Malam kian merangkak naik. Hani ditemani Panji menunggu kepulangan Atha. Namun, sampai jam besar berdentang dua belas kali belum ada tanda-tanda Atha akan pulang. Sebagai seorang Ibu, tentu Hani gelisah. Apalagi nomor telepon Atha tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan kontaknya Bela. “Ke mana sih itu anak?” gumam Hani gusar. Dia mondar-mandir membuka tirai jendela. Berharap putra kesayangannya akan menampakkan diri. Namun, sampai kakinya pegal, harapannya tetap nihil. Di lain pihak, Panji menelepon semua teman-temannya Atha yang ia kenal. Walau pun hanya anak tiri, tetapi rasa tanggung jawab Panji tetap besar untuk anak itu. Apalagi dia dalam pengaruh jampinya Hani. Panji menghembus napas lelah. Dari semua teman Atha yang dihubungi tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan anak

