu banyak alasan untuk Mahesa masuk ke ruangan itu. Nilai ulangan yang jelek, sering bolos, telat, dan puluhan peraturan yang mungkin ia langgar.             "Lo masuk ruang BK aja udah kayak mau masuk rumah hantu. Biasa aja kali." kata Mahesa. Mereka sudah berada di depan pintu dan Ciara menoleh ke arah Mahesa yang tampak tenang. Mahesa menekan handle pintu dan langsung masuk, diikuti Ciara di belakangnya.             Ciara tidak pernah masuk ruang BK sebelumnya. Baginya, ruang BK itu sarang penyamun. Tempat anak- anak bermasalah. Wajar kalau ia gugup setengah mati saat mendengar dirinya dipanggil ke tempat itu. Ciara sudah berpikir keras apa kesalahan yang ia perbuat dan ia tak menemukannya. Ia tak melakukan apapun yang bisa membuatnya dipanggil ke ruangan itu.             Mereka berdua menemukan bu Yeni yang duduk di belakang meja kayu cokelat yang dilapisi taplak berornamen bunga- bunga. Ciara tersenyum pada bu Yeni yang memasang wajah datar.             "Duduk." Bu Yeni mempersilakan. Ciara tampak cemas, kontras dengan Mahesa yang tampak tenang. Keduanya duduk di depan wanita itu, dipisahkan sebuah meja.             "Kalian tahu kenapa kalian saya panggil ke sini?" bu Yeni menyandarkan tubuh tambunnya ke kursi dan menatap dua orang di depannya dalam- dalam.             "Nilai saya jelek, saya sering telat, atau peraturan- peraturan lain yang saya langgar." kata Mahesa dengan cuek. Ciara menoleh mendengar keberanian laki- laki di sampingnya. Dilihatnya laki- laki di sebelahnya yang tampak tenang. Bu Yeni memajukan tubuhnya, melipat kedua lengannya di atas meja.             "Kamu kadang pintar ya, Sa." suaranya sarat tekanan. Ia mengambil sebuah map dan mengeluarkan lembar jawaban ulangan yang ternyata milik Mahesa.             "Ini nilai ulangan Fisika kamu. Ibu dengar dari guru- guru, nilai kamu makin nggak keruan." Kertas itu ia taruh di depan murid laki- lakinya. Lembar jawaban dengan nilai tiga yang di tulis begitu besar di pojok sebelah kanan.             "Gimana kamu mau lulus kalau nilai kamu variasinya cuma tiga sama empat." Lanjutnya dengan nada geram. Mahesa tampak berpikir sejenak. Tapi tidak juga mengeluarkan sepatah katapun.             "Biarpun orangtua kamu donatur terbesar di sekolah ini. Kami guru- guru nggak bisa meluluskan kamu cuma- cuma." Lanjutnya lagi. Mahesa masih mendengarkannya setengah hati. Seperti biasa, ceramah guru- guru akan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri tanpa meninggalkan bekas sama sekali.             "Ya gimana dong, bu. Itu udah usaha maksimal saya banget." jawabnya dengan nada enteng. Bu Yeni menghela napas lalu membenarkan letak kacamatanya.             "Sudahlah, ibu sudah bosan ceramahin kamu." Kata wanita itu yang sudah tahu seperti apa watak anak muridnya yang satu itu. Marah- marah padanya hanya akan membuang waktu dan energinya. Sejak menjadi murid di SMA itu, Mahesa memang terlihat paling menonjol dibanding anak- anak lainnya. Namun masalah, ia menonjol bukan karena hal positif, namun negatif.             "Ya saya sebenernya juga sudah bosan, sih, diceramahin sama ibu." Lirih Mahesa.             Suara gebrakan meja langsung terdengar, membuat Ciara dan Mahesa hampir terlonjak dari kursinya.             "Haduh, darah tinggi ibu bisa kumat nih kalau kelamaan ngomong sama kamu. Ibu cuma mau kamu pindah duduk di depan sama Ciara." Kata bu Yeni langsung.             "Ha?" Respon mereka berdua berbarengan.             "Tapi, Bu, Ciara kan sudah satu meja sama Diana." Ciara mencoba mengingatkan bu Yeni bahwa ada Diana di sampingnya.             "Diana sudah ibu suruh duduk di tempatnya Mahesa. Ibu sudah ngomong sama dia." Kata bu Yeni. "Cia, kamu tolong bantu Mahesa, ya." Lanjutnya. Ciara menatap Mahesa yang mengangkat bahu tak acuh. Gadis itu tidak punya pilihan lain. Ini sudah keputusan final sepihak dan tidak mungkin diganggu gugat.             Ciara dan Mahesa beriringan menuju kelas. Lorong- lorong kelas sudah sepi karena jam masuk sudah berbunyi lima menit yang lalu. Mahesa melirik ke arah Ciara yang berjalan pelan di sampingnya. Sudah dua tahun mereka satu kelas, tapi Mahesa tidak begitu mengenal Ciara. Mereka jarang bertegur sapa dan bercanda seperti yang lain. Karena memang tidak ada yang bisa mereka bicarakan. Mereka berada dalam dunia yang berbeda. Ciara memang gadis populer di sekolah mereka. Tapi bukan karena ia cantik ataupun kaya. Ia populer karena pintar walau setelah diperhatikan, gadis itu memang cantik. Ia selalu jadi juara kelas, selalu jadi anak kesayangan guru- guru. Mahesa selalu memandang kalau Ciara adalah gadis yang kaku dan kutu buku, walaupun penampilannya tak menunjukkan seperti itu. Ia berseragam rapi, tidak terlalu tinggi tapi tidak pendek juga, tidak memakai kacamata seperti imej- imej kutu buku pada umumnya. Kulitnya kuning langsat, rambutnya pajang dan selalu tergerai rapi melewati bahunya. Sepatunya hanya sepetu kets biasa, tidak terlalu mencolok seperti yang lain.             Pikiran Mahesa melalang buana. Ia langsung membayangkan bagaimana hidupnya di samping Ciara, pasti akan sangat membosankan. Ia menghela napas dan bahunya melemas. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti perintah bu Yeni.             Keduanya masuk ke kelas. Suasana yang tadinya riuh karena belum ada guru yang masuk tiba- tiba hening. Semua bersiap di mejanya, dan saat mengetahui Mahesa, si biang kerok dan Ciara yang masuk, mereka langsung kembali gaduh.             "s****n, kirain pak Samir."             Diana masih duduk di tempatnya. Di barisan paling depan, menatap Ciara cemas.             "Benar, Ra, gue suruh pindah ke tempatnya Mahesa?" tanyanya langsung saat Ciara duduk di sampingnya. Ciara mengangguk, membuat Diana lemas seketika. Bagi Diana, ini lebih menakutkan daripada bencana alam. Seantero kelas tahu kalau Diana dan Iras itu musuh bebuyutan dan tidak pernah akur. Apa jadinya kalau mereka satu meja? Bisa perang setiap hari. Ia tidak bisa membayangkan betapa suram hidupnya jika harus duduk di samping laki- laki itu.             Pak Samir masuk, ampuh membuat kelas yang tadinya serupa terminal mendadak sunyi seperti kuburan. Matanya langsung menatap ke meja Ciara dan Mahesa bergantian.             "Mahesa, kenapa kamu masih di belakang. Ayo pindah ke depan." Perintah itu sudah terdengar oleh guru- guru dan bu Yeni meminta guru- guru memastikan bahwa Mahesa duduk di samping Ciara selama pelajaran berlangsung. Dan bukan hanya Mahesa yang malas tapi Diana berkali- kali lipat lebih malas. Gadis itu membereskan barang-barangnya di kolong meja dan melangkah gontai ke belakang.             "Baik-baik, ya, sama Iras." kata Mahesa sambil tersenyum, membuat gadis itu merengut kesal.             Sesaat setelah duduk di bangku Mahesa, Diana langsung mengeluarkan alat tulisnya. Pertama ia mengeluarkan penggaris lalu mengambil tipe-x dari tempat pensilnya.             "Geser dikit." Iras menatap Diana dengan bingung saat gadis itu mengukur meja mereka dan membuat garis di bagian tengah dengan tipe-x.             "Ini batas teritorial. Kalau lo sampai masuk wilayah gue, gue tonjok lo." Diana mengepalkan sebelah tangannya ke arah Iras yang mengerutkan dahinya.             "Ini wilayah gue sama Mahesa. Lo tamu di sini, kenapa lo jadi ngatur- ngatur, sih." Kata Iras dengan nada mencibir. Dilihatnya gadis di sampingnya yang tak bsia menyembunyikan kekesalan di wajahnya.             “Lo pikir gue mau di sini?” Diana menatap tajam ke arah Iras yang justru mengulum senyum. “ ***               Lara sedang melakukan pemanasan di jam olahraga saat melihat sosok yang ia kenal tengah bersembunyi dibalik gerbang sekolahnya. Ia tidak mungkin salah, itu Bara, yang tengah mengintai keadaan sekolah untuk menyelinap masuk karena telat.             Senyum langsung tercetak di bibirnya. Ia melirik guru jaga yang ada di meja piket di depan ruang serbaguna, tidak jauh dari gerbang sekolah. Ini saat yang tepat untuk memberikan pembalasan. Ia melirik sekeliling sambil berpikir.             Mata tajam Bara memindai sekeliling dan saat melihat tak ada peluang, Bara terpaksa menghubungi Kiki, sahabatnya, untuk membantu penyelinapannya kali ini.             Bara : Gue di depan gerbang. Alihin Pak Mus di meja piket. Buruan!             Setelah pesan itu ia kirim. Ia menunggu di sana. Dan tersenyum melihat Kiki sudah berjalan ke arah meja piket dan terlihat tengah berbicara dengan pak Mus. Kiki mengisyaratkan jempolnya di belakang badan untuk memberitahu Bara agar segera masuk. Tanpa pikir panjang, Bara menyuruh satpam, atau memaksanya untuk membukakan gerbang. Si security yang sudah menganggap terlambat hal yang biasa untuk Bara dan tidak bisa menghalanginya, terpaksa membuka gerbang.             