"Reee... gawat! Icha dimana?" panik Ririn dari telepon seberang.
"Tenang, Icha ada sama aku sekarang. Tugas kamu cari info akun siapa yang ngeposting artikel itu..." Kata Rere.
"Oke, Re."
Panggilan telepon dimatikan, Icha merebahankan diri di sofa dengan satu tangan yang memijit pelan dahinya yang berdenyut. Ia tampak begitu kewalahan menghadapi masalah kali ini.
"Menurut kamu... siapa dalang dibalik artikel itu Re?" Tanya Icha.
Rere berpikir sejenak. "Siapa lagi kalau bukan orang yang bersangkutan... pasti cewek itu, si Monic mahasiswi pindahan itu. Wah gila sih, baru pindah aja sudah bikin kehebohan!"
Icha mengerutkan alisnya, menatap Rere dengan serius. "Kenapa kamu bisa begitu yakin, Re?"
Rere menatap ke langit-langit ruangan itu, ia tampak masih berpikir tentang segala kemungkinan. "Kamu baca nggak? Di dalam artikel itu semuanya menitik beratkan kamu sebagai akar masalah, sementara di sisi lainnya Monic malah sangat menonjolkan jika ia adalah orang yang perfect untuk si cowok bernama Vic," jelas Rere.
"Iya juga sih, Re. Tapi untuk membantah artikel itu aku juga nggak punya bukti kuat, Re..." Sela Icha.
Telepon Icha berdering setelahnya, gadis itu melihat nama Vic di layar ponselnya.
"Ya, hallo... Vic ada apa? tanya Icha setelah panggilan itu tersambung.
"Aku jemput kamu sekarang, kirim lokasi kamu..." jawab Vic dengan tergesa-gesa.
"Hah? Mau kemana?" tanya Icha, gadis itu bingung karena Vic terdengar seperti orang yang sedang marah.
"Kirim aja, sekarang," segera setelah Vic mengatakan hal itu telepon pun terputus.
Icha mengirimkan lokasinya saat ini, gadis itu sedang berada di Penthouse milik Rere sahabatnya. Mental Icha pasti akan down jika berada di lingkungan kampus disaat semua orang sedang menunjuk dia, maka dari itu Rere membawa Icha pulang ke tempatnya.
"Tempatmu di dekor lagi kah, Re? Sekarang lebih comfy dan estetik banget loh," Tanya Icha sembari mengedarkan maniknya dengan penuh kekaguman.
Rere tersipu mendengar penuturan Icha mengenai Penthouse miliknya itu. "Iya... aku kemaren suka ngeliat furniture yang bagus gitu, dan akhirnya mutusin buat dekor lagi. Tempatku enggak mahal sih dan bukan seharga 5 M juga, tapi kenyamanan harus yang utama..."
Ting Tong!
Bel pintu rumah Rere berbunyi, dengan segera Rere pergi untuk melihat siapa orang yang datang. Gadis itu melihat melalui kamera CCTV dan menemukan seorang cowok tampan disana.
"Cha! Ini Victory kan? Victory yang kamu ceritain... wah! ternyata lebih tampan jika dilihat langsung ya?" tanya Rere, selanjutnya gadis itu memanggil Icha untuk membukakan pintu.
Icha bergegas pergi ke pintu dan membuka pintu itu, ia menemukan Vic yang entah kenapa sangat tampan dengan outfit ala senior kampus yang rajin. Kemeja putih, celana coklat muda, dan juga kacamata. Cukup membuat Icha pangling.
"Cha..." Panggilan Vic menyadarkan Icha kembali ke kenyataan.
Icha jadi salah tingkah dan tak tau lagi apa yang harus ia katakan. "Eh! Iya... kenapa? Apa itu tadi? Aku lupa..."
Vic tidak banyak berkata-kata lagi, ia langsung merangkul Icha dan membawa gadis itu pergi, Rere jadi bingung sendiri... ia hanya bisa melihat punggung temannya yang pergi begitu saja.
"Reee... aku pergi ya! Assalamualaikum..." Kata Icha sebelum akhirnya mereka menghilang dibalik lift.
"Wa— alaikumsalam..." jawab Rere.
-
Victory melajukan mobilnya menembus jalan raya yang begitu padat. Icha yang sebenarnya sangat khawatir dengan cara menyetir Vic itu pun sudah memakai seatbelt demi keselamatan. Jelas Icha takut sekali dengan kecelakaan, ia bisa saja tidak menikah seumur hidup jika Vic menyetir dengan ugal-ugalan.
"VIIIIICCCCC!!! STOP!!!" Jerit Icha ketika mobil Vic hampir menabrak pembatas jalan.
"Iya... maaf. Aku harus buru-buru sampai ke kampus soalnya... dan aku perlu kamu." Jelas Vic setelah meminta maaf.
Vic pun sudah menyetir dengan lebih santai. "Maaf, Cha... tadi keburu mau hujan, jadi aku ngebut deh..." jelas Vic.
Icha terbahak mendengarnya. "Terus kalo mau hujan kenapa? Kita naik mobil kok ini..."
Lima menit kemudian Vic pun menyadari kebodohannya. Beginikah seorang Vic ketika banyak pikiran, bahkan untuk memperhatikan orang lain ia belum tentu bisa.
Lima belas menit kemudian tibalah mereka berdua di kampus, Victory langsung membawa Icha ke gedung administrasi kampus, ternyata Vic sudah menyewa studio siaran kampus untuk suatu kepentingan.
"Cha, gimana kalo kita klarifikasi masalah artikel yang menyeret kamu itu melalui siaran langsung?" Tanya Vic dengan ekspresi penuh keyakinan.
Icha pun hanya bisa mengangguk sebagai tanda setuju atas kerja sama mereka hari ini. Selanjutnya Vic berperan sebagai teknisi yang menghidupkan semua alat-alat yang mereka perlukan dalam siaran nanti.
Selesai dengan tugasnya, kini Vic menyuruh Icha untuk duduk dengan baik karena video siaran langsung akan di mulai.
"Selamat siang. Saya bernama Victory Liandra Kim dan di samping saya ini adalah Aruna Yeorisha atau yang kita kenal dengan nama Icha. Seperti yang kalian ketahui dari Website Resmi Sekolah, ada pihak yang sengaja memposting artikel yang tidak benar serta mencemarkan nama baik dari teman kita semua yaitu Icha," jelas Vic, selanjutnya ia memberi kode kepada Icha.
Icha berdehem dan mulai bercerita. "Hmm... Perihal live stream pada hari ini yaitu dikarenakan adanya artikel di website resmi kampus yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi saya dan juga Victory," Jelas Icha
"Benar... karena saya memutuskan hubungan pertunangan kami saat saya berumur 16 tahun, dan itu pun sudah sangat lama, jadi tidak mungkin Nona Aruna Yeorisha seperti yang tertulis di artikel website kampus itu."
"Mohon untuk teman-teman semua agar tidak mendengarkan berita hoax. Sekian klarifikasi dari kami, atas perhatian kami ucapkan terima kasih.
Live stream pun dimatikan, icha dan Vic kembali ke mobil dengan senyum penuh kemenangan.
"Vic... kita mau kemana lagi?" tanya Icha karena penasaran sudah 2 kali lewat monas. "Bro! Kamu ga lagi kesasar kan?"
"Enggak kok, cuma lagi nyari akang-akang yang jualan Es dawet gerobak."
"Kirain kenapa deh… Vic aku pulangnya sekarang aja bisa enggak? Ntar malem aku kudu ke acara pernikahan papa aku," jelas icha.
Vic pun mengiyakan, keduanya pun menuju ke rumahnya Icha. “Cha, papa kamu mau menikah lagi?”
-
Icha mulai bersiap untuk nanti malam, gadis itu mulai merapikan gaun miliknya, bando, anting dan semua hal yang termasuk aksesori yang akan digunakan oleh Icha.
Akhirnya malam hari pun tiba, Icha memakai gaun berwarna putih tulang, dengan sepatu kacanya bak princess. Gadis itu menunggu ayahnya yang sedang bersiap sambil duduk-duduk manis saja di teras depan rumah.
Icha ditemani oleh Bik Yati dan Pak Narto.