Ep. 7 - Aku Ilfeel...

1074 Kata
Setelah bel istirahat kami kembali kedalam kelas, anak-anak cowok bertanya padaku dan Riski, "gimana...gimana tadi..." sementara Rury memandagiku dengan wajah kesal lalu keluar. "Ya begitulah.. tuh tanya sama Riski" balasku tersenyum memandang ke arah Riski dan membiarkannya saja yang menjelaskannya. Riski menjelaskan satu persatu pertanyaan mereka sementara teman-temanku mulai meluncurkan beberapa pertanyaan juga padaku. "Ra.. gimana tadi.." tanya Mira. Rani dan Eka pun ikut nimbrung. "Ya..alhamdulillah lancar.." balasku singkat. "Emang tadi kalian ngapain sih..." tanya Rani dengan suara kenceng. Aku lihat anak cowok yang lagi ngumpul dimeja Riski melihat kearah kami, aku yakin Riski pasti penasaran mendengar penjelasanku. "hahah,, suara kamu kenceng banget sih..pelan-pelan aja aku nggak budeg kok.." balasku mencubit gemas tangannya. "Iya tadi ngapain.." balasnya sedikit berbisik. "Tadi kami diseleksi untuk lomba nyanyi lagu Melayu, itu aja..." ucapku pelan. Riski melirik untuk mencuri-curi dengar percakapan kami. "Terus gimana lolos...?" tanya Eka. Aku tersenyum sambil mengangguk cepat dan "sssttttt" aku meletak satu jari didepan mulut memberi kode agar mereka diam. Anak cowok melirikku ingin tau jawaban. Aku mengeluarkan pena dan membuka buku tulis, lalu menuliskan kata "Aku lolos" dihalaman buku yang kosong. Kemudian Mira mencolekku dan menunjuk kearah Riski, aku menggerakkan pena yang kupegang kekanan dan kekiri menandakan tidak. Setelah mendapat jawaban, mereka mulai menceritakan apa yang terjadi saat kami keluar tadi. "Si Rury tadi songong banget Ra.. dia tu ngomong kaya' orang mabuk tau nggak, padahal nggak ada yang nanya.." Rani bercerita dengan ekspresi kesal. "Kenapa sih kok emosi gitu..?" tanyaku penasaran sembari memposisikan tangaku dibawah dagu. Aku tau Riski dan teman-temannya yang berkumpul disudut sana ikut mendengarkan pembicaraan kami. Yasudahlah aku juga sudah nggak peduli lagi dan sekarang aku penasaran dengan perkataan Rani. "Iya Ra.. dia....." aku diam mendengarkan penjelasan mereka secara bergantian. "Biarin ajalah dia mau ngomong apa. Kasian dia tadi, pasti dia malu, sedih, kecewa saat bu Sri melarang dia ikut. Makanya dia ngomong gitu tentang aku dan Riski. Kalau aku sih nggak apa-apa, karena kuanggap masih biasalah omongan kaya' gitu, nggak parah-parah banget.."tanggapanku pada mereka. "Kalu kamu gimana Ki..?" tanya Eka cepat. Segera aku menatap wajah Eka yang jahil, tertawa aku melihat tingkahnya. Aku tau mereka nguping tapi kudiamkan saja, ini malah disinggung. Aku melihat ke arah mereka yang sudah senyum malu-malu. "Ya nggak apa-apa.." balas Riski yang berpura-pura santai menahan malu. *Falshback off* Hari penampilan teater pun telah tiba. Dalam beberapa minggu ini aku sibuk memantau perkembangan masing-masing bagian dan melatih pemeran. Aku mendesak mereka agar tidak melebihi batas waktu yang telah kutentukan. Aku turun tangan didalam semua bidang. Aku membantu membuat properti, aku mengetik sebagian naskah, aku membantu mencari kostum. haha.. terkadang aku merasa kenapa mereka terlalu bergantung padaku, padahal aku membagi tugas agar kami sama-sama belajar bertanggung jawab dengan bidangnya masing-masing. Tapi lagi-lagi mereka mengadukannya padaku dan memintaku untuk membantu tugas mereka. Segala property, kostum, narator semua telah sedia. Penampilan kami berlangsung selama lebih kurang satu jam. Guru tertawa-tawa melihat teater komedi yang kami tampilkan. Setelah selesai pertunjukan kami, giliran kelompok 2 yang tampil. Masih berapa menit berjalan, guru menghentikan pertunjukan dan memarahi mereka. Guru melihat ketidaksiapan mereka dalam praktik ini. Properti nggak jelas, pemeran nggak jelas, kostum alakadarnya, naskah hancur, narator dan semuanya tidak kompak, seperti tidak bekerja secara tim, omel bu guru. ******* Kelas X berjalan dengan lancar kini tiba saatnya kami naik ke tingkat yang baru. Tapi kita berempat nggak sekelas lagi. Aku di XI IPA 1, Eka kelas XI IPA 2, Rani dan Mira sekelas di XI IPS 2. Meskipun begitu setiap jam istirahat kami selalu menyempatkan diri untuk ngumpul di tempat biasa, di lorong samping perpus. Siang ini kami ngumpul seperti biasa, aku bercerita kalau hari ini tempat duduk kami dipindah-pindah dan aku duduk sebangku dengan seorang cowok yang bernama Iqbal. Aku juga nggak tau kenapa diubah, padahal selama 3 minggu ini aku sebangku dengan cewek dan udah nyaman. "Iqbal..! yang anaknya bu Habibah itu kan?" Eka setengah berteriak. "Iya.. kenapa sih kok kaget gitu.." tanyaku penasaran. "Iya kenapa sih ka.. ngagetin aja" Rani dan Mira ikut penasaran. Eka mengecilkan volumenya, "Anaknya nakal. Katanya dia sudah pernah tidur dengan mantan pacarnya, dan mantan pacarnya itu sekelas denganku namanya Tara dan orangnya biasa banget..". "Hahh, masa..!" aku terkejut dan seketika merasa takut membayangkan dia duduk disampingku, "Ini serius Ka.. kamu yang bener dong aku takut nih. Dia sebangku denganku loh setahun ini..". "Aku serius. Mantannya kasihan loh. Mereka dulu sekelas waktu kelas X, emaknya si Iqbal ngajar Matematika dikelas mereka. Emaknya itu ikut campur banget dan ngebelain si Iqbal banget. Padahal si Iqbal udah jelas-jelas salah, aku dengar dia ngasi minuman ke pacarnya waktu mereka lagi nge-date, terus dia nggak inget apa-apa.." Eka menjelaskan. "Maksudnya gimana sih aku masih nggak ngerti, emaknya ngebelain gimana.." Mira sebel karena masih belum paham penjelasan Eka. "Eh tunggu.. ini gosip apa gimana.. kamu dapat info darimana? Aku nggak bisa percaya gitu aja kalau sumbernya nggak jelas.." tanyaku memastikan cerita Eka. "Jangan bilang siapa-siapa ya.. aku dapat info dari Tara langsung.. awal masuk kekelas itu aku lihat dia murung banget, selalu sendiri, udah gitu nggak ada yang mau nyapa dia Ra. Akhirnya aku deketin selama 3 minggu ini, semua gosip yang menyebar disekolah ini karena mulut cowok jelek itu dan emaknya. Dia jadi dikucilkan...." balas Eka dan terus bercerita sejelas-jelasnya. "Kamu jangan ada urusan Ra sama dia, ntar ribet jadinya. Dan kalau Maknya tau, kamu juga bakal disusahin emaknya dan nilai kamu bakal dihancurkan..". Aku bergetar mendengar pesan Eka. Bel pun berbunyi, kami bubar dari pergosipan ini dan masuk kekelas masing-masing. Sesampainya dikelas, jantungku berdebar saat pandanganku bertemu dengan Iqbal, rasa ilfeel dan tidak percaya menjadi satu. Dia melemparkan senyum padaku, tapi dengan enggan aku membalasnya. Dia terus mencoba akrab denganku, tapi aku semakin berat hati membalasnya. Sudah sebulan lebih aku mengamatinya, dan aku percaya dengan Eka setelah melihat sendiri perangainya. Dia norak dan sombong. Dia pernah memamerkan handphone barunya yang katanya anti air didepan kami semua, dia mengambil air diember kecil lalu memasukkan handphonenya kedalam air dengan bangganya. Aku hanya diam tertawa melihat tingkahnya. Dia egois, aku sering memperhatikan dia berbicara dengan teman-temannya. Dia selalu ngotot saat ide mereka tidak sesuai dan tidak mengenal kata toleransi dan mengalah. Selalu saja teman-temannya yang menurunkan ego saat berdebat dengannya. Dan masih banyak hal buruk lainnya yang aku ketahui tentang dia. Pelajaran yang kuambil dari ini semua, kalau kita membenci seseorang sangat sulit menemukan kebaikannya. Hanya keburukannya saja yang terlihat jelas oleh mata kita. Sama seperti penilaianku terhadap Iqbal, aku banyak menemukan keburukannya, namun sangat sulit menemukan kebaikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN