Mobil lamborghini hitam milik joshua terparkir tepat di depan sebuah gedung besar. seorang security berlari kecil kearahnya, membukakan pintu mobilnya.
"selamat pagi pak." Sapa security itu sopan sedikit
membungkukkan badanya.
"pagi." balas Rey sambil melepaskan sabuk pengaman yang mengikat dirinya. Joshua turun dari dalam mobil.
"bawakan tas ku." Suruh Joshua pada Rey, lalu melanggang masuk kedalam gedung besar. mungkin ada tiga, tidak. ada kurang lebih sepuluh tingkat. Semua bagian gedung ini adalah milik ayah Joshua, namun hanya sampai lima lantai saja Joshua gunakan untuk perusahaanya, lima lantai lainya dia sewakan pada orang lain.
Dua security yang menjaga pintu masuk, sedikit menundukan badanya saat Joshua melewati mereka "pagi tuan Joshua, tuan Rey."
Jelas saja. Joshua memiliki pangkat tertinggi di kantor ini. dia seorang ceo, siapa yang tidak mengetahuinya, tukan bubur di depan rumahnya saja tau itu. dan Rey bagian mengurus keuangan. selain menjadi managernya Rey juga berperan penting bagi perusahaan Joshua, dulunya dia juga jadi kaki tangan pak Mahendra, papah Joshua.
Sudah hampir lebih dari tiga tahun joshua memegang perusahaan ini.salah satu perusahaan fashion yang paling besar yang di miliki ayahnya.
"pagi tuan joshua tuan Rey."sapa seorang karyawan perempuan padanya. Joshua sama sekali tidak menganguk atau pun melirik karyawanya sekalipun. sedikit senyum saja tidak pernah terlihat di wajahnya.
Joshua memang di kenal sebagai pria dingin, ketus, galak dan pemarah. pria yang sangat angkuh. tapi mau bagaimana lagi, sudah cetakan wajahnya begitu dari lahir. bahkan pernah ada karyawan yang meminta resign cuma karena di bentak dan ditatap tajam oleh Joshua. dan apa yang Joshua katakan saat karyawan itu minta resign, dia bilang.
"pergilah, lagian kalau kau keluar aku tidak akan bangkrut kan? Kau memang tidak terlalu berguna dalam perusahaan." itu tambah menyakiti hati sang karyawannya. dia memang jahat.
Joshua dan Rey masuk kedalam lift, ada seorang karyawan wanita disana, dia langsung menunduk saat tau ada joshua di sampingnya. Joshua memencet tombol dengan angka lantai lima, lantai paling atas, tempatnya bekerja.
Beberapa menit, pintu lift terbuka. karyawan perempuan di sampingnya langsung menyelonong pergi. Joshua mengerutkan dahi
"aneh." Ucapnya, lalu keluar dari lift.
"eh, eh tuan Joshua dateng."
Joshua berjalan melewati bilik-bilik kerja. Setiap karyawan-karyawan yang melewatinya dan seperti sudah di setting pangsung menundukkan badanya, basa-basi mengucapkan selamat pagi pada bos besarnya, walau Joshua sama sekali tidak pernah menanggapi sapaan mereka. tapi mereka terus melakukanya agar di hargai oleh orang yang sama sekali bahkan tidak mengharga mereka.
"ahhh." Seseorang menabrak tubuh Joshua,
seorang gadis,memakai pakaian seperti officeboy.
gadis itu baru saja menumpahkan kopi di atas kemeja putih milik Joshua, membuat kemejanya menjadi kuning kecoklatan.
Joshua menatap kemejanya, matanya membulat sempurna, lalu menatap gadis yang jatuh di bahwanya. Semua perhatian tertuju pada gadis itu dan Joshua. astmofir kantor berubah seketika.
"celaka." Gumam salah seorang karyawan.
"perang dunia ketiga." Tambah yang lain.
"kau tidak punya mata hah?!" Tukas Joshua
wajahnya bersungut-sungut marah "lihat apa yang kau lakukan pada jas ku!! Jas ini lebih mahal dari harga dirimu kau tau!!"
Gadis di bawahnya meringkuk ketakutan, seperti seekor tikus yang sedang di tatap kucing.
"astaga, malangnya nasibmu nak." gadis itu mengepalkan kedua tanganya di depan d**a. menundukkan kepalanya menatap lantai dingin di bawahnya
"maafkan saya tuan, saya tidak sengaja....."
"jilat sepatuku." Alis gadis itu mengernyit, para karyawan lainya hanya bisa menatap iba pada sang gadis.
"kau ingin aku memaafkan mu kan? Kalau begitu jilat sepatu ku." Gadis itu menelan ludahnya berat, untuk masuk kedalam kantor Joshua saja sangat susah, lalu dia harus keluar dari kantor ini begitu saja hanya karena masalah kecil, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"b-ba-baik tuan." Gadis menundukan kepalanya, Joshua tersenyum puas melihat betapa patuhnya karyawanya ini. beberapa senti lagi saja lidahnya benar-benar menempel ke sepatu hitam milik Joshua, sebuah tangan mengulur kearahnya.
"bangunlah." Rey mencoba membantu gadis di bawah Joshua untuk bangun.
Gadis itu memunguti pecahan gelas diatas lantai, menaruhnya di nampan. gadis itu baru saja ingin membersihkan sepatu Joshua dengan bajunya, tapi Rey buru-buru menyentuh bahunya.
"tidak perlu, dia bisa membesihkanya sendiri".dia menatap acuh Joshua yang menunjukan wajah kesal "pergilah."
