Bab 37

1926 Kata

"Ayah kangeeen banget sama kalian,” ucap Panji bergitu melerai pelukan. “Kenapa kalian jarang main ke rumah?” “Gak usah ditanya lagi, Mas! Sudah pasti dilarang oleh ibunya,” sahut Hani tanpa sungkan. Layla tersenyum. “Aku gak seperti kalian, Han,” ujarnya berusaha tidak terpancing omongan julidnya Hani, “buktinya kalian bebas masuk ke sini buat nengokin anak-anak. Memangnya aku yang mesti manjat tembok buat ketemu Ziel.” Sindiran telak dari Layla membuat Panji menunduk. Pria itu merasa bersalah. Namun, tidak dengan Hani. Perempuan itu justru menusuk Layla lewat tatapannya. “Gak nyangka yah, muka sok adem kek kamu hatinya penuh dendam,” tuding Hani berani. Layla menipiskan bibir. “Sampai kapan pun kejadian itu gak pernah aku lupain, Han,” sahutnya dengan tatapan serius, “dan perlu kali

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN