Situasi Elite University semakin terkendali, berkat konferensi pers itu nama baik Icha, Daniel, dan Yayasan Elite kembali pulih dan berjaya. Icha yang awalnya tak begitu diperhatikan oleh warga kampus itu pun kini mulai menjadi sorotan, apalagi dia sudah diumumkan sebagai calon tunangannya Victory Liandra. Kabar itu benar-benar membuat semua warga kampus dan juga media menjadi bungkam.
Petisi yang sudah ditandatangani oleh hampir seluruh mahasiswa itu pun kini terabaikan di samping tempat sampah. Sampai ada seorang mahasiswa yang datang dan menghampiri benda yang kini terabaikan itu.
"Entah siapa yang menyulut api di tempat ini, sayang sekali masih terlalu dini malah sudah terinjak... cepet banget kalahnya," gumam pria muda yang duduk berjongkok tepat di depan petisi itu.
Tak lama kemudian pria muda itu mengeluarkan korek dari dalam sakunya, lantas menyulut selebaran petisi itu dengan api dari korek tersebut. Petisi itu terbakar habis dan pria muda itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
***
Hari sudah mulai petang, saat ini Icha dan Vic berada di rooftop gedung aula, tempat mereka melaksanakan konferensi pers tadi siang. Tampak rambut Icha yang sesekali diterbangkan angin, tatapannya yang kosong tertuju ke arah terbenamnya matahari. Sementara Vic mengambil vape dari dalam sakunya kemudian menghisap rokok elektrik tersebut.
"Sejak kapan kamu nge-vape?" tanya Icha ketika melihat gelagat Vic.
"Udah lama sih, cuma jarang-jarang aja, kalo stress... atau banyak pikiran gitu deh," jelas Vic.
"Emangnya kamu lagi stress sekarang?" ledek Icha sambil terbahak di akhir pertanyaannya.
"Menurutmu gimana?" Vic bertanya.
"Hmmm... apanya..." jawan Icha asal.
Vic menghembuskan napas, melepaskan lelah yang begitu membebani raganya. "Ya... soal pertunagan itu, kamu pikir apa lagi?"
"Emang itu beneran? Aku pikir itu hanya bohongan... supaya berita skandal itu nggak berlarut-larut begitu."
Vic mendengus. "Ya kali pers sama media dibohongin... mereka akan lebih gencar lagi mengintai kamu sekarang. Maaf aja nih, kalo mulai hari ini kamu mendadak jadi seleb...."
Kedua alis Icha hampir bertaut saking kesalnya ia pada Vic. "Jangan mulai deh... jadi gimana sekarang?"
"Gimana apanya deh? Soal pertunangan?" Vic balik bertanya pada Icha.
Keduanya tampak bingung, tampak linglung, semua yang mereka obrolkan berputar-putar tak tentu arah. Membahas sesuatu yang mereka sendiri bingung mau memulainya dari mana. Icha menendang-nendangkan sepatunya ke lantai beton itu, sesekali ia bengong, sesekali juga ia menghela napas. Begitu juga dengan Victory, meskipun ini bukan kali pertama ia akan bertunangan.
"Kamu mau enggak?... tunangan sama aku?" tanya Vic pada akhirnya, matanya fokus ke manik Icha yang menatap balik dirinya.
"Tunangan... hmmm... tunangan yang aku mau itu ketika kita memiliki perasaan yang kuat satu sama lainnya... ketika kita siap dan benar-benar akan menjadi pasangan sehidup semati, bukan begitu?" ujar Icha.
Vic mengangguk, ia membenarkan pendapat Icha. "Emang benar sih, aku juga nggak mau jika dipaksa bertunangan, dan aku juga sudah pernah mengalami hal itu, kamu tau kan Monica Livia?"
"Eh... belum apa-apa udah bahas mantan aja..." ledek Icha.
Vic merengut. "Serius dong, Cha..."
"Hahaha... maaf, maaf... iya aku tau kok, beberapa kali aku lihat kamu jalan sama dia..." perkatan Icha terhenti.
'Astaga seharusnya aku enggak ngomong begitu,' gumam Icha dalam hati.
Vic masih diam, Icha menoleh dan menemukan pria muda itu tengah memotret sunset dari kamera ponselnya.
"Kalo kamu tanya... aku mau tunangan sama kamu atau enggak, ya jelas aku enggak mau," kata Icha tiba-tiba."
Mendengar perkataan Icha tersebut berhasil membuat Vic menoleh. "Alasannya?" tanya Vic.
Icha tersenyum, ia memalingkan wajahnya, menghadap ke arah matahari terbenam. "Ya mudah saja sih alasannya... karena kita tidak berada dalam posisi orang-orang yang bisa melanjutkan hubungan ke arah pertunangan."
"Kita enggak pacaran, kita hanya dua orang yang saling kenal, kita hanya dua orang teman, dan kita adalah dua orang yang sama-sama tidak memiliki perasaan satu sama lainnya, bukan begitu?" Jelas Icha.
Vic mengangguk. Sekali lagi ia membenarkan apa kata Icha.
"Apa kamu punya perasaan sama aku?" tanya Icha tiba-tiba.
Vic membelalak menatap Icha, kaget juga ketika Icha tiba-tiba bertanya demikian. "Ya... jelas enggaklah. Kita juga baru kenal, dan lagi... hutangmu belum dibayar loh, kan kita jadi sering bersama karena hal itu," jelas Vic, namun seperti mencari-cari alasan.
"Oh iya! Lupa! Aku akan segera ngomong ke Papa soal itu, mungkin bentar kalo udah dirumah," sela Icha.
"Jadi kesimpulannya gimana?" tanya Vic.
Icha menghela napas. "Ayo kita ngomong dulu sama orang tua kita masing-masing... kupikir mereka juga sudah terlampau salah paham dengan kedekatan kita." jawab Icha.
Icha mengulurkan tinjunya ke arah Vic. "Teman!"
Vic tersenyum lalu beranjak dari duduknya. "Teman!" seru Vic lalu melakukan tos dengan tinju mereka.
***
Monica Livia terlihat sangat sakit, gadis itu sudah berulang-ulang kali keluar-masuk toilet karena muntah-muntah. Gadis itu membuka applikasi konsultasi dokter online untuk menemukan solusi dari sakit yang dideritanya sejak pagi tadi.
Monica Livia :
Hallo dok, saya Monica umur 22 tahun. Pagi ini saya mual-mual dan muntah sangat sering. Saya tidak memiliki riwayat magh dan perut juga tidak merasa kembung, pola makan teratur. Saya juga merasa pusing dan sakit kepala yang berdenyut-denyut. Saya sudah minum obat parasetamol tapi tetap tidak membaik. Mohon bantuan dokter.
Dr. Erika :
Hallo Monica, saya Dokter Erika. Apakah anda melakukan aktivitas sekksual dalam seminggu terakhir? Jika tidak mungkin anda harus pergi ke klinik dokter umum dan jika iya anda disarankan untuk melakukan tes kehamilan atau pergi ke klinik dokter kandungan terlebih dahulu.
Bak disambar petir, Monic bergegas membeli alat tes kehamilan melalui applikasi belanja online. Gadis itu tampak sangat panik saat ini.
"Enggak mungkin... aku melihat kondom di lantai pagi itu, jadi enggak mungkin kan kalau aku hamil sama Daniel?" gumam Monic.
Gadis itu jelas melihat kondom di lantai yang sudah berisi cairan cinta milik pria muda itu, ia bahkan melihat dua kondom. Monic tidak ingat lagi berapa kali mereka melakukannya hari itu. Dia sangat mabuk, dia tidak bisa menghitung lagi.
Dua puluh menit kemudian bel rumah Monic pun berbunyi, ia bergegas pergi ke arah pintu dan menemukan kurir yang mengantarkan pesanannya, alat tes kehamilan yang ia order dari aplikasi belanja online. Dengan cepat Monic membawa paket itu ke kamar mandi dan mengeluarkan isinya.
Gadis itu menonton secara singkat cara memakai alat itu dari youtube dan bergegas melakukan tes.
Tiga puluh detik kemudian hasil tes pun muncul, dua garis biru membuat Monic sangat frustasi saat ini, ia bergegas mengambil ponsel lalu menelepon Daniel.
"Hallo... Dan, aku hamil..."