Geva terbangun mendapati tubuhnya terasa sakit semua. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit di atasnya berwarna putih dan bau rumah sakit menyeruak ke dalam indra penciumannya. Geva mengerjapkan matanya sesaat lalu menyentuh wajahnya yang masih nyeri. Teringat dengan apa yang telah terjadi.
"Mereka bisanya keroyokan!" dengusnya sebal, "lihat aja nanti kalau gue sudah bisa ngelawan mereka. Gue kasih wajahnya bogem satu-satu."
Geva lalu merasakan haus menderanya. Duduk dengan agak susah payah dan mengambil gelas berisi air putih di sampingnya dan meminumnya seraya menyapukan pandangan ke segala penjuru ruangan. Hening banget kayak nggak ada orangnya.
Lalu tatapannya jatuh pada satu sosok di atas sofa panjang yang nampak sedang teridur pulas hanya memakai celana jeans panjang dan baju tanpa lengan warna hitam membuat mata Geva terbelalak maksimal. Reflek Geva menyemburkan minumannya dan tersedak hingga sosok itu terbangun dan balik menatapnya.
"Kak Gio ngapain bobo di situ?" sembur Geva setelah berhasil meredakan batuknya.
"Nungguin lo lah. Ngapain lagi memangnya?"
"Ngapain nungguin Geva?" tanyanya b**o. Gio menghela napas, mendekatinya dan duduk di kursi samping ranjang rumah sakit memandangi Geva dengan tatapan lo-itu-b**o-atau-d***o-sih.
"Ahh, Geva tahu. Kak Gio merasa bersalahkan?"
Gio tersenyum tipis. Bukannya menjawab cowok itu malah bangkit dan duduk di sampingnya di atas ranjang rumah sakit dan menarik kepalanya hingga bersandar di dadanya dan memeluknya menenggelamkan wajah Geva di sana yang sudah seperti kepiting rebus dengan jantung yang berdetak melebihi batas normal. Seumur hidupnya Geva belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang menganggap Geva special. Selama ini Geva selalu sendirian dan ini merupakan sesuatu yang asing tapi menenangkan.
"Gue minta maaf."
Geva hanya diam karena terhanyut dengan irama detak jantung Gio yang juga sangat cepat itu. Seperti tersadar Geva lantas menjauhkan kepalanya dan memberi jarak mereka dengan rentangan tangannya dan menatap Gio dengan muka sangar.
"Ini karena omongan nggak masuk akal kak Gio."
Gio mengerjapkan matanya dengan wajah heran, "Omongan nggak masuk akal?"
"Iya. Ngapain sih sampai bilang kalau kita itu pacaran segala. Mereka semua jadi salah sangka. Kalau kak Gio mau buat kak Chelsea cemburu , jangan Geva dong dijadikan tumbal."
Gio terdiam belum sepenuhnya paham, "Lo ngomong apa sih?"
"Ngomongin fakta."
"Fakta versi lo sendiri."
Geva menyimpitkan mata, "Terus maksud dan tujuan kak Gio ngomong gitu apa? Nggak pake permisi lagi asal nyablak aja."
Gio mendengus sebal tahu kalau cewek yang dihadapannya ini punya cara pikir yang rada aneh, "Oke,gue memang salah karena nggak minta izin lo dulu tapi apa yang gue omongin itu serius Rosie."
"Imposibble. Nggak bisa di percaya !!" pekik Geva lebay.
"Bagian mana yang nggak mungkinnya sih?" Rasanya kalau Geva nggak lagi sakit, Gio sudah pasti bakal ngemek-ngemek nih cewek kayak tringgilng. Sangking gemasnya.
"Bagian dari kalimat kalau kita pacaran. Itu kan nggak mungkin. Ibarat kayak nyatukan kutub utara dan kutub selatan yang saling bertolak belakang. Nggak usah ngawur deh kak."
Gio menggeram kesal, "Lo sebenarnya cewek bukan sih? Biasanya kalau cewek di ajak pacaran sama cogan pasti bakalan histeris senang terus sujud syukur. Lah elo malah buat pengandaian yang nggak jelas."
Geva mengerjapkan matanya, "Kak Gio doyan nonton sinetron ya?"
"Nggak lah."
"Suka baca novel teenlit ala-ala badboy jatuh cinta sama cewek biasa?"
"Ya nggak juga lah."
"Kak Gio kebanyakan ngayal ya?"
"Lo itu ngomong apa sih!!!"
"Ah Geva tahu, kak Gio kebanyakan nonton film ena-ena ya?"
"Nga-" Gio terdiam.
"Nah kan mukanya ketahuan banget. Dasar ya cowok."
Gio sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Ditariknya hidung Geva keras dan kencang sampai cewek itu menjerit minta di lepaskan.
"Gue cuma mikir, hubungannya pertanyaan lo itu apa sih?"
"Nggak ada kak cuma ngetes doang," Geva nyengir. Gio menghela napas lalu beranjak berdiri mengarah ke nakas samping ranjang mengambil satu nampan makanan yang masih hangat karena baru saja di antarkan. Bubur dan teman-temannya yang rasanya pasti hambar.
"Euuuhh, Geva nggak mau makan itu."
"Nggak usah bawel."
Geva menarik nampan itu supaya bisa memakannya sendiri tapi Gio sama sekali tidak melepaskannya sampai cowok itu duduk lagi di hadapannya dan satu-satu mulai membuka plastik pembungkusnya. Geva hanya diam memperhatikan.
Gio terlihat lelah tapi lebih tampan dari biasanya. Tonjolan-tonjolan di area lengannya walaupun ngak segarang otot mas-mas yang biasa nge-gym di dekat komplek perumahannya tapi tetap kesan machonya dapat. Geva berdecak dan menggerutu dalam hati.
Bagaimana bisa cowok ini dilahirkan sempurna dari sifat baik yang dimilikinya dan pesona yang melekat pada dirinya. Geva jadi pengen kenalan sama mamanya Kak Gio.
"Jam berapa sih ini ?" tanya Geva setelah sadar kalau dia belum mengajukan pertanyaan yang seharusnya sudah dia tanyakan dari tadi.
"Jam sebelas malam," gumam Gio. Tangannya dengan cekatan menyendok bubur dan sop itu lalu menyuapkannya ke Geva yang awalnya menggeleng sambil menutup rapat mulutnya tapi langsung dipelototin sangar hingga terpaksa membukanya dan menerima suapan Gio.
"Kurang michin," gumamnya sambil mengunyah.
"Kerja otak lo lambat karena kebayakan ngemilin michin."
"Enak aja!" Geva mendegus lalu kembali membuka mulutnya.
"Ini nanti siapa yang bayar rumah sakitnya? Kenapa nggak bawa Geva ke puskesmas aja kak yang agak murah dikit."
Gio mengalihkan tatapannya dari bubur dengan tatapan tajam membuat Geva bungkam, "Lo nggak usah cerewet. Cukup lo makan terus habis itu tidur istirahat biar cepat sembuh."
Geva terdiam memperhatikan wajah khawatir Gio di sana dan tersenyum tipis. Gio kembali sibuk dengan makanan Geva dan menyuapi cewek itu sampai makanan di sana habis tidak bersisa. Gio berdiri dan menatap lekat Geva, "Lo tanggung jawab gue karena gue sama sekali nggak bisa ngehubungin ayah lo. Jadi jangan macam-macam dan nurut apa kata gue."
Geva terdiam dan merasakan sakit di hatinya. Sudah beberapa hari ini ayahnya tidak pulang membiarkan Geva tidur sendirian di rumah itu.
"Kenapa kak?"
Gio yang sudah akan berbalik menoleh ketika mendengar suara lirih itu. Dilihatnya Geva memeluk kedua lakinya yang dilipat dan meletakkan kepalanya disana.
"Apanya?"
"Kenapa kak Gio ngelakuin ini semua buat Geva?"
Gio hanya bisa tersenyum, "Karena omongan gue , lo jadi begini."
Geva tersenyum tipis. Rasanya mustahil akan mendengar Gio mengatakan kalimat kalau dia melakukan ini karena suka sama Geva karena bagaimanapun mereka berbeda. Bagai langit dan bumi yang kelihatannya dekat tapi sebenarnya jaraknya begitu jauh. Geva seharusnya tidak boleh berharap apa-apa.
Gio meletakkan nampan itu di tempat semula lalu melihat keterdiaman Geva yang jarinya memainkan ujung rambutnya seperti sedang sibuk memikirkan sesuatu. Gio harus merasa yakin dulu kalau memang apa yang dia rasain untuk Rosie pantas di sebut dengan rasa cinta walaupun kemungkinan itu begitu besar.
Gio kelabakan dan tidak tenang memikirkan segala hal tentang Rosie. Segala sesuatu tentang cewek itu seperti menariknya masuk lebih jauh padahal cewek itu tidak melakukan apa-apa untuk menarik perhatiannya. Dia berbeda dengan caranya sendiri dan Gio mendapati dirinya semakin menginginkan masuk ke dalam hidup Rosie.
Apalagi tentang segala hal yang diucapkan Rosie tadi siang saat dalam keadaaan setengah sadar. Gio harus mulai mencari tahu, hidup seperti apa yang selama ini Rosie jalani.
"Gue tidur di sofa nemenin lo malam ini. Tadi Selly ngusulin kalau dia aja yang nginap buat jagain lo tapi gue tolak. Lo tanggung jawab gue dan gue akan membereskan kekacauan ini."
"Sekolahnya kak Gio?"
Gio bersandar pada nakas dan melipat kedua lengannya, "Gue sudah biasa bolos sebenarnya tapi besok dari sini gue langsung ke sekolah. Ada segerombolan cewek sok jagoan yang harus diberi pelajaran."
Geva tersentak dan menegakkan punggungnya, "Kak Gio tahu pelakunya ?"
"Tentu aja." Gio tersenyum lalu mendekat ke Rosie dan memegang kedua bahunya dan merebahkannya dengan lembut lalu menarik selimut putih itu sampai ke atas.
"Nggak ada yang bisa lolos dari kejaran gue karena sudah buat lo babak belur kayak gini."
Geva menatap mata coklat karamel itu dengan intens. Gio terlihat menghela napas, "Kata dokter lo punya banyak luka memar. Sebenarnya lo ini kenapa sih bisa kayak gini?"
Geva mengalihkan tatapannya, "Selamat malam ka, Geva tidur ya. Ngantuk."
Gio hanya diam melihat Geva memiringkan badannya membelakangi dan menutup matanya dan membiarkan saja kapalanya penuh dengan tanda tanya. Akhirnya dia berbalik ke tempatnya semula untuk tidur. Dia rebahkan badannya dan menatap langit-langit kamar inap itu dengan pandangan menerawang, "Mulai besok lo resmi jadi pacar gue. Nggak ada bantahan atau penolakan."
Geva mendadak membuka matanya karena mendengar seruan itu tapi mulutnya terlalu kelu hanya sekedar untuk membantah perkataan Gio sampai cowok itu kembali berbicara.
"Sleep tight, Rosie."
Geva merasakan jantungnya kembali berdebar dengan kencangnya saat ini. Apa dia pantas mendapatkan perhatian yang begitu besar dari seorang cowok yang tidak pantas mendapat julukan badboy itu ?
Geva berharap jawabannya pantas walaupun kenyataannya tidak seindah itu.
***
Gio keluar dari ruangan kepala sekolah dengan senyuman mengembang di wajahnya yang langsung di sambut oleh dua sohibnya.
"Gimana?"
Gio menepuk pundak Bima yang mendekat, "Beres. Mereka sudah di skorsing , yah walaupun gue lebih senang kalau mereka semua di keluarkan tapi ya udah deh."
"Udah lo ancam belum mereka? Jangan sampai selesai skorsing mereka balik lagi ngeroyokin Geva." Septa berjalan di sebelah Gio mengarah ke lapangan basket yang sedang di padatin oleh seluruh murid karena sedang di adakan senam mingguan setiap hari jumat.
"Udah lah. Urusannya sama gue kalau mereka macam-macam sama Rosie."
Septa dan Bima mengangguk bersamaan. Sampai di ujung koridor dilihatnya Nino dan Selly berjalan ke arah mereka. Selly yang melihat Gio langsung berlari mendekat.
"Ka, Selly pulangan ini boleh ngelihatin Geva kan?"
Gio mengangguk, "Boleh. Yang lainnya juga mau jengukin dia." Gio menoleh ke Septa dan Bima.
"Gue juga ikutan kalau gitu." Tiba-tiba Nino ikutan berbicara. Gio menatap tajam Nino. Selly berbalik dan tersenyum, "Wah, kalau kak Nino ikut, Geva pasti senang banget."
Nino mengangkat sebelah alisnya mendengar seruan Selly masih memandangi Gio yang langsung pasang wajah ready to war di hadapannya.
"Nino nggak usah ikutan."
Semuanya serempak menoleh ke Gio dengan tampang heran sampai Septa bertanya, "Lah, dia kan cuma mau jengukin doang ?"
Gio melangkah mendahului melewati Nino yang berusaha menahan tawanya, "Lo cukup bantu dengan doa aja biar dia sembuh nggak usah ikutan jenguk."
Septa dan Bima kompak tertawa membuat Selly mendengus sebal dan Nino yang berdecak, "Posesif lo itu tingkat dewa banget ya."
Gio langsung melangkah meninggalkan derai tawa mereka menuju ke lapangan dengan tampang masam. Keempatnya lalu mengikuti langkah Gio yang sudah menjauh menuju ke lapangan karena ada sesuatu hal yang akan di lakukan Gio di sana.
Saat guru-guru sudah kembali ke ruangan mereka, Gio mengambil kesempatan itu untuk maju dan mendominasi. Auranya tidak bisa dilawan. Sebagai seseorang yang di segani di seluruh sekolah karena aksi heroiknya dalam membela nama sekolah juga segala kelakuan Gio yang membuat mereka tidak akan melawan atau membantah semua perkataan cowok itu termasuk kakak kelasnya.
Semua warga sekolah langsung menatap ke satu fokus yang berdiri di atas mimbar setelah guru yang bertugas di sana tidak ada.
"PERHATIAN SEMUANYA!!!" Katanya seraya mengedarkan pandangan. "Kemarin ada segerombolan cewek sok jagoan hingga terjadi adu keroyokan yang menyebabkan cewek gue, Gevancia harus masuk rumah sakit," ucapnya tajam. "Gue paling nggak suka dengan hal-hal yang kayak gini."
Ditatapnya seluruh siswa yang langsung bungkam karena memang informasi itu sudah menyebar dengan dahsyatnya.
"Gue cuma mau peringatkan. Kalian sentuh Gevancia, kalian akan berhadapan sama gue. Ingat itu!!!"
Setelah merasa behwa mereka mendengarkan peringatannya, Gio langsung turun dan berlalu dari sana bersama Septa, Bima dan Nino meninggalkan suara dengungan dari seluruh siswa yang kaget dengan apa yang dikatakan Gio.
"Gila!! Jadi semua ini memang beneran?" Duo gendut yang berdiri di sebelah Selly nampak takjub. Selly tersenyum, "Sebenarnya Geva belum setuju apa-apa sih. Ini semua keputusan sepihak kak Gio tapi mereka memang pacaran sekarang."
Alexa ikutan nimbrung, "Buset, mimpi ketiban apa si Geva dapat jackpot gini."
"Jakpot atau kesialan?" Duo gendut menyahut bersamaan.
Alexa nyengir, "Satu paket. Memang siapa sih yang nggak mengidolakan Gio, wajar kalau sampai fansnya ada yang bertindak anarkis kayak gini tapi toh dia juga yang selesaikan dengan cara gentle. Gue ngiri berat sama Geva."
"Sama."
Duo gendut, Selly dan Alexa langsung tertawa bersama seraya kembali ke dalam kelas mereka bersamaan dengan murid yang lain yang bubar dengan kasak kusuk di sana sini.
Gio yang sudah kembali bersama ketiga yang lainnya ke kelas langsung duduk di bangku masing-masing.
"Tampang mereka semua pada shock berat waktu lo ngomong tadi," kekeh Septa.
Gio yang menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan merebahkan punggungnya di sandaran kursi hanya bergumam, "Kaget kenapa?"
Bima berdecak, "Lo nggak lihat wajah ciwi-ciwi angkatan kita dan di atas kita ngelihatin lo dengan pandangan terluka. Mereka jelas patah hati."
"Ya urusan mereka lah ngapain gue musingin itu."
Septa berdecak, "Lo memang kadang bisa begitu menyebalkan. Mereka jelas kagetlah. Selama ini lo sama sekali ngak kelihatan dekat dengan cewek manapun kecuali Chelsea yang memang terang-terangan ngejar lo dan sekarang lo buat pengumuman yang bikin jantung mereka langsung amblas."
Bima menyahut, "Gue bahkan bisa melihat retakan-retakan cinta yang terjadi tadi. Kayak hari patah hati nasional saat Raisa sama Hamish Daud tunangan dan sekarang sudah sah."
Bima , Septa dan Nino tertawa membuat Gio mendengus, "Lebay amat!!!"
"Gue yang akan mewakili semua orang untuk bertanya," Nino akhirnya buka suara membuat ketiganya menoleh ke arahnya. "Kenapa Gevancia Rosiebell?"
Septa dan Bima manggut-manggut dan kembali menoleh ke Gio yang sudah merubah posisinya menghadap ke arah mereka.
"Nggak tahu sih. Gue cuma punya satu penjelasan yang beberapa hari ini nangkring di kepala gue terkait Rosie."
"Apaan?" Tanya Bima.
"Gue pengen ngelindungin dia."
Septa, Bima dan Nino sontak terdiam sampai Septa menyadarkannya, "Elo bukan superhero, Giovani. Setiap orang pasti punya masalah."
"Elo nggak lihat apa yang gue bisa lihat. Ini sesuatu yang lain dan cewek aneh itu juga semakin buat gue penasaran setengah mati setengah gila."
Nino menaikkan alisnya, "Cewek aneh ?"
Gio mengangguk seraya mengambil ponselnya yang bergetar di saku celananya, "Rosie berbeda." Katanya sebelum mengangkat teleponnya.
"Halo Mam?"
Gio terdiam sejenak di sana ketika mendengar rentetan kata-kata Mamanya yang memang Gio minta untuk menemani Geva saat cewek itu di rumah sakit yang sempat di sambut dengan teriakan lebay dan pelukan mamanya yang berlebihan. Mamanya bilang, "Akhirnya , anak Mama normal kayak anak SMA kebanyakan yang mulai main cinta-cintaan."
"Oke Mam. Nanti Gio cari."
Gio menatap ketiga temannya dengan tangan yang memijit pelipisnya mendadak pusing lalu mengacak rambutnya.
"Kenapa?" tanya Nino.
"Rosie."
"Iya Geva kenapa?"
"Gue udah wanti-wanti dia supaya nggak kemana-kemana karena Mama gue yang akan nemenin dia di sana selama gue sekolah. Eh sekarang dia udah nggak ada di kamar inapnya ninggalin surat kalau dia pulang. Ngeselin ngak sih tuh cewek?"
Mereka bertiga langsung menggelengkan kepala.
Gio berdiri dengan tampang kusut, "Padahal sudah gue ancem tuh anak."
"Ngancem lo gimana?"
Gio memakai ranselnya dan menoleh sesaat, "Gue ancem aja kalo dia ngabur dan nanti kalau ketemu gue. Gue cium dia sampai pingsan. Kayaknya tuh anak perlu di kasih sedikit demontrasi kalau ancaman gue nggak cuma bercanda. Gue cabut."
Gio langsung berbalik pergi meninggalkan ketiganya dengan tampang bengong sampai menghilang di pintu kelas. Ketiganya menghela napas lelah dan geli di saat yang bersamaan. Cowok badboy idola sekolah yang baru aja merubah status jadi in relationship bisa bikin segini banyak drama tapi biar bagaimanapun mereka senang, akhirnya Gio bisa menemukan apa yang selama ini ditunggunya. Kehadiran sosok Gevancia Rosiebell yang ketiganya tahu dengan pasti kalau Gio begitu menyukai cewek itu walaupun dia belum mengakuinya secara gamblang.
Dan mulai sekarang mereka tahu kalau fokus Gio akan sepenuhnya pada Rosie.
***