Semalam hujan membungkus kota. Menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Rasanya begitu nikmat jika harus bergelung di bawah selimut. Namun, adzan subuh sudah berkumandang. Panji yang tengah memeluk guling terpaksa membuka mata. Dulu dia akan menarik selimut dan menutup telinga begitu mendengar panggilan sholat tersebut. Sekarang tidak lagi. Panji menggeliat sebentar. Dia mengerang kecil untuk menghalau rasa malas. Pria itu terduduk beberapa saat guna mengumpulkan segenap nyawanya dulu. Manik Panji menoleh ranjang di sebelahnya. Tempat tidur yang dulu biasa dipakai Azriel, sekarang sedang ditempati oleh Zea. Gadis cilik itu tidur terlentang. Walau pun hawa terasa dingin, dari semalam Zea tidak mau diberi selimut. Anak itu takut jika kain tebal tersebut mengenai luka bakar di tangan

