CHP. 06

1461 Kata
"Ouchh sakit kak. Pelan-pelan kenapa sih?" Gio hanya diam,tangannya sibuk dengan kapas dan alkohol. Luka di sudut bibir Rosie memang nggak seberapa parah tapi nampak jelas dan meninggalkan luka. "Ngak usah pake monyong-monyong gitu mulut lo! Minta di cium?" Geva mendelik, "Enak aja! Awas aja kalau kakak berani." "Siapa bilang gue takut," tantang Gio. Tangannya memegang dagu Rosie dan mengangkatnya sedikit membuat cewek itu terbelalak shock dan menutup mata saat Gio mulai mendekatkan wajahnya. Selang beberapa menit tidak terjadi apa-apa membuat Geva membuka mata dan menemukan tatapan geli Gio di sana. "Ngarep juga lo gue cium." Reflek, Geva yang duduk di atas ranjang uks dengan Gio yang berdiri di hadapannya membuatnya bisa menendang kaki cowok itu keras. Gio mendesis, "Dasar lo ya!!!" "Biar rasa. Jahilnya ngak lucu." "Kalau lo sampai salah tendang, beneran gue cium lo sampai mabok." Geva ternganga horor. Gio berdecak dan kembali menarik wajah Geva dan mengobati lukanya. Geva hanya bisa diam pasrah dengan wajah gugup. Sejak tadi dia memang sudah berdebar nggak karuan. "Kak ?" "Hmm." "Kenapa nggak jadian aja sama nenek lampir itu, biar dunia tenang nggak lihat amukannya dia." "Lo ngorbanin gue." Geva meringis saat Gio menempelkan kepas alkohol itu di lukanya, "Ya nggak apa-apa demi kebaikan semua umat." "Gue nggak doyan cewek kayak dia." "Hah!!! Kakak nggak doyan cewek?" Mata Geva membulat membuat Gio menekan kapas itu hingga Geva mengaduh. "Kalau ngomong jangan suka asal." Geva cemberut, "Habisnya kakak aneh. Semua cowok di sini pada ngarep jadi pacarnya dia. Kak Gio malah nggak mau sama dia." "Itu tandanya gue nggak kayak cowok kebanyakan." "Iya sih. Kak Gio aneh." Gio langsung noyor jidat Geva dan membersihkan kapas yang berserakan untuk dibuang di tempat sampah tidak jauh dari sana. Belum cukup sampai di situ, Gio duduk di kursi plastik yang di sediakan dan tanpa perlu meminta izin langsung mengangkat kedua kaki Geva hingga berada di pangkuannya membuat Geva langsung mendelik. "Kak Gio mau ngapain?" pekiknya. "Lo diem aja!" Geva berusaha menarik kakinya tapi susah karena cekalan tangan Gio di sana yang melepas paksa kedua sepatunya dan kaos kakinya memperlihatkan luka yang mulai mengering itu tapi tetap mengerikan wujudnya. "Ini luka kenapa nggak lo obatin yang benar sih!" "Cuma segitu doang juga kak. Nanti juga hilang sendiri." Gio menggertakkan giginya tapi tidak mengatakan apapun lagi. Geva menurut diam dan memperhatikan Gio yang mulai membersihkan lukanya dan memberinya obat merah di sepanjang luka yang masih cukup perih itu. Setelah selesai , Gio mengambil perban dan melilitkan ke sekeliling kaki Geva dengan cekatan. Geva diam terkesima. "Kak Gio nggak lagi mabok kan?" Gio mengangkat wajahnya, "Maksud lo ?" "Kok baik banget sama Geva." Gio tidak menjawab, sibuk menyelesaikan perbanan kaki Geva satunya kemudian memakaikan lagi kaos kaki dan sepatunya seperti semula lalu berdiri dari duduknya. Dipandanginya Rosie sesaat dengan perasaan yang sulit diartikan. Gio sama sekali nggak tahu kenapa bisa bersikap seagresif ini tapi dia harus tetap melakukannya kalau tidak mau terus-terusan gusar. Gio paling benci dengan perasaan tertekan seperti itu. "Jangan