Ep. 10 - Cinta atau baper ?

1194 Kata
Pagi ini seharusnya aku diantar ayah, tapi aku terus memaksa membawa motor sendiri dengan berbagai alasan yang logis dan akhirnya orangtuaku nyerah juga. Aku pun datang lebih awal dari biasanya tujuannya ya untuk mendahului Riski. Sekolahku masih sepi jam segini tepatnya pukul 6 pagi, di parkiran pun hanya ada 3 motor. Aku celingukan memastikan bahwa kelas benar-benar sepi setelah itu aku memutar musik melayu yang akan kami bawa pada lomba tari minggu depan. Aku mulai dengan melenggang lalu menggerakkan tangan, badan serta kaki mengikuti irama. Ketika hendak melakukan liuk berputar, "haaahh...!" aku terlonjak kaget saat tau Ferdi dan Iqbal telah terconggok didepan pintu memandangiku dengan tatapan yang tak bisa kupahami. Aku tertunduk malu, gugup dan tidak tau harus berbuat apa saat ini. Mereka masih tidak beranjak dari tempatnya, akhirnya aku mengambil handphone yang kuletakkan dimeja, ku matikan volumenya lalu jalan tertunduk melewati mereka. "Lauraaa..." suara yang ku kenal memanggilku dan aku berbalik. Ia melirik kedua manusia yang masih berdiri didepan pintu lalu berjalan mendekatiku. Aku merasa canggung dengan keadaan ini, 3 cowok vs 1 cewek, oh my god..! Apa-apaan ini. "Kenapa kamu bawa motor juga, lihat tanganmu kan masih memar.." perkataan Riski membuat 2 makhluk itu turut melihat memarku. Refleks saja aku langsung menyembunyikannya. "Aku udah nggak apa-apa kok Ki.. hmm aku duluan ya" aku berjalan tak tau kemana yang jelas melarikan diri dari situasi ini. "Lauraa.. mau kemana" panggil Riski lagi. "Ke kantin... aku belum sarapan" jawabku asal lalu berjalan kembali. "Ra.. itu jalan ke parkiran bukan ke kantin.." serunya. Langkahku terhenti, aku melihat sekeliling dan benar saja aku salah arah. Tapi malu-maluin banget kalau aku harus kembali melewati mereka. Aku hanya tersenyum malu namun tetap melangkahkan kakiku menuju parkiran, tak kupedulikan lagi suara Riski yang terus memanggilku. Tak lama aku bertemu Rian yang baru saja memarkirkan kendaraannya. Setelah melihatku ia segera turun dari motornya dan mengajakku kekelas. Aku segera mengiyakannya karena aku memang tidak ada tujuan disini dan aku yakin mereka bertiga pasti sudah bubar dari sana. "Ra, kenapa? kok berhenti.." ujarnya yang heran melihatku yang tiba-tiba berhenti melangkah. "Hmm kamu duluan aja deh yan.." balasku panik. Mereka bertiga masih disitu dan tampak sedang berbicara. Saat aku nongol dari parkiran, kompak mereka bertiga langsung mengalihkan pandangan ke aku dan Rian. "Lauraaa..." kehadiran Eka dan Mira benar-benar menjadi penyelamatku. "Kamu nungguin kita yaa.." tanya Eka. "Hmm.. iya aku nungguin kalian. Kok lama banget sih" balasku. "Itu kenapa mereka bertiga ada didepan kelasmu Ra.." kata Eka dengan suara pelan. "Aku nggak tau ka..ntar aja aku ceritain.." jawabku dengan suara yang sama pelan. "Bye Ra.." dengan nada takut mereka menyapaku, aku hanya mampu membalas senyuman tanpa berani memandang ke 3 orang itu lalu aku melangkah masuk bersama Rian. ********* Hari ini Iqbal dan Ferdi baik kepadaku karena mereka tidak menggangguku dan aku bisa menjalani hari dengan tenang. "Laura..." Riski memanggilku. "Ra, kenapa tadi pagi kamu nyuekin aku? Apa aku ada salah sama kamu?". "Maaf ya Ki gara-gara sikap aku tadi pagi kamu jadi ngerasa begini. Kamu nggak ada salah kok Ki. Tadi pagi aku nggak enak aja, sekolah masih sepi, tapi ada 3 orang cowok didekatku. Aku malu dilihat orang, ntar dikira aku cewek apaan. Makanya aku menghindari kalian. Lah malah ketemu Rian yang cowok juga. Tapi untung aja Eka sama Mira datang, aku nggak pala grogi jadinya" balasku jujur. "Oo gitu aku kira aku ada salah ngomong atau gimana. Kamu mau kemana Ra?" tanya nya. "Kan aku udah bilang, aku ada rapat PMR hari ini dan sekarang aku mau ke ruangan UKS. Kamu kok belum ganti baju, latihan kan hari ini?" tanyaku balik. "Iya latihan, tapi waktunya diundur satu jam makanya aku kesini nemui kamu. Hmm... Ra, ada waktu sebentar?" tuturnya. "Hmm gimana ya Ki.. sebentar ya aku cek w******p dulu, soalnya dari tadi belum ada tanda-tanda kalau rapat hari ini jadi. Sebentar.." jawabku sembari membuka grup w******p PMR dan ternyata rapat hari ini diundur sebab guru pembina PMR buru-buru pulang karena anaknya sakit. "Wah pas nih Ki, ternyata rapat kami diundur karena pembinanya berhalangan. Yaudah yuk mau ngomong dimana?" tanyaku. "Ke GOR aja yuk.." usulnya. "Iiihh.. malu lah aku.. temen-temen kamu kan banyak disitu, mana cowok semua lagi. Seganlah..!" tolakku. "Ngapain malu.. banyak kok anak cewek disitu.. lagian kan ada aku.." ajaknya lagi. Aku pikir-pikir ya sudahlah, dia bilang ada anak ceweknya juga, lagian waktu senggang dia cuma sejam mana bisa kemana-mana, ntar dia capek lagi. "Hmm okelah. Bener kan ada anak ceweknya?" tanyaku memastikan. "Iya bener aku nggak bohong" ucapnya mantap. "Oke ayoo...!" kami berjalan di koridor sekolah menuju Gedung Olahraga (GOR). Aku melihat Riski tidak seperti biasanya, hari ini dia terlihat gugup dan pandangannya terus kebawah. Setelah sampai di GOR aku dilihatin anak voli teman-temannya Riski. Kami duduk di deretan depan Tribun Penonton, tepat diseberang posisi duduk anak-anak voli. "Kamu mau ngomong sekarang apa nanti Ki, kita dilihatin teman-teman kamu nih" ucapku sambil mengarahkan pandangan ke seberang. Riski terdiam sejenak, lalu mulai berbicara. "Ra, kita kan sudah kenal dari kelas X dan kita sudah cukup dekat.. Sebenarnya dari awal bicara sama kamu di kelas X, aku sudah menaruh hati padamu. Semakin kesini perasaanku semakin dalam padamu Ra. Aku kesal melihat banyak sekali cowok yang mendekatimu. Bolehkah aku menjadi pacarmu Laura?" pernyataan tulus Riski membuatku termangu. Aku tak mengerti bagaimana cinta itu. Aku juga tidak tau apakah aku benar-benar suka padanya atau hanya baper sesaat. "Aku... belum bisa jawab sekarang ki.. " aku hanya tertunduk dan gugup sekali saat ini. Aku tidak tega menolaknya karena dia sangat baik padaku, tapi aku juga tidak yakin untuk menerimanya. Aku bingung. "Tidak apa-apa Ra, berapa lama aku harus menunggu jawaban kamu..?" tanyanya dan aku terdesak. Aku nggak tau kapan aku harus menjawabnya. "Minggu depan dihari yang sama aku akan beri jawaban padamu.. bisa kan..?" balasku asal. "Baik Ra.. Terimakasih.." ujarnya sembari melontarkan senyum dan kubalas dengan senyum. Aku senang bila kata-kataku tidak menyakiti perasannya. "Kamu tungguin aku disini ya Ra.. please" pintanya. "Aaaa.. hmm iyaa.." aku kaget namun tidak bisa menolak. "Aduhh gimana dong.. aku pasti bosen kalau harus terduduk sendirian begini.. hmm.. tega banget sih Ki jadiin aku kambing congek disini.." celotehku dalam hati. "Aku ganti baju bentar ya Ra.." pamitnya. "Ehh Riski.. aku ikut ya..aku nggak mau sendirian disini..boleh ya..?" pintaku sebab aku tak nyaman jadi perhatian sendirian. "Iyaa ayolah.." dia tersenyum. Kulihat jam menunjukkan pukul 14.49, aku mengirim pesan di grup "My Bee" bertanya apakah mereka masih disekolah, mereka menjawab masih di sekolah tepatnya di aula. Aku meminta mereka datang ke GOR setelah meraka selesai latihan pada pukul 15.00 dan mereka mengiyakan. "Ayo Ra.." dia yang telah selesai mengganti baju. "Cepat banget kamu ganti baju.." candaku. "Jelaslah,, aku nggak mau ninggalin kamu lama-lama disini, takut digodain oranglain.." dia membalas candaanku. "Dasar.." aku tertawa kecil. Lalu kami kembali ketempat duduk yang tadi. "Kita disini aja ya Ra, aku nggak mau kamu duduk disana. Ntar kamu digangguin mereka.." ucapnya sambil menunjuk kearah teman-temannya. "Iyaa.." balasku senang karena aku memang kurang nyaman berada diantara sekian banyak cowok. "Kamu nggak gabung disana, temen kamu manggilin tuhh..." tanyaku yang melihat kode dari temannya. "Enggak ah aku mau disini aja sama kamu.. Tinggal berapa menit lagi juga.." ujarnya yang terdengar jujur. Aku senang karena dia sangat menghargai keberadaanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN