Lintang menepuk lembut perut kecil Ajeng. “Oh, anak?” delik Ajeng dengan senyum simpulnya. “Tunggu aja, Mas.” Sebelumnya Lintang juga sudah menyinggung soal anak, bahkan menginginkan tiga sekaligus seperti sahabatnya, Alaric. Ajeng membelai pipi Lintang dan menatapnya penuh kasih. Sedikit membandingkan dengan Anung dulu yang tidak begitu terlalu mengharapkan kehadiran buah hati, namun saat kehamilan pertamanya, Anung menunjukkan perasaan bahagianya. “Kalo nyatanya harus menunggu lama, Mas nggak masalah kan?” tanya Ajeng tiba-tiba. Dia tidak ingin Lintang berharap terlalu dalam, sehingga memungkinkannya merasa kecewa seandainya belum diberi anugrah seorang anak. Lintang menoleh ke arah Ajeng. “Nggak apa-apa, Jeng,” jawabnya disertai helaan napas panjang. Sepertinya dia masih juga mem

