CHAPTER TUJUH

2049 Kata
            Ciara beruntung, ajang kaburnya kemarin tidak berefek apapun hari ini. Sepertinya guru piket kemarin tidak menyangka kalau gadis yang ditarik oleh Mahesa adalah dirinya. Guru matematika sudah masuk ke kelas dan diliriknya bangku sebelah yang masih kosong. Ia melirik Iras yang duduk di belakang, tapi tak juga ingin bertanya pada anak itu.             Ia membiarkan bangku sebelahnya kosong dan pertanyaan itu terlontar juga dari guru matematika yang melihat Mahesa tidak ada di tempatnya.             "Cia, Mahesa ke mana?" tanya bu Ami padanya.             "Nggak tahu, Bu." jawabnya sambil menggeleng pelan. Wanita paruh baya itu menghela napas.             "Kamu tolong cari Mahesa, ya. Kalau nggak di kantin, di taman belakang. Kalau di sana nggak ketemu, kamu langsung balik saja." Perintah bu Ami pada Ciara yang langsung  menatapnya tidak percaya. Kalau ia disuruh mencari Mahesa, itu berarti dia akan kehilangan beberapa menit jam belajar. Dan kenapa dari sekian banyak orang di kelas, harus dia.             "Saya aja yang nyari, Bu." usul Iras sambil berdiri saat melihat Ciara bergeming.              "Kalau kamu yang nyari, yang ada kamu malah ikutan bolos. Kamu kan sebelas- dua belas sama dia. DUDUK KAMU." Diana yang ada di sebelahnya terkekeh.             "Mampus lo." katanya puas.             Mau tidak mau gadis itu menuruti perintah Bu Ami, ia berdiri dari duduknya, melangkah keluar kelas dan menyusuri koridor menuju kantin di lantai bawah. Kantin itu sepi, hanya para penjual yang sibuk menyiapkan makanan untuk jam istirahat. Ia beralih ke kantin yang ada di ujung koridor sebaliknya, kantin yang lebih di d******i oleh kelas sepuluh dan sebelas. Di sana sosok Mahesa juga tidak terlihat.             Ia akhirnya berjalan ke belakang sekolah, ke tempat di mana kemarin ia melompat tembok hingga akhirnya bsia keluar dari sekolah. Ia mendekat ke satu- satunya pohon besar yang ada di sana dan menemukan Mahesa tengah duduk di salah satu rantingnya dengan selembar foto di tangan yang sedang dipandanginya. Memang masalah manjat- memanjat, kemampuan Mahesa sudah tidak diragukan lagi.             "Mahesa." panggil Ciara dengan suara pelan, namun cukup membuat laki- laki itu terkejut dan langsung memasukkan foto itu ke saku kemejanya. Ia melirik ke arah Ciara yang mendongak ke arahnya.             "Lo ngapain ke sini? Ketagihan gue ajak cabut, ya?" Mahesa tidak sadar tersenyum jumawa yang langsung membuat Ciara berdecak sebal.             "Gue disuruh nyari lo. Ayo buruan masuk. Gue udah kehilangan beberapa menit nih gara- gara nyariin elo." Ciara tidak bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.             "Lo balik aja deh, gue lagi pengin sendiri. Bilang aja lo nggak nemuin gue." Kata Mahesa. Ciara melihat Mahesa agak berbeda kali ini. Wajah yang suka membuat onar bukan wajah ini. Wajah yang ada di atas pohon itu berbeda. Ciara menyimpulkan, mungkin Mahesa memang sedang ada masalah.             "Lo lagi ada masalah?" tanya Ciara ragu- ragu. Ia tidak bermaksud mencampuri urusan Mahesa. Dan saat mata hitam itu langsung menatap tajam ke arahnya, ia merasa menyesal melontarkan pertanyaan itu.             "Kenapa lo berpikir begitu?" tanya Mahesa. Seumur hidup, cuma Ciara yang pernah melontarkan pertanyaan itu dan hatinya tergelitik untuk bertanya.             Ciara yang masih berdiri, mengetuk- ngetukkan sebelah kakinya sambil berfikir. "Abis, lo nggak kayak biasanya." Mahesa tersenyum kecil hingga akhirnya bergerak turun. Menampilkan kepiawaiannya pada Ciara hingga berdiri tepat di hadapan gadis itu.             "Yuk masuk." katanya. Tidak cukup, laki- laki itu kembali menarik tangan Ciara yang wajahnya tampak kebingungan walau kakinya tetap melangkah mengekori Mahesa yang berjalan di depannya.             "Sa, lepas dong. Malu kelihatan yang lain. Memang gue kambing, di tarik- tarik." keluh Ciara saat melihat ada kelas dua belas yang sedang olahraga di lapangan dan serentak menghujamkan tatapan ke arahnya.             Ciara bukan gadis populer meskipun semua orang tahu dan kenal siapa Ciara. Ciara anak emas guru- guru. Ciara yang ahli dalam semua hal, mulai dari akademik sampai non akademik, kecuali olahraga. Ciara benci olahraga, kecuali teori.             Tidak ada yang menarik lagi dari Ciara. Cantik? Banyak yang lebih cantik. Manis? Banyak yang lebih manis. Kaya? Ciara sama sekali tidak masuk katagori itu. Daya tarik cewek itu memang cuma dari otaknya, dan anak- anak lain terlalu malu mendekati gadis itu kalau merasa otaknya pas- pasan. Lagipula, bagi anak- anak sekolah mereka, cantik tentu lebih menarik daripada pintar.             "Oh." Ia tersadar lalu melepaskan tautan jemarinya. Entah sejak kapan, Mahesa merasa bahwa tangan itu terasa pas digenggamannya.             Di sana, tak jauh dari sana. Satu tatapan mengiringi langkah mereka. Tatapan sarat kebencian. Dadanya bergejolak hebat, matanya menatap lurus ke dua orang yang kini menjadi pusat perhatian hingga keduanya menghilang dari pandangannya.   ***               Semua anak ternganga melihat Mahesa dan Ciara masuk ke kelas. Ini rekor. Rekor selama hampir tiga tahun Mahesa sekolah di SMA Pancasila, akhirnya ada yang bisa mengembalikan sosok Mahesa yang sudah menghilang kembali ke kelasnya.             "Wah, Ciara hebat." seru Egi, si ketua kelas yang sudah angkat tangan mengurus Mahesa. Baginya, lebih baik mengurus tiga puluh siswa daripada satu yang macam Mahesa.             Semua orang tertawa sekaligus kagum. Sudah hukum mati, kalau Mahesa sudah bolos, tidak akan ada yang bisa membuat dia kembali. Sudah tidak terhitung berapa anak yang disuruh keluar mencari Mahesa tapi selalu kembali dengan tangan kosong. Tapi kali ini, boleh dicatat dalam sejarah SMA Pancasila, bahwa Ciara, berhasil menemukan si biang kerok kelas dua belas.             "Jangan kasih tahu orang- orang di mana lo nemuin gue, ya." bisik Mahesa pada Ciara yang langsung mengangguk. Bagaimanapun, Ciara tidak menyangka ini adalah hal yang termasuk yang luar biasa. Mungkin Ia sedikit lebih jeli dari yang lain, atau mungkin dia sedang beruntung.             Mahesa tersenyum pada bu Ami yang sudah menatapnya tajam. Guru itu mengisyaratkan Mahesa dan Ciara agar kembali ke tempat duduknya. Ia tidak mau membuang- buang waktu mengajarnya demi memarahi Mahesa yang pasti akan selalu mengulangi perbuatannya.   ***               Ayra sukses jadi lebih hits gara- gara kejadian tadi pagi. Bagaimana tidak? banyak saksi yang melihatnya digandeng oleh Bara, padahal lebih tepatnya ditarik. Banyak mata yang melihatnya menemani Bara sarapan di kantin. Dan terlalu banyak mata yang kini menyimpulkan bahwa ia dan Bara ada apa- apa.             "Lo serius nggak diapa- apain sama Kak Bara?" tanya Kamal yang kini menghabiskan jam istirahat berdua dengan Ayra. Sementara Lara, sudah menghilang dari satu jam sebelum jam istirahat.             "Nggak. Gue cuma diminta nemenin sarapan. Gue juga nggak ngerti kenapa harus gue." Ayra menyuap ketopraknya dengan malas. Lebih malas lagi saat harus berhadapan dengan orang- orang akibat ulah Bara. Karena Ayra effect nggak cuma ada di kelas sepuluh. Tapi, kelas sebelas dan dua belas juga selalu menatapnya dengan tatapan ingin tahu yang tidak ditutup-tutupi.             "Kalau ada apa- apa, lo kasih tahu gue, ya." pinta Kamal. Ayra mengangguk, ia tahu maksud Kamal. Tapi kalau sudah berhadapan sama Bara, boro- boro memikirkan ponsel. Ia pasti sudah mati kutu dan tak bisa berbuat apa- apa.             Topik mengenai Bara sukses menghilangkan napsu makan Ayra, ia hanya menghabiskan setengah dari isi piringnya. Pikirannya campur aduk. Sebelah hatinya berpikir apa maksud Bara atas sikapnya, dan yang lainya terus berfikir, kenapa harus dia? Kenapa harus Bara? Kenapa bisa begini sih? Ia sama sekali tidak habis pikir.   ***               Lara tengah diseret dengan posisi kuping dijewer oleh Bu Yeni saat ditemukan berada di taman belakang saat jam pelajaran. Bisik- bisik langsung terdengar karena kebetulan bel istirahat sudah berbunyi dan kini, koridor dalam keadaan ramai.             "Sudah dong, Bu. Ampun, nanti kalau daun kuping saya putus gimana?" kata Lara dengan nada memelas. Ia bersumpah, dari sekian jeweran di guru- guru SMPnya, inilah yang paling sakit.             "Siapa suruh kamu nongkrong di belakang saat jam pelajaran?" bentaknya, masih mencoba menggiring Lara menuju ruangannya.             Lara menatap sekeliling hingga tatapannya bersirobok dengan mata elang Bara yang tersenyum sinis. Ia akhirnya tahu siapa yang melaporkan keberadaannya pada Bu Yeni. Lara yakin, Bu Yeni bilang sendiri kalau ada yang melapor bahwa Lara ada di taman belakang. Lara tidak menjumpai siapapun saat menyelinap ke taman belakang. Tapi senyum itu tidak mungkin ia salah artikan. Bara pasti pelakunya.             Kurang lebih setengah jam, Lara menebalkan gendang telinganya. Berharap telinganya bisa kembali berfungsi setelah ia keluar dari ruangan ini. Bu Yeni menghela napas kasar diakhir kalimatnya. Ini bencana buat SMA Pancasila. Sudah cukup ada dua troublemaker di sekolah ini, dan sedetik setelah melihat Lara, ia tahu kalau troublemaker ketiga telah datang. Perempuan pula. Sepertinya sekolah ini memang dikutuk. Kalau di mana- mana troublemaker cuma ada satu, di SMA Pancasila ada tiga.             Mempertimbangkan Lara sebagai anak kelas sepuluh yang masih bau kencur. Bu Yeni hanya memberikan ceramah panjang lebar. Yang sebenarnya tidak akan berpengaruh apapun buat Lara. "Saya permisi, Bu." kata Lara sambil membungkuk. Bu Yeni hanya mendengus.             "Kok kuping lo caplang sebelah sih?" suara itu membuat Lara berhenti dan langsung menoleh. Bara ada di belakangnya dengan senyum mengejek yang mulai lekat di otak Lara.             "Pasti elo kan yang ngaduin gue ke guru BK?" tuduhnya. Bara tersenyum sambil menghampiri gadis itu hingga berdiri berhadapan.             "Iya, kenapa? Ada masalah?" jawabnya santai, membuat Lara menyipitkan matanya.             Tanpa aba- aba apapun, Bara menarik tangan Lara. Koridor sekolah sudah sepi karena bel sudah berbunyi. Bara membawa Lara yang terus berusaha berontak ke belakang sekolah.             Lara merasakan punggungnya membentur tembok dan tatapan membunuh Bara langsung menghujamnya. "Gue mau dengar lo minta maaf." katanya sambil mengurung Lara dalam tangannya yang menempel di dinding.             "Nggak mau." jawabnya lantang, membuat Bara semakin kesal.             "Lo mau hidup lo nggak tenang di Pancasila?" tekanan dalam nada bicara Bara tidak juga menyurutkan keberanian Lara.             "LO... SIAPA?" kata- kata ini sukses membuat darah Bara mendidih. Ia pernah menghajar orang, tapi laki- laki dan sekarang ia menghadapi seorang perempuan. Benar kata orang, mulut perempuan memang setajam belati dan kini ia akan mengajari gadis itu cara menjaga belatinya.             Ia mengambil kerah Lara dan menariknya lebih dekat. Memangkas jarak mereka. "Lo memang minta dihajar, ya?" Lara diam, masih menatap Bara dengan tatapan dingin.             "Jangan kira gue takut sama perempuan. Perempuan kayak lo tuh memang harus dikasih pelajaran." belum sempat Bara melakukan tindakan selanjutnya. Orang yang sama sekali tidak diharapkan kembali muncul.             "Ngapain pada di sini?" katanya sambil berjalan mendekat.             Bara menoleh sekilas, "Ini korban gue, lo cari korban yang lain aja." kata Bara dengan tatapan tajam tepat ke manik mata Mahesa, mata yang dibencinya setengah mati.             "Terus kalau gue mau korban lo, gimana?" Dalam satu sentakan keras, Mahesa menarik tangan Lara. Memaksa menerobos barikade yang dibuat Bara, membuat bahu Lara membentur lengan laki- laki itu.             Mahesa langsung menyembunyikan Lara di balik punggungnya. "Lo ada apa sih sama si kembar ini? Tadi pagi yang satunya, sekarang yang satunya lagi." kata Mahesa enteng. Ia tahu ada perbedaan antara kejadian tadi pagi dan barusan. Pagi tadi Bara terlihat tenang sementara sekarang, Bara menahan geram.             "Bukan urusan lo." Bara masih menahan geram. Ia menatap Mahesa yang nampak tenang di depannya.             "Lo balik ke kelas sana." bisiknya pada Lara.             "Tapi... Kak..." kata Lara dengan ragu.             “Nggak ada tapi-tapian. Bara biar gue yang urus." Lara menjauh. Seumur hidup, Lara tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Ia bertengkar untuk melindungi dirinya sendiri meskipun pada akhirnya, lebam ataupun sakit akibat jambakan musuhnya masih terasa hingga ia sampai di depan kamar. Tidak ada yang pernah melindunginya, kecuali Kamal, sahabatnya.             Lara menjauh walau masih belum melepaskan pandangannya pada sosok Mahesa, dewa penyelamatnya hari ini. Mereka masih berdiri berhadapan saat Lara menghilang di tikungan.             "Gue nggak ngerti kenapa lo doyan banget ngerecokin gue." Bara mengeluarkan rok0k dari saku celananya dan menyalakan pemantik api. "Mahesa si biang onar mau jadi pahlawan sekarang?" Bara menyelipkan lintingan nikotin itu di antara bibirnya dan mengembuskan asap dari mulutnya ke udara.             "Gue nggak peduli sama lo. Tapi gue nggak suka lo ngerjain anak kelas sepuluh yang masih baru. Kalau lo mau nyari masalah, tunggu sampai dua atau tiga bulan. Mereka masih masa transisi sekarang." Alasan tidak masuk akal, Mahesa sadar, ia punya alasan atas apa yang ia lakukan, tapi ia tidak mungkin memberitahu Bara alasan yang sebenarnya.             Bara mendecih. Belum sempat ia membuka mulutnya dengan nada sengit, Mahesa mendorong bahunya keras hingga Bara terjungkal dan punggungnya mendorong pintu gudang di belakanganya. Punggungnya mendarat di lantai yang kotor dan lembab. Pintu langsung tertutup seketika.             "Bangsatt." geramnya. Ia sudah berdiri saat tiba- tiba terdengar suara perbincangan diluar.             "Kamu nggak bosen-bosen ya bikin guru- guru emosi. Kamu ngapain di sini? Guru bahasa kamu sudah ngomel- ngomel karena kamu sudah dua kali nggak pernah masuk kelas beliau."             "Pak Yunus kalau ngajar suka bikin ngantuk, Bu." jawabnya enteng. Tatapan mata Bu Yeni terjatuh pada putung rok0k yang masih menyala di bawah kaki Mahesa.             "Berapa kali Ibu bilang, kalau mau ngerokok jangan di area sekolah. Dasar bandel." Kuping Mahesa langsung ditarik sementara Bara terpaku di belakang pintu. Terdiam. Dengan semua pikiran berkecambuk.  TBC LalunKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN