Seketika suara-suara disekitarku menghilang dan hanya suaranya yang terdengar. "H..hai.." aku mengerjap gugup. Kak Drian mengangkat keranjang dan meletakannya di meja. Kemudian dia menatapku sambil mengulurkan tangannya. "Apa kabar Lex?" Dia tersenyum membuatku ingin menangis saat itu juga karena rasa rindu yang tiba-tiba menyerang membuat tenggorokanku tersumbat. "Baik." Suaraku menghilang entah kemana tapi aku yakin dia mendengar. Kak Drian masih menggenggam tanganku dan kami juga masih saling menatap. Kalau mata bisa bicara, sudah banyak kata yang terungkap sejak tadi. Aku berdehem sambil melepaskan tanganku. "Kapan datang dari Palembang?" Tanyaku basa-basi. "Semalam." Dia masih intens menatapku membuat pipiku terasa panas. "Oh.." aku menyelipkan helaian rambutku ditelinga untuk

