Aiden tidak habis pikir melihat Anastasia begitu menikmati rokoknya. Cowok itu mengibaskan tangan di depan wajahnya karena kepulan asap yang keluar dari mulut pacar pertamanya itu. Cowok itu masih sibuk menulis di atas sebuah kertas yang akan dibawa Anastasia nanti. Ini juga pertama kalinya Aiden berlama-lama di sebuah café yang penuh dengan asap rokok. Cowok itu tidak kuasa menolak ketika Anastasia mengajaknya pergi ke sebuah café dengan alasan kerja kelompok.
Anastasia dan Alleen tersenyum ketika Aiden harus menelepon ibunya terlebih dulu agar diizinkan pergi kerja kelompok dengan teman-temannya. Senyumnya mengembang dengan sangat lebar ketika cowok itu menutup telepon genggamnya dan bergumam ‘yes!’ sambil melihat ke arah Anastasia.
“Jadi, sepertinya kamu mendapat izin, kan?” tanya Anastasia.
Aiden mengangguk dengan semangat. “Ya… aku dapat izin dua sampai tiga jam saja, Anna,” jawabnya.
Alleen hampir menyemburkan tawanya, tapi urung karena Anastasia menoleh dengan tatapan tajam siap melahapnya. “Itu bagus… berarti kita harus segera berangkat,” ujarnya sambil menarik Alleen ke arah mobilnya.
Di café, bayangan Aiden tentang kerja kelompok seketika pudar. Anastasia dan teman-temannya yang lain lebih banyak berbincang sambil merokok dan makan. Hanya Aiden yang serius tentang kerja kelompok itu. Aiden menyentuh bahu Anastasia dengan jari telunjuknya, “Anna….”
Anastasia menoleh setelah mengepulkan asap ke arah lain dari mulutnya, “Hh?”
Aiden memberikan kertas berisi tulisannya, “Ini….”
“Sudah selesai?” tanya Anastasia sambil meletakkan rokoknya dan menerima kertas dari Aiden. “Cepet banget sih…,” katanya, lalu dia memberikan kertas itu ke Alleen, “nih kamu tinggal salin dan print, lalu tulis nama kita semua,” perintahnya.
Alleen meraih kertas yang disodorkan sahabatnya itu, “Ya ampuun Anna… kamu tahu kan malam ini aku ada acara ulang tahun nenek buyut mami, aku enggak bakalan bisa ngerjain deh kayaknya.” Dia mengembalikan kertas itu kepada Anastasia.
Anastasia memandang teman-temannya yang lain, satu persatu menggeleng. “Laptopku rusak, huruf ABCD enggak bisa muncul,” alasan yang satu.
“Macbook aku lagi jadi jaminan pinjaman Anna, jadi selama ini aku selalu numpang ke rumah saudara,” alasan yang satunya lagi.
“Liat nih Anna, jari aku barusan kejepit… telunjuk lagi. Kayaknya enggak bisa buat ngetik, terlalu sakit rasanya.”
Anastasia berdecak kesal. “Hish! Gila pada ya. Banyak alasan banget sih.”
“Emh Anna… ya sudah sini biar aku saja yang ngetikin dan nge-print,” sahut Aiden sambil meminta kertasnya dari tangan Anastasia.
Anastasia menghela napas, “Beneran enggak apa-apa Aiden? Kamu udah mikir juga, masa ngetik juga?”
Aiden mengangguk, “Enggak apa-apa, sini,” katanya sambil merebut kertas dari tangan Anastasia.
Anastasia tersenyum dan menghadap Aiden, lalu meraih wajah cowok tambun berkaca mata itu dan menarik kepalanya untuk mencium bibir Aiden di depan teman-temannya. Alleen dan yang lain menahan napasnya ketika Anastasia melakukan hal tersebut. Jangan ditanya apa yang terjadi dengan Aiden yang mendapat kejutan tidak terduga tersebut. Jantung Aiden serasa mau keluar dari biliknya, ditambah aliran darah yang mengalir lebih cepat dari biasanya. Seketika wajah Aiden yang bulat memerah, dia menunduk sambil memperbaiki posisi duduknya ketika teman-teman yang lain mulai bersorak meledeknya.
“Wiih… Aiden dapat hadiah ciuman dari Anastasia. Tau gitu tadi aku aja yang ngerjain deh, rela sakit-sakit juga,” sergah teman pria Anastasia yang ada di meja tersebut.
Sontak Anastasia melemparkan potongan tomat yang tersisa di piringnya ke arah temannya tersebut. “Makan tuh!” Dan semua tertawa dengan reaksi gadis itu.
