Lintang menatap wajah Ajeng yang berseri-seri. Dia tahu Ajeng senang karena dia berhasil memuaskannya lewat tangan dan oralnya, berulang pula. Pasti perasaan Ajeng sangat bahagia malam ini. Dia juga sangat bahagia. “Hanya aku yang bisa kamu tampar dan pukul. Aku yakin kamu pasti nggak pernah memukul Mas Anung … meskipun dia telah menyakitimu, apalagi Pedro? Kamu nggak akan punya nyali memukul Pedro, seandainya dia jadi kekasihmu.” “Aku sudah menolaknya berkali-kali, Mas.” Ajeng merapikan rambut panjang Lintang dengan kesepuluh jarinya. Lintang tersenyum dalam hati, dia sudah mengira Pedro pasti menyukai Ajeng dan tidak malu mengungkapkannya. Ajeng lalu melanjutkan kata-katanya, “Mas mungkin benar, aku nggak akan berani memukul dan menampar selain Mas.” “Itu artinya aku spesial kan?”