Bara mulai mengendap- endap. Dan belum sempat ia mencapai tikungan untuk berbelok melewati kantin belakang, sebuah suara mengejutkannya.             "Kak Bara ngapain ngumpet- ngumpet gitu?" Kontan, bukan hanya anak- anak di lapangan yang kini menatap Bara, tapi juga si penghuni meja piket.             "Sialaan." katanya sambil menatap Lara dengan tatapan membunuh yang di balas dengan senyum semringah. Lara tersenyum puas saat melihat pak Mus mulai berdiri dan menatap Bara.             "Bara, sini kamu." Seru pak Mus. Bara menghampiri.             "Eh, kamu mau ke mana?" tanyanya pada Kiki yang ingin menjauh. "Kamu pasti komplotan kan sama Bara, sini, kamu juga harus di hukum."             Bara dan Kiki tidak punya pilihan lain selain memutari lapangan basket lima kali sebagai hukuman. Sebelum mulai lari, Bara dan Kiki melepas seragamnya. Meninggalkan kaos putih mereka di badan agar seragam mereka tetap bersih.             "Sialaan tuh cewek. Tunggu pembalasan gue." Bara menggeram, kakinya terus bergerak untuk berlari menjalani hukuman yang diberikan guru piket.             "Dia balas dendam sama lo?" tanya Kiki. Ia akhirnya tahu siapa gadis itu. Gadis yang waktu itu diceritakan Bara. Gadis yang menjadi korban kesenioritasnnya di kegiatan MOS.             Bara mengangguk. Tatapannya bersirobok dengan Lara yang tengah bermain basket di tengah lapangan. Gadis itu tampak piawai memainkan bola oranye itu. Tubuhnya bergerak gesit dibanding anak perempuan lain. Bara melihat gadis itu mencetak gol dengan memasukkan bola itu ke keranjang lawan.             Semua anak kelas sepuluh yang ada di lapangan tersenyum melihat Bara dan Kiki yang tengah mengitari lapangan. Tidak ada yang berani menampik bahwa Bara punya tampang di atas rata- rata. Belum lagi, kaos tipis yang kini melekat itu sudah dibanjiri keringat. Membuat bentuk tubuhnya makin tercetak jelas.             "Lo nggak takut itu kakak kelas balas dendam? Gimana juga kita masih kelas sepuluh, Ra. Bisa jadi bahan bullyan kita." kata Kamal saat melihat tindakan berani Lara, sahabatnya.             Lara dan Kamal yang kebetulan satu kelas duduk di pinggir lapangan dan mencoba mengatur napasnya yang terengah- engah.             "Sejak kapan gue takut sama kakak kelas. Apalagi model kayak dia. Yang jelas, gue harus buat perhitungan karena dia ngerjain gue waktu MOS."             Sudah sejak kecil Kamal mengenal Lara, sehingga ia tahu seperti apa watak gadis itu. Lara tidak akan pernah bisa ditentang dan tidak bisa diatur oleh siapapun. Dan seperti biasa, yang bisa ia lakukan hanya berada di samping gadis itu, bagaimanapun keadaannya.             ***               Mahesa menatap pak Samir yang sedang menerangkan di depan. Dan Mahesa benar- benar mati kutu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatap ke depan. Ke arah Pak Samir yang sebenarnya tidak enak dilihat.             Ia melirik ke sebelahnya. Melihat Ciara yang sibuk mencatat apa yang keluar dari mulut pak Samir. Ia menatap buku tulis Ciara. Buku- buku itu tersampul rapi. Sampul cokelat dan sampul plastik. Tidak seperti buku- bukunya yang ia biarkan t*******g, apa adanya.             "Pak Samir kalau dari depan keliatan gendut, ya." Bisiknya pada Ciara.             Tapi, Ciara sama sekali tidak menoleh, ia hanya berujar "Lo itu sekarang duduk di depan, nggak bisa seenaknya ngobrol kayak waktu duduk di belakang." katanya sambil terus menulis. Mahesa menghela napas dan dengan sangat terpaksa kembali mengarahkan pandangannya ke depan.             Suara penanda istirahat pertama menggema seiring dengan Mahesa yang hampir saja mati kebosanan. Ia bingung bagaimana orang- orang seperti Ciara bisa hidup dengan segudang kegiatan yang bernama belajar, belajar dan belajar. Sedetik setelah guru keluar, Mahesa berdiri dan merenggangkan ototnya yang terasa kaku.             "Sialaan, hampir aja gue mati kebosanan." Keluhnya. "Ras, kantin yuk." Katanya sambil menghampiri meja lamanya yang kini sudah ditempati oleh Diana.             "Diana, gimana rasanya duduk sama bang Iras?" tanyanya pada Diana yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.             "Mimpi buruk." Diana berdiri, melewati Mahesa dan duduk di samping Ciara.              "Di mana- mana nenek sihir yang jadi mimpi buruk. Gue yang harusnya bilang gitu." Iras menahan kesal hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti Mahesa menuju kantin.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN