Wajah Lintang memerah mendengar pernyataan seorang polisi bernama Noni. Rasanya tidak mau dia percaya. “Ya, terserah kamu sih, mau percaya atau tidak.” Noni memainkan jari-jarinya di depan wajahnya, bersikap santai, lalu melanjutkan ucapannya, “Makanya kami kesulitan membuktikan keterlibatan Ajeng dalam kecelakaan itu. Alih-alih melibatkan Ajeng dan ingin dia dipenjara … membuat aku tertarik menyelidiki sendiri … dan malah ada fakta yang menyedihkan, ternyata orang yang sedari dulu licik tetap saja mempertahankan kelicikannya. Ah, aku sangat bersyukur telah bertemu Ajeng dan meminta maaf kepadanya, karena aku telah menginjak kue-kue dagangannya. Hidupku jadi tenang setelah meminta maaf.” Mata Lintang memanas, menatap tajam wajah Noni. Bukannya gentar ditatap tajam, Noni justri mendekatka