Suara tawa mereka berhenti ketika mendengar suara dering ponsel yang cukup nyaring dari dalam tas Aiden. Dengan gestur meminta maaf Aiden meraih ponselnya dari dalam tas dan menjawabnya. “Iya… sudah Mom, aku sudah selesai. Ya… baik Mom.” Aiden mematikan ponselnya dan menatap Anastasia. “Sepertinya aku harus pulang sekarang, apa kamu sudah mau pulang juga?” tanyanya pada pacarnya. “Aku bisa mengantarmu pulang,” tambahnya.
Kepala Anastasia menggeleng, “Sepertinya aku masih di sini, Alleen bisa mengantarku pulang nanti,” jawabnya.
“Oh, oke. Kalau begitu aku pulang duluan,” ujar Aiden sambil menganggukkan kepala kepada yang lain dan bergegas pergi meninggalkan meja.
Semua pasang mata melihat kepergian Aiden sampai hilang di pintu café. Lalu semua kembali tertawa-tawa sambil melihat ke arah Anastasia. “Gila Anna! Tega banget anak lugu begitu dikerjain!” tukas salah satu.
“Ngapain sih pake dicium-cium segala?! Gelik tau enggak…,” sembur Alleen sambil memukul bahu Anastasia.
“Iih… bibirnya itu manis banget tau… masih original!” balas Anastasia sambil terkekeh. “Tapi seharusnya kalian berterima kasihlah, karena aku juga kalian enggak perlu ngerjain tugas kan?!”
“Iya juga sih…,” sahut Alleen, “tapi dari bibir Justin… ke… aduuh enggak tega deh ngomongnya.”
“Seenak-enaknya bibir Justin, tetep aja tu cowok bangsaat ya!” geram Anastasia teringat kembali kejadian perselingkuhan ‘terbalik’ saat itu.
“Tapi kasian Aiden… dia itu polos banget lho. Buktinya mukanya merah banget waktu tadi kamu cium tiba-tiba gitu Anna,” timpal teman yang lain.
“Itulah kenapa aku suka banget nyium dia….” Anastasia tersenyum tipis sambil membayangkan wajah bulat Aiden yang memerah.
***
“Sudah dibayar semua sama cowok kaca mata yang pergi duluan tadi, malah ini depositnya masih ada,” ujar si kasir sambil mengembalikan beberapa lembar uang ke Alleen. “Tadi dia tambahin deposit untuk pesanan susulan jika ada, tapi ternyata enggak ada lagi.”
Alleen dan Anastasia masih melongo sambil bertatapan. “Huh? Pacar kamu udah bayarin semua, Anna,” gumam Alleen sambil memasukkan kembali kartu kredit miliknya ke dalam dompet.
“Ck, si Aiden itu ya… bikin orang enggak enak aja sih!” gerutu Anastasia.
“Heh! Jangan berani-berani kamu marahin dia yah! Niatnya baik, dan aku yakin dia tulus ngelakuin ini karena kamu pacarnya. Ngasih hadiah dimarahin, traktir makan dimarahin… kasian banget anak orang,” sungut Alleen membela Aiden.
“Dih, kayak pengacaranya aja belain….”
***
Pukul sepuluh malam, ketika Anastasia masih gelisah dengan perasaan tidak enak menerima kebaikan Aiden yang terus menerus—sementara cowok itu tidak menerima balasan yang setimpal. Sudah dua minggu Aiden menjadi pacarnya dan Anastasia tidak pernah merasa cowok itu bersikap buruk padanya. Gadis itu melirik ponselnya yang berkedip sekaligus berbunyi tanda ada notifikasi yang masuk.
[Kamu udah di rumah?] Dari Aiden.
[Sudah.]
Cowok itu selalu perhatian dan tidak mengeluh jika Anastasia hanya membalas singkat setiap pesan yang dikirimnya.
[Oke, selamat istirahat ya.]
Bahkan sekadar mengucapkan terima kasih atas traktirannya tadi siang saja teramat sulit untuk Anastasia.
[Oke.] Balas Anastasia.
Lantas dia menutup wajahnya dengan bantal sambil menendangkan kakinya ke udara. Anastasia meraih lagi ponselnya dan membuka chat grupnya.
[Anna : Mulai besok enggak ada lagi ya ngerjain Aiden!]
[Alleen : Loh kenapa nih? Tiba-tiba ngelarang? Mulai sayang beneran ya?]
[Friend 1 : Kita sebenernya penonton aja sih, yang sering ngerjain kan kamu Anna….]
[Friend 2 : Iya. Tiba-tiba cium bibir Aiden lah sampe dia merah merona. Sok-sok belai pipi sampe tu cowok salting (salah tingkah)]
[Alleen : Iya bener. Yang harusnya berhenti kayaknya kamu deh Anna. Kalau cuma manfaatin Aiden aja enggak usahlah cium-cium bibir segala, kasian anak orang bibirnya masih perawan—ikon tertawa]
[Anna : Abis gemes sama bibir Aiden Leen. Ah udahlah… ingetin aku aja kalau besok-besok ada gelagat mau cium dia lagi ya.]
[Friend 2 : Yah padahal aku suka juga sih liat Aiden malu-malu kucing gitu… manis-manis gimana gitu.]
[Alleen : Diih… hati-hati pacarnya Anna itu.]
[Anna : Jangan macem-macem!]
Anastasia tersenyum geli setelah mengakhiri chat bersama teman di grupnya. Mungkin teman-temannya benar, dia sendirilah yang harus berhenti mempermainkan perasaan Aiden. Tapi kalau dia memutuskan untuk tidak pacaran lagi dengan Aiden, cowok lugu dan polos itu pasti jadi incaran teman-teman Anastasia yang lainnya dan akan memanfaatkan habis-habisan kebaikan Aiden. Kepala Anastasia menggeleng cepat, “Enggak, aku harus tetap jadi pacarnya Aiden, supaya enggak ada yang berani macam-macam sama dia,” gumamnya pelan.
Baru saja Anastasia merebahkan kepalanya di atas bantal, ponselnya berbunyi notifikasi masuk lagi. Dia berpikir Aiden yang mengirimnya pesan. Tapi ternyata dugaannya salah, pengirim pesan kali ini adalah mantan Anastasia yang sudah menipunya habis-habisan—Justin.
[Anna, aku mau bicara sama kamu besok.]
[Enggak ada waktu.] Tanpa pikir panjang Anastasia menuliskan jawaban atas permintaan mantan pacarnya itu.
[Please. Aku benar-benar sudah selesai sama Brenda.]
Anastasia malas merespon pesan Justin yang berikutnya.
[Anna….]
Dan Anastasia benar-benar mengabaikan pesan Justin.
***
Keesokannya Anastasia tidak juga sudi membaca pesan yang dikirim Justin. Dia benar-benar ingin meninggalkan masa lalunya dengan cowok sok popular dan sok ganteng itu. Di kelas Anastasia terlihat gelisah sambil bolak-balik memeriksa bagian belakang roknya. Alleen yang duduk di sebelahnya merasa terganggu dengan tingkah sahabatnya itu.
“Kamu kenapa sih Anna?” tanya Alleen.
“Aku kayaknya datang bulan deh, tapi enggak pakai pembalut nih…,” sahut Anastasia sambil berdiri dan menunjukkan rok belakangnya pada Alleen.
Sahabatnya itu menggeleng, “Enggak ada apa-apa kok.”
“Ya sudah aku ke toilet dulu ya,” lontar Anastasia bersamaan dengan bel berakhirnya jam belajar.
Aiden mengerutkan keningnya melihat pacarnya lari terbirit-b***t keluar dari kelas. Dia menoleh ke belakang ke arah Alleen dengan tatapan bertanya. Alleen mengedikkan bahunya sambil menggeleng. Masa iya dia mau memberitahu masalah Anastasia pada cowok itu? Pikirnya dalam hati. Namun, dilihatnya Aiden berjalan menuju ke mejanya.
“Anna kenapa Alleen?” tanya cowok itu.
“Huh? Emh itu… aduh gimana ya ngomongnya,” sahut Alleen terbata dan bingung.
Alis Aiden yang tebal semakin mendekat di pangkal hidung, “Kenapa sih?” tanyanya penasaran.
“Ck, Aiden. Anna tuh sepertinya datang bulan, tapi dia enggak bawa pembalut. Ini aku lagi tanya di grup ada yang bawa pembalut cadangan atau enggak….” Akhirnya Alleen terpaksa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
“Terus? Ada?”
Alleen menggeleng sedih. Matanya membesar ketika melihat cowok itu lari keluar kelas setelah meraih ponsel dari dalam tasnya. “Eh mau ke mana itu anak?”
Sementara itu di toilet, Anastasia sedang kebingungan. Ternyata masa periode-nya benar-benar datang lebih awal tanpa tanda-tanda apa pun. Dia juga tidak membawa ponsel untuk meminta bantuan sahabatnya. Tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pada pintunya, juga suara yang memanggil namanya, “Anna….”
“A-Aiden??” Ish ngapain tu cowok masuk ke toilet perempuan? Batin Anastasia heran.
“Ini yang kamu butuhin… aku gantung di pintu ya, bye,” lontarnya dan Aiden pun keluar secepat mungkin dari toilet wanita tersebut—sebelum ada pengguna lain yang masuk.
Anastasia, dengan wajah yang masih kebingungan karena kedatangan Aiden di toilet perempuan, segera membuka pintunya dan mendapati sebuah tas kertas kecil menggantung di gagang pintu. Dia meraih kantong tersebut sambil mengamati sekitar dan tidak menemukan siapa pun. Anastasia menutup kembali pintu toiletnya dan mengintip isi kantong kertas itu. Dua buah pembalut dan satu buah celana dalam. Huh? Ini Aiden yang beli atau gimana? Batinnya berpikir keras.