Forestfall, November 2002
Trudy, wanita paruh baya itu menggerutu pelan sambil membuka pintu depan. Dia kesal karena Mauli, anjing betinanya menyalak dengan keras di tengah malam, saat dia telah terlelap. Tidak biasanya Mauli seperti ini, batinnya, pasti ada serigala atau beruang hitam dari hutan yang memangsa domba-dombaku lagi. Dengan sigap Trudy mengambil senapan angin mendiang suaminya dari balik pintu, dan menodongkan ke depan. Matanya nanar mencari-cari sesuatu yang mencurigakan.
Gonggongan Mauli semakin keras terdengar ketika Trudy mendekati lumbung jerami. Mauli, anjing gembala Trudy itu lantas terdiam demi melihat Trudy masuk dengan senapan di tangan. Mauli mendekati Trudy sambil mengibas-ngibaskan ekornya, seperti mendapat dukungan baru.
"Ada apa, Mau?" tanya Trudy sambil menyapu pandangan ke seluruh ruang lumbung. Tidak ada yang aneh kecuali jerami-jerami yang berserakan dimana-mana. Mauli berlari ke arah traktor usang yang terparkir di kanan lumbung sambil terus menyalak, kemudian kembali lagi pada Trudy seakan ingin memberitahu majikannya bahwa ada sesuatu di dekat traktor usang itu. Seperti mengerti apa yang Mauli maksud, Trudy mengokang senapan dan berjalan perlahan. Fisik tua dan rambut putih acak-acakan serta piyama putih yang menyapu lantai lumbung tak menghentikannya.
Trudy tersentak. Wanita tua itu menurunkan senapan besarnya. Tepat di sebelah roda traktor, ada sebuah keranjang anyaman bambu dengan kain-kain bewarna emas menyala. Mauli berhenti menyalak, dan duduk tenang di samping kaki telanjang Trudy. Dengan ragu wanita tua itu menyingkap kain-kain keemasan dengan ujung senapannya.
"Haaaa..?!?" Teriaknya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. " Apa-apaan ini? Kurang ajar.. Siapa yang berani-beraninya membuat bayi disini??" umpatnya. Trudy berjalan ke luar lumbung dan berteriak-teriak memaki pada gelapnya malam sambil memuntahkan peluru daru senpannya sebanyak dua kali dan terus bertanya siapa gerangan yang telah menaruh bayi di lumbungnya. Terdengar ringkik kaget kuda-kuda dari kandang disebelah lumbung. Dalam hatinya ada satu perkara yang sering dibawanya jika rapat desa, bahwa jika para orangtua membiarkan anak-anak bergaul terlalu bebas maka akibatnya akan terjadi kelahiran bayi-bayi yang tidak diinginkan.
"Rawat baik-baik! Jangan nanti kalian buang di rumah panti asuhan!" Kata-kata Trudy yang selalu keras di rapat desa kadang membuat warga menjadi risih dan tambah tidak menyukainya. Namun mereka tetap mengundang Trudy ke rapat itu karena harus, Trudy adalah orang yang dituakan. Dia keturunan pendiri kota Forestfall.
Dan, malam itu, Trudy bertambah kesal dan marah karena ia yakin pendapatnya di rapat minggu kemaren malah menjadi kenyataan. Alih-alih membawa bayi di luar nikah hasil hubungan gelap ke panti asuhan, tetapi malah meletakkan bayi malang di lumbungnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan membawa kotoran kembali ke rumah orang yang berbuat." Trudy kesal sampai-sampai mengatakan kotoran. Dia kembali ke lumbung. "Ya ya. Aku memang benar kan? coba saja para orangtua di kota ini menjaga anak-anak mereka dan...." langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang terang dari dalam lumbung. Sinar yang menyilaukan. Mauli berlari ke luar. Anjing itu ketakutan dan masuk ke rumah. "Mauliii.." panggilnya. Trudy semakin penasaran, dan mengangkat kembali senapan besarnya. Langkahnya perlahan namun pasti. Dia tidak gentar sedikitpun. Hidup sendiri berpuluh-puluh tahun setelah Ed, suaminya meninggal tidak sekalipun membuatnya takut. Trudy mendorong pintu lumbung dengan ujung mulut senapannya. Sekonyong-konyong senjata yang dipegangnya ditarik paksa dari tangannya dan dia terpelanting ke belakang. Kemudian sesuatu yang sangat kuat namun tak terlihat menyeret tubuhnya mendekati sinar itu. Trudy menutup tangannya supaya sinar silau itu tidak langsung menghalangi pandangannya.
Mulutnya kaku tak bisa berkata-kata. Sinar silau seperti yang dibacanya dalam Bible. Trudy tidak yakin akan penglihatannya, tapi dia melihat sesosok makhluk dengan sayap dengn kilau terangkat tinggi, namun tidak mencapai langit-langit lumbung. Terseok-seok Trudy berusaha menjauhi makhluk yang diyakininya sebagai malaikat itu, ketika sebuah suara menghentikannya.
"Tunggu!"
Sinar silau itupun hilang seketika. Tetapi sayap-sayap itu masih meninggalkan jejak kilau, namun tak seberapa menyilaukan.
Trudy pun menurut. "S..siapa? Kamu siapa? Apa maumu?" tanyanya.
"Trudy Applewhite." Trudy tersentak karena makhluk itu mengenalnya kemudian berjongkok di depannya. "Maaf karena kamu harus melihat semua ini. Aku harus membuangnya ke dunia karena ia dan ibunya bersalah"
Makhluk yang diyakininya adalah seorang malaikat itu berwajah kekanak-kanakan dengan senyum lebar yang ramah namun pandangan matanya menyiratkan sesuatu yang kejam. Trudy yakin dia ini adalah Michael, salah satu dari Archangel, satu dari malaikat tertinggi. Dan kini dia berhadapan dengannya.
"Ya. Tepat sekali. Aku Michael."
Trudy yang berani itu semakin ciut nyali karena malaikat itu telah mengetahui pikirannya.
Michael mengulurkan tangannya, membantu Trudy berdiri. Sepotong tangan malaikat yang terasa hangat, namun Trudy merasa kedinginan berhadapan dengan. Michael.
Michael menjentikkan jarinya. Seketika muncullah seorang wanita tengah duduk kesakitan di samping keranjang bayi. Tapi, apakah wanita itu seorang malaikat juga? Ya, benar.. tiba-tiba wanita itu mengeluarkan sayap-sayapnya. Michael menghampiri malaikat wanita itu, mencengkeram lehernya, mengangkatnya tinggi dengan satu tangannya. Sementara malaikat wanita itu memegang tangan Michael di lehernya. Kakinya meronta-ronta. Dia tampak kesakitan.
"Trudy." panggil Michael, "segala kuasa atas bayi ini kuserahkan padamu."
Trudy makin ketakutan. Nenek tua itu berteriak keras tatkala Michael dengan kejamnya mematahkan sayap-sayap malaikat wanita itu. Seketika itu lenyap tak berbekas. Baik Michael dan malaikat wanita itu.
Trudy termangu-mangu setelah kejadian itu. Dia mengangkat keranjang berisi bayi -yang belum diketahuinya berjenis kelamin apa- dengan hati-hati. Bayi itu tertidur seakan tidak terganggu dengan keributan-keributan tadi. Keranjang itu ditenteng di tangan kirinya, sedangkan tangannya meraih senapan yang tergeletak di lantai. Trudy berjalan dengan cepat. Dia enggan menoleh ke belakang. Dia yang ternyata punya rasa takut itu pun segera masuk rumah menutup pintu dengan cepat. Meletakkan keranjang bayi di atas meja tamu, dan mengantung senapan di balik pintu.
Trudy mengerjap-ngerjapkan mata, memukul-mukul kedua pipinya berkali-kali. Kemudian dia mencubit pahanya. Dan itu terasa sakit. Trudy tidak sedang bermimpi.
Dengan gontai ia kembali ke kamar tidurnya yang terletak di lantai atas. Anak-anak tangga berdenyit saat kaki-kaki tuanya menapaki tangga. Mauli, anjing setianya mendongakkan kepalanya, dan segera bangun dari duduk santainya sambil mengibaskan ekor. Trudy mengajak Mauli naik ke tempat tidurnya yang nyaman. Hingga pagi hari tiba..
Trudy terbangun dengan perasaan yang nyaman. Tidak ada rasa takut. Tidak ada juga rasa penasaran tentang kejadian semalam.
"Ayo, Mauli. Mari kita sarapan." Ajaknya setelah Trudy mencuci muka. Forestfall sangat dingin akhir-akhir ini. Trudy memutuskan untuk mandi ketika pukul dua belas siang saja.
Trudy dan Mauli menuruni anak tangga menuju dapur. Melewati ruang tamu, ia masih bisa melihat dengan ekor matanya, bahwa keranjang bayi itu masih ada di atas meja. Namun, Trudy memutuskan untuk tidak menghampirinya. Bayi itu pasti baik-baik saja karena dia tidak menangis, katanya dalam hatinya.
Di ruang makan yang juga dapur, dia mendapati ada seseorang duduk di salah satu kursi meja makan. Seorang pria memakai kemeja lengan panjang biru dan celana jins serta bertopi koboi. Pria itu duduk membelakanginya. Mauli yang biasanya tidak ramah pada orang asing, saat itu dia tidak menyalak. Anjing itu duduk dalam diam. Menanti sarapan yang dijanjikan padanya. Kaki kanan depannya menggeser mangkuk berwarna merah bertuliskan namanya.
Trusy berusaha tetap tenang. Tidak ada waktu untuk berlari ke ruang depan mengambil senapan. Pelan-pelan dituangkannya biskuit untuk Mauli, dan anjing itu pun segera melahapnya.Trudy mengisi ceret dengan air keran. Menyalakan kompor dan meletakkan ceret itu di atasnya.
"Selamat pagi, Saudara. Kopi atau teh? Tolong lepas topimu. Di dalam rumah tidak perlu mengenakan topi." Sapa Trudy.
Pria itu pun menurut. Dia melepas topi dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Aku ingin segelas teh saja." jawabnya.
Trudy menghidangkan secangkir teh untuk tamunya dan kopi dalam mug coklat kesukaannya untuk dirinya sendiri.
Sekarang mereka duduk berhadapan. Trudy dapat melihat pria di depannya. Michael. Ya.. dia adalah Michael. Sang Malaikat semalam. Namun Trudy berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya.
Michael memegang cangkir teh dengan kedua belah tangannya. Matanya menyapu ruangan itu. Ruangan berdinding kayu mahoni yang kuat dan bercat putih. Ada dua jendela dengan gordyn kain berwarna senada. Sinar matahari tampak menyeruak melalui lambaian kain gordyn. Tampak hangat. Di atas jendela itu, pas di tengahnya, ada kepala rusa yang menjadi hiasan dinding. Kemudian matanya menunduk melihat pada meja kayu jati yang menjadi tempat cangkir teh nya berada.
"Aku ingat meja jati ini. Si tua Edmund sendiri yang membuatnya." Michael membuka percakapan.
"Kau mengenal kakek buyutku?" tanya Trudy.
"Tentu saja. Aku dan Edmund adalah teman baik. Dia suka menolong orang. Aku diutus untuk menjaganya."
Michael menyesap teh. Kemudian berbicara lagi, seperti tidak memberi kesempatan pada Trudy untuk bertanya lebih jauh.
"Dengar, sebentar lagi kau tidak akan ingat apapun tentang kejadian semalam. Dan ini.."
Michael mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam tas kulit dan membeberkan uang-uang itu di atas meja. Trudy yakin bahkan sangat yakin bahwa tidak ada tas kulit di situ.
"Ini untuk biaya membesarkan bayi itu. Dia tanggung jawabmu. Sekarang aku mau pergi. Aku akan selalu mengawasi dari jauh." Kata Michael sambil bergegas berdiri. Dalam hitungan detik Michael hilang dari pandangannya. Trudy masih tertegun.
"Lho, siapa tadi yang disini?" tanyanya pada Mauli. Anjing itu mengangkat muka dengan mimik kebingungan. Suara di kepalanya membimbingnya untuk segera membereskan uang-uang di atas meja dan menyimpannya di dalam tas pakaian yang besar.
"Hmm. Aku harus bergegas ke bank untuk menyimpan uang-uang ini."
Trudy segera mengambil bayi itu dan memandikannya. Perempuan. Bayi itu perempuan.
"Siapa nama yang cocok untukmu ya?"
Trudy membungkus bayi itu dengan selimut dan membaringkannya di atas tempat tidur miliknya.
"Aku tidak punya pakaian bayi. Karena aku dan Ed tidak pernah punya anak. Bagaimana ya?" Trudy terdiam. Memikirkan suatu hal. Apa.. apa.. bagaimana ini..
Sebentar pun dia sudah berpakaian rapih dan bersiap pergi. Trudy meletakkan bayi yang dibungkus selimut itu dan tas pakaian berisi uang dalam jok jeep tuanya. Mauli melompat naik di bak belakang jeep.
Trudy sama sekali tidak mengingat kejadian semalam. Sepertinya ia alami saja melakukan kegiatannya pagi ini. Tidak ada yang aneh sama sekali. Perjalanan menuju kota membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit dari rumahnya.
Kota sangatlah ramai pagi ini. Jeep Trudy memasuki gerbang kota dan berpuluh-puluh mata menyaksikan Trudy Si Nenek Pemarah mengendarai jeep tua kesayangannya berhenti di depan toko pakaian anak-anak.
"Tunggu di sini, Mau." Anjing itu pun menurut.
Lonceng kecil tepat di atas pintu masuk berbunyi seraya Trudy memasuki toko. Pemiliknya, Mr. Wood, seorang pria keturunan Afrika Amerika menyadari bahwa ada pengunjung, segera ke luar untuk menyapa. Matanya membelalak demi melihat siapa pengunjung tersebut.
"Trudy.. Selamat datang di tokoku. Sepertinya sudah seratus tahun kau tidak main-main kemari. Hey, apa kabarmu?" Sapanya ramah sambil menjulurkan tangan.
Trudy tidak meraih tangan yang diarahkan padanya. Ia hanya tersenyum sambil menjawab sapaan ramah yang ditujukan padanya.
"Aku baik-baik saja, John. Kau sendiri tampak lebih tua."
John Wood tidak merasa kikuk begitu tahu lawan bicaranya tidak menyambut jabatan tangannya. Karena ia tahu, orang seperti Trudy tidak pernah berbasa-basi.
"Ya. Aku sudah lebih tua. Lihat rambut putihku sudah banyak." John Wood tertawa sambil menunjuk kepalanya yang mulai ditumbuhi uban.
John Wood sepuluh tahun lebih muda dari Trudy. Tetapi keramahannya jauh melebihi Trudy, bahkan warga di kota.
John menyadari sesuatu saat Trudy menyapu etalase toko dengan mata keingin-tahuannya.
"Kau mencari sesuatu, Trudy?"
"Ya" Trudy menganggukkan kepalanya, "aku mencari pakaian bayi perempuan. Kau punya?"
Ada rasa heran meliputi wajah John. Trudy mencari pakaian bayi? Untuk siapa? Bayi siapa?.
"Oh, aku baru saja mempunyai cucu perempuan. Dia baru saja sampai." Kata Trudy.
"Bukannya kau tidak mempunyai anak, Tru? Apakah bayi itu mengetuk pintu rumahmu?"
Trudy tertawa khas nenek-nenek yang merasa lucu. "Bukan. Ada yang meninggalkan bayi di pintu rumahku. Maka kuambil kujadikan cucuku."
John terbelalak mendengar pengakuan Trudy. "Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana nanti kalau orangtua bayi itu datang dan menginginkannya kembali?"
Trudy melihat tajam pada John yang masih terheran-heran.
"Bayi itu bukan dari kota ini. Tidak ada yang akan datang dan mengambilnya kembali. Percaya padaku. Sekarang dimana kau simpan pakaian-pakaian bayi itu?"
John terkesiap dan segera mengajak Trudy ke etalase yang terletak agak di belakang sebelah pintu yang menuju ruangan lain di tokonya. Trudy senang melihat koleksi pakaian-pakaian itu. Dia mengambil banyak untuk ukuran tertentu, dan ukuran-ukuran yang lebih besar karena John menyarankan demikian. Menurut John, tidak usah terlalu banyak mengambil yang ukuran bayi baru lahir, karena bayi itu cepat besar. John menawarkan ukuran yang agak besar. Berbagai rok-rok untuk bayi berumur di atas tiga bulanan. Juga popok untuk berbagai ukuran. Trudy mengambil semua yang ditawarkan John padanya. John juga menunjukkan sepatu-sepatu dan kaos kaki-kaos kaki lucu berwarna-warni serta topi-topi. Lagi-lagi, Trudy mengambil semuanya. Sepertinya jiwa marketing John sangat berhasil pada Trudy.
Setelah membayar, segera mata Trudy tertuju pada stoler bayi berwana biru tua yang dipajang dekat pintu masuk. Hanya ada satu buah stoler di sana.
"Aku mau yang itu juga." Tunjuknya.
"Apa? Stoler? Trudy kau sudah belanja banyak di sini. Lagipula harganya sedikit mahal. Makanya aku tidak punya banyak. Tidak apa-apa kah?" tanya John sambil mengingatkan.
"Ya, tentu saja. Aku punya uang banyak. Kau pikir aku tidak sanggup membayarnya?" Tanya Trudy yang sudah mulai emosi.
John melihat kesungguhan pada Trudy.
Sepertinya dia memang punya uang banyak. Mungkin Tuhan memberinya kesempatan untuk punya penerus dan dia ingin yang terbaik untuknya, batin John.
"Baiklah, Tru. Stoler bayi itu untukmu. Kau sangat membutuhkannya. Tak mungkin kau menggendong cucumu terus. Akan kubawakan ke Jeep-mu." John menekan tombol-tombol mesin kasir, lalu tersenyum saat menerima uang Trudy.
John Wood menaikkan stoler bayi dan tas-tas belanjaan ke bak belakang jeep Trudy. "Selamat pagi, Mau." Sapanya pada Mauli. Anjing itu menggonggong tanda ia menerima salam John.
Di jok depan, John sempat mengintip memastikan apa benar ada bayi perempuan di sana. Dan benar. John menyaksikan Trudy yang cekatan memakaikan popok dan pakaian, kaos kasi, sepatu hingga topi bayi yang baru di belinya. Bayi itu sangat cantik. Ia tidak terbangun dan menangis saat anggota tubuh kecilnya di angkat-angkat. Tidak seperti cucu-cucu John pada waktu bayi dulu, yang tidak boleh tersentuh sedikit sudah terbangun dan menangis meraung-raung membuat John dan seisi rumah tidak bisa tidur pada malam hari dan akhirnya mereka bergantian untuk menggendong hingga bayi itu terlelap karena lelah menangis.
John juga melihat ekspresi wajah Trudy yang nampak begitu bahagia. Trudy pun menyadari bahwa John tengah memperhatikannya dari balik kaca Jeep. Trudy lantas membalikkan arah tubuh si bayi untuk menghadap pada John. John makin terkesima. Dan, memang benar. Bayi perempuan itu sangatlah cantik. Kulitnya bersih dan seputih s**u. Bibir mungilnya merah seperti buah Cherry. Hidung yang menjulang tinggi serta rambut-rambut kecil bewarna kuning keemasan yang menyembul dari balik topi. Tiba-tiba bayi itu menguap dan membuka sedikit matanya. Bola matanya berwarna hijau terang sedikit kebiruan.. aah, John kebingungan menentukan apa warna bola mata bayi itu.
John mengetuk-ngetuk kaca jeep, Trudy pun menurunkannya.
"Siapa namanya, Tru?" tanya John penasaran.
"Entahlah. Aku belum tahu. Kenapa kau ingin tahu?"
Ada nada kecemasan dibalik pertanyaan Trudy. Sedikit marah.
"Tidak.. Tidak.. aku hanya bertanya saja."
Trudy kembali membaringkannya di jok.
"Ehm, Tru.."
Trudy mendongakkan kepala.
"Sangatlah berbahaya jika kau membaringkannya di jok mobilmu seperti itu. Kalau kau mau akan kupesankan Baby Car Seat di Ibu kota.
Trudy menanggapi baik ide John dan memberi John beberapa lembar uang seratus dollar sebagai uang muka pembelian. Karena pikirnya barang-baranf dari ibu kota sangat mahal, dan dia mengerti bisnis John. Jika memesan harus ada uang muka terlebih dahulu.
John melambai pelan saat jeep Trudy kembali ke jalan raya dan ia melihatnya berhenti tepat di depan bank kota, tak jauh dari tokonya.
Sepeninggal Trudy, tak disangka beberapa warga kota, laki-laki dan perempuan, baik muda maupun seumuran dengannya yang sedari tadi memperhatikan langsung datang mengerumuni John. Mereka bertanya-tanya perihal Trudy si nenek pemarah dan bayi perempuan yang diakuinya sebagai cucunya itu.
Mereka terus-menerus mendesak John. John yang merasa gerah dan bising oleh celotehan keingin-tahuan warga kota berbalik dan berjalan menuju tokonya. Dia tidak memperdulikan teriakan-teriakan di belakang memanggil-manggil namanya. John masih terkesima oleh kecantikan bayi Trudy.
Tiga orang wanita beringsek saling mendahului masuk ke dalam toko. John baru saja akan menelepon toko pusat peralatan dan perlengkapan bayi di ibu kota. Melihat wanita-wanita itu, John mengurungkan niatnya. Diletakkannya kembali gagang telepon. Memandang heran pada wanita-wanita yang penuh dengan rasa penasaran.
"John." Panggil salah satu wanita kulit putih bertubuh agak gemuk, berambut keriting, dan berbaju coklat bunga-bunga. "Yes, Margareth.." jawab John. "Kau tahu kami ingin apa. Bukan mau belanja baju bayi."
"Ya, ya, benar" kata dua wanita yang lain hampir bersamaan.
"Kalian ini hanya haus akan gosip. Mengapa terlalu ingin tahu akan urusan orang lain? Apakah khotbah yang kalian dengar hari Minggu kemaren tentang baiknya bergosip?" John menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, John. Kalau kau tidak mau memberitahu kami, ya sudahlah. Sebentar lagi seisi kota akan tahu yang sebenarnya." Margareth berbalik sambil mengajak dua temannya untuk keluar dari toko.
"Ya, terserah lah. Yang penting bukan dari aku. Sampai kapan pun kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari aku. Pergilah.. Bergossip lah di luar jangan di tokoku.." Kata John sambil berteriak. Margareth keluar sambil membanting pintu. John mendengus sebal karena baru seminggu yang lalu ia memperbaiki pintu itu.
Susah payah Trudy menurunkan stoler dari bak belakang jeep, namun ia bersikeras. Aku akan menggunakan ini, jika tidak, untuk apa aku membelinya, katanya dalam hati. Seorang anak muda mendekatinya. Itu adalah Matthew McGregor, anak dari Rosalie dan Puck McGregor.
"Kau butuh bantuan, Trudy?"
"Oh, eh. Ya, tolong turunkan ini." Pemuda cekatan itu segera menurunkan stoler dengan gerakan yang cepat dan membuat letak berdirinya pas. "Terimakasih, Matt. Kau baik sekali pada nenek-nenek pemarah seperti aku." Matthew tersenyum kecil, "Aku senang membantu. Kau sudah seperti nenekku sendiri. Omong-omong, stoler untuk bayi? Kau ada bayi?" Tanya Matt dengan suara pelan, karena ia tahu semua warga kota senang dengan gosip. Dirinya tidak termasuk. Mungkin.
"Ya" Trudy mengangguk senang, "sini, coba lihat." Trudy menunjuk pada jok mobil. Demu melihat Matthew yang memasang wajah senang sepertinya, alih-alih menyuruh pemuda itu pergi, ia malah membuka pintu mobil dan menyuruh Matthew menggendong dan meletakkan bayi itu dalam stoler.
"Aku?" Tanya Matthew seraya tak percaya. Matthew nampak ragu. Bukan karena ia pun tahu bahwa Trudy Applewhite adalah nenek-nenek pemarah dan cerewet, tetapi karena ia ragu bahwa sudah lama sekali ia tidak menggendong bayi, terakhir ketika adik perempuannya, Erica, lahir, dan itu sudah dua belas tahun yang lalu. Entah apa dia masih bisa, dia lupa bagaimana caranya. Trudy membimbingnya. Matthew meraih kepala bayi dengan tangan kirinya, kemudian tangan kanannya tepat di b****g bayi, lalu angkat perlahan, Matthew mengikuti, Trudy memujinya dan mengatakan bahwa Matthew tidak perlu takut. Dengan pelan dibawanya bayi itu dan diletakkannya dalam stoler. Trudy tersenyum puas. Matthew mendapati dirinya merasa bangga.
"Anak baik, cepat lah selesaikan sekolahmu dan menikah. Berilah cucu untuk orangtuamu. Mereka mengharapkan itu, bukan?" Trudy menepuk lembut pundak Matthew. Kepala Matthew sedikit menunduk karena posturnya jauh lebih tinggi daripada Trudy. Matthew memeluk Trudy, seakan cucu laki-laki pada nenek kesayangannya. "Carikan aku gadis yang cantik secantik dirimu, Trudy." Goda Matthew, "kau tahu, bahwa omongan orang itu tidak benar. Mereka tidak tahu bahwa kau adalah orang yang baik." Lanjutnya lagi.
Trudy sontak menjauhkan kepalanya dan menatap Matthew lekat-lekat. "Kau dan warga kotamu tidak tahu apa-apa tentang aku. Kau dengar itu?" Trudy tiba-tiba marah dan Matthew sama sekali tidak kaget. Pemuda itu tetap memberi senyumnya pada punggung Trudy yang mendorong stoler bayi dan menenteng tas besar menghilang dari balik pintu geser bank. Dalam hatinya dia masih merasa senang dan bangga karena berhasil menggendong bayi, dan masih terpana karena hal itu. Sekejap kemudian Matthew sudah melaju dengan sepedanya dan mengecil jauh di tikungan jalan.
"Selamat pagi, Trudy. Ada yang bisa aku bantu?" sapa Christina Bowler. Seorang ibu tunggal dengan dua orang putra. Pagi itu ia bertugas di Customer Service.
"Aku mau setor uang." Jawab Trudy datar, tanpa melihat wajah si penyapa.
"Ok. Mari sini, " Christina mengambil selembar kertas slip setoran bank yang ada di mejanya, kemudian memberikannya pada Trudy. Nenek tua itu mengambil dengan kasar kemudian menulis sesuatu, huruf dan angka pada kolom-kolomnya kemudian menyerahkan kembali kepada Christina. Lalu Trudy menaikkan tas besar yang dibawanya sedari tadi ke atas meja. "Uangnya di dalam tas ." Dagu Trudy menunjuk pada tas besar itu.
Christina membaca kolom-kolom yang diisi Trudy lalu melihat ke arahnya.
"Kau habis menang undian, Trudy? Uangmu banyak sekali."
"Cerewet kau!! Cepat lakukan saja pekerjaanmu. Aku sudah mau pergi." Trudy mendengus kesal. Christina menarik napas panjang. Ia hanya ingin bersikap ramah. Ramah pada semua orang, termasuk Trudy.
"Baiklah. Tolong tunggu ya." Christina masuk ke bilik teller dan memproses uang Trudy.
Tiba-tiba pintu terbuka, masuklah beberapa orang yang sepertinya tidak akan melakukan transaksi bank karena tidak mengantri, tetapi malah mengerumuni Trudy yang sedang duduk sambil bersenandung. Trudy pun terkaget-kaget melihat begitu banyak orang sudah berdiri di depannya.
"APA..?" Tanyanya setengah berteriak sambil seraya berdiri dengan tegap.
"Katakan pada kami semua. Kau menculik bayi ini atau kau habis merampok atau keduanya benar?" tanya seorang pria kulit putih botak berkaus merah dan membawa tongkat yang sepertinya seumuran John Wood, yang disambut dengan dengungan gumam dari orang-orang yang berada di belakangnya. Trudy tidak jelas melihat siapa-siapa saja yang ada di sana.
"Tidak ada yang benar. Keduanya salah. Lagipula kalaupun salah satunya kulakukan, itu bukan urusan kalian. Pergi! Mengganggu saja." Trudy baru akan duduk kembali, tetapi wanita berbaju putih berambut ikal di belakang pria tua bertongkat tadi memberondongnya dengan kata-kata yang sangat dibencinya. Wanita itu mengatakan bahwa Trudy tidak bisa punya anak, jadi tidak mungkin untuk memiliki cucu. Lagi kata wanita itu, bahwa Ed, suami Trudy telah berselingkuh dan bayi itu adalah cucu gelap mereka. Saat itu sang bayi tiba-tiba menangis. Semua mata tertuju pada makhluk kecil hidup dalam stoler. Trudy berdiri mendorong kereta ke luar bank tanpa memperdulikan namanya diteriakkan. Ada kemarahan dalam langkahnya. Mereka tidak mengenal dengan baik Ed-ku, gumamnya dalam hati.
Pun saat Trudy tancap gas meninggalkan tempat itu kemarahannya belum mereda.
***
Malam itu, Trudy mendekap dan meninabobokan bayi itu.Ayunan kursi goyang yang didudukinya itu membuatnya tertidur.
"Kau bayi perempuan yang cantik, tertidur terus daritadi pagi. Ya, tidur lah. Tapi besok aku dengar tangisanmu. Rumahku sudah lama sepi. Hanya aku dan Mauli. Kau akan memberikan kebahagiaan buatku." Trudy memainkan pipi dan bibir kecil bayi itu.
"Omong-omong, namamu adalah Scarlett. Ya. Scarlett Applewhite." Bayi yang sekarang bernama Scarlett itu membuka sedikit matanya, nampak bola mata kecil biru dan senyum kecil mengembang di bibirnya, lalu tertidur lagi. Seperti menyetujui nama yang diberikan padanya. Trudy meletakkan bayi Scarlett di tempat tidur rotan yang ia keluarkan dari gudang. Tempat tidur itu ia dan suaminya, Ed persiapkan ketika masih menjadi pengantin baru. Sambil berharap dan berdoa supaya rahim Trudy cepat terisi. Namun hal itu tidak terjadi. Bertahun-tahun menunggu hingga akhirnya mereka lelah dan sadar umur mereka sudah tidak muda lagi. Mereka pun pasrah. Tempat tidur bayi dari rotan itu pun menjadi penghuni gudang di lantai bawah. Trudy dan Ed tetap bisa hidup bahagia berdua, hingga suatu ketika Ed menghilang ketika ia memancing di danau sendirian tengah malam. Beberapa hari kemudian orang-orang mengabarinya bahwa Ed telah dibakar hidup-hidup karena ada tuduhan bahwa ia seorang penyihir.
Saat itu Trudy merasa dunianya runtuh dalam semalam. Trudy tidak menyangka warga kota yang ia kenal baik sejak ia masih kecil berbuat sesuatu yang keji terhadap suaminya. Trudy tidak percaya bahwa itu adalah Ed. Tetapi tes DNA memastikan bahwa jasad terbakar itu adalah Ed. Trudy menuntut dan mencari keadilan untuk Ed sampai ke pengadilan negara bagian. Menurut warga bukanlah mereka yang melakukan itu, mereka sampai bersumpah dan meyakinkan Trudy bahwa itu adalah perbuatan sekte sesat dari luar kota. Namun, Trudy tidak mempercayainya sama sekali. Sejak saat itu Trudy hidup menyendiri dan menjauh dari keramaian kota. Ia berubah dari sosok wanita yang manis menjadi seorang yang pemarah, tidak pernah ramah, dan selalu ketus kepada orang, sampai pada masa tuanya. Trudy mengusahakan sendiri keperluannya. Ia menimbunnya di lumbungnya. Ia hanya ke kota sesekali, itu pun cepat pulang ke rumah karena merasa sesak karena semakin banyak orang yang dilihatnya semakin sesaklah dadanya.
Kini Trudy tidak sendirian. Ia punya Scarlett. Dan dia menyayangi bayi itu seperti darah dagingnya sendiri.
***