CHP. 01.02

2032 Kata
"TEMAN-TEMAN, SILENT PLEASE!!!" Geva melepas earphone yang dipakainya sejak mengetahui guru bahasa inggris mereka, Ms. Ayunda berhalangan hadir untuk mengajar kelas terakhir hari ini dikarenakan sakit saat ketua kelas mereka, Subejo, cowok tinggi hitam manis berambut kriwil asli jawa itu berdiri di depan kelas dengan senyuman lebar. "Apaan sih lo,Jo?" Alexa, cewek tomboy yang duduk di depan Geva berteriak kesal. Selly yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri menoleh dan menyenggol lengan Geva, "Ada apaan sih?" Geva menggeleng, "Enggak tahu juga. Ada pengumuman penting mungkin." Subejo nampak kewalahan menghadapi rentetan pertanyaan bernada kesal yang diajukan hampir semua teman sekelasnya. "Makanya toh diem dulu, iki piye mau ngasih tahu kalau sampean semua pada berisik ribut bikin pusing!!" Geva terkekeh geli mendengar logat dan bahasa medok Subejo. Alexa menyahut, "Woiii Subejo cowok Jowo nan manis seperti kecap asin, gue bawanya kamus bahasa inggris bukan bahasa jowo. Kalau ngomong yang bener toh, enggak usah sok-sok ke bulek jawa-jawaan gitu." Seisi kelas langsung tertawa membahana membuat Subejo manyun dan menatap kesal Alexa. "Oke langsung keintinya sebelum mereka datang," ucapnya lantang membuat seisi kelas hening. Geva ikut terdiam karena penasaran dengan maksud kata "mereka" yang tadi di katakan Bejo. "Jadi gini temanku semuanya yang kucintai. Kebetulan kelas kita kosong, kakak kelas kita masing-masing perwakilan eskul Renang, Basket, Cheers dan Taekwondo akan datang ke sini untuk mencari anggota baru. Formulir yang kalian isi saat mengikuti MOS." Bisik-bisik kembali terdengar. Geva langsung merinding disko karena teringat dengan kejadian di kantin tadi siang dan menoleh ke Selly yang bertopang dagu. "Duh Sell, mampus gue! Pasti bakalan ada kak Chelsea nanti. Gue harus gimana dong?" Geva setengah panik. Hal terakhir yang diinginkannya saat ini adalah bisa menjauh dari masuknya namanya menjadi korban bully senior seperti Chelsea, apalagi hanya karena masalah cowok. Selly berdecak, "Elo juga sih sampai ketahuan menatap lekat-lekat kak Gio pas ada pacarnya di sana. Seharusnya ya kamu lirik-lirik aja jangan malah dipelototin." "Ya gue enggak sengaja Sell. Sekali tatap susah banget mau mengalihkan mata kalau enggak dipandangin keseluruhan." Selly tertawa, "Ya sudah santai aja lagi. Lagian kak Gio itu cowok famous. Yang ngelihatin dia seperti elo tadi pasti bukan cuma elo doang dan kak Chelsea pasti sudah tahu itu dong. Anggap aja kalau kejadian tadi tidak pernah terjadi. Santai aja,Gev." Geva menggigit bibir bawahnya khawatir, "Iya juga sih. Ihh ampun kok gue jadi kepikiran gini." Geva memukul pipinya dengan tangan bertepatan dengan masuknya empat senior mereka dari eskul renang dan basket ke dalam kelas. Selly langsung menegakkan punggung dengan tatapan berbinar karena Akbar yang kebetulan juga ketua eskul basket muncul di sana dengan pesonanya yang memikat. "Ya ampun pangeran gue," bisik Selly membuat cewek memutar bola mata dan menopang dagunya dengan tangan menatap malas ke arah depan. Lumayan banyak yang ikut eskul renang dan basket. Kalau bisa memilih dua, sudah bisa dipastikan Selly dengan sukarela akan ikut eskul Cheers dan Basket bersamaan supaya bisa dekat dengan pujaannya itu. "Cinta itu butuh pengorbanan dan dimulai dengan mendekati doi lewat berbagai cara. Gue enggak bisa ikut eskul basket tapi gue akan memberi dia support tak terhingga saat bertanding di lapangan." Geva hanya bisa tertawa dan berucap santai, "Ya terserah lo lah." Setelah keempat senior itu berlalu, selang lima menit muncul lah sosok adorable nan famous ke dalam kelas. Geva bahkan langsung menahan napas dan menutup mulutnya dengan tangan seperti yang di lakukan sebagian cewek-cewek teman sekelasnya. Bukan karena kedatangan primadona sekolah, Chelsea sebagai ketua eskul Cheers tapi karena sosok tampan yang mengikut di posisi paling belakang. Geva tidak pernah tahu kalau ternyata Gio adalah perwakilan eskul Taekwondo. Saat menyadari sesuatu, Geva langsung menepuk jidatnya seraya berujar, "Mampus gue!!!" Selly langsung melirik ke arahnya dengan tatapan heran. Geva membalasnya dengan menggelengkan kepala lalu memperhatikan kakak senior di depan terutama Chelsea yang terlihat tenang-tenang saja dan Geva berucap syukur karena mungkin benar kalau cewek itu langsung lupa sama kejadian di kantin tadi. Geva melihat beberapa temannya berdiri dan mendekati Chelsea untuk memastikan keikutsertaan mereka dalam eskul Cheers termasuk Selly. Geva berusaha untuk tidak melihat ke arah Gio yang sejak masuk tadi ternyata duduk di atas meja guru sambil mengedarkan pandangan. Wajahnya yang tampan dan garang-garang imut itu menjadi pemandangan paling indah sejagat raya bagi sebagian cewek di kelasnya, termasuk Geva. Saat giliran eskul Taekwondo, cowok itu turun dengan tangkas dan berdiri di depan menggantikan tempat Chelsea tadi lalu mengedarkan pandangan dan tersenyum tipis. Mati kutu bagi kaum hawa yang melihatnya. "Langsung saja ke intinya. Mungkin sebagian yang memilih eskul ini saat MOS tahu kalau Nino adalah ketuanya tapi berhubung dia sedang sibuk mengurus hal lain, gue yang mendatangi kalian di sini dan diminta membantunya mengajar untuk tahun ini." Geva langsung menekuk kepalanya dan menjerit dalam hati. MAMPUSSS LO GEVAA!!!! "Oke, sekarang tanpa melihat formulir yang sudah masuk, gue mau lihat langsung siapa di sini yang sudah mendaftar untuk eskul Taekwondo. Angkat tangan sekarang!” Reflek hampir seluruh murid cewek di kelasnya mengangkat tangan termasuk Geva dan beberapa anak cowok membuat Chelsea di depan sana mendelik sedangkan Gio mengelus dagunya. “Hmm, tiba-tiba jadi banyak ya. Seingat gue hanya ada lima orang cewek dan lima orang cowok di kelas ini yang ikut.” BRAK!! Tanpa terduga Chelsea maju dan menggebrak meja paling depan, meja Siska. "WOII, KALIAN MAU GUE BANTING SATU-SATU. ENGGAK USAH MODUSAN YA!!" ucapnya lantang dan sangar membuat semua juniornya ketakutan. Gio menggelengkan kepala melihat ulah Chelsea. "Elo enggak usah ikut campur karena ini urusan gue!!" Gio menyela. Chelsea langsung melipat kedua lengannya dan manyun setelah ditegur langsung sama Gio. "Biar gue perjalas!” Gio mengedarkan pandangan. “Latihan Taekwondo hanya untuk yang tahan banting. Gue akan bener-bener melatih kalian tanpa melihat gender. Gue banting yang cowok begitu pula yang cewek." Geva menelan salivanya membayangkan adegan ketika dia mungkin akan dibanting sama Gio nanti saat latihan. Awwww!!! "Gue tanya sekali lagi, yang memang dari awal memilih eskul ini tetap pertahankan tangan kalian." Dengan itu, semua cewek yang awalnya ikut hanya untuk modus harus gigit jari melihat keseriusan Gio dan menyerah duluan. Geva tetap bertahan karena memang sedari awal eskul ini lah yang diikutinya. Gio mengangguk ketika mengedarkan pandangan dan menemukan sepuluh orang yang memang ikut, termasuk Geva dan Alexa di depannya. "Okee, sepuluh. Semuanya sekarang maju dan siapkan dua jawaban kalian kenapa memilih eskul ini." Geva berdiri dari duduknya bersama Alexa dan sempat melihat sekilas Selly yang memberinya semangat ala Korea, "Fighting!" Dengan perasaan berdebar, Geva maju dan melewati Chelsea yang mendelik saat melihatnya membuatnya langsung melihat ke arah lain dan menunggu. Saat gilirannya maju menjadi yang terakhir berhadapan dengan Gio yang sibuk dengan formulir di hadapannya, tanpa mengangkat tatapannya dari kertas di tangannya, Gio mengulang pertanyaannya. "Nama?" Aroma maskulin menyerbu indra penciuman Geva membuatnya seperti terbang di awang-awang tapi saat menoleh dan menemukan tatapan tajam Chelsea, Geva seperti di hempas ke daratan. "Gevancia Rosiebell. Panggil saja Geva." Gio mengangguk, "Rosie? Nama yang bagus." "Geva kak," ralatnya. Gio mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan Geva yang berusaha keras tidak pingsan. "Alasan lo apa Ro-sie?" Geva menghela napas mendengar nada penekanan pada namanya. Suka-suka dia ajalah. Gio kembali sibuk melihat formulirnya sementara di depannya Geva berusaha keras menahan debaran jantungnya. "Taekwondo itu untuk pegangan diri. Hidup dengan masalah yang menjurus k*******n membuat gue harus bisa mengandalkan diri gue sendiri untuk bisa mempertahankan diri. Paling tidak dasar-dasarnya." Gio langsung menatapnya dengan ekspresi aneh nampak kaget dengan alasan yang dikemukakannya. Mata coklat karamel itu menatapnya penuh selidik tepat di manik mata. Geva tahu kalau Gio berusaha mencari sesuatu yang membuatnya gusar, entah apa. Akhirnya Gio mengangkat alisnya, "Elo korban KDRT?" Geva menggeleng, "Sesuatu yang lain." Gio terdiam sebentar lalu kembali sibuk menulis sesuatu di formulirnya, "Alasan kedua?" Kalau yang kedua Geva berusaha keras untuk tidak tersenyum, "Karena ada kak Nino." Gio langsung mengangkat kembali wajahnya secepat kilat setelah mendengarnya lalu dengusannya terdengar, "Nino lagi Nino lagi. Kalian para perempuan kebanyakan modusan doang ya." Geva hanya tersenyum mendengar gerutuan itu saat suara cempreng itu terdengar lagi. "Kalian lama amat sih. Cepetan kenapa? Dan elo Belle—" Seringai kejam muncul di wajah Chelsea saat menyebut namanya membuat Geva mematung diam. "Elo, cewek yang gue pergokin ngelihatin Gio tadi siang di kantin kan?"   MAMPUSS!!!! Chelsea mendekat dan menyimpitkan mata. Geva memutar otak ingin segera keluar dari situasi ini sekarang juga dan di belakangnya kelas semakin hening. Geva mencoba berkilah. "Hmm, yang mandangin kak Gio pasti bukan gue aja tadi kak, lagian hak gue dong mau ngelihatin siapa." Sedetik itu juga Geva menyesali kebodohan mulutnya saat melihat aura kejam Chelsea. "Tapi lo natapnya seperti tatapan menjerit minta di pacarin sama Gio?!” Chelase menyimpitkan matanya. “Jangan bilang kalau ini modusan lo juga untuk ngedekatin dia?!" tuduhnya. Geva menggaruk kepalanya, melirik sekilas Gio di hadapannya yang diam menahan seringaian lalu mengalihkan tatapannya kembali ke Chelsea. "Pengennya sih gitu tapi kan enggak mungkin banget. Geva sih ikhlas karena kalian cocok banget jadi pasangan. Lagian kan kak Gio sudah jadi pacar kak Chelsea.” Chelsea menggeram kesal sedangkan Gio mendengus dan menggelengkan kepala. Geva dengan mulut bodohya kembali nyeblak. "Lagian kalau di suruh memilih, Geva sih milih kak Nino." "Awas aja kalau sekali lagi buat ulah. Mulut lo bakal gue kasih pelajaran!" "Ini apaan sih drama banget!!" Gio akhirnya bersuara. Di tatapnya bergantian Chelsea dan Geva lalu tatapannya jatuh ke Chelsea. "Chel, berapa kali harus gue ingatkan kalau elo enggak usah ngaku-ngaku jadi pacar gue karena gue bukan pacar lo!” Geva tersentak kaget mendengarnya begitu pula teman-teman cewek sekelasnya. "Tapi Gio—" "Sudah. Mending elo pergi duluan karena gue masih ada sedikit urusan di sini. Cepat!!" Chelsea nampak marah dan melayangkan tatapan kebencian yang mendalam untuk Geva lalu keluar diikuti salah satu dayangnya meninggalkan kelas. Mampus lo Geva!!!!! "Kita ketemu lagi sabtu ini sepulang sekolah untuk menentukan siapa pelatih kalian dan memulai sesi awal perkenalan eskul. Sekarang kembali ke tempat kalian masing-masing." Gio berteriak untuk seluruh peserta baru eskul Taekwondo tanpa mengalihkan tatapannya dari Geva yang hanya bisa diam, menunduk dan berbalik mengikuti yang lain. "Kecuali elo Rosie," ucapnya kemudian. Geva berhenti melangkah seperti robot. "Balik badan lo menghadap ke gue. SEKARANG!!!" Geva menutup mata dan menghela napas. Geva bodoh, mantra yang diulangnya puluhan kali hari ini lalu mundur dan kembali berdiri di depan Gio di bawah tatapan semua mata teman sekelasnya yang langsung hening tanpa berani mengangkat pandangannya. "Lihat gue!!!!" Perintahnya. Geva mengangkat wajahnya dengan gerakan kaku berusaha menguatkan diri. Manik mata coklat itu langsung menghunusnya tajam. Ada sesuatu yang terusik di sana. Tanpa dikomando, Geva berkata lirih, "Maaf kak." Gio menaikkan alis tebalnya. "Maaf untuk apa?" "Untuk adegan recehan tadi." "Hmm, gue akui untuk murid junior nyali lo boleh juga. Elo tahu kan Chelsea itu siapa dan lo harus siap tahan banting kalau berhadapan sama dia tapi dilihat dari alasan lo ikut eskul ini tadi sepertinya tindak k*******n sudah biasa elo terima." Geva tersenyum miris, entah kenapa kata-kata Gio memberinya hantaman godam mengingat hidup yang dijalaninya selama ini. "Tidak ada satupun benda di dunia ini yang akan tetap berbentuk utuh ketika berkali-kali mendapat hantaman. Begitupula manusia yang pada akhirnya akan hancur." Gio bungkam ketika melihat tatapan terluka yang ditunjukkan Rosie. Nampak penderitaan mendalam yang seakan juga ikut mengoyak Gio karena mengingatkannya akan tatapan mata seseorang yang berarti baginya. Gio mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan tangan terkepal lalu setelah agak tenang dia kembali melihat Geva yang menunduk. Tanpa disadarinya seperti di luar kesadaran, tangannya bergerak memegang dagu Geva dan menariknya lembut agar mata gadis itu kembali padanya. Geva tersentak kaget karena tidak menyangka Gio akan menyentuhnya. "Gue suka mulut bacot lo itu, tapi Rosie—" Geva nyaris membeku mendengarnya dan melotot maksimal saat melihat Gio maju mendekat membuat mereka berjarak hanya sejengkal tangan dengan tatapan intens. "Semua yang keluar dari mulut lo tadi harus lo terima konsekuensinya dan elo nggak bisa mundur dari kekacauan yang lo buat ini, little monster.” "Little monster?" Geva menatapnya heran. Gio tersenyum, "Rosie si little monster. Itu julukan gue buat elo mulai hari ini. Temuin gue besok di ruang eskul setelah jam pulang sekolah. Elo harus menanggung resiko omongan lo tadi." "Tapi—" "Enggak pake telat!!" Gio mengacak rambut Geva lalu berbalik pergi bersama temannya yang sejak awal bengong memandangi interaksi mereka sama seperti yang lain meninggalkan Geva yang menatap punggung tegap itu dengan perasaan aneh sampai menghilang dari pandangan.  Rasanya Geva sudah tidak kuat untuk berdiri. Bencanaa!!   *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN