“Dewi, maaf ya.” Terkejut dengan ucapan maaf Zian yang begitu tiba-tiba membuat Dewi kebingungan. Dewi tak bisa menjawab apa-apa, ia hanya bisa menampakkan wajah kebingungannya sebagai jawaban. Sementara itu Zian menatapnya begitu dalam membuat dirinya menjadi salah tingkah. Dewi merasakan ada hal yang aneh pada Zian hari ini. “Maaf, karena tak bisa membalas perasaanmu yang tulus itu.” Sambung Zian. Kali ini Zian menatap jauh ke anak-anak yang sedang sayik bermain. Bayangan dirinya ketika kecil juga Alina dan Dewi sedang asyik bermain kembali hadir. Mereka bertiga begitu menikmati hidup saat itu. Begitulah kehidupan masa kecil, indah tanpa perlu ada hal-hal yang mengganggu persahabatan mereka. Dewi menundukkan pandangannya, tanpa terasa beberapa tetes air mata membasahi pipinya. Perasa

