***** "Luka tembak? Kamu... kamu perampok?" suara Athaya bergetar hebat. Athaya tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya. Setiap kali kapas beralkohol itu menyentuh pinggiran bekas luka tembak yang sudah lama mengering, tangannya gemetar. Ada kengerian yang menjalar di hatinya, perasaan bahwa dia baru saja membawa masuk seekor harimau ke dalam rumahnya yang rapuh. "Zayn, jawab aku. Luka tembak ini... dan kecelakaan tadi. Itu bukan karena kamu mengantuk, kan? Ada yang mengejar mu? Ada yang sengaja ingin membuat mobilmu hancur?" tanya Athaya dengan suara yang bergetar karena habis menangis. Zayn tetap bergeming. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke arah dinding kayu kamar yang sudah kusam. Rahangnya mengeras saat Athaya menekan bagian luka yang masih baru, tapi tidak ada satu

