Bab 16. Drama Luna

1146 Kata
Aksa menjadi panik saat Rania melihat Rania kesakitan sambil memegang perutnya. “Apa, kenapa?” tanya Aksa, Aksa juga ikut memegang perut Rania yang katanya sakit itu. “Ayo ke rumah sakit saja,” kata Aksa lagi, ia memegang tangan Rania untuk membawa Rania pergi dari sini. “Tidak perlu, mungkin ini akibat dari tawaku tadi,” kata Rania, masih memegang perutnya. Dengan pelan Aksa mengelus perut Rania, berharap sakitnya hilang. Ia masih panik saat Rania masih merasakan sakit, bahkan Rania memejamkan matanya saat rasa sakit semakin terasa di perutnya. “Kita harus ke rumah sakit Rania,” kata Aksa lagi, kekeuh ingin Rania tetap dibawa ke rumah sakit. “Serius aku tidak apa-apa, tidak usah sampai ke rumah sakit,” balas Rania tak ingin merepotkan siapapun dalam hal ini. “Yakin?” tanya Aksa lagi. Rania mengangguk tanda mengerti, sakit di perutnya sudah sedikit berkurang *** Terlihat Luna sedang berada di kamar Aksa, tadi Nirmala sudah melarang Luna untuk memasuki kamar Aksa. Tapi, diabaikan oleh Luna, bahkan Luna sempat merendahkan Nirmala, dengan mengatakan Nirmala adalah pelakor merebut Arwan dari Kalila. “Tidak ada yang berubah dari kamar Aksa,” kata Luna lagi, ia duduk di atas ranjang Aksa yang empuk itu. “Aku berharap bisa segera menikah dengan Aksa, dan kamar ini akan menjadi milikku bahkan seisisi rumah ini akan menjadi milikku,” gumam Luna sambil melihat ke sekeliling kamar Aksa yang sangat luas. Luna tak diperbolehkan Aksa untuk masuk kedalam kamar pria itu, tapi hari ini mungkin adalah hari baiknya bisa masuk ke dalam kamar Aksa. Dan memberikan kejutan kepada Aksa bahwa dengan kehadirannya. Tak lama kemudian, pintu kamar Aksa pun terbuka. Dan menampilkan Rania dengan wajah lelah. Ia sangat lelah hari ini karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor tadi, apalagi manajernya mengerjainya, dan selalu menyuruh-nyuruhnya untuk melakukan sesuatu di luar nalar. Mungkin akibat Aksa yang dekat dengannya, dan membuat orang-orang yang menyukai Aksa di kantor pun cemburu melihat Rania sedekat itu dengan Aksa. “Hai,” sapa Luna yang sedang berada di kamar Aksa. Terlihat Luna memakai baju ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rania tau apa maksud Luna melakukan itu, tentu saja untuk menarik perhatian Aksa. “Malam ini aku yang akan menempati kamar ini, dan kamu silakan keluar, ya,” kata Luna lagi degan nada sombongnya. Bahkan Luna membuang baju santai Rania yang ada di lemari Aksa. Dan juga Luna membunag barang Rania yang ada di atas nakas tepat di sebelah ranjang. “Itu barangku kenapa kamu membuangnya?” tanya Rania dengan sopan, ia tak marah sedikitpun kepada Luna. “Barang murahan itu tak cocok berada di sini,” balas Luna lagi sambil menginjak kalung Rania. Padahal itu adalah satu-satunya barang peninggalan orangtua kandung Rania, dan Luna menginjaknya. Rania tak akan membiarkan itu. “Luna, itu kalungku!” Rania sedikit mengeraskan suaranya, karena Luna hampir saja menghancurkan kalungnya itu. “Kalung murahan ini maksudnya.” Luna mengambil kalung itu lalu membuangnya lagi ke lantai. “Luna!” Rania melangkah dengan cepat untuk mengambil kalungnya yang ada di lantai, tepat di kaki Luna. Rania tak peduli dengan barangnya yang lain dibuang oleh Luna, tapi tidak dengan kalung itu. “Kamu sudah merusak kebahagiaanku.” Luna mencengkram dagu Rania yang sedang berjongkok di lantai. Rania meringis kesakitan saat Luna mencengkram dagunya, belum lagi high heels yang ia pakai membuat kakinya terasa kebas karena jongkok terlalu lama. “Aku tidak merusaknya Luna!” tekan Rania pada setiap perkataannya. Enak saja Luna mengatakan kalau dia sudah merusak kebahagiaan wanita itu. Masa depannya juga hancur gara-gara pernikahannya dengan Aksa. “Kamu merusakanya Rania.” Luna mendorong Rania hingga mengaduh kesakitan. “Argh!” ringis Rania sambil memegang perutnya itu. “Rania!” teriak Nirmala yang tak sengaja lewat di depan kamar Aksa, ia melihat Rania sedang duduk di lantai yang dingin sambil memegang perut. Rania maupun Luna melihat ke arah sumber suara, terlihat Nirmala berlari untuk membantu Rania. “Luna, kamu keterlaluan!” Nirmala juga ikut marah saat Luna memperlakukan Rania seperti babu saja. “Dia sudah merebut kebahagiaanku Bibi,” teriak Luna, bahkan ia membuang barang-barang ke arah Rania dan juga Nirmala. “Dasar wanita gila! Ayo kita pergi Rania,” ucap Nirmala dan membantu Rania untuk berdiri. Nirmala menatap tajam ke arah Luna yang tak tau malu itu, sudah tau itu kamar Rania. Dan Rania lah yang berhak atas kamar Aksa, bukannya Luna. Luna kesal melihat Nirmala menolong Rania, seharusnya Nirmala berpihak ke dirinya. Toh nanti Aksa juga akan menjadi suaminya nanti. Dengan gerakan cepat, Luna menarik rambut Rania dengan sangat kuat dan memutar kepala Rania. Sedangkan Rania berusaha menahan tangan Luna agar tak terlalu kuat menarik rambutnya. “Luna hentikan itu.” Nirmala membantu Rania untuk lepas dari Luna. Sungguh tenaga Luna sangat lah kuat, sehingga Nirmala tak bisa mengimbangi itu. “Luna hentikan!” bentak Nirmala lagi, masih membantu Rania untuk lepas dari Luna. “Argh!” Nirmala jatuh tersungkur ke lantai, kakinya terkilir sehingga Nirmala tak bisa berdiri tanpa bantuan. “Ibu!” teriak Rania lagi. Rania menatap tajam ke arah Luna, sejenak ia tak lagi melepaskan diri dari Luna. Entahlah tiba-tiba ia sangat marah saat melihat Nirmala jatuh akibat Luna. Dengan amarah, Rania langsung menendang perut Luna dengan sangat keras. Membuat Luna menabrak meja rias, beberapa peralatan make up Rania pecah jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi yang sangat keras. “Rania!” lirih Luna sambil menahan sakit di perutnya akibat tendangan Rania tadi. “Apa? ayo sini lawan aku,” tantang Rania lagi, ia menyerahkan diri kepada Luna. “Rania!” Luna ingin berlari menjambak rambut Rania lagi, tapi tertatahn dengan sura Aksa yang menghentikan aktivitas mereka. “Rania! Luna!” teriak Aksa di depan pintu. Arwan juga ikut masuk saat mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar Aksa. Luna pura-pura sakit saat melihat Aksa, ia bahkan menangis tersedu-sedu saat Aksa berjalan ke arahnya dan bukannya ke Rania. Rania tak terlalu memperdulikan hal itu. Malah ia bisa tenang dan membantu Nirmala yang sakit juga. “Ibu!” teriak Rania, sambil membatu Nirmala untuk berdiri. Namun tak bisa, untung ada Arwan juga ikut membantu Nirmala. “Rania, kamu benar-benar membuat kekacauan di sini ya!” bentak Aksa, ia melihat kamarnya kacau berantakan dan Luna yang sedang menangis di pelukannya. “Aksa tak seharusnya kamu membela perempuan itu, dia yang menyerang kami,” kata Nirmala membela Rania. “Aksa, Bibi bohong. Justru Rania lah yang menyerangku,” lirih Luna dengan isak tangisnya. “Rania, kamu ingin memecah belah keluarga kami!” bentak Aksa lagi ke arah Rania. bahkan Aksa tak melihat bagaimana kacaunya penampilan Rania dibandingkan dengan Luna. “Aksa, Luna yang mendo—“ Perkataan Nirmala dipotong oleh Rania. “Ya, memang aku yang memulai, aku yang menarik rambut Luna, lalu aku menendang Luna, jika kamu tidak berada di sini. Mungkin aku sudah membunuh Luna!” Tekan Rania pada setiap perkataanya. Ia tak lagi merasa takut dengan Aksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN