*****
"Nikahkan mereka malam ini juga, atau kamu dan keluargamu angkat kaki dari Desa ini, Athaya," teriak salah satu warga yang provokatif.
Suasana di Balai Desa seketika berubah menjadi kacau balau. Logika warga yang terlanjur marah justru melahirkan solusi yang paling tidak masuk akal bagi Athaya.
"Sudah! Daripada desa ini kena sial karena perbuatan kalian, dan daripada besok Pak Heru ngamuk karena merasa tertipu, cuma ada satu cara. Malam ini juga, Athaya harus dinikahkan sama laki-laki ini!"
Mendengar ucapan itu, Athaya sontak mendongak, matanya membelalak kaget.
"Apa?! Nikah? Pak RT, saya tidak kenal orang ini! Saya baru ketemu dia tadi saat kecelakaan! Ini gila!" bantah Athaya dengan keras.
Bu Ratna yang juga hadir disana setelah mendengar berita mengagetkan itu, malah tertawa mengejek pada Athaya.
"Halah, nggak usah akting kaget! Bukannya ini yang kamu mau? Dapat laki-laki muda dan ganteng? Daripada kamu nikah sama Pak Heru terus ketahuan belangnya, mending kamu tanggung jawab sama laki-laki yang sudah kamu jemput malam-malam begini!"
"Betul! Kawinkan saja! Kita nggak mau ada aib di desa ini!
Athaya berdiri dengan kaki gemetar, ia menatap warga dengan tatapan tidak percaya.
"Saya TIDAK MAU! Kalian semua sudah hilang akal! Saya menolong orang yang hampir mati, dan sekarang kalian mau menghukum saya dengan cara menikahkannya dengan saya? Saya lebih baik tidak menikah sama sekali daripada dipaksa seperti ini!"
"Sudahlah, Athaya. Ayahmu sudah diberitahu dn sedang menuju kesini. Kita lihat saja, apa kamu masih bisa menolak kalau orang tuamu sudah sampai nanti," ucap seorang warga yang berdiri di sebelah meja tempat pria asing itu terbaring.
"Kalau begitu, kita bawa saja mereka ke rumah saya, agar Pak Ramli dan Bu Maysarah tidak berlaku jauh berjalan," usul Pak RT.
"Setuju,"
"Ayo, bawa mereka ke rumah Pak RT,"
"Ayo, bawa,"
Athaya mematung. Bayangan wajah Ayahnya yang keras dan Ibunya yang sedang baru pulang dari Rumah Sakit langsung memenuhi pikirannya.
Dia tahu, jika orang tuanya sampai di sini dan melihatnya dalam posisi ini, di depan pria asing yang bersimbah darah di bawah tatapan penuh hinaan warga, maka tamatlah riwayatnya.
Athaya hanya bisa menjerit dalam hati tanpa suara yang bisa membela dirinya didepan hinaan warga.
Pria asing itu, yang sedari tadi hanya bisa menatap sayu, melihat perubahan drastis pada wajah Athaya. Dia melihat ketakutan yang begitu murni, ketakutan seorang anak yang tidak ingin mengecewakan orang tuanya meski ia sendiri sedang dihancurkan.
***
Kerumunan warga menyemut di rumah Pak RT begitu Athaya sampai disana. Suara mereka berdengung seperti lebah, penuh dengan caci maki.
"Oalah, ini toh guru yang katanya paling sopan sekecamatan? Ternyata kalau malam jadi kucing garong cari brondong kota!"
"Kasian Pak Heru, sudah habis banyak buat mahar, eh ternyata dapet barang sisa begini. Dasar perempuan nggak tahu diuntung! Matre iya, gatel juga iya!"
Athaya hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya berguncang hebat.
"Ya Allah... kenapa niat baikku menolong orang justru menjadi fitnah sebesar ini? Aku tidak kenal dia... aku benar-benar tidak kenal dia..." bathin Athaya.
Tidak jauh dari posisi Athaya duduk, Bu Ratna tertawa sinis sambil menunjuk-nunjuk Athaya.
"Nah, lihat semuanya! Apa saya bilang? Dulu sok suci menolak anak saya, alasannya mau fokus mengabdi jadi guru. Ternyata oh ternyata... pengabdiannya dilakukan tengah malam di jembatan sepi sama laki-laki kota!"
"Iya, bener Bu Ratna! Kelihatannya saja kalem, ternyata liar!"
Bu Ratna semakin memojokkan, suaranya makin kencang, bahkan telinga Athaya tidak mampu untuk mendengarnya.
"Kamu itu bukan cuma matre, Atha, tapi kamu itu licik! Kamu mau ambil hartanya Pak Heru, tapi hatimu kamu kasih ke laki-laki ini? Wah, hebat sekali strategimu. Kamu mau jadikan Pak Heru itu ATM berjalan mu supaya bisa jajan sama laki-laki ganteng ini, ya?!"
Athaya menggeleng kuat-kuat dalam tangisnya.
"Tidak, Bu Ratna... Demi Allah, tidak begitu..."
"Halah! Nggak usah bawa-bawa nama Allah! Mulutmu penuh dusta. Kamu itu sampah yang dibungkus kerudung, Atha! Saya bersyukur anak saya nggak jadi dapat istri macam kamu. Bisa-bisa keluarga saya kena kutukan punya menantu yang hobinya main di semak-semak!"
Hinaan itu seperti bensin yang disiram ke api. Warga lain mulai ikut-ikutan menyoraki Athaya. Suasana Balai Desa sudah seperti arena eksekusi.
Di atas meja, pria asing itu melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Bu Ratna terus memaki Athaya dengan kata-kata yang sangat merendahkan martabat seorang wanita. Dia melihat air mata Athaya yang tumpah tak henti-henti.
Dia menolehkan kepalanya yang terasa sangat berat. Dari sudut matanya yang terluka, dia melihat gadis yang tadi begitu berani memecahkan kaca mobilnya, kini meringkuk di lantai, dihina oleh orang-orang dari desanya sendiri.
"Gadis ini... dia mengorbankan kehormatannya untuk menarik ku keluar dari maut. Dan sekarang mereka mengulitinya hidup-hidup karena aku..." gumam pria asing itu dengan pelan, bahkan tidak satupun orang yang bisa mendengarnya.
Dia mencoba menggerakkan tangannya, ingin sekali membela Athaya, namun lidahnya terasa kelu dan tubuhnya kehilangan tenaga.
Dia hanya bisa menatap Athaya dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa terima kasih sekaligus rasa bersalah yang luar biasa. Dia merasa menjadi kutukan bagi gadis yang bahkan belum dia ketahui nama lengkapnya itu.
***
"Athaya,"
Pintu rumah Pak RT berderit keras saat Ramli dan Maysarah melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Mereka datang dengan perasaan campur aduk, cemas, bingung, sekaligus heran mengapa warga menjemput mereka dengan wajah tegang tanpa penjelasan.
Namun, pemandangan di dalam ruangan itu seketika meruntuhkan dunia mereka.
"Athaya?! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu di sini... dan kenapa penampilanmu seperti itu?" tanya Ramli dengan mata yang terbelalak dn suara yang bergetar.
Ramli menatap ngeri pada putrinya. Kerudung Athaya miring dan berantakan, ujung bajunya terkena noda darah dari pria asing itu, dan tangannya merah karena goresan kaca. Di mata seorang ayah di desa yang kental dengan adat, penampilan itu hanya menyiratkan satu hal, aib.
Sang Ibu bahkan hampir terjatuh, memegangi dadanya yang sesak.
"Ya Allah, Atha... Kamu habis ngapain, Nak? Besok lamaran Pak Heru... Kenapa kamu malah begini di depan banyak orang?!"
Belum sempat Athaya menjawab, Bu Ratna sudah menyambar dengan lidahnya yang berbisa.
"Nah, ini dia orang tuanya datang! Lihat itu, Pak Ramli, Bu Maysarah. Anak emas kalian yang katanya guru berprestasi, malam-malam begini ditemukan sedang berduaan di jembatan sepi sama laki-laki kota. Lihat itu laki-lakinya, sampai pingsan kelelahan atau entah habis ngapain!"
"Kami temukan mereka di semak-semak dekat jembatan, Pak. Mobilnya hancur. Athaya bahkan sampai memeluk pria ini saat kami datang!"
Seketika wajah Ramli berubah dari bingung menjadi merah padam karena malu yang luar biasa.
"Athaya... Benar apa yang mereka katakan?! Kamu berkhianat di belakang Pak Heru?!"
Dengan gerakan yang sangat pelan, atahya maju mendekati ayahnya, bersimpuh di kaki Ramli.
"Ayah... Ibu... demi Allah, tidak seperti yang mereka bayangkan! Athaya cuma menolong dia kecelakaan! Mobilnya masuk jurang, Yah! Athaya nggak kenal dia!"
Maysarah menggelengkan kepalanya dan menangis histeris)
"Menolong gimana sampai bajumu berdarah-darah begitu, Atha?! Malu, Atha... Ibu malu! Besok Pak Heru mau datang membawa orang tuanya, mau taruh di mana muka Ibu kalau semua orang sudah melihatmu begini?!"
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kurang apa Ayah selama ini? Ayah carikan kamu masa depan yang menjamin dengan Pak Heru, tapi kamu malah membalasnya dengan cara menjijikkan seperti ini?! Kamu sengaja ingin membunuh Ayah dan Ibu dengan rasa malu, hah?!" bentak Ramli, wajahnya memerah menahan emosi yang siap membakar rumah Pak RT.
Athaya memejamkan mata, tubuhnya bergetar hebat di lantai.
"Ampun, Yah... Athaya tidak melakukan apa-apa... Athaya hanya menolong..."
"MENOLONG TIDAK PERLU SAMPAI BERDUAAN DI TEMPAT GELAP! Kamu sudah kotor di mata warga! Besok Pak Heru akan meludah di depan muka kita!" bentak Ramli lagi.
Ramli mengangkat tangan, hampir menampar Athaya, namun tangannya di tahun oleh pria yang masih belum diketahui namanya itu, yng suaranya terdengar dingin.
"Saya akan menikahinya,"