02. Mencari Kebenaran

1989 Kata
“Lourie, aku melihat tanda-tanda penguntit,” bisik Amy saat mengintip di balik jendela kamarnya. Dia melihat ada seorang pria bertopi yang berdiri di seberang jalan. Apartemen ini berada di lantai dua, langsung menghadap ke jalan raya. Lourdes yang sudah memakai syal, topi dan kaca mata berlensa coklat itu ikut mengintip. “Oh, ini pasti karena kejadian kau yang pingsan, lalu informasinya bocor.” Amy ingin meratapi nasibnya. “Dia pasti dari tabloid itu. Aku akan dicecar lagi kalau ketahuan. Bagaimana ini? Mana aku punya teman artis lagi-” Melirik Lourdes yang menyamar pun masih kelihatan modis. “Pokoknya setelah ini, aku tak mau lagi perjodohan.” “Maaf, babe, aku mana tahu kalau Tate Pearson itu playboy, dia kelihatan tampan sekali, sayang kalau tidak dikencani.” “Jangan menjadi mak comblang lagi.” “Kukira kau akan bahagia, maaf ya, maaf banget, aku takkan lagi menjodohkanmu dengan aktor, aku sadar, pengusaha lebih baik.” “Tate itu sangat aneh. Dia terlalu percaya diri, merasa diriya yang paling tampan di bumi ini. Lebih parahnya lagi, kau tahu apa yang dikatakan saat dia mengajakku berkencan pertama kali?” “Dia berkata kalau dia gay?” “Dia tanya apakah aku suka diikat di ranjang, lalu memanggilnya master, master apa? master sulap? Apa-apaan fetish-nya itu? menjijkan sekali. “ Lourdes malah menunjukkan tatapan penuh binar kebahagiaan. “Oh My God, kalau saja Tate berusia tiga puluh tahun lebih tua dariku, aku yang akan mengencaninya, Amy! Dia sempurna! Pria yang menyukai b*****e adalah tipikal idamanku.” Amy menghela napas lelah. Ia tak pernah akur dengan kebiasaan temannya ini yang selalu mengencani pria yang jauh berpuluh-puluh tahun lebih tua darinya. Walaupun usia mereka sebaya, namun tak dapat dipungkiri, sosok Lourdes jauh lebih dewasa. “Sudahlah intinya jangan menjodohkan aku dengan siapapun, setampan apapun, sekaya apapun, jangan.” “Padahal aku kasihan sekali padamu, kau tak pernah berkencan.” “Aku tak suka laki-laki.” “Oh, s**t, Amy, kenapa kau tak bilang kalau kau lesbian?” “Bukan!” Amy membantahnya dengan kesal. “Aku hanya-ingin berkarir, aku tak siap dengan hubungan serius.” Lourdes memandang temannya dengan kerutan di kening. “Kau bahkan tak pernah pergi ke klub untuk sekedar mencari cinta satu malam, kau masih perawan! Itu berita yang jauh lebih menggemparkan ketimbang percintaanmu dengan Tate yang kandas sebelum terjadi.” “Kakekku selalu bilang untuk berhati-hati dengan pria di kota-kota besar. Mereka hanya akan mengajakmu ke ranjang, lalu pergi. Di keluargaku, kami ini tidak suka hubungan bebas, Lourie, kau tahu itu'kan? Setelah aku puas dengan karirku, baru aku akan memikirkan tentang pasangan. Sekarang, tidak, terima kasih.” “Kau membuatku ingin menangis.” “Diam sajalah.” Amy kembali melirik ke luar jendela, sosok penguntit itu sudah menghilang. Parahnya sekarang ada banyak wanita yang jelas sekali penapilannya seperti seorang jurnalis. “Lakukan sesuatu sebelum aku tenggelam di tengah-tengah kamera lagi.” “Aku harus bagaimana?” “Bagaimana? Ya, cara lama, aktris cantik, cepat kau alihkan perhatian wartawan itu, dan biarkan temanmu ini keluar dari parkiran dengan aman, aku harus ke tempat itu.” “Tempat itu?” “Hutan di Sacramento.” “Astaga, kau masih mengira ada manusia rusa yang bisa sihir?” “Nona Delgado, aku percaya kalau itu bukan mimpi. Titik. Lagipula aku lebih baik mengungsi ke rumah kakekku sebelum serbuan wartawan makin banyak.” Amy mulai melilitkan syal merah di lehernya. Lalu keluar dari kamar dengan membawa tas. “Pastikan tak ada yang melihatku, pokoknya aku akan berhutang budi padamu, Lourie.” “Baiklah, aku akan membual tentang tunanganku yang selingkuh, kita akan bertemu di rumah kakekmu, Sacramento, oke? Aku merindukan kakekmu yang masih bugar itu.” “Oke.” Wanita ini berlari masuk ke halaman parkir samping bangunan apartemen. Karirnya menjadi model profesional tak terlalu menyita perhatian publik. Dia tak perlu sampai menyamar. Akan tetapi semenjak diketahui dekat dengan aktor Tate Pearson, sang nominator piala oscar, namanya pun ikut meluas. Seorang Amy Williams tak lagi tenang. Semua pemberitaan menyudutkannya. Dia dituduh merebut Tate Pearson dari sang tunangan. Padahal dia saja belum sempat menjalin hubungan serius dengan pria yang masih memiliki darah Inggris raya itu. Akibat perjodohan Lourdes, semuanya jadi menyebalkan, pikirnya di sepanjang perjalanan menuju kota sebelah, Sacramento. Dia muak dengan yang namanya perjodohan. Dia ingin mendapatkan pria yang ia inginkan, tidak ada paksaan sama sekali. Pemikiran tentang Tate Pearson kian luntur saat semakin dekatnya dia dengan tujuan. Tujuan itu— kawasan hutan itu— terowongan itu dan pria itu. Dia harus tahu semuanya. Mengapa ada pria yang memiliki tanduk? mengapa pria itu bisa semacam telekinesis? Dan mengapa dia mengenal dirinya? Sederet pertanyaan rumit yang membutuhkan jawaban. Ia yakin ribuan persen, kemarin itu benar-benar terjadi. Kali ini dia tidak ceroboh. Di saku mantel coklatnya sudah terselip sebuah pistol. Dia sudah setahunan mengantongi ijin penggunaan s*****a api. Semenjak hidup sendiri di kota yang terpisah dengan sang kakek, dia memutuskan untuk mengurus perijinan s*****a api. Ya, apalagi dia seorang model yang sering berpindah kota besar untuk pemotretan. Perlu waktu berjam-jam sebelum akhirnya sampai di Sacramento. Kawasan ini merupakan jalan pintas menuju rumah kakeknya di 15th Ave, dekat dengan William Park Land, sebuah taman botani yang terkenal akan keindahannya. Dia menghentikan mobil di tepi jalanan sepi. Di sisi kanan-kiri hanyalah pepohonan liar. Tidak ada bangunan yang berdiri bermil-mil dari sini. Sambil menaruh waspada tinggi, Amy mulai berlari masuk ke arah terowongan kemarin. Alat bantu pernapasan, sebuah pistol, dua benda terpenting kalau terjadi sesuatu yang buruk. Ia yakin tak ada yang mengejarnya. Sejak melihat kelima pria asing waktu itu, dia menduga kemungkinan-kemungkinan siapa mereka. Apakah mungkin suruhan Tate? Tidak mungkin, dia menggeleng. Mereka berpisah dengan baik-baik, terlepas dari apapun pemberitaan media. Lantas siapa mereka? “Haloooo?” panggilnya saat langkahnya sudah semakin jauh ke dalam hutan. Dia semakin yakin kalau pria bertanduk itu nyata setelah melihat sendiri ada terowongan tua berbentuk kubah yang terselimut lumut tebal. Ini benar-benar lokasinya. Dia berdiri di mulut terowongan, tak berani masuk. Ada yang aneh dengan ingatannya, dia merasa pernah kemari sebelum kejadian kemarin. Namun kapan? “Tuan Rusa?” panggilnya kemudian. Tidak ada sahutan, kecuali bunyi burung yang bersenandung di atas dahan-dahan. Matahari bersinar terik siang ini, sehingga pencahayaan tak segelap kemarin. Amy pun memberanikan untuk melewati terowongan. Pepohonan makin lebat ketika beranjak keluar. Dia menyusuri jalan setapak berbatu yang sepertinya menuju ke sebuah tempat. Kakinya mulai lelah, pepohonan makin lebat, suhu udara menjadi turun. Selama ini dia tak ingat ada kawasan hutan semacam ini di dekat rumah kakeknya. Apakah ini taman wisata terbaru? Tapi kenapa malah seperti hutan yang tak pernah tersentuh tangan manusia? Makin lama ia semakin jauh dari terowongan, mendekati pusat hutan. “Haloooo? Aku tahu kau ada di sekitar sini. Tolong muncullah! Aku tahu kau benar-benar ada,” teriaknya mengedarkam pandangan kemanapun, termasuk langit. Lagi-lagi hanya ada suara burung. “Apa yang kulakukan ini?” gumamnya heran sendiri. “Kenapa aku malah ke hutan? Lagipula dimana ini? Ini jelas bukan Mendocino National Forest, jelas bukan- tidak ada hutan di sekitar kawasan ini. Ini hutan mana?” Masih tak ada siapapun. “Halooo?” Ia kembali berjalan menapaki jalan. Pandangan mata terus terarah ke bawah. Seketika itu pula ada ular muncul dari balik semak-semak. Ular pohon berwarna hijau itu sontak membuatnya terloncat mundur. “Ah!” serunya ngeri. “Ular! Ular! Ular!” Si ular menatapnya sekilas, lalu kembali bersembunyi ke semak. Binatang itu kelihatan punya pikiran sendiri. Benar, seolah ada perintah di kepalanya kalau jangan takuti apalagi sakiti wanita bernama Amy ini. Mendadak suara pria terdengar di belakangnya. “Kau tak seharusnya mendatangi tempat ini sendirian. Tempatnya bahaya untukmu, Amy.” Amy terlonjak. Ia sontak berbalik dengan d**a berdebar. “Ya Tuhan! Sejak kapan kau ada di belakangku!” Matanya akhirnya bertemu dengan penyelamat bertanduknya. Pria yang penampilannya masih sama dengan kemarin, bermantel biru. Dia tampak seperti masih awal dua puluh tahunan, seumuran dengan Amy. “Sejak awal, aku mengawasimu, dan kau memang benar-benar keras kepala kalau penasaran,” katanya sambil mengawasi wajah Amy lebih dalam. “Tapi syukurlah, kau sudah baikan. Kau kelihatan pucat seperti daging ikan mati kemarin.” Heh?, Amy sama sekali tak paham ucapan konyol pria ini. “Aku tahu, kau memang ada, kau kemarin yang menyelamatkanku'kan?” katanya kemudian seraya melihat dua tanduk runcing di atas kepala pria ini. “Kau sungguh punya tanduk. Apa itu semacam tumor? Siapa kau? Kenapa kau mengenalku?” “Aku mengenalmu dari dulu, dari kau masih bayi. Kau sangat lucu saat itu, aku yang menggendongmu.” Gendong? Maksudnya apa? Siapa orang c***l aneh ini? Gelandangan gila? Tidak mirip, pikir Amy memperhatikannya lebih dekat. Ia yakin kalau tubuh tinggi dan terawat dari pria ini lebih pantas disebut bangsawan ketimbang gelandangan. Tubuh yang tinggi dan bugar, rambut coklat gelap bak batang pohon ek, serta mata kehijauan seperti daun muda. Di mata Amy, pria ini seperti perwujudan dari sebuah pohon. “Siapa kau ini?” tanyanya serius. “Bagaimana caranya kau membuat semua orang mengira aku tak keluar apartemenku?” Pria itu tersenyum seraya menjawab, “aku dewa hutan.” “De—dewa hutan?” ulang Amy menahan keinginan untuk tertawa bergulung-gulung. Namun, dia tak mungkin tak sopan pada orang yang telah menolongnya. Sang dewa itu menambahkan, “namaku Cernunnos.” Amy terdiam sesaat. Ia masih mengendalikan diri agar bibirnya tak membentuk senyuman. “Oke, bisakah kau mengeja nama itu?” “C-E-R-N-U-N-N-O-S.” “Kedengarannya seperti nama ilmiah.” “Itu nama dewa.” “Oke, sebentar tuan dewa.” Amy mengeluarkan ponsel, lalu mengetikkan nama itu di mesin pencari internet. ...Cernunnos [baca: KER-NOO-NOS] adalah sebutan untuk dewa hutan atau raja alam liar dalam mitologi celtik. Dia digambarkan memiliki randuk rusa. Dia mampu menundukkan semua binatang. Dalam mitologi lain, Cernunnos juga memiliki nama lain. Dalam mitologi romawi misalnya, namanya adalah Silvanus.... “Oh, kau benar, itu nama dewa. Keren,” ucap Amy mengangguk, tak percaya sama sekali. “Oke, sekarang jawab saja pertanyaanku, kenapa orang-orang berpikir aku kemarin di apartemen? Apa kau mengantarku dengan mobil hingga pulang?” Tiba-tiba ponsel wanita ini berdering, akan tetapi dihiraukan. Namun tidak bagi dewa hutan itu. Dia syok sekaligus bingung. Seumur hidup dia tak tahu ada benda semacam itu. “Apa itu? kelihatannya berbahaya,” ucapnya melirik ponsel Amy. Amy tak peduli. Dia masih menatap wajah pria itu, lalu mengulang pertanyaanya, “ayo jawab! Apa kau yang mengantarku kemarin?” Sedetik kemudian, si dewa hutan tahu-tahu sudah menggenggam ponsel Amy. Dia memperhatikannya serta bertanya-tanya, mengapa benda ini bisa mengeluarkan suara? Amy kaget bukan main, dia melihat tangannya sendiri. Ponselnya hilang. Ponselnya pindah tangan. “Kau— bagaimana— ponselku di tanganmu?” Dia berbicara terbata-bata sampai mengira-ngira jarak di antara mereka. Pencopet terahli pun tak mungkin bisa melakukan itu dalam sekejab. Tak mungkin pria ini mengambilnya, dari tadi dia tak bergerak dari tempatnya berdiri, pikirnya bingung. Merasa ponsel Amy berbahaya, dia membantingnya tanpa ragu. Lalu menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Dengan polosnya, dia hanya berkata, “aku tidak merasakan ada energi negatif pada benda ini, tapi kau tak boleh dalam bahaya. Apapun yang membahayakanmu akan kuhancurkan.” “Energi?” ulang Amy melongo. Energi apa? Energi alam? Heh? dia orang fanatik? atau penganut aliran sesat?, pikirnya kembali. Dia melihat ponsel yang rusak. “Ponselku- itu keluaran terbaru. Bagaimana kau melakukan itu?” “Oh, ayo ke rumah kakekmu.” Sang dewa pun mengeluarkan topi rajutan hitam dari dalam saku mantel. Kemudian menutupi kepala bertanduknya dengan itu. “Beres.” Amy curiga. “Kakek? Kau kenal kakekku? Sebenarnya siapa kau ini?” “Tentu saja kenal. Sudahlah ayo kita ke kakekmu, kau akan paham nanti.” Dewa itu berbalik, lalu berjalan mendahului Amy seraya bersiul-siul dengan gembira. “Aku merindukannya. Aku jarang keluar hutan, kemarin saja saat mengantarmu.” Amy mengikutinya. “Jarang keluar hutan? Segelandangan apa dirimu?” Ia langsung mendehem karena merasa itu sindiran jahat. “Maaf.” “Aku tak mau keluar, aku menantikan saat ini- kau yang datang menjemputku sendiri.” “Memangnya kau ini apa? Putri tidur? Menunggu pangerannya menjemput?” “Sudah kubilang, kau akan tahu nanti. Aku tak mau mengejutkanmu sekarang.” Tandukmu sudah mengejutkanku dari kemarin, pikir Amy masih tak percaya sedang bicara dengan semacam dewa. Dia ingin penjelasan masuk akal. “Oke, sekarang bagaimana aku memanggilmu? Orang tuamu punya selera yang buruk dalam menamai anak.” “Terserah padamu, tak ada yang memanggilku selama ini. Aku sendirian di hutan- jika binatang tak dihitung.” Kasihan sekali, pikir Amy mengerutkan kening. Dia menimbang-nimbang nama panggilan untuk nama seunik itu. “Kern tidak mungkin, artinya inti- Kerno? tidak keren, noonos? Seperti musuh Avengers.” Dia malah serius memikirkan nama panggilan. “Oke, akan kupanggil kau Keno saja, karena Ken itu pacar barbie.” “Boleh.” “Sekarang jujurlah padaku, Tuan Keno, siapa kau ini? Pencopet profesional? Karena barusan kau merampas ponselku dengan baik.” Dewa itu kembali menjawab, “aku dewa hutan, Cernunnos.” Amy menggerutu pelan, “rasanya seperti bicara dengan tembok.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN