Aeera tengah bersiap-siap untuk merebahkan dirinya di atas kasur. Tubuhnya terasa pegal-pegal di beberapa bagian. Mungkin karena efek perjalanan panjang yang dilaluinya hari ini. Dia duduk melamun di atas kasur. Ketika pikirannya menerawang, mengingat kembali kejadian tadi siang, bibirnya bergetar hebat. Kesedihan dan rasa bersalah itu datang lagi. menyaksikan rakyatnya dipenggal ramai-ramai di lapangan, mendengar suara tawa penuh kepuasan dari suaminya saat melihat mereka semua meregang nyawa, sungguh membuat Aeera tak sanggup lagi menahan air matanya. Bagaimana bisa suaminya sekejam itu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu, sebelum pernikahan mereka berlangsung? Andai dia tahu sifat asli suaminya seperti ini, dia tak mungkin memilih pria itu sebagai pendampingnya. Mungkin hidup