"baik tuan."
Gadis itu langsung berjalan meninggalkan Joshua dan Rey cepat-cepat, sebelum Joshua kembali memakinya. hari ini gadis itu aman karena pertolongan dari Rey, berterimakasihlah nak pada malaikat penyelamat mu.
Joshua berdecih, mengibas-ibaskan tanganya ke noda kopi yang mengotor jasnya yang mahal. dia mendelik tajam pada Rey, kemudian melangkah pergi masuk ke ruanganya.
ruangan joshua sangat besar, ada kaca trasparan tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. ruangan dengan ac, sofa besar, dan pemandangan indah kota jakarta di balik kaca transparan. Rey mendudukan dirinya di sofa besar, dirinya hampir tenggelam karena sofanya terlewat empuk.
Joshua masih sibuk membersihkan jasnya yang terkena kopi dengan tisu, di kursi kebesaranya.
dia terus menggeram kesal.
"kenapa kau suruh ceroboh itu pergi, padahal aku belum memberikan pelajaran yang pantas padanya."
Rey mengambil ponsel di saku jasnya dia tidak peduli dengan ocehan Joshua.
"kau ini tuli ya!" Tukas Joshua "aku sedang bicara padamu!"
"dia kan sudah bilang tidak sengaja, kenapa harus di besar-besarkan".
"kau tau orang rendah seperti dia memang harus di beri pelajaran agar tidak melunjak, kalau kau terlalu baik padanya dia akan semena-mena padamu dan tidak menghargaimu." Rey beranjak dari kursinya.
"aku ingin kopi, kau juga mau?" kopi hanya sebuah alibi agar dia tidak mendengar celoteh Joshua yang tidak ada hentinya, telinganya terasa pengap setiap kali Joshua berceloteh.
"kopi membuat ku muak."
"baiklah." Rey baru melangkahkan kakinya untuk pergi.
"oh ya rey." Dia terpaksa membalikan badanya lagi"ya?"
"semalam Cindy bilang padaku dia akan pulang dari london, jadi sepertinya kau harus pulang lebih awal hari ini."
Beberapa detik Rey diam. Cindy adalah adik perempuan joshua, gadis yang usianya hanya terpaut satu tahun dengan Rey, gadis yang sekarang sekarang sibuk kuliah di london, gadis yang menjadi kekasih Rey dan akan dia nikahi kalau kuliahnya sudah selesai.
"dari wajah mu, sepertinya kau sama sekali tidak merindukan adik ku." Rey sama sekali tidak menggubris, dis berjalan keluar dari ruangan joshua.
"sialan kau mengabaikan ku Rey."
Suasana kantor cukup sibuk hari ini,semua karyawan sibuk mengerjakan pekerjaanya masing-masing, membuat kantor ini terasa begitu hening, hanya ada suara mesin komputer dan keyboard yang di tekan-tekan.
Rey mengambil gelas cup di rak. memencet tombol mesin pembuat kopi, beberapa detik kemudian cairan pekat hitam mulai memenuhi cupnya.
"tuan Rey." Panggil seseorang. Pria itu sedikit tersentak.
Ob wanita yang tadi tidak sengaja menumpahkan kopi di jas joshua tiba-tiba sudah berdiri di depanya.
"ya?"
"te-te- terimakasih sudah menyelamatkan saya."
ucapnya tergagap sambil menunduk malu.
"oh, lain kali coba lebih hati-hati."
OB itu mengangguk-angguk, wajahnya terlihat bersemu merah hanya karena ucapan kecil yang sama sekali tidak bermakna dari Rey "baik tuan."
Berbanding terbalik dengan Joshua, Rey sangat begitu mudah di cintai bawahanya. Dia pria yang baik, ramah, dan mudah berbaur dengan orang lain tanpa membendakan kasta mereka, walau dia irit-iritan bicara.
Rey memencet tombol off, dia pergi begitu saja meninggalkan ob itu. ob itu berbalik, menatap punggung bidang Rey yang terlihat sangat mempesona di balut jas hitamnya.
"dia manis sekali." Ucapnya kegirangan sendiri.
Rey melirik ruangan Joshua sebelum dia masuk keruanganya sendiri. ya, ruangan mereka saling berhadapan, jaraknya hanya beberapa langkah saja. yang membedakan hanya ukuran ruangan Rey yang lebih kecil daripada ruangan Joshua.
Rey menaruh kopi diatas meja kerjanya, dia menyibak gorden yang menutupi cahaya matahari.
kota sangat sibuk di luar sana, beberapa mobil berlalu lalang tidak pernah ada habisnya, jalanan di kota pagi ini terlihat begitu padat karena ada penebangan pohon di pinggir-pinggir jalanan.
Pria itu duduk di kursinya, mengambil ponselnya dan menatap walpaper yang terpapang di layar ponselnya. gambar seorang pria yang tengah memeluk seorang wanita dari belakang, gambar yang dia dan kekasihnya ambil dua tahun yang lalu, gambar yang terasa begitu hangat bahkan sampai detik ini.
Bukan, itu bukan wajah Cindy adik Joshua. Itu wajah kekasihnya di kampung, gadis manis dengan senyum secerah mentari, gadis yang akan dia nikahi dan dia bawa ke kota nanti setelah dia sukses.
Rey menyentuh wajah kekasihnya. Bayanganya kembali teringat pada wanita yang dia temui tadi pagi, wanita yang tidur di sofa ruang tamu Joshua. Wajah wanita itu sangat mirip dengan kekasihnya di kampung.
"aku merindukan mu, Jesica."lirih Rey