Udara pagi yang mulai terasa hangat berhasil mengusik tidur Aruna Yeorisha, gadis itu perlahan mengerjapkan matanya yang merasakan silau cahaya meski sedang memejam. Ternyata gadis itu lupa menarik gorden jendela ketika pergi ke balkon semalam. Cahaya matahari dengan santainya dapat langsung menyapa dirinya yang tertidur pulas.
Dengan langkah gontai ia menuju ke nakas tempat dimana ia meletakkan ponselnya. Icha mengecek notif dan menemukan pesan dari Daniel.
Sungguh kaget gadis itu ketika membaca isinya, dimana Daniel mengatakan kata-kata terlarang kepadanya. "Hah?! Apa-apaan... tck!" emosi Icha mulai tersulut karenanya.
Icha tidak membalas pesan itu melainkan memilih untuk menelepon Daniel. Jujur saja Icha merasa ini mulai tidak masuk akal. Bagaimana bisa Daniel menyukainya ketika ia akan segera menjadi adik tiri seorang Aeros Daniel Kang? Mengesampingkan perasaannya sejak dulu, Icha bahkan merasa kalau ia mulai bisa melupakan cinta sepihaknya pada Daniel.
"Halo... Cha..." Suara Daniel terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur.
Icha menghela napas. "Niel... jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Ingat... lusa mama dan papa kita akan menikah. Kamu jadi kakak aku dan aku jadi adik kamu. Jadi tolong... jangan seperti ini..." Jelas Icha dengan terburu-buru.
Daniel tak bersuara di seberang sana. Hanya terdengar suara napas Daniel yang entah sedang apa.
"Niel..." panggil Icha.
"Ya... aku mengerti, tapi..." jawab Daniel.
"Kamu harus mengerti, aku mungkin punya perasaan sama kamu tapi untuk sekarang... perasaan itu sudah berubah banyak. Aku bilang kayak gini supaya kamu ga lebih sakit dari aku, itu aja sih." Suara Icha mulai melemah.
"Aku harap kamu bener-bener ngerti, dan aku berharap kedepannya kamu bertemu dengan gadis baik... bye," Icha memutuskan panggilan telepon itu setelahnya. Meninggalkan Daniel yang sedang berpikir di seberang sana.
-
Icha pergi ke kampus pukul sebelas siang, Pak Narto menurunkannya di depan gerbang utara Elite University lalu gadis berjalan menuju ke fakultasnya yang berjarak dua ratus kilometer. Sambil melamun gadis itu berjalan di atas trotoar.
Gadis itu hampir saja lupa dengan hutang yang harus ia bayarkan kepada Victory sampai alarm ponselnya mengingatkan.
Perjanjian dengan VICTORY!!!
Icha melihat judul alarm di layar ponselnya, alarm itu memang di set setiap bulannya. Hal itu Icha lakukan untuk memperingati diri sendiri agar tidak terlalu nyaman hingga lupa dengan perjanjian mereka. Gadis itu menghela napas lelahnya kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot lengannya yang terasa kaku.
Lima menit kemudian Icha melihat mobil berwarna putih milik Vic melintas menuju ke area pusat Elite University. Gadis itu tak menghiraukan sampai akhirnya ia tak sengaja melihat seorang gadis turun dari mobil itu bersama dengan Vic.
Icha bersembunyi di balik tanaman hias kemudian mengintip dua orang yang kini tengah bergerak menuju ke gedung administrasi kampus.
"Vic... sama cewek yang waktu itu?" Icha yang penasaran akhirnya mencari info melalui i********: miliknya.
Icha mencari nama Monic di pencarian dan munculah beberapa akun yang menggunakan nama sama yang sama dengan Monic, namun fokus Icha tertuju pada salah satu akun yang bernama Monica Livia. Icha membuka profil akun tersebut dan benar saja itu adalah Monica, gadis yang sedang bersama dengan Vic saat ini. Icha menggulir layar ponselnya dan menemukan foto Vic dan juga Monic dalam satu frame dengan caption bertuliskan, “Ma Fiance,” diakhiri dengan emot hati.
Tak lama kemudian Vic dan Monic terlihat keluar dari gedung adminnistrasi kampus. Monic menggandeng lengan Vic sembari tersenyum-senyum kasmaran. Keduanya masuk lagi ke dalam mobil milik Vic lalu pergi entah kemana.
Icha memutar bola matanya malas lalu terkekeh kecil. Dalam pikirannya Icha sedang mengata-ngatai pemuda narsis itu.
Dasar cowok labil... dikit-dikit bikin salah paham, dikit-dikit malesin, dikit-dikit bikin kesel, dikit-dikit buat nyaman, dikit-dikit nge-ghosting... sama aja semua, kecuali Papa. Gumam Icha dalam hati.
Tak lama berselang tiba-tiba ponsel Icha pun berdering, dan itu adalah panggilan dari Victory. Gadis itu terkekeh kecil lalu menerima panggilan telepon itu.
"Eh udah nelpon aja... kang playboy," kata Icha sambil terkekeh kecil.
"Kamu dimana, Cha? Temenin aku..." Vic mulai mengeluarkan suara merengeknya pada Icha.
"Gak!" Sela Icha tiba-tiba.
"Ih... jangan galak-galak dong, nanti kena pasal durhaka kepada atasan..."
Icha memutar bola matanya, ia benar-benar merasa ucapan Vic semakin tidak masuk akal. "Kamu kenapa? Suka-suka aku sih... dan lagi aku lagi capek banget.”
"Aku udah liat posisi tempat kamu sekarang dari aplikasi find people... aku yakin kamu pasti enggak enak hati karena ada sesuatu..." kata Vic kemudian.
"Enggak ada apa-apa, aku hanya capek sekarang... oh iya, aku ada kelas nih... udah dulu ya... bye!" Icha mematikan panggilan ponsel itu setelahnya. Bukan hanya mematikan panggilan, Icha bahkan mematikan ponselnya lalu menaruh ponsel itu kedalam tas miliknya.
Baru saja Icha membohongi Vic dengan mengatakan jika ia ada kelas. Namun tentu saja Vic tidak akan percaya semudah itu... iya kan?
Icha masih berada di dalam kelas saat ini. Jam dinding pun sudah menunjukkan pukul empat belas yang artinya sudah tidak lama lagi kelas akan segera usai.
Betapa kagetnya Icha ketika melihat Vic yang sedang menjulurkan lidah kearahnya yang sedang mengerjakan tugas. Gadis itu pun memberi kode, menyuruh Vic pergi dari sana namun Vic masih terus menggoda dirinya. Pada akhirnya Icha memutuskan untuk meladeni tingkah usil Vic dan mengiriminya pesan.
Ke : Victory
Apa-apaan sih, pergi sana.
Dari : Victory
Pengen pergi tapi sama kamu
Ke : Victory
Jangan harap, sono pergi sama cewekmu aja
Dari : Victory
Cemburu ya, maemunah?
Ke : Victory
Haha.. lucu!
Vic terlihat tersenyum-senyum sendiri kemudian pindah dari jendela ruang kelas. Icha jadi bisa bernapas lega ketika melihat Vic tidak lagi seperti burung bertengger di jendela ruang kelas Icha. Ya mana ada orang ganteng seperti Victory mau bergelantungan di jendela seperti itu?
Lima belas menit kemudian kelas yang diikuti Icha pun seleai, gadis itu hendak pergi bersama kedua temannya Rere dan Ririn. Melihat hal itu Victory yang duduk di bangku koridor langsung berdiri dari duduknya, dengan sigap ia menahan tangan Icha.
“Vic! Apa-apaan sih… tuh kan diliatin sama orang-orang…” Kesal Icha sambil berusaha melepaskan lingkaran tangan Vic dari pergelangan tangannya.
“Oke… oke… tapi jangan kabur…” perlahan Vic mulai melonggarkan pegangannya.
“Hehehe, Cha… kalo gitu aku sama Ririn pulang duluan aja deh ya,” kata Rere kemudian, gadis itu juga menarik Ririn yang bahkan sedang fokus bermain game di ponselnya.
“Loh? Entar dulu… aku gak akan lama kok, kita ke depan barengan,” tahan Icha pada kedua sahabatnya itu. “Oh ya… Vic, ini Rere dan ini Ririn. Mereka bestie aku,” lanjut Icha memperkenalkan kedua sahabatnya kepada Vic.
“Hai Re, Hai Rin…” Sapa Victory pada kedua sahabat Icha tersebut dengan sok akrabnya.
“Hmmm kalo gitu aku pergi duluan ya… keinget ada urusan, bye sayang!” pamit Vic, sebelum ia menginggalkan Icha, Vic masih sempat-sempatnya mengirimkan kode berupa wink, ia mengedipkan satu matanya dengan genit kepada Icha.
“Yeeee… sayang nih p****t aku!” Seru Icha dengan emosi yang membara.
-
Vic mulai merasakan bahwa Icha sedang memberi jarak di antara mereka sejak pertemuan mereka dengan Monic, dan itu pula yang menjadi penyebab sehingga Icha selalu beralasan ketika Vic meminta ia harus ini dan itu.
Pada akhirnya Vic memutuskan untuk pergi menemui Icha di rumahnya. Seperti biasa Vic memarkir mobilnya tepat di depan pagar rumah Icha. Victory terus menelepon Icha namun tidak di angkat oleh gadis itu, membuat Vic bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia perbuat.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun ia belum mendapat kabar apa pun dari Icha. Vic akhirnya memutuskan untuk pulang setelah berjam-jam menunggu. Wajahnya tampak tak bersemangat, sampai akhirnya Vic menemukan undangan pernikahan seseorang di atas meja ruang keluarga.
“Undangan?”