KB 2

1511 Kata
Satu tahun kemudian. "Wah awal bulan depan, Sagara Biru mau perdana launching film terbarunya. Kayaknya aku bisa dateng nih. Soalnya kan aku udah di Jakarta. Yes," gumam seorang gadis sambil mengepalkan tangannya dan berjingkrak-jingkrak gembira setelah membaca berita online dari ponselnya. Ia sangat tergila-gila pada aktor muda yang tengah populer bernama Sagara Biru. Semenjak Biru pertama kali muncul di layar kaca, hingga kini karirnya meroket, Ayka selalu setia mengikuti informasinya. Suara ketukan pintu dan diiringi suara seseorang meminta izin masuk membuat Ayka menghentikan kegiatannya yang sedang mengemasi pakaian. Gadis berusia delapan belas tahun itu beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu kamarnya. Seketika senyumnya mengembang melihat wajah teduh yang juga meyimpul senyuman tulus. "Ibu udah pulang?" tanya Ayka seraya meraih tangan ibunya untuk dicium. Sang empunya tangan hanya mengangguk. Lalu matanya langsung tertuju pada tas ransel milik putri semata wayangnya yang berada di atas tempat tidur. Sarah melangkah masuk ke kamar putrinya dan duduk di sisi ranjang. Wanita paruh baya itu menyentuh tas yang telah terisi beberapa pakaian. "Kamu jadi pergi, Neng?" tanya Sarah dengan tatapan yang sayu. "Iya Bu. Kan tadi malam kita udah obrolin bareng-bareng sama Bapak dan Kang Bagas juga. Tekad Ay sudah bulat. Ay yakin dengan impian dan khayalan Ay. Ibu jangan khawatir, yang penting Ibu doain Ay terus. Supaya Ay bisa sukses dan bahagiain Ibu sama Bapak," jawab gadis yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu. Sarah melipat bibirnya mendatar serta menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Tadi malam keluarga kecil ini sudah berembuk dan telah sepakat mengizinkan Ayka pergi merantau ke Jakarta. Sebatang kara dan tanpa sanak saudara, tentu saja keluarganya sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Ayka. Meskipun awalnya keinginan Ayka ditolak mentah-mentah oleh orang tua dan juga kakak sepupunya, tapi Ayka bersikeras dan meyakinkan mereka jika Ayka pasti bisa menjaga diriya. Bagas, kakak sepupu Ayka yang pertama kali luluh dan akhirnya mengalah. Bagas tahu betul sifat adik sepupunya ini jika sudah membulatkan tekad maka tak ada yang bisa menentangnya. Tapi meskipun Bagas sudah mengalah, Ayka masih butuh izin dari Sarah dan juga Wahyu. Ayka terus meyakinkan kedua orang tuanya itu agar merestui langkahnya. Sarah memasrahkan keputusan pada suaminya. Sedangkan Wahyu saat itu yang masih terlihat bimbang tiba-tiba saja beranjak dari duduknya. Dengan menggunakan bantuan kruk, Wahyu berjalan tertatih masuk ke kamarnya. Ayka yang terheran mencoba mencari jawaban dengan menatap pada ibunya. Tapi Sarah juga tidak tahu mengapa suaminya itu tiba-tiba saja pergi ke kamar saat pembicaraan belum selesai. Baru akan menyusul Wahyu ke kamar mereka, Sarah mengurungkan niatnya saat melihat Wahyu yang baru saja keluar kamar dengan membawa kantong kresek hitam ditanganya. Wahyu kembali bergabung. Namun kali ini ia duduk di sebelah putrinya dan meminta Bagas bergeser. Wahyu menyerahkan kresek hitam itu yang ternyata berisi uang dari pecahan ribuan dan juga puluhan dengan jumlah total satu juta rupiah. Uang itu Wahyu kumpulkan saat ia masih bekerja sebagai sopir angkutan umum sebelum kecelakaan nahas yang membuat dirinya kini lumpuh seumur hidupnya. Wahyu sendiri saat mulai mengumpulkan uang itu, ia tidak tahu tujuannya untuk apa. Ia hanya menabung saja. Beruntung ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk pengobatannya pasca kecelakaan itu. Sehingga, uang yang ia kumpulkan tidak habis untuk berobat. Hanya terpakai sedikit untuk modal istrinya berjualan. Seletah kecelakaan dan dinyatakan lumpuh, Wahyu tidak bisa bekerja lagi menjadi sopir angkot. Karena itu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mengandalkan Sarah yang berjualan lauk matang keliling. Sedangkan Bagas yang bekerja sebagai buruh di pabrik roti rumahan, menawarkan diri untuk menanggung keperluan sekolah Ayka yang saat itu baru saja duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Bagas sendiri adalah anak yatim piatu. Ibunya meninggal saat melahirkannya, sedangkan ayah Bagas, yang juga kakak kandung Wahyu meninggal saat Bagas berusia empat tahun. Jadi sedari kecil Bagas memang sudah diasuh oleh keluarga Ayka. Bagas pun memanggil Sarah dan juga Wahyu dengan sebutan ibu dan bapak, sama seperti Ayka. Wahyu menyerahkan uang itu untuk bekal Ayka ke Jakarta. Wahyu berkata jika uang ini tak seberapa, Wahyu juga menawarkan untuk meminjam uang pada tetangga untuk tambahan bekal Ayka di Jakarta. Ayka menolaknya. Ayka sendiri memiliki tabungan yang ia kumpulkan dari uang jajannya. Dengan begitu Wahyu memberi izin pada Ayka untuk merantau ke Jakarta. Ia berpesan untuk mencari tempat tinggal yang layak namun terjangkau. Dan berharap semoga Ayka cepat mendapatkan pekerjaan sesuai yang Ayka inginkan. Sarah mengakhiri ingatannya tentang obrolan bersama keluarganya tadi malam dengan mengelus lembut surai hitam milik Ayka. "Pasti Ibu doain kamu terus, Neng. Jadi besok kamu berangkat pagi-pagi? Diantar Bagas kan ke terminal?" "Iya Bu." *** Senyum yang merekah menghiasi bibir tipis berwarna merah muda alami milik seorang gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja lulus sekolah menengah atas. Ia merapikan rambutnya yang berterbangan karena sapuan angin yang masuk melalui celah jendela bus yang ia tumpangi. Lantas Ayka buru-buru memperkecil celah kaca jendela tersebut. Sengaja tak dirapatkan agar tetap ada udara segar pagi hari yang masuk. Ya, kini Ayka sudah dalam perjalanan menuju ibukota. Tadi pagi sekali Ayka diantar Bagas ke terminal dan tak lama bus langsung berangkat karena penumpang memang sudah penuh. Ayka duduk bagian pojok di bangku dua. Di sebelahnya duduk seorang bapak-bapak yang usianya kira-kira sebaya dengan ayahnya. Bapak tersebut terlihat ramah dan berkali terlibat percakapan ringan dengan Ayka. Bapak itu juga memberikan sepotong kue yang katanya sengaja istrinya bawakan untuk bekal diperjalanan karena ia tak sempat sarapan di rumah. Karena sudah sarapan, Ayka berusaha menolak secara halus. Namun bapak itu tetap memaksa agar Ayka menerima kue pemberiannya. Karena Ayka tak enak hati, akhirnya Ayka menerima kue tersebut. Dalam perjalanan, Ayka terus berdoa dan berharap bisa meraih kesuksesan dengan bermodalkan impian dan khayalannya. Salah satu khayalannya adalah bisa bertemu Biru. Meskipun mustahil dengan mudah Ayka bisa menemuinya, namun ia tetap optimis memupuk khayalannya itu. Malah dengan percaya diri, Ayka yakin jika suatu saat bisa bertatap muka secara langsung dengan aktor tampan itu. Apalagi Ayka berencana datang saat acara launching film terbarunya. Ayka yakin jika ia akan segera bertemu Biru, idolanya. Lama perjalanan dari desanya ke Jakarta kurang lebih menghabiskan waktu empat jam lamanya jika jalanan sedang tidak macet. Meskipun bukan termasuk ketegori bus eksekutif yang ber-AC, namun bus ini cukup nyaman. Ayka sangat menikmati perjalanannya hingga lama kelamaan ia tertidur. Saking terlena dalam lelap tidurnya, Ayka tidak menyadari jika bus yang ia tumpangi sudah berhenti di terminal tujuan. Para penumpang pun sudah turun. Sang kondektur yang melihat masih adanya penumpang yang tertidur segera membangunkan. Ayka adalah penumpang terakhir yang keluar dari bus tersebut. Ayka juga heran kenapa bapak-bapak yang duduk di sebelahnya tidak membangunkan dirinya dan memberitahu jika sudah tiba. Tapi sudahlah, ia tak ambil pusing dengan itu. Yang penting kini ia sudah tiba di Jakarta dengan selamat. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari ransel yang ia gendong untuk memberi kabar pada kakak sepupunya jika ia sudah tiba di ibukota. Setelah itu, Ayka mampir ke warung makan terdekat yang masih berada di sekitar terminal. Sambil menunggu mbak penjual makanan menyajikan makanan yang sudah dipesan, Ayka meletakkan tas yang ia bawa berjajar di kolong meja dekat dengan kakinya. Ayka memang membawa dua tas. Satu ransel kecil yang ia gendong berisi uang, ijazah sekolahnya, serta beberapa surat lamaran yang sudah ia persiapkan untuk melamar pekerjaan. Sedang satu lagi tas jinjing yang berisi pakaiannya. Sambil makan, Ayka berbincang dengan mbak penjual makanan. Ayka juga bertanya-tanya tentang daerah mana yang menyediakan tempat tinggal yang terjangkau. Sambil melayani pembeli, mbak itu menyarankan jika Ayka memilih tempat kost di sekitar kampus atau perkantoran. Karena daerah sekitarnya pasti banyak menyediakan tempat kost dengan berbagai harga yang sesuai fasilitasnya. Saat Ayka telah menyelesaikan makannya, Ayka berniat mengambil uang untuk membayar dari tas ranselnya yang berada di kolong meja. Namun yang mengejutkan, ransel yang ia cari tidak berada di tempatnya. Dua tas yang tadinya ia jajarkan di kolong meja dekat dengan kakinya itu telah menghilang salah satunya. Hanya ada tas jinjing yang berisi pakaiannya saja. Sedang ransel yang berisi uang dan ijazah sekolahnya raib begitu saja. Saat tadi ia sedang makan, memang ada dua orang yang mengapit di sisi kiri dan kanannya. Kedua orang tersebut juga membeli makanan di warung itu. Ayka tidak begitu memperhatikan karena ia fokus pada makannya dan juga obrolan bersama si mbak penjual. Ayka langsung lemas seketika mengetahui ranselnya hilang. Mbak penjual yang merasa simpati akhirnya menggratiskan makanan yang tadi Ayka makan. Ayka mengucap terima kasih lalu setelah itu ia keluar warung tersebut dengan langkah gontai. Ayka tak tahu mesti kemana. Haruskah ia kembali ke kampung lagi? Jika tidak, apa yang akan ia perbuat di kota sebesar ini tanpa perbekalan? Sambil menjinjing tasnya, Ayka berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan. Baru saja tiba di Jakarta, ketidakramahan ibukota langsung saja menyapa dirinya. Perdebatan batin yang memunculkan kegamangan dalam hatinya tentang langkah apa yang akan ia ambil setelah ini membuat pikirannya makin runyam. Ayka memutuskan untuk berhenti di sebuah halte. Ayka duduk terdiam dengan tatapan yang mengambang. Memikirkan apa yang harus ia lakukan. Uang yang harusnya cukup untuk sewa tempat tinggal selama sebulan dan juga untuk bekalnya bertahan hidup hilanglah sudah. Apalagi ijazah yang akan ia gunakan untuk melamar pekerjaan juga turut raib bersama uang miliknya. "Ya Tuhan, mengapa jadinya seperti ini? Lalu sekarang aku harus bagaimana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN