19. Mengunci Barat (b)

1200 Kata
Akar di depan mata Cernunnos dan Amy terus menggeliat. Akar-akar coklat kehitaman itu muncul dari dalam tanah dan kelihatannya telah dipenuhi sihir jahat. Amy tidak bisa merasakan keberadaan sihir, tapi bisa merasakan kalau udara di sekitarnya mendadak dingin. Suhu seolah turun, layaknya sedang di musim dingin. Ia hanya tahu ini biasanya terjadi ketika terdapat hantu yang melintas. Sembari mengelus tangan sendiri, Amy bertanya kembali, “Keno, kita ada dimana? Apa kita sudah sampai, hampir mungkin?” Cernunnos menggeleng sembari pandangan terus memperhatikan para akar di depannya itu. “Hampir sampai, tapi kita sedang kedatangan tamu.” “Tamu?” Amy semakin merinding. Kedua matanya mengintari area ini, berharap tidak menemukan apapun, tapi anehnya dedaunan pohon-pohon seolah saling bersatu untuk membuat langit tertutup sehingga sinar mentari sulit menembus. Akibatnya sekarang suhu udara terus turun. “Keno, semakin lama akar itu terlihat seperti ular hidup,” kata Amy mendekatkan diri di lengan Cernunnos. Tarikan napasnya menjadi berat. Hal ini dikarenakan udara yang mendadak tercemar oleh semburan racun dari benalu berdaun merah yang melilit pepohonan sekitar. “Aku tidak mengerti kenapa bisa sampai kesini sihirnya, ini seperti berasal dari Thorn,” kata Cernunnos mendekati akar-akar tersebut. Dia tidak takut sama sekali karena memang level dari sihir jahat ini sangatlah rendah— dan dia sendiri juga heran mengapa sihir Thorn bisa sampai kemari. Amy menyambar belakang jubah Cernunnos, menggenggamnya erat-erat, tak ingin terpisah. Dia juga waspada ketika melangkah, takut bila akar di bawah tanah tiba-tiba menyeruak dan membelit kakinya. “Thorn? Apa dia ada disini?” “Tidak seharusnya, dia tidak munkin masuk wilayahku, tapi memang tempat ini belum terkunci, jadi pasti seperti ini.” Cernunnos mengangkat tangannya dan seketika itu pula dari dalam tanah menyeruak akar lain dengan tampilan coklat muda, yang kemudian langsung membelit akar kehitaman tadi— menariknya masuk ke dalam tanah lagi. Kejadian ini membuat degup jantung Amy menjadi tidak karuhan. Dia pernah melihat Cernunnos mengendalikan akar sebelumnya, ketika menyelamatkannya dari serangan tak terlihat Thorn di apartemen saat itu— tapi hingga sekarang dia masih takjub. Ini lebih dari sebuah keajaiban, Cernunnos benar-benar penguasa alam, dia bisa mengendalikan kesuburan tanah, tumbuhan dan binatang. Cernunnos berjalan melintasi tanah retak yang perlahan menutup. Dia menarik tangan Amy, memaksanya untuk berani dan berjalan di sebelahnya. Ya, akan lebih baik ketimbang membuat wanita ini bersembunyi dibalik jubah coklat yang ia kenakan. “Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, aku tahu Thorn berbahaya, tapi seperti yang kau lihat, aku dalam kondisi sehat dan kuat, aku akan melindungimu. Kau tidak perlu gemetar dan takut, oke?” terang Cernunnos dengan lembut. “Oke.” Amy menoleh ke sekitarnya kembali. Dedaunan yang tadinya menutuoi langit perlahan terbuka sendiri. Aura dingin pun kembali menghangat seiring kedatangan Cernunnos. Semuanya seolah kembali normal, hidup, hangat dan terang. “Kau pasti sedikit heran dengan ini semua.” “Memang.” “Sihir paling kental ada di hutan memang, dan aku ini semacam penangkal sihir hitam agar tidak semakin meluas. Manusia biasa bisa hidup tentram karena para dewa yang menjalankan 'fungsinya'.” “Jangan mengatakan fungsi, kau terkesan membuat dirimu terdengar seperti alat.” “Memang kenyataannya seperti itu, Amy, kami dewa eksis karena keinginan kuat dari alam dan manusia. Jadi kami akan tetap ada jika melakukan tugas. Sepertiku, menjaga keseimbangan hutan.” Amy tertegun. Ia teringat akan keberadaan Thorn kenbali. Dia perlahan memahami bahwa ancaman terbesar manusia kini adalah makhluk itu. “Jadi kau akan melawan Elf bernama Thorn ini.” “Iya.” “Dia bisa sihir? Apakah sehebat dirimu?” “Kau tahu 'kan sejarahnya Elf, sebagian besar mereka punya sihir mematikan, terlebih jika elf kegelapan, sihir terlarang itu banyak jenisnya, Amy, aku hanya takut dia bertindak nekad kali ini— dan aku masih belum bisa menemukan cara untuk membunuhnya.” “Dia tidak abadi 'kan?” “Memang tidak abadi, tapi dia masih belum bisa dibunuh karena setahuku jantungnya sudah dimanterai, hingga sekarang dan aku pengikutku masih tidak mengetahui jenis manteranya.” “Jadi secara tidak langsung, dia abadi?” “Tidak bisa bilang seperti itu juga, yang pasti setiap dia tusuk, lukanya akan kembali menutup lebih cepat, dan sekalipun dia dipenggal jantungnya tetap berdetak— dengan jantung itulah tubuhnya dibuat kembali.” “Mengerikan sekali? Menurutku itu sudah masuk kategori abadi. Lalu bagaimana caranya membunuh makhluk itu?” “Itulah yang aku katakan tadi, aku masih belum menemukan caranya. Tapi mungkin setelah pertarungan yang akan terjadi ini, pasti aku akan menemukan sesuatu.” “Kenapa kau seyakin ini?” “Entahlah. Aku merasa kedatanganmu ini adalah suatu pertanda, aku merasa sangat gelisah, tapi sekaligus lega— aku tak peduli tentang diriku, Amy, yang penting kau selamat.” “Keno ...” Cernunnos menyunggingkan senyuman pedih, penuh dengan penyesalan yang tak ia pahami sebelumnya. Dia beralih memandang jalanan yang masih dipenuhi pepohonan lebat ini. “Aku sangat mempercayai ramalan, Amy, dan pada jaman dahulu, menurut buku catatan yang selalu kubuat sebagai jaga-jaga saat aku mati dan hilang ingatan, aku selalu menuliskan hal yang sama ... aku hanya ditakdirkan untuk berpasangan dengan dirimu.” “Aku?” “Iya, peri pohon Ek, pohon abadi, pohon yang sepengetahuanku tidak pernah mati. Kau lahir dari pohon itu— hanya saja, aku masih belum mengetahui bagaimana caranya kau bisa menjadi manusia. Itulah yang mungkin terjadi di pertarungan kali ini. “Aku takut.” “Dan aku sangat gelisah, aku takut kau menderita atau terkena sesuatu— tapi aku juga lega kau selamat, aku hanya ...” Cernunnos tidak hisa mengungkapkan betapa resah hatinya saat ini. Semenjak mengetahui Amy adalah Daireya, semua perasaannya campur aduk. Semakin lama menghabiskan waktu— perasaan gelisahlah yang mendominasi, perasaan tidak nyaman dan takut kalau Daireya akan terluka sampai menjadi manusia. Hingga kini dia juga tidak mengerti bagaimana caranya Daireya menjadi manusia? Apa itu sebuah kemungkinan? Daireya seharusnya lahir dari pohon, tapi manusia—tidak mungkin berasal dari pohon. Menatap Cernunnos yang diam erus, Amy menjadi ikut gelisah. “Keno, kau tidak apa-apa? Apakah ada sesuatu?” “Tak apa-apa, aku hanya melamun sebentar.” Cernunnos menggeleng. “Kenapa kau tidak bercerita pendapatmu tentangku?” “Kau? Well, kau baik, ternyata kau yang sekarang kurang lebih sama dengan di masa depan.” “Benarkah?” “Ya, tapi ada sedikit perbedaan.” “Apa itu?” “Kau versi Keno yang kukenal— seperti pria kesepian.” Amy masih belum memahami perasaan kesepian yang dirasakan Keno, tapi dia perlahan juga ikut merasakannya. “Entah mengapa saat melihatmu tidur, itu juga membuatku sangat sakit— aku merasakan kesedihan dan kesepianmu.” Tanpa ia sadari air matanya menggenang di mata. Dia berusaha tetap tegar dan menyunggingkan senyuman. “Aku takut ini semua gara-gara aku, kau melindungiku dari Thorn, kau meninggalkan hutan dan karena menolongku— tandukmu hilang, kau mengorbankan segalanya untujku, tapi apa— aku membiarkanmu sendiri di apartemen dan kau harus pulang sendiri ke hutan untuk memulihkan tenaga.” “Amy, Amy,” ucap Cernunnos menenangkan Amy dengan cara mendekapnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, maka dia juga tidak tahu bagaimana harus merespon. “Dengar, apapun yang kulakukan itu jelas untukmu, dan setelah aku bangun— kau bisa tanyakan sebenarnya apa yang terjadu sampai aku melemah, aku yakin itu bukan karenamu.” Amy tidak bisa menjawab. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN