Bab 14. Aksa Tiba-Tiba Baik

1305 Kata
Rania sudah selesai membersihkan diri, tadi ia juga mandi. Ia segera turun ke bawah untuk memasak sesuatu untuk Aksa. “Aksa, mau makan apa?” tanya Rania, sambil mengulungkan lengan bajunya. Rania tak melihat siapa yang ada di depannya, ia kira hanya dia dan Aksa yang ada di rumah. “Ak—“ Rania menghentikan ucapannya saat melihat ke depan. Di depan ada tiga orang yang sedang menatap ke arahnya. Mungkin mereka kaget dengan teriakan Rania saat memanggil nama Aksa. “Maaf, telah menganggu anda,” ucap Rania lagi, ia perlahan melangkah dan duduk di sebelah Aksa. “Bibi, maafkan istriku,” kata Aksa meminta maaf ke wanita paruh baya yang ada di depannya. “Tidak apa-apa Aksa,” balas Rana—Ibu Arian. Arian dan ibunya juga ada di rumah, mereka juga akan berlibur di sini. Di sini adalah tempat yang paling aman untuk mereka terbebas dari kerjaan-kerjaan yang melelahkan itu. “Itu istri Aksa Ibu, Rania.” Arian memperkenalakan Rania kepada ibunya. Entahlah Arian merasa bahagia bisa bertemu lagi dengan Rania. Ia ingin sekali ke rumah Aksa untuk bertemu dengan Rania. Tapi pekerjaannya sangat menumpuk belakangan ini sangat susah untuk mencari waktu untuk ke rumah Aksa. Rania tersenyum canggung saat melihat Rana sangat cantik dan ramah padanya. berbeda dengan Kalila yang tidak menyukainya. “Aku masak dulu, kalian lanjut saja mengobrolnya,” kata Rania lagi berusaha keluar dari situasi canggung. “Baiklah,” balas Rana. “Bibi dan Arian istirahat saja, biar aku membantu Rania masak,” kata Aksa lalu segera berlalu untuk menemui Rania yang terlebih dahulu berada di dapur. Rana tersenyum melihat dua orang yang ada di depannya. “Mereka sangat serasi ya,” ucap Rana melihat Aksa dan Rania yang sedang becanda saat mereka berjalan di dapur. “Iya, Ibu,” balas Arian, ia juga ikut melihat Aksa dan juga Rania. “Ibu, jadi merindukan adikmu,” kata Rana lagi, terlihat jelas sekali raut kesedihan di wajah Rana. Arian menghela napas saat Rana megatakan itu, kehilangan adiknya adalah pukulan keras bagi keluarga mereka. Ayahnya saja sampai meninggal karena depresi kehilangan Kirani dulu. “Arian yakin, Kirani hidup dengan baik di sana. Kita berdoa saja untuk keselamatan Kirani,” balas Arian lagi. Arian selalu saja berpikir positif terkait adiknya itu. *** Kembali ke Rania dan juga Aksa, mereka sedang memasak bersama di dapur. Mereka membuat menu yang simple saja seperti nasi goreng. “Argh!” rintih Rania, saat tangannya megenai wajan yang panas itu. Aksa kaget mendengar rintihan dari Rania, ia sedang mencuci sayur saja langsung membuang sayur itu. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Aksa, sambil meniup tangan Rania yang terkena wajan itu. Rania diam tak menjawab, ia sibuk dengan rasa pedih di tangannya itu. “Duduk dulu.” Aksa membawa Rania untuk duduk di ruang santai yang tak jauh dari dapur, setelah memastikan Rania duduk dengan benar. Ia langsung saja mencari kota P3K untuk mengobati luka Rania. “Ini sakit sekali!” rintih Rania berusaha menahan sakit di tangannya, belum lagi sakit karena cengkraman Aksa tempo hari. Sakit itu saja belum hilang. “Tunggu,” panik Aksa, ia berusaha mencari kotak P3K ia bahkan membuat dapur mereka berantakan. “Ada apa?” tanya Rana yang baru turun. “Astaga, ini sangat sakit,” kata Rana melihat luka memar di tangan Rania, yang melepuh itu. “Kotak P3K ada di lebari kanan,” tunjuk Arian yang juga baru datang dari kamarnya. Aksa segera mencari di lemari yang ditunjuk Arian, ia sangat panik ia tidak bisa berpikir jernih. “Dapat.” Aksa segera berlari untuk mengobati luka di tangan Rania. Arian dan juga Rana, menyaksikan itu. Kadang Rana ikut merasakan sakit saat Rania mengaduh kesakitan. “Sudah kubilang biar aku saja yang memasak, kamu sih!” omel Aksa sambil membersihkan luka Rania. Rania diam saja, bukan ia tak bisa menjawab. Tapi ia tak sanggup karena luka di tangannya sangat sakit. “Sudah-sudah, biar Bibi saja yang memasak, kalian bertiga duduk saja di sini.” Rana akhirnya mengambil alih dapur