buat masalah lagi. Gue akan ngomong sama Chelsea tentang hal ini dan lo sebagai ucapan terima kasih harus nurut apa yang gue bilang. NGERTI?" "Memangnya Chelsea bisa ditenangin gitu aja. Dia pasti bakalan nemuin Geva lagi kak. Lagian kakak mau ngomong apa sama dia?" Gio tersenyum, "Elo diam aja dan nggak usah bawel. Sebentar lagi Selly ke sini karena gue masih ada urusan. Pokoknya ingat Rosie, ikutin apa kata gue!!" "Isshhh kak Gio sok misterius." Gio menghela napas. Menatap Rosie sesaat memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja setelah dia tinggal lalu berbalik dan pergi keluar dari ruang uks. Geva menggelengkan kapalanya sesaat lalu menarik napasnya seraya memegangi area dadanya merasakan jantungnya berdebar yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Apa artinya ini ? *** Nino berdiri di belakang Gio di samping Septa dan Aries berhadapan dengan Chelsea dan ketiga temannya yang lain di area belakang sekolah. Chelsea tetap menatap Gio dengan pandangan penuh cinta yang sudah dia rasakan sejak awal sekolah saat pertama kali mengikuti MOS dan merasakan kebaikan cowok itu. Sejak saat itu, sekolah bagi Chelsea hanya untuk bertemu dengan Gio dan memandanginya dari kejauhan. Selama ini sudah berkali-kali Chelsea mengatakan kalau dia sangat menyukai cowok itu tapi Gio hanya menganggapnya teman tidak lebih dan nggak pernah sekalipun memberikan harapan kepadanya dan juga cewek manapun yang terang-terangan menyukainya. Gio itu sempurna bagi Chelsea. Cowok penuh kebaikan walaupun di luar dia bersikap urakan seperti suka sekali membolos, berkelahi atau menjadi pemimpin tawuran antar sekolah. Selama ini Chelsea merasa tenang-tenang saja walaupun Gio mengacuhkannya karena cowok itu lebih memilih untuk sendiri. Ditambah kenyataan kalau Chelsealah sekarang yang berkuasa di sekolah. Tidak ada satu orang pun yang berani melawannya. Tidak ada satupun, kecuali Gevancia. Chelsea membencinya karena sikapnya yang berani juga telah berhasil mengambil fokus Gio yang selama ini tidak pernah berhasil di lakukannya. Geva pantas untuk dia benci  karena telah merebut Gio darinya.Chelsea akan memastikan Geva menerima akibatnya. "Chelsea, jangan lagi elo berbuat ulah kayak tadi." Gio berusaha berbicara baik-baik dengan cewek itu karena tahu Chelsea sedang emosi saat ini akibat dari perkelahiannya tadi dengan Rosie. Chelsea terlihat mengepalkan tangan dengan wajah datar menatap Gio dengan tatapan terluka, "Kenapa harus cewek nggak jelas seperti dia. Gue lebih cantik dari pada dia, Gio." Gio hanya tersenyum tipis, "Sejujurnya gue nggak tahu kenapa harus dengan cewek itu. Gue hanya nggak mau hubungan pertemanan kita putus." Chelsea tersenyum miring, "Lihat gue Gio. Gue lebih cantik dari dia, gue lebih segala-galanya dari dia tapi kenapa lo sama sekali nggak bisa ngasih gue kesempatan?" "Hati nggak bisa dipaksakan Chel. Gue akui lo memang lebih dari segala-galanya tapi gue tetap nggak bisa nerima lo. Gue yakin , di luar sana lebih banyak cowok yang lebih baik dari gue buat lo." Nino memandangi lekat Chelsea yang sejak awal menganggapnya tidak ada. Mengabaikannya seperti yang selama ini dia lakukan. Chelsea menggelengkan kepala, "Apa lo nggak tahu apa yang udah gue lakuin buat narik perhatian  lo? Apa lo nggak bisa ngelihat hal itu sedikit aja, Gio." "Maaf." Gio mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Selama ini dia berusaha mengabaikan semua hal yang Chelsea lakukan, bukan karena dia cowok kejam tapi lebih karena dia merasa bahwa bukan Chelsea seseorang yang bisa berada di hatinya yang selama ini dia tutup rapat. Gio nggak mau memberikan harapan palsu hingga membuat cewek itu semakin gencar mendekatinya dan akan terluka ketika Gio berkali-kali mengatakan tidak atas semua penyataan cinta cewek itu. Gio nggak mau jadi b******k, karena baginya menyakiti hati perempuan sama saja dengan menyakiti hati mamanya. Gio tidak bisa memaafkan dirinya sendiri untuk hal itu karena selama ini Mamanya yang dia perdulikan. Semenjak Papanya tidak pernah lagi pulang ke rumah. Dan saat ini ada tambahan satu nama, Gevancia Rosiebell. "Gue benci cewek itu." Gio tersentak dan menyimpitkan mata dengan ekspresi keras, "Dia nggak ada hubungannya dengan ini Chel. Dari awal kita kenal dan berteman selama ini elo tahu kalau gue memang nggak bisa nerima lo dan semua ini bukan karena Rosie." Chelsea tertawa sambil menahan linangan air matanya, "Dia sudah ngambil elo dari gue. Dia cewek nggak jelas yang masuk sini cuma modal beasiswa doang bisa sampai lo belain segininya. Gue ngak terima!!" Gio mengertakkan giginya tahu kalau ini nggak akan pernah berakhir baik. Chelsea maju sejajar dengan Gio walaupun cewek itu hanya sampai sebahunya dengan mata berkaca-kaca dan melirihkan bisikan yang menyayat Gio sedemikian rupa. "You hurt me,Giovani." Gio mengepalkan tangan dan membuang pandangannya tidak bisa melihat derai air mata itu tepat di depan wajahnya dan Gio sama sekali tidak punya keinginan untuk menghapus air mata itu, pikirannya kacau dan bayangan Mama serta Rosie yang ada di kepalanya. s**l!!! "Gue akan buat perhitungan sama Geva karena elo. Dia harus ngerasain rasa sakit hati gue." Gio menoleh cepat dengan wajah keras, "Nggak! Lo nyentuh Rosie, lo berhadapan sama gue." Chelsea tertawa sarkas seraya mengusap air matanya masih dengan perasaan terluka, "Lo bahkan langsung pasang badan. Luar biasa Geva yang sudah buat lo sampai seperti ini. Gue penasaran apa sih lebihnya tuh cewek di bandingkan gue." "Chelsea, gue peringatkan!!!" "Gio, lo nggak bisa menghentikan gue." "Bisa karena gue juga berkuasa di sini." "Tapi dia bukan pacar lo." "Mulai detik ini dia resmi jadi pacar gue." Tegas dan tidak bisa di bantah rentetan kalimat yang baru saja Gio ucapkan lantang di depan Chelsea atas keputusan sepihaknya membuat semua yang ada di sana langsung terkesiap kaget. Nino yang sudah lebih lama mengenal Gio hanya bisa menghela napas. Septa serta Bima menyunggingkan senyum tipis tahu bahwa ini barulah awal. Awal dari sebuah drama kacangan yang akan mereka mainkan tapi mereka tetap akan berdiri di belakang Giovani mendukung apapun keputusan cowok itu. Chelsea ternganga mendengarnya. Setelah bisa terlepas dari keterkejutannya dia memandang sengit Gio. "Kita lihat saja nanti." Kemudian, cewek itu berlalu dengan membawa serta patahan hatinya setelah mendengar keputusan sepihak Gio barusan. Gevancia harus menerima akibatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN