Hari-hari melelahkan sudah berlalu. Arum melupakan kondisinya yang sempat down karena kehilangan janin secara tiba-tiba. Kagget? Tentu saja, mana mungkin dia tidak kaget. Bahkan selama seminggu, Arum memaksakan dirinya tetap tersenyum bila bertemu banyak orang. Padahal dalam hatinya, dia menangis. Waktu yang paling tepat untuk meneteskan air mata adalah ketika malam hari dalam pelukan sang suami. Dan Jean selalu merespon dengan kalimat. “Kamu Mami yang baik, mampu ngurus anak-anak yang bahkan bukan darah daging kamu. Hati kamu penuh dengan kebaikan, kok bisa ya ada wanita yang sayang banget sama cowok udah punya dua anak? Yang mau mempertaruhkan impiannya demi mengurus sebuah keluarga. Harusnya dia jadi pengusaha, tapi malah menjadi Ibu rumah tangga.” word of affirmation yang Jean berik