untuk memasak makanan untuk sarapan mereka. “Biar aku bantu Bibi,” ucap Rania, dan ingin berdiri dari duduknya. “Rania!” bentak Aksa. Nyali Rania ciut saat Aksa membentaknya, terpaksa ia harus mengikuti apa yang Aksa katakan. *** Matahari mulai bersinar terang menerangi alam semesta, seperti biasa mereka akan bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Tampak Rania sedang berada di depan kantornya, ia sedang menunggu Nara yang sedang membeli kopi yang ada di café depan kantor. Seperti itulah rutinitas pagi mereka. “Ini untukmu.” Nara memberikan secangkir kopi panas kepada Rania. Lalu mereka berdua berjalan ke dalam gedung kantor mereka. “Semangat, semoga hari ini lebih baik,” kata Nara menyemangati Rania dan dirinya sendiri. Rania tersenyum senang melihat Nara sangat bersemangat hari ini. “Hei!” Rania kaget saat ada orang dari belakangnya mengambil minuman kopi dari tangannya. “Ka—“ perkataan Rania terpotong melihat siapa yang ada di depannya. Di depannya berdiri Aksa dengan setelan kerjanya. Aksa berhenti tepat di depannya. “Tuan Aksa, maafkan saya,” ucap Rania, ia menunduk sambil meminta maaf kepada Aksa. Aksa tersenyum senang melihat Rania, yang tau tempat. “Bagus,” kata Aksa lagi. Aksa melihat sekeliling, ia ingin berbicara dengan Rania. Tapi melihat banyak sekali orang yang melihat mereka, ia mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Rania. Ia memilih untuk berbisik agar pembicaraan mereka tak didengar. Aksa maju untuk dekat dengan Rania. Ingin sekali Rania menghindar, itu tak mungkin hal itu akan memperpanjang masalah. “Kopi tidak baik untuk wanita hamil,” bisik Aksa tepat di telinga Rania, tentu hanya mereka yang mendengar hal itu. Beberapa orang berteriak saat Aksa melakukan itu, bagi mereka itu adalah suatu adengan langka yang dilakukan Aksa. Apalagi dengan pegawai biasa yang tak sepadan dengannya. “Aksa!” batin Rania kesal, karena telah membuat ia menjadi pusat perhatian. Aksa pun pergi setelah mengatakan itu, ia sempat melihat wajah kesal Rania menatap ke arahnya. Ia senang sekali melihat wajah kesal Rania. “Rania, kamu sangat beruntung bisa sedekat itu dengan Tuan Aksa.” Nara histeris sesaat setelah Aksa sudah memasuki lift. “Apa sih, biasa aja,” balas Rania, ia kesal dengan Nara malah membela Aksa dan bukannya dirinya. “Rania, tolong tadi itu Tuan Aksa. Sudah kaya, ganteng baik hati lagi,” kata Nara lagi masih memuji Aksa. Sepertinya Rania harus meralat perkataan terakhir Nara. Apa tadi baik hati? Sejak kapan Aksa baik hati, bahkan Aksa selalu membuatnya menangis setiap hari. “Kenapa Aksa … Maksudku Tuan Aksa, kenapa dia ke sini?” tanya Rania penasaran, apa yang dilakukan Aksa di perusahaan mereka. “Owh itu, perusahaan Maheswari bekerja sama dengan perusahaan kita. Bahkan Tuan Aksa sudah membeli banyak saham di perusahaan ini dan membuat perusahaan kita untung besar,” jelas Nara lagi, Nara tau akan hal itu karena ia yang juga ikut serta dalam projek itu. “Begitu ya,” kata Rania. Rania sedikit curiga dengan Aksa, yang tiba-tiba tertarik dengan perusahan kecil mereka. “Ayo rapat,” ajak Nara lagi. Rania pun megikuti saja kemana Nara membawanya. Karena dia berhalangan hadir pada siang itu, jadi ia tak tau menau tentang kerja sama dengan perusahaan Aksa. Mereka pun sudah sampai di ruang rapat, sudah ada banyak orang di sini. Tapi Aksa belum menampakakn diri, mungki dia lagi istirahat. “Nar, aku ke toilet dulu,” ucap Rania. “Pergilah pergilah,” kata Nara seperti seseorang yang sedang mengusir Rania. Rania dengan tergesa-gesa untuk ke toilet, beruntung tolet di lantai ini tak penuh jadi ia tak perlu menggantri. Tanpa sengaja Aksa juga berada di dalam toilet, ia ingin keluar dan melihat wanita yang sedang berlari masuk ke dalam toilet wanita. “Sepertinya itu Rania,” ucap Aksa. Lalu Aksa mengikuti Rania untuk masuk ke dalam toilet, hitung-hitung untuk mengerjai Rania. “Sepertinya ini akan seru,” batin Aksa dengan seringainya. Ia memikirkan hal buruk di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